My Imperfection

My Imperfection
Ikut Merasakan Sedih



Tristan tidak berani membawa Alana ke rumah orang tuanya ,dia lebih memilih membawa Alana ke kediamannya. Rumah yang ia bangun setelah menduda. Rumah yang akan kelak ia tempati bersama anak istrinya. Rumah yang selalu dihuninya di saat hari Sabtu dan Minggu.


Di dalam perjalanan pun Tristan tidak berani berkata apa-apa lagi. Jiwanya terguncang hatinya ikut hancur melihat wanita yang, tengah ia perjuangkan kini terdiam sepi menangis tiada henti.


Alana masih saja terbalut selimut dengan bahu terekspos. Dia terus aja menatap ke samping jendela air matanya sedari tadi tiada berhenti. Pandangannya pun terasa kosong dia hancur berkeping-keping. Bahkan di saat mobil Tristan sudah berhenti pun, Alana belum menyadarinya.


Tristan membuang nafas berat. Dia menyandarkan kepala ke jok mobil dengan sebelah tangan menjambak rambutnya kesal, frustasi, marah kepada dirinya sendiri. Tristan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga Alana. Seharusnya dia tidak meninggalkan Alana sendirian, seharusnya Tristan membawa Alana ke manapun pergi, seharusnya Alana harus ikut dirinya.


Seandainya ala nak terus bersama Tristan mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Pria yang sering memakai tindik di kuping sebelah kirinya itu ikut meneteskan air mata penyesalan. Menyesal karena tidak mampu menjadi pelindung wanita yang akan menjadi istrinya.


"Al, Maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu. Seandainya aku tidak meninggalkanmu, mungkin ini tidak akan terjadi kepadamu. Maafkan aku, Al. Aku merasa bersalah tidak bisa menjadi pria pelindungmu," lirih Tristan terdengar suaranya bergetar menahan gejolak amarah yang mencuat.


Tetesan air mata kembali membanjiri pipinya Alana. Isakan kecil kebaikan namun kali ini tangis nah begitu tersendat-sendat mengeluarkan segala rasa sesak, rasa sakit yang ia rasakan.


"Aku kotor... aku tidak bisa menjaga diriku sendiri aku.. aku... hiks hiks.." Alana sulit berucap dia menunduk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tristan membuka pintu mobilnya, berjalan keluar memutari mobil kemudian membuka pintu mobil yang Alana duduki. Dia memeluk wanita yang saat ini tengah rapuh.


Tristan pun tak mampu lagi berkata Dia mendongak ke atas mengerjakan matanya agar tidak meneteskan air mata. Namun, entah kenapa butiran cairan bening itu keluar mendesak secara tiba-tiba. Dia yang tidak mudah menangis ikut menangis.


"Ba-bagaimana kalau a-aku hamil?" ada rasa ketakutan yang Alana rasakan jika sewaktu-waktu benih dari Rio bersemayam di perutnya. Meski Alana belum tahu pasti apakah Rio benar-benar menyentuhnya atau tidak. Karena yang ia tahu saat terbangun dari tidurnya tubuhnya sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Sebelum itu terjadi, aku akan menikahimu. Aku tetap akan menikahimu, aku menerima segala kekuranganmu. Aku menerima apa yang ada pada dirimu, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu barusan. Aku terima kekuranganmu Alana." Ucap Tristan begitu yakin untuk tetap melanjutkan niatnya. Tak peduli jika nanti Alana hamil anak orang lain atau bukan.


"Tidak Tristan. Aku tidak pantas untukmu, aku sudah ternoda. Lebih baik kau cari wanita yang jauh lebih sempurna dariku lebih baik kamu..." Alana terus saja terisak di dalam dekapan Tristan.


Tristan menggelengkan kepala dia mengecuk pucuk kepala Alana berkali-kali pelukannya semakin mengerat tidak akan pernah membiarkan alamat pergi darinya. Hatinya begitu yakin untuk menjadikan dia istrinya.


"Tidak, Al. Kamu akan tetap menjadi istriku." Tristan pun menggendong wanita rapuh itu membawanya ke dalam rumah.


"Den..." seorang wanita paruh baya sekitar berumur 40 tahunan menyambut kedatangan Tristan membukakan pintu rumah. Wanita yang bekerja paruh waktu di kediaman Tristan.


"Bi, tolong siapkan pakaian dia! Dan juga tolong temani dia di kamar tamu." titahnya menatap di Surti.


Meskipun bi Surti bertanya-tanya siapa wanita yang ada di gendongan Tristan, namun dia segera menyiapkan kamar untuk Alana.


Tristan pun mendudukkan secara perlahan Alana di tepi ranjang. Dia kembali mengecup dalam kepala Alana mencoba memberikan pengaruh baik jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan Alana.


"Aku pergi sebentar kamu di sini ditemani Bi Surti. Bi, tolong jaga dia baik-baik aku akan kembali lagi setelah urusanku selesai."


"Baik, Den. Bibi akan menjaga sesuai yang Aden diperintahkan."


"Hmmm non, bibi sudah menyiapkan air hangat untuk mandi." Alana mendongak menatap Bi Surti dengan tatapan kosongnya. Dia mengangguk dan mencoba berdiri dengan cara berpegangan pada benda apa saja yang ia gapai. Bukan menahan rasa sakit di area intinya melainkan rasa sakit di kakinya.


Bu Surti mencoba membantu. Alana tidak menolak hanya melirik sebentar. Setibanya di dalam kamar mandi.


"Air hangatnya berada di dalam bathub, non." Alan hanya melirik tempat berisi air hangat Ia pun mengangguk. "Makasih, Bi." ucapnya pelan. Bi surti pun meninggalkan Alana di dalam.


Setelah kepergian Bi Surti, tubuh Alana terjatuh terduduk lesu. Tangisnya kembali pecah. Dia terus saja menggosok-gosokkan kulitnya secara kasar berharap bekas sentuhan itu menghilang.


"Papa, maafkan aku tidak bisa menjaga diriku. Aku sudah kotor, Pah. Aku sudah ternoda hiks hiks.." Dia bahkan memukuli dirinya sendiri marah atas apa yang menimpanya.


*********


"Ica, mana bayaranku? Aku sudah berhasil membuat Alana hancur, dan sekarang mana uang bayarannya?" Rio mendatangi Icha yang tengah minum di klub yang tadi.


"Bayaran apaan? Rencana mu saja gagal. Iya kau memang berhasil menghancurkan kehidupan Alana. Tapi Tristan dia masih saja kekeh ingin menikahi wanita pincang itu. Jadi tidak ada bayaran lagi untukmu," jawab Ica ketus.


"Mana bisa begitu? Pokoknya kau harus menepati sesuai yang kau janjikan padaku. buruan mana, 3 juta lagi?" Rio kekeh meminta sisa bayarannya. Dia sampai bertolak pinggang menatap tajam Ica.


"Aku bilang tidak ada ya, tidak ada..."


Bug... bug...


Satu pukulan tepat mengenai hidung Rio, serta satu terjangan di perutnya ia dapatkan dari seseorang.


"Akkhh..." Ica berteriak kaget dan juga orang yang ada di sana ikut histeris.


"Dasar baji ngan.. brengsek.. Aku tidak akan pernah mengampuni kalian." Tristan membabi buta memukuli Rio membuat orang-orang di sana mencoba melerainya termasuk Ica.


"Tristan Apa yang kau lakukan jangan berkelahi di sini!" cegahnya. Tristan menoleh kebelakang dengan sorot mata tajam. Amarahnya semaki memuncak dan dia pun tidak segan-segan menampar Ica hingga tersungkur dan sudut bibirnya berdarah.


Tristan akan murka jika seseorang yang di dekatnya diusik. Dirinya bakalan berubah menjadi pria arogan kasar di saat marahnya benar-benar datang.


"Kau... Pela cur sialan, gara-gara kau Alana ku terluka. Aku tidak akan mengampuni kalian berdua." Sentak Tristan mencengkram wajah Ica lalu menghentakkan cengkraman ya secara kasar.


Rio berusaha bangun dia ingin memberitahukan sesuatu kepada Tristan. "Kalau kau berani jangan berkelahi di sini, ikut aku!" Rio menantang Tristan dengan cara mengajak pria itu berduel di salah satu ruangan.


Jiwa prianya tertantang untuk menghabisi, memberikan pelajaran kepada Rio. "Baik, aku akan menerima tantangan mu." Tristan mendelik tajam kepada Icha Dia menendang kaki wanita yang teramat ia benci.