
"Pagi, Bi." Sapa Alana menghampiri BI Surti di dapur.
Bi Surti menoleh dia tersenyum. "Pagi juga neng, Bibi bantu, ya?" Lalu bi Surti membantu Alana berjalan menuju kursi tetapi Alana menolak halus penuh kesopanan.
"Bi, biar Alana bantu masak, ya? Aku bosan terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun."
"Gak usah, Neng. Biar bibi saja. Neng Alana duduk saja di sini, ya?" Bi Surti tidak enak hati membiarkan majikannya bekerja. Mana mungkin dia membiarkan majikannya bekerja setelah mendapatkan peringatan dari Nyonya besar untuk menjaga majikan mudanya.
"Bi, Alana mohon, ya. Bantu menyiapkan pun gak pa pa. Aku mau masak buat suamiku, Bi. Masa gak boleh? Aku itu sekarang seorang istri. Jadi harus dilakukan tugas sebagai istri dan salah satunya adalah menyiapkan makanan. Boleh, ya? Tapi... jangan bilang Mama Jihan!" rengek Alana di akhir dengan kata peringatan. Ia tahu jikalau mertuanya mewanti-wanti agar tidak membiarkan ia melakukan kegiatan memberatkan.
"Aduh Neng, itu dia. Bibi enggak bisa berontak keinginan nyonya."
"Isshh.. bi ayolah."
"Ada apa, Al?" seru Tristan yang tengah mencari keberadaan istrinya. Baru bangun tidur tidak melihat istrinya di ranjang. Makanya dia mencari ke dapur, dan ternyata memang ada.
"Den.."
"Aku mau masak boleh, ya?" rengek Alana pada Tristan.
"Den, bibi sudah mencegah nya sesuai perintah nyonya."
"Tidak apa-apa, Bi." jawab Tristan tersenyum. "Biar aku dan Alana yang memasak. Bibi mengerjakan pekerjaan yang lain saja, ya?" pinta Tristan secara ramah.
"Baik, Den. Kalau gitu bibi mengerjakan yang lain dulu." Bi Surti pun berpamitan menuju bagian belakang. Jika tuannya sudah berkata di Surti hanya menurut saja.
"Oke, sekarang kita mau masak apa?" tanya Tristan memperhatikan bahan masakan yang baru saja disuruh dikeluarkan dari dalam lemari pendingin.
"Kamu duduk saja, ya. Biar aku yang memasak." Tangan kanannya tengah menggeser kursi yang akan ia gunakan untuk duduk saat sedang mengiris memotong bahan-bahan masakan. Tristan cepat-cepat menghalanginya. Dia mendudukkan Alana secara paksa.
"Kamu yang duduk di sini, biar aku yang memasak untuk makan kita bersama." Kata Tristan tegas.
"Tapi aku..."
Tristan mengecup bibir sang istri menghentikan perkataannya. "Tidak ada tapi-tapian. Hari ini aku akan memasak makanan spesial buat kamu."
"Emangnya kamu bisa?" Alana tidak yakin kalau Tristan bisa memasak.
"Kamu ngeremehin aku?"
"Tidak, bukan ngeremehin. Cuman tidak percaya saja seorang pria bisa memasak. Kan biasanya jarang tuh, kalau pria ngabisin makanan banyak."
"Kita buktikan saja. Jika makananku enak, kamu harus mendapat hukuman. Kalau makananku tidak enak kamu berhak memberikan aku hukuman. Bagaimana, deal?" ucap Tristan mengulurkan tangannya sebagai perjanjian.
Alana melirik tangan itu kemudian menatap wajah Tristan. "Ok, deal. Aku setuju." Dia tersenyum.
Tristan menyeringai, dia sudah merencanakan sesuatu jika Alana kalah. Sesuatu yang membuatnya sangat-sangat senang.
Tristan pun mulai mengerjakan tugas nya. Terlihat begitu lihai cara memainkan pisau dan juga cara memotong-motong sayuran.
"Kamu pandai sekali memotongnya, terlihat sangat cekatan?" Alana sampai terkagum melihatnya.
"Hal ini sudah biasa aku lakukan semenjak menduda dan pindah ke sini. Kesendirianku mengajarkanku untuk mandiri dalam segala hal dan tentunya supaya nanti suatu hari aku bisa memanjakan istriku."
"Tidak terlalu hebat dibandingkan para chef chef profesional, aku masih kalah. Pasti masakan kamu jauh lebih enak dibandingkan masakanku." Tristan melirik Alana tersenyum menatapnya.
Alana tersenyum dengan raut wajah khawatir jika dirinya akan kalah dan takut terkena hukuman. Ya, walaupun belum tahu hukuman apa yang akan nanti diterima jika pun dirinya kalah.
"Pasti dulu istrimu sangat bahagia mempunyai suami yang begitu baik, perhatian, dan juga pandai dalam segala hal." Alana tidak tahu saja kalau Tristan yang dulu bukanlah Tristan yang sekarang.
Ya, Tristan belum memberitahukan perihal dirinya. Karena yang ia pikirkan, masa lalu itu harus dikubur dan tidak boleh diungkit kembali di saat ada masa depan tengah nanti. Meskipun begitu, dia harus kembali teringat ke masa lalu agar terus belajar dalam segala hal untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.
Tristan sampai terhenyak memberhentikan kegiatannya. Wajahnya mendadak murung, tersenyum kecut menertawakan ke brengsekkan nya.
Mungkin inilah saatnya dia harus memberitahukan masa lalu dirinya kepada Alana supaya nanti Alana tidak terlalu kecewa jika mengetahui perihal masa lalunya dari orang lain.
"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Al. Aku pria brengsek yang tengah berusaha memperbaiki diri." Ungkapnya sembari melanjutkan kegiatannya.
"Brengsek?! Maksud kamu?!" Alana menegakkan duduknya penasaran atas apa yang Tristan lakukan dulu.
"Aku pemabuk, tukang zina, bahkan tulang selingkuh. Istri pertamaku adalah Kanaya. Wanita yang aku perlakukan sangat buruk."
Alana terkejut. Yang ia tahu Kanaya adalah adik iparnya. Namun, dia mendengarkan semua cerita tentang Tristan dari mulutnya sendiri.
Tristan menceritakan semuanya. Tidak ada lagi yang ia tutupi tidak ada lagi yang ia sembunyikan, semuanya ia ungkapkan kepada Alana.
"Itulah ceritaku, Al. Sangat buruk. Tapi aku udah beneran berubah, Al. Tidak lagi seperti itu. Sungguh."
"Aku percaya, Tristan. Terbukti dari cara kamu begitu disayangi banyak orang. Pasti kasih sayang mereka lah yang menguatkan kamu sampai kamu mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Tristan tersenyum sambil menyimpan beberapa hidangan hasil masakannya. "Kamu benar, karena kasih sayang mereka lah aku menjadi Tristan yang sekarang. Meskipun sampai kapanpun diriku tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Tetapi setidaknya, aku akan terus berusaha dan mendengarkan nasehat dari mereka," katanya duduk di samping Alana. Lalu menuangkan makanan ke dalam piring.
"Selama kita masih diberi nyawa, kita wajib belajar terus. Tapi jangan besar kepala," balas Alana.
Tristan mengangguk. Kemudian menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Alana. "Makanlah, kasih penilaian apakah makananku ini enak atau tidak?"
Alana sampai melupakan itu. Dari segi tampilannya saja sudah menggugah selera. Apalagi rasanya, pasti sangat luar biasa.
Alana mencoba masakan Tristan. Baru saja merasakan satu suapan, mulutnya terhenti dengan mata terbelalak karena makanan Tristan sungguh sangat enak.
"Wow ini enak sekali." Dia mengambil sendok kemudian terus memakan.
Tristan terkekeh menggelengkan kepala. Lalu dia berbisik. "Siap-siap menerima hukuman dariku."
Deg...
"Hukuman?!" Alana terhenti dari kegiatan mengunyahnya. Matanya melirik Tristan tersenyum cengengesan.
"Tapi, hukumannya jangan berat-berat, ya. jangan minta uang pula. Aku tidak akan punya." Pinta Alana sambil mengunyah makanan kemudian menelannya. Lalu mengambil minuman kemudian meminumnya.
"Tidak akan, kok. Palingan hanya hukuman yang membuatmu candu mengerang di bawah kuasaku," bisiknya tersenyum nakal penuh menggoda dengan tangan kiri meraba buah simalakama.
Alana melotot "Tristan..."