My Imperfection

My Imperfection
Kesediaan Alana



"Dia itu cacat, mana mungkin kalian mau melamar dan menjadikannya istri seorang pengusaha?" Dewi bersuara tidak percaya jika Alana yang terlahir tidak sempurna dilamar seorang pria tampan rupawan serta kaya raya.


Ini bagaikan sebuah dongeng di mana seorang pangeran tampan melamar Putri yang buruk rupa. Atau mungkin ini ceritanya seperti bawang putih bawang merah.


"Benar sekali, Alana tidak pantas bersanding dengan pria sempurna seperti Tristan ini. jalannya saja sudah pincang, penampilannya pun kampungan dan dia tidak pantas memakai baju mahal seperti itu," timpal Ica.


"Lalu siapa yang lebih pantas bersanding dengan saya, Anda? Hahaha jangan mimpi! Saya lebih baik menduda seumur hidup daripada menikah dengan Anda. Meskipun hanya ada dirimu satu wanita saja, saya tidak akan sudi memilihmu," kata Tristan berkata kasar.


Dia tidak terima Alana dihina seperti itu, apalagi ibunya hanya diam saja tanpa mau membela ataupun merasa sedikit tiba.


Ica mengepalkan tangannya memendam amarah pendapat penolakan dari pria. Dewi pun tidak habis pikir kenapa mereka yang kaya raya memilih Alana wanita cacat tidak sempurna.


"Lebih baik kalian pikirkan lagi untuk meminang Alana. Dia enggak pantas bersanding dengan Anda. Coba lihatlah, keadaannya yang cacat pasti akan membuat kalian semua malu," seru Dewi masih saja menghina anak kandungnya sendiri. Entah terbuat dari apa hati Dewi sampai tega menyakiti darah dagingnya.


Alana menunduk menahan tangis sambil meremas baju yang ia kenakan. Hatinya sakit ibunya selalu saja memandang ketidaksempurnaannya.


"Justru kami akan malu jika kami memiliki menantu seperti dia. Dari cara bicaranya pun dia sudah seperti bukan wanita baik-baik, tidak ada kata sopan santun, tidak ada rasa iba yang ia tunjukkan, tidak ada rasa empati bagi orang di sekitarnya. Dan ini menunjukkan jika dia lah wanita cacat yang sebenarnya. Cacat hatinya," balas Jihan ikut sakit atas lontaran kata yang ditunjukkan kepada Alana.


Ica semakin marah dia tidak terima. "Seharusnya Nyonya sadar dan melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Justru di sini Alana yang cacat segala-gala nya. Sudah cacat fisik, cacat hati, cacat perilakunya. Apa nyonya lupa dengan foto yang kami tunjukkan kalau dia itu tidaklah seperti wanita lugu pada umumnya? Dia sudah kotor, sudah banyak pria yang menjamah. Apa kalian mau kepada wanita hina seperti itu?"


"Cukup..! Kau yang hina Ica." pekik Alana tidak bisa lagi berdiam diri atas tuduhan dan penghinaan keluarganya sendiri.


"Sudah cukup kalian berdua terus-terusan menghinaku, sudah cukup luka lahir batin yang kalian berikan untukku. Sudah cukup perkataan pedas menyayat hati yang kalian ucapkan kepadaku."


"Ibu aku tahu kalau aku ini dilahirkan tidak sempurna olehmu. Tapi apa begini caramu bersikap memperlakukan anakmu sendiri? Apa tidak pernah sedikit saja ada rasa iba, rasa cinta yang Ibu rasakan di hati kecil ibu paling dalam? Selama ini aku selalu diam atas perlakuan kalian kepadaku."


"Aku selalu mengalah dan berusaha sabar disaat kalian terus-terusan menghina keterbatasanku. Aku sadar kalau aku hanya menjadi beban dam membuat kalian malu. Gara-gara kaki ini kau sampai tega memperlakukanku seperti ini. Gara-gara kaki ini Ibu terus-terusan menyalahkanku ibu terus-terusan menyakitiku bahkan Ica pun ikut-ikutan seperti yang ibu lakukan." Alana sudah berkaca-kaca, bahkan ia meremas kakinya.


"Sekali saja Bu, aku ingin merasakan kasih sayangmu. Sekali saja kau memelukku menunjukkan kalau kau adalah ibuku. Tapi aku tidak pernah mendapatkan itu semua darimu. Hanya Ica Ica yang kau agungkan. Hanya Ica Ica yang kau prioritaskan. Aku benci kaki ini, aku benci diriku sendiri. Gara-gara kakiku, Ibu tidak sayang padaku. Gara-gara aku cacat, kalian selalu menghinaku. Aku benci kaki ini." Pekik Alana menangis histeris sambil memukul-mukul kakinya.


Mereka yang ada di sana terkejut atas apa yang Alana lakukan. Dewi terdiam terus mencerna perkataan-perkataan Alana. Hatinya teriris sakit melihat putrinya menangis menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan Alana? Ini bukan salahmu, kamu tidak salah dilahirkan seperti ini. Semua sudah kehendak tuhan. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, Alana!" cegah Jihan mencoba memberhentikan tangan ala anak yang tengah memukuli kakinya sendiri oleh tongkat yang ia kenakan.


Tristan pun tidak kalah mencoba menenangkan Alana. Marko pun ingin membantu tapi Tristan lebih dulu sigap mengambil tongkatnya.


"Apa kau gila, hah?" sontak Tristan merampas tongkat yang Alana pegang secara kasar kemudian di lemparkan tepat mengenai jendela kaca hingga pecah.


Dewi dan Ica terlonjak kaget.


Tristan mencekal kedua lengan Alana agar berhenti memukuli kakinya. Dia berjongkok di hadapan Alana mencoba mencegah gadis itu.


"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri? kamu pikir dengan menyalahkan dirimu keadaanmu akan baik-baik saja? Apa kamu pikir memukuli kakimu sendiri akan sembuh bisa berjalanan normal? Tidak Alana. Yang ada kau merasakan kesakitan." Tristan ikut sakit melihat keadaan Alana. Matanya berkaca-kaca.


Alana menunduk menangis sesenggukan merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Rasa emosinya tidak bisa ia bendung lagi, dia merasa sakit hati karena terus-terusan dihina, dicaci maki, diperlakukan tidak adil oleh ibunya sendiri.


"Jangan pernah sekalipun merasa diri kamu tidak berharga. Jangan pernah sekalipun kamu menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi kepadamu. Biarkan mereka menghinamu, biarkan mereka terus mencaci mu tapi tidak dengan aku dan keluargaku. Meskipun Ibu kandungmu sendiri tidak menginginkan kamu, masih ada aku dan orang tuaku yang akan menerimamu."


Alana masih menangis terisak-isak, dia langsung memeluk Tristan dengan erat. "Aku tidak menginginkan terlahir cacat, aku tidak menginginkan itu hiks hiks hiks."


Tristan mendekap erat tubuh Alana. Dia tidak ingin berlama-lama di rumah sialan itu. kemudian dia membopong Alana membawanya keluar dari sana.


"Alana..." lirih Dewi menangis melihat putrinya.


"Mulai saat ini, Alana adalah putriku. Tidak akan kubiarkan kau menyakitinya meski seujung kuku. Kalau sampai kau mendekati Alana lagi, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu, Dewi!" ancam Jihan sambil menghapus air matanya secara kasar. Dia yang bukan ibu kandungnya merasa terluka melihat kerapuhan Alana. Jihan pergi dari sana.


Marko menghelakan nafas beratnya. Dia mengerjapkan mata mendongak ke atas. "Kau tega menyakiti putri kandung mu demi anak tiri. Kau sungguh Ibu berhati iblis, didurhaka. Alana anak kandungmu, tapi Ica... hanyalah anak tiri," ujar Marko tegas mengungkapkan siapa Ica. Lalu pergi dari sana.


Deg...


Dewi dan Ica bagaikan terhantam badai petir. Mereka sama-sama terkejut dengan apa yang ia dengar. Dewi seakan tertampar keadaan jika Ica memang anak tirinya dan Alana anak kandungnya.


Dan Ica, dia bagaikan orang linglung saat mengetahui jika dirinya hanya anak tiri.