
"Pak, kenapa kita malah ke toko baju? Aku mau pulang." Alana heran terhadap Tristan yang sedang membawanya ke toko baju.
Tentunya toko baju milik Tristan sendiri, tapi ini berada di pusat terbesarnya yaitu kantor utama.
"Kamu mau pulang dalam keadaan baju terkoyak seperti itu? Apa nanti Mama tidak akan menanyakan? Apa nanti Papa tidak mencerca berbagai pertanyaan?"
"Kan aku menggunakan baju milik Bapak, jadi Mama tidak mungkin menanyakan hal yang aneh-aneh terhadapku. Lagian aku mengenakan kemeja ini cukup baik, kok. Tidak terlihat bagian yang robeknya, tinggal bilang saja kalau aku kedinginan lalu Bapak meminjamkan kemejanya untukku," jawab Alana simpel.
"Mereka semua tidak mungkin percaya. Ini itu cuacanya panas tidak mungkin kedinginan. Pasti mereka akan menanyakan kenapa sampai bisa mengenakan baju milikku. Aku tidak ingin meminjamkan bajuku terlalu lama padamu, nanti kau tidak mengembalikannya lagi."
Alana langsung menoleh ke samping mengerutkan kedua alisnya hingga saling bertemu. "Jadi alasannya karena kamu tidak ingin meminjamkan aku bajumu? Lalu kenapa kamu meminjamkannya? Biarkan saja aku dalam keadaan seperti tadi."
"Ya, karena aku tidak tega kalau kamu bertelanjang di depan banyak orang. Kalau aku tidak peduli padamu mana mungkin ku meminjamkan bajuku."
"Hmmmm jadi kamu peduli padaku? Jadi ceritanya kamu tidak rela aku menjadi pusat perhatian banyak orang? Jadi kamu tidak ingin tubuhku di pandangi sembarangan orang?" Alana memicingkan mata tersenyum manis. Dia suka membuat Tristan salah tingkah. Apa lagi wajah memerahnya membuat Alana semakin ingin terus menggodanya.
Tristan membuang muka enggan menatap Alana. Bukan karena tidak suka tapi karena Alana terlihat manis dengan lesung pipinya.
"Ti-tidak, aku tidak peduli padamu," jawab Tristan gugup. Bukannya turun dari mobil malah diam di dalam ingin terus menerus mengobrol dengan Alana.
"Oh, kirain kamu peduli. Padahal aku udah senang di peduliin kamu. Ya udah, lebih baik tidak usah menggunakan pakaian kamu. Aku tidak mau menerima bantuan atas keterpaksaan." Alana bersiap membuka kancing kemejanya. Namun, Tristan cepat-cepat mencegahnya dengan cara mencekal tangan Alana. Tapi, mereka justru terbelalak di saat tangan Tristan bukan memegangi tangan Alana melainkan memegangi salah satu bukit kembar gadis itu.
"Akkhh.. Dasar pria mesum, kurang ajar, beraninya kamu memegang milikku. Kau brengsek..." Alana menjerit memukuli Tristan secara membabi-buta. Dia tidak terima aset berharga nya di pegang seperti itu.
"Aduuhh.. duh..duh... Sorry, Al. Aku tidak sengaja, aku pikir itu tangan kamu. Eh, tahunya buah simalakama." Tristan melindungi dirinya menggunakan tangan.
"Pria mesum... Seharusnya tanganmu diam! Aku tidak terima kau memegangnya." Teriak Alana berkaca-kaca.
Tristan mencekal tangan Alana cukup kuat supaya Gadis itu tidak terus memukulinya. Tristan menatap tajam Alana.
"Ini bukan salahku, salahkan saja dirimu yang hendak membuka bajunya. Aku refleks ingin mencegah tangan kamu untuk tidak membuka baju. Kau tahu, dari tadi aku menahan sesuatu untuk tidak memperhatikannya. Kau buat ku panas ketika dada mu tidak sengaja aku lihat. Kau buat sesuatu mengeras di kala kita saling bertatap muka."
Alana terperangah atas penuturan Tristan. Pikirannya melanglang buana ke sana kemari.
"Kau...! Kau pria mesum..." Umpat Alana memberontak ingin memukul lagi Tristan. Tapi Tristan malah semakin di buat tidak berdaya dengan sentuhan Alana.
"Sial... Kenapa hanya dengan seperti saat ini saja senjata ku mengeras. Apa mungkin dia adalah obat ampuh mujarab untuk menyembuhkan impoten ku ini?" batin Tristan memperhatikan bibir Alana yang tengah mengumpatnya. Dan itu, justru membuat Tristan tidak berdaya untuk tidak melakukan tindakan di luar dugaan.
Tristan menarik tengkuk Alana, mencium bibir gadis itu dan memberikan sebuah luma tan kecil. Gadis itu semakin melebarkan matanya mendapatkan serangan mendadak dari Tristan.
Dia diam mematung tidak menggerakkan tubuhnya. Sekujur tubuhnya merasakan getaran yang berbeda, untuk pertama kalinya dia mendapatkan lima tan seperti ini dari seorang pria. Seluruh oksigennya terasa habis. Ingin rasanya Alana menyudahinya tapi tubuh malah diam tidak bergerak. Ini memang bukan kecupan pertamanya karena Dimas lah orang pertama mengecupnya. Tapi hanya sebuah kecupan ringan tanpa luma tan, tanpa belitan lidah.
"Aku sembuh, aku benar-benar sembuh. Dan tekadku semakin yakin untuk menjadikan Alana pendamping hidupku. Tidak peduli dengan ketidaksempurnaannya, tidak peduli dengan omongan orang, yang terpenting Alana wanita itu. Wanita yang mampu membangkitkan gairahku," batin Tristan melepaskan pangutannya menatap dalam wajah wanita yang ada di hadapannya.
Alana masih bergeming belum sadar sepenuhnya. Tristan mengusap bibir tipis Alana sehingga membuatnya tersadar. Kini, kedua mata mereka saling bertatapan.
"Ka-kau... kau sudah..."
"Kau milikku. Mulai hari ini dan selamanya kamu adalah milikku. Sekarang kita turun ganti pakaian mu sebelum aku benar-benar memakan mu di sini." Ucap Tristan menurunkan matanya ke daerah yang menonjol.
Alana terdiam, iya, dia memikirkan perkataan Tristan. Matanya meneliti pakaian yang tengah ia genggam dibalik kemeja Tristan. Bajunya sudah robek di bagian depan akibat tarikan paksaan. Dia langsung menutupi kancing kemeja itu.
"Daripada nanti mereka berpikir yang tidak-tidak, mending sekarang kamu ganti baju saja! Kalau nanti Mama menanyakan kenapa baju kamu ganti, biar aku yang menjawabnya."
Alana hanya diam bagaikan orang bodoh.
Tristan turun dari mobil. "Ayo, turun!"
Alana pun mengikuti perintah Tristan dengan mudahnya. Dia diam seribu bahasa tapi terus mengikuti Tristan.
Keduanya masuk ke dalam toko memilih pakaian yang cocok untuk Alana kenakan. Lebih tepatnya Tristan lah yang memilihkan bajunya, Alana hanya mengikuti ke mana pria itu membawanya, dan dia hanya mencoba pakaian yang Tristan berikan.
"Pakailah baju ini di sana." Alana mengambil baju yang di berikan Tristan.
"Kita barusan ciuman kan?" tanya Alana bagaikan orang bodoh terkena hipnotis, linglung.
Tristan mengernyit. "Kenapa? Mau lagi?"
"Ah, ti-tidak. Aku hanya tidak percaya kalau kita ciuman. Ternya begitu rasanya sebuah ciuman. Manis-manis gimana gitu," ujar Alana jujur mengecap kembali bibir yang masih terasa kebas akibat perlakuan Tristan.
Tristan mengerutkan keningnya, "Ini wanita benar-benar aneh. Tadi marah saat terjadi insiden kecil, sekarang malah terlihat berbeda. Punya berapa sifat yang kamu miliki? Hmmmm menarik untuk ku coba kembali," batin Tristan menyeringai.
"Hmmm kamu mau mencobanya lagi?"
"Mencoba apa?"
"Ciuman tadi."
"Dasar otak mesummm..." umpat Alana cepat-cepat masuk ke dalam ruang ganti.
Tristan tertawa bahagia. "Hahahaha menggemaskan."