My Imperfection

My Imperfection
Ungkapan Tristan



"Kenapa Bapak begitu baik padaku? Bagaimana kalau aku jatuh cinta pada Bapak? Aku takut untuk jatuh cinta lagi setelah pengkhianatan Dimas," ucap Alana jujur membuat Tristan menoleh.


Sedangkan sang pelaku tengah menunduk sedih. Dia tidak menyadari jika ucapannya didengar oleh Tristan.


Setelah membereskan pecahan beling, Tristan mendekati Alana kemudian berjongkok di hadapannya.


"Justru itu lebih bagus kalau kamu beneran jatuh cinta kepadaku." Alana terkejut suara Tristan begitu dekat. Dia mendongak.


"Bapak..."


Cup...


Mantan duda itu mengecup singkat bibir Alana. Gadis itu pun terbelalak.


"Kau...!"


Dia kembali mendapat serangan mendadak dari mantan duda itu. Kali ini bukan hanya tercepat tetapi sebuah luma tan.


Alana malah di buat bengong lagi atas tindakan tanpa aba-aba dari Tristan.


"Pertama, Jangan panggil aku bapak Karena aku bukan bapak kamu. Kedua, jangan protes dulu sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Ketiga, kenapa kamu takut jatuh cinta padaku?"


"A-aku..." Alana bingung harus berkata apa, keterkejutannya atas sentuhan Tristan membuat dia gugup seketika.


"Kenapa kamu takut jatuh cinta padaku?" banyak Tristan kembali.


"Because I'm not a perfect woman. I'm afraid MY IMPERFECTION will embarrass you."


( Karena aku bukanlah wanita sempurna. Aku takut ketidaksempurnaan ku membuatmu malu. )


Alana begitu jujur akan ketakutannya. Dia sadar jika dia bukanlah wanita sempurna, memiliki keterbatasan dan bukan dari kalangan orang kaya. Sedangkan Tristan, begitu mapan, tampan rupawan, serta kaya raya.


Alana takut jika semua orang akan mencemooh Tristan dan membuat Tristan malu karena ketidaksempurnaannya. Dia juga sadar kalau derajat mereka jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, tidak Mungkin bersatu.


"Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Karena pada dasarnya, kesempurnaan adalah milik Tuhan semata. Jika kamu takut jatuh cinta karena ketidaksempurnaanmu, lalu mengapa banyak orang di luaran sana yang menikah dengan orang-orang yang jauh lebih tidak sempurna dibandingkan kamu?"


"Kalau cinta itu diukur dari kesempurnaan, tentu mereka tidak akan saling melengkapi dan saling memiliki. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika kamu takut jatuh cinta hanya karena ketidak kesempurnaanmu, maka aku yang akan mencintaimu dengan segala ketidaksempurnaanmu."


Tristan menggenggam kedua tangan Alana, menatap dalam mola mata indah itu.


"Aku tidaklah mencari wanita yang sempurna karena ku sadar jika diri ini pun tidaklah sempurna. Tetapi, aku ingin ketidaksempurnaan kita saling melengkapi satu sama lain."


"Alana, ijinkan Aku mencintaimu dengan segala kekuranganmu, izinkan aku membahagiakanmu dengan segala keterbatasanku dan izinkan aku untuk menjadikanmu istriku." Ucap Tristan serius mengungkapkan niatnya yang sudah sedari kemarin ia pendam.


Alana melepaskan genggaman tangan Tristan. Dia begitu kaget saat Tristan begitu dalam menatapnya dan begitu serius dalam berucap.


"Ba... eh, Tristan, apa barusan kamu melamarku? Kenapa kata-katamu terasa begitu nyata dan seperti sedang melamar pujaannya? Pasti kamu sedang latihan melamar gadis, kan? Pasti gadis itu sangat beruntung bisa mendapatkan pria baik sepertimu."


Hah... Tristan melongo atas respon yang diberikan Alana.


"Alana, saya itu tidak sedang latihan. Dari tadi saya ngomong panjang lebar karena saya sedang mengungkapkan apa isi hati saya kepadamu." Tristan mendengus kesal keseriusannya di anggap becanda. Dia sudah capek-capek merangkai kata sedemikian rupa, eh, responnya sungguh luar biasa.


Alana menatap Tristan tidak mengerti. "Jadi barusan Bapak beneran melamarku?"


"Astaga Alana..." Tristan mengusap wajahnya secara kasar kemudian berdiri dengan satu tangan di pinggang. "Iya, aku melamar mu. Lama-kelamaan aku kesal atas pemikiran mu. Kamu itu bodoh atau polos sih? Iiihhhhh gemessss deh..." Tristan sampai mencubit pipi Alana lalu kemudian mengecup bibir gadis itu sampai berkali-kali.


Tapi Tristan malah semakin menjadi, di kembali melakukan kegiatannya. Alana melototkan mata lalu mendorong dada Tristan. Namun, ia tidak bisa hingga dirinya pasrah bibir Tristan terus bermain di bibirnya.


"Itu hukuman karena kamu sudah memanggil saya bapak." Alana memberenggut sebal lalu mengambil tongkatnya dan memukul pelan Tristan.


"Dasar mesum, kurang ajar. Kamu jahat terus-terusan mengambil ciuman saya." Tristan mengambil tongkatnya kemudian melemparkannya ke sembarang arah.


"Tristan..."


"Aku mesum pun hanya kepadamu, mau tahu hal apa lagi yang bisa ku lakukan padamu?" Tristan menyeringai menaik nurunkan alisnya.


Alana bergidik ngeri. "Aku tidak mau...!" Ucapnya membuang muka sebal.


"Hahahhaaaa... kau sangat menggemaskan, sayang."


Blussh... Pipi Alana seketika terasa panas di panggil sayang.


"Sayang, sayang, pala lu peang," batin Alana.


Tristan kembali membopong Alana.


"Kamu mau ngapain? Turunkan aku!" Alana memberontak meminta Tristan menurunkannya.


Dia sungguh kesal pria ini bertindak sesuka hatinya tanpa izin dari dirinya.


"Aku hanya ingin mengantarkanmu ke tempat tidur. Ini sudah malam dan tentunya tidak baik bagi seorang gadis bergadang. Kita harus bersiap, karena besok aku akan datang melamarmu ke orang tuamu."


"Apa?! Jangan ngaco deh. Mana mungkin?" Pekikan Alana sungguh membuat Tristan sakit telinga.


"Sssttt.... jangan banyak protes deh tunggu saja besok apa yang akan terjadi. Pokoknya sekalipun kau menolak aku akan tetap mengejarmu." Tristan menurunkan tubuh Alana secara perlahan ke atas pembaringan.


"Tapi kamu tidak bisa seenaknya saja." Protes Alana menatap tidak suka Tristan.


Mantan duda itu menarik selimut menyelimuti tubuh Alana kemudian mengecup kening gadis itu. "Kalau aku tidak seenaknya, kamu tidak akan mungkin menjadi milikku. Tidurlah, jangan lupa mimpikan aku, ya, sayang."


"Ogah... Mending aku mimpikan Ibuku daripada orang mesum sepertimu. Nanti dalam mimpi aku malah di apa-apain lagi." Alana menarik selimutnya menutupi wajah yang sedari tadi sudah panas malu di perlakukan romantis seperti itu.


Tristan terkekeh. "Mau di dalam mimpi mau di alam nyata aku pasti akan ngapa-ngapain kamu. Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah."


Tristan pun melangkahkan kaki hingga berbunyi. Alana mendengarkannya, setelah merasa Tristan keluar dia membuka selimutnya. Namun...


Cup...


"Ada yang ketinggalan." Ujar Tristan kemudian berlari pergi dari sana.


Alana melotot terkejut. "Tristan Delano..... kurang ajar kamu..." teriak Alana.


Di luar, Tristan malah tertawa bahagia bisa mengerjai Alana. Dia hanya pura-pura keluar saja.


"Alana, Alana. Kau sungguh mengalihkan duniaku."


Alana termenung menatap langit-langit kamar. "Apa benar Tristan akan melamar ku? Papa, apa yang harus Alana lakukan? Apa aku harus menerimanya? Aku takut... Tapi hati kecilku tidak bisa ku bohongi kalau aku mulai tertarik pada duda anak satu itu."