My Imperfection

My Imperfection
Secepatnya Bertindak



Setibanya di rumah Marko, Tristan dan Alana langsung mencari keberadaan orang tua mereka. Nampak Marko dan Jihan tengah duduk berdampingan memperhatikan ponsel mereka. Keduanya terlihat serius menatapnya.


"Mah, Pah." Panggil Tristan lalu ia duduk begitupun dengan Alana.


Kedua orang paruh baya itu mendongak dan mereka menyimpan ponselnya di atas meja. Mama Jihan menatap Alana dengan tatapan kasihan. Gadis terbaik dan polos Alana difitnah segitu kecilnya oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.


"Kamu sudah melihat gambar yang beredar di sosial media?" tanya Marko serius.


"Sudah, Pah. IG, FB, Twitter dan semuanya sudah aku cek. Semua tentang foto itu."


Alana menunduk takut tidak berani mengangkat kepalanya menatap kedua orang tua Tristan. Ia takut jika kedua mertuanya lebih percaya gambar tersebut dibandingkan percaya dirinya.


"Apa benar itu adalah kamu, Al?" tanya Marko ingin melihat dan menyaksikan jawaban apa yang anak-anak berikan.


"Pah..! Kenapa papa malah bertanya seperti itu? Tristan yakin jika itu bukan Alana." Pria berstatus suami baru tiga hari itu sedikit kecewa karena papanya bertanya seperti itu seolah-olah juga menuduh Alana yang tidak tidak.


Marko mengangkat tangannya seakan berkata, 'stop! jangan dilanjut lagi.'


"Papa butuh jawaban dari Alana, bukan dari kamu." Suara Marko terdengar begitu tegas dingin dan mampu membuat nyali Alana menciut takut.


Alana menggelengkan kepalanya masih dalam keadaan menunduk. Tristan merasakan kesedihannya sang istri terlihat dari cara wanitanya terus menunduk. Dia menggenggam tangan sang Istri memberikan sebuah dukungan jika dirinya akan bersama Alana.


"Bukan, Pah. Itu bukan aku. Aku berani bersumpah jika Itu bukan aku. Aku juga tidak tahu siapa wanita yang ada di foto itu, dan kenapa wajahnya begitu mirip denganku? Aku tidak tahu, Pah. Tolong jangan pisahkan aku sama Tristan, hanya dia orang yang saat ini aku percaya untuk terus menjagaku. Jangan pisahkan kami, Pah." Kata Alana sampai berbicara kesana kemari saking takutnya sang mertua tidak mempercayai.


Jihan dan Marko saling lirik. Tristan mengerutkan keningnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Siapa juga yang akan memisahkan kalian. apa cuman bertanya benarkah foto itu kamu atau bukan? kalaupun jawaban kamu bukan kami percaya."


Barulah Alana mendongak menatap kedua mertuanya. "Benarkah kalian percaya padaku?" rasa tidak percaya menyelimuti diri Alana.


Marko dan Jihan mengangguk.


"Sekarang biarkan Alana istirahat dulu. Kau tetap di sini, Tristan. Kita akan bicara serius masalah ini." tutur Marko di angguki oleh Tristan.


"Biar mama yang menemani Alana. Kalian berbicaralah dan putuskan hal apa yang harus kita tempuh untuk mengembalikan lagi nama baik Alana." Mama Jihan berdiri, lalu ia mengajak Alana dengan cara membantu menantunya berdiri. "Ayo, Mama bantu."


"Mah..."


"Percayalah semuanya akan baik-baik saja." Alana mengangguk seakan memberikan sebuah harapan dan keyakinan jika keluarga suaminya akan membuatnya baik-baik saja.


Alana dan mama Jihan pergi meninggalkan kedua pria yang tengah serius berpikir.


Marco kembali membuka sosmednya melihat foto-foto itu lagi. Tristan pun memperhatikan nya.


"Dari gambar-gambar ini terlihat sangat jelas jika wajahnya adalah editan. Ini diedit sedemikian rupa supaya terlihat kesan nyata jika anak lah yang melakukannya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pah? aku tidak tega dari tadi Alana terus bersembunyi tidak ingin keluar diketahui banyak orang. Bahkan saat di toko pun banyak ibu-ibu yang menghakiminya," ucap Tristan menceritakan yang sempat di alami tadi.


"Dan pastinya kita tangkap orang penyebar berita bohong ini untuk memberikan efek jera atas apa yang telah dilakukannya," ujar Marko menjelaskan secara detail apa saja yang harus mereka lakukan.


"Oke Tristan mengerti. Hari ini juga aku akan bertindak supaya masalah ini cepat terselesaikan. Tapi ketika nanti Tristan mengetahui siapa dalang dibalik penyebaran ini, Tristan ingin orang itu meminta maaf di depan layar televisi mengakui kesalahannya kepada Alana. Dan Tristan ingin dia dihukum seberat-beratnya atas kasus yang ia lakukan."


"Itu pasti. Papa pun sudah memikirkan hal itu. Sekarang bergeraklah, mumpung masalah ini masih hangat dan belum lama."


Tristan melihat sebentar jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. masih pukul 02.00 siang. Dan itu tandanya waktu cukup panjang untuk menemui jasa hapus foto.


"Kalau gitu, Tristan pergi dulu, Pah. Doakan Tristan supaya bisa membantu mengembalikan nama baik Alana."


Marko mengangguk. "Doa terbaik untuk kau dan menantuku."


*********


Sedangkan pelaku utama tengah tertawa bahagia di club yang sering dikunjungi.


"Pasti saat ini media sudah dipenuhi oleh berita postingan yang viral itu. Dan aku yakin jika saat ini Alana sedang dibully habis-habisan dan sedang dimarahi. Atau mungkin keluarga Tristan tidak akan lagi menyukai Alana. Di saat itulah, aku akan masuk mencari empati mereka. Hahahaha sungguh pintar sekali diriku, ini."


Ica menuangkan minuman ke dalam gelas, kemudian meneguknya hingga tandas. Dia menambahkan lagi tapi, tiba-tiba botol minumannya ambil secara paksa kemudian dilemparkan begitu saja.


Ica mendongak. "Apa-apaan kau, Dimas? Kenapa kau mengacaukan pesta keberhasilanku ini?"


"Kau yang apa-apaan, Ica? Kenapa kau melakukan ini semua kepada Alana? Kenapa kau sampai berbuat sekeji ini, hah?"


Ica mengernyit. "Oh jadi kau sudah melihat berita viral itu, ya. Hahaha bagaimana? Bagus bukan ide ku ini?"


"Ide gila sialan mu itu bisa merusak nama baik seseorang. Aku menyesal telah mengenalmu dan memilihmu di bandingkan Alana. Sekarang juga kau hapus seluruh foto-foto banyak atau kau berhadapan denganku!"


Ica tersenyum sinis. "Berhadapan di mana? Di atas ranjang, ayo siapa takut."


Dimas semakin kesal. Dia mencengkram kuat kedua bahu Ica sampai membuat wanita itu meringis kesakitan. "Hapus semua gambar itu atau video mu tersebar luas!"


"Video apa?" Ica terperangah saat Dimas bicara video. Dia takut jika Video yang Dimas miliki merupakan video mereka tengah melakukan adegan panas.


Kali ini Dimas yang tersenyum menyeringai. Untuk mengembalikan nama baik Alana dirinya akan melakukan apapun sebagai tanda permintaan maaf dia terhadap Alana.


"Video berdurasi 30 detik antara kita." Dimas merogoh saku celananya mengambil ponsel. Kemudian menunjukan Video itu.


Ica terbelalak melihatnya. "Ka-kau..! Kapan kau merekamnya, hah? Hapus tidak!" Ica berusaha mengambil ponsel itu. Dia menjadi panik ketika video dimana dirinya dan Dimas bermain. Tapi, Dimas terbaring tidak kelihatan sedangkan dia tengah berada di atas dengan gaya sensual.


Ica berpikir, kalau itu tersebar luas pasti akan diketahui oleh keluarga Tristan. Ia tidak mau itu.


"Hahahaha aku tidak akan menghapusnya sebelum kau juga menghapus secara permanen gambar-gambar tersebut dari seluruh sosial media yang tersebar di mana-mana. Atau Video ini?"