My Imperfection

My Imperfection
Peringatan



Seperti rencana kemarin, Tristan akan menemui orang tua Lisa. Pria tampan pemilik mata hazel kecoklatan itu ingin sedikit memberikan peringatan kepada mereka karena sudah mengusik kehidupan rumah tangganya.


Mungkin dulu dia memang suka tergoda tapi sekarang Tristan bukanlah Tristan yang dulu yang akan mudah tergoda oleh wanita di masa lalunya.


Dengan langkah tenang, raut wajah terlihat santai dan langkah yang begitu tegap Tristan melangkah masuk ke kawasan rumah orang tua Lisa.


Kemudian dia menekan bel rumah beberapa kali sampai pintunya dibukakan oleh seseorang yang ternyata orang tersebut adalah Lisa.


Lisa tersenyum bilang orang yang ia tunggu rupanya datang juga. "Tristan, pasti kamu datang kesini untuk menemui ku kan? Pasti kamu berubah pikiran akan menerima tawaranku menikah denganku iya kan?" Tanpa Rasa tahu malu dan tanpa rasa berdosa sedikitpun bisa merangkul lengan Tristan menariknya ke dalam ingin menunjukkan kepada semua orang jika tristanlah pria pilihannya.


Namun, Tristan enggan disentuh Lisa membuatnya melepaskan paksa tangan wanita itu di lengannya secara kasar.


"Sorry, kedatangan saya ke sini bukan untuk menerima tawaranmu dan takut kepada ancamanmu. Tapi saya datang ke sini untuk memperingatimu. Jangan pernah coba-coba mengusik ketenanganku," ucap Tristan menatap tajam Lisa.


Terlihat sekali sorot mata benci tergambar jelas di mata pria itu. tatapan yang biasanya selalu teduh penuh cinta kini terbalik menjadi tatapan sinis penuh benci dan Amarah.


"Kenapa Tristan? Kenapa kamu menolak aku padahal aku tahu kalau kamu pasti masih mencintaiku. Tidak mungkin kan secepat ini kamu berpaling hati kepada wanita lain? Itu tidak mungkin terjadi."


"Kenapa tidak mungkin, hah? ketika hati sudah tersakiti ketika hati tidak lagi memilihmu cinta ini hilang begitu cepat. Semuanya mungkin terjadi jika Tuhan menghendaki. Dimana orangtuamu?" Tanya Tristan mengedarkan pandangannya mencari orang tua Lisa.


"Papa..."


"Tuan Cahyo Nugroho, dimana kau? Keluar!" teriak Tristan tidak bisa lagi terus berdiam diri atas kelakuan bisa terhadapnya yang sudah berani mengancam dia.


Pria yang dipanggil oleh Tristan itu pun mendengar keributan di ruang tengah. Dia beserta istrinya yang sedang sarapan pun menghampiri asal suara itu.


"Siapa sih teriak-teriak di rumah orang tidak ada rasa sopan santunnya?" gerutu mamanya Lisa padahal dia baru saja pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan perawatan akibat syok mendengar Lisa mengandung.


Tapi tidak dengan Tuan Nugroho. pria itu mengetahui siapa suara ini. Seketika rasa cemas menghampiri dirinya, rasa takut begitu ketara terlihat dari wajahnya, rasa khawatir akan sesuatu yang tidak diinginkan membuat dia terlihat panik dengan buliran keringat membasahi area dahi serta wajah pucat pasi.


"Pah, buruan ke depan! Siapa yang sudah berteriak macam orang gila di rumah kita." Mamanya Lisa begitu penasaran dan langsung menarik tangan suaminya.


"Mah, Papa harap kamu jangan berbuat masalah kalau orang itu marah-marah! Kita turuti saja kemauannya, jangan pernah membantah papah apalagi mengikuti keinginan Lisa!" Sebelum menemui Tristan Cahyo memperingati dulu istrinya agar tidak terpancing emosi, agar tidak menuruti keinginan Lisa, agar tidak mengusik keluarga nya.


Dahi dari wanita paruh baya itu mengerut tanda sedang memikirkan ucapan suaminya yang terkesan seperti takut. Entah apa yang di takutkannya, dia tidak tahu.


"Kita lihat saja nanti, ayo buruan!" ajaknya kembali melangkah melangkah ke depan mendekati suara itu.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya mamanya Lisa setelah tiba dan melihat siapa orang yang sudah membuat keributan di rumahnya mengganggu acara makan mereka.


Bagaimana tidak mengganggu, Tristan datang begitu pagi-pagi karena ingin segera menyelesaikan masalahnya dan tidak ingin menunda lagi.


Tristan menoleh, dia menatap Pak Cahyo. "Saya datang ke sini untuk memperingati kalian semua," ujarnya menatap silih berganti ketika orang itu termasuk menetap tajam mata Lisa penuh permusuhan.


"Memperingati apa? kami merasa tidak memiliki kesalahan apapun kepada Anda dan kau anak tidak tahu sopan santun datang-datang langsung berteriak membuat kegaduhan di rumah orang," balas mama Lisa tidak terima.


"Urus anak kalian berdua untuk tidak mengganggu Rumah tanggaku! Didik dia dengan benar! Katakan kepada dia jangan pernah sekalipun mencoba mengancam keluargaku atau pun mencoba memfitnah menyebarluaskan sebuah video yang tidak pernah benar adanya. Kalau sampai itu terjadi saya tidak akan segan-segan menghancurkan kalian semuanya!" Ancam Tristan langsung kepada intinya memotong perkataan Lisa.


"Ada apa ini, saya tidak mengerti?" Mama Lisa memang tidak mengetahui apapun mengenai ini. Dia juga tidak tahu siapa pria ini karena yang ia tahu kekasih Lisa bukanlah yang ini.


Nampak raut kebingungan terlihat jelas di wajahnya


"Tidak ada ap..."


"Dia sudah mencoba mengusik ketenangan rumah tanggaku dengan mengaku-ngaku hamil anakku sedangkan saya tahu jika kehamilan dia disebabkan oleh pria bernama Rafael."


Deg...


Bisa mematung begitupun dengan orang tuanya ikut tercengang tidak habis pikir jika pria ini mengetahui siapa pria yang sudah menghamili Lisa.


"Ka-kau ta..." Lisa di buat terkejut mengenai ini. Setahunya Tristan bukanlah pria yang suka kepo mengenai urusan orang lain. Maka dari itu dia sampai berselingkuh dari Tristan dan memilih pria itu. Tetapi justru dia mendapatkan sebuah kekerasan setelah pria itu berhasil menghamilinya.


"Kenapa? kalian kaget saya tahu siapa pria itu? Kalian pikir saya bodoh sampai saya tidak mengetahui apapun tentang kalian semuanya. Bukan Tristan Delano jika saya tidak mengetahui orang-orang di sekitar saya termasuk kalian."


Deg...


Jantung Pak Cahyo kian berdebar panik. Dia gugup takut pria muda ini menyebarkan rahasianya ke anak istri dan ke publik. Yang ada, jika itu terjadi maka dirinya dan usahanya akan diambang kehancuran.


"Baiklah saya akan mendidik Lisa dengan baik dan saya pastikan jika dia tidak mengusik rumah tanggamu lagi maafkan anak saya yang keterlaluan ini," ujar Cahyo memilih ngambil jalur aman daripada mengusik ketenangan keluarga Delano yang akan berakibat fatal kepada keluarganya dan usahanya.


"Bagus, ini peringatan terakhir untuk kalian. Jika di langgar, bersiaplah kehilangan segalanya dan hancur dalam sekejap mata!" balas Tristan dingin bagaikan sebuah ancaman serius dan menakutkan. Lalau Tristan pergi dari sana tak ingin berlama-lama di rumah orang yang sudah bikin dia emosi.


"Tapi, Pah. Lisa... Tristan..." Lisa ingin mengejar namun terhenti oleh bentakan Cahyo.


"Cukup! Jangan membantah ucapan Papa jika kamu tidak ingin Papa kirim ke kampung. Kalau kamu mengusik mereka, maka Papa akan mengirimmu ke desa terpencil jauh dari keramaian kota tidak ada sinyal ponsel dan tidak ada lampu!" ancam Cahyo begitu tegas melotot kan matanya berharap Lisa mengerti serta tidak mengusik Tristan.


Mamanya Lisa tercengang anaknya menjadi perusak rumah tangga orang. Dadanya kembali terasa sesak bagaikan terhimpit batu besar. Dia memegang lagi dadanya.


"Lisa... Kau... Kau buat Mama malu."


Mereka menoleh dan terkejut mendapati wanita itu tersengal-sengal menahan sesak.


"Mama...!" pekik Lisa dan Cahyo segera menangkap tubuhnya yang ingin jatuh.


"Ini semua gara-gara kamu, Lisa. Sudah dua kali kau membuat Mama mu begini. Kau mempermalukan kami. Kau mencoreng nama baik keluarga kami. Dasar anak sialan kau..." sentak Cahyo marah semarah-marahnya.


Deg...


Lisa terpaku.