
Kediaman Tristan
Alana baru saja pulang ke rumah suaminya. Setengah hari ini ia tidak mendapatkan kabar dari Tristan. Rasa rindu tiba-tiba saja datang tuk ingin sekedar menyapa suaminya.
"Bi, Tristan kapan pulangnya? Ini udah sore belum ada kabar dari dia? Apa dia tahu kalau aku pulang ke sini?" tanya Alana sedang berada di depan tv. Dia sedang asyik menonton sinetron di salah satu stasiun televisi. Lalu dia mengambil keripik singkong yang ada di dalam toples di atas meja.
"Mungkin sebentar lagi, Neng. Biasanya kalau sibuk Den Tristan akan pulang petang," jawab Bi Surti duduk menemani Alana.
Alana melihat bi Surti duduk di bawah langsung mencegah m. "Bibi duduk dekat Alana saja. Jangan di bawah," ujarnya tegas.
"Bini gak enak Neng. Kan bibi hanya asisten rumah tangga." Bi Surti enggan duduk di kursi, dia merasa tidak pantas seorang bawahan sepertinya duduk di kursi mewah bersama majikannya.
"Sekalipun hanya asisten rumah tangga tapi di mata Tuhan kita ini sama sama-sama manusia biasa. Ayo duduk di atas!" Alana menegaskan lagi lalu memegang tangan bi Surti membawanya duduk di atas bersamanya.
Bi Surti memandang kagum atas kebaikan Alana dan kesopanannya. Alana tidak sedikitpun memperlakukan dirinya layaknya pembantu tetapi selalu berlaku sopan pada siapapun.
Alana kembali mengambil keripik yang ada di tangannya kemudian kembali memakan keripik tersebut. "Tapi ini udah mau petang Tristan belum kembali juga," sambung Alana kembali pada pembicaraan awal mengenai suaminya. "Aku merindukannya," gumam dalam hati.
"Neng sabar saja, ya. Bentar lagi pasti pulang." Bi Surti mengusap punggung Alana memberikan ketenangan agar majikannya tidak terlalu khawatir.
*****
"Untuk meeting hari ini cukup sekian. Saya menyetujui kerjasama ini. Semoga bahan tekstil milik Anda semakin banyak peminatnya," ujar Tristan sambil membereskan beberapa kertas dokumen penting miliknya yang ia jadikan bahan materi mengenai kerjasama antara dia dan pemilik kain.
"Terima kasih, Pak Tristan. Saya senang bisa bekerja sama dengan toko Anda. Saya berharap kerjasama ini membuat kita semakin melambung tinggi dan usaha kita semakin digemari banyak orang dan tentunya digemari banyak peminatnya."
"Aamiin." Tristan mengaminkan doa tersebut, kemudian dia berdiri dan klien pun ikut berdiri. "Kalau begitu, saya pamit undur diri. Senang bekerjasama dengan Anda," ucapnya sambil menyodorkan tangan.
"Silahkan Pak Tristan. Terimakasih juga sudah memberikan kepercayaan saya untuk menjadi salah satu pemasok kain buat bahan-bahan baju Anda," balas orang itu menyambut uluran tangan Tristan.
Tristan tersenyum, dia mengangguk. "Saya permisi dulu, Pak." Kemudian dia berlalu pergi dari sana.
Sepanjang jalan pulang, Tristan kembali teringat akan kabar yang ingin ia bagi pada Alana.
"Istriku sedang apa, ya?" Tristan merogoh saku mengambil ponselnya lalu menyimpan di depan dia. Kemudian dia menyematkan earphone ke telinga dan menghubungi istrinya.
Alana yang asyik mengobrol bareng Bi Surti mendengar ponsel berbunyi. Senyumnya kembali mengembang ketika ada panggilan telpon masuk dari suaminya.
"Dari Tristan, Bi. Aku masuk kamar dulu, ya?" pamit Alana seraya berdiri mengambil tongkatnya.
"Iya, Neng. Bibi juga mau istirahat dulu," balas Bi Surti di angguki oleh Alana.
"Hallo."
Suara lembut Alana mampu menghipnotis Indra pendengaran Tristan. Dadanya berdesir merasakan gejolak rasa yang tak biasa. Setiap kali ia mendengar Alana hatinya berbunga-bunga. Jantungnya pun sering berdegup kencang.
"Aku lagi berjalan menuju kamar. Kamu kapan pulang? Ini udah mau isya," tanya Alana langsung teringat akan hal itu.
"Ini lagi di jalan. Kenapa hmmm, pasti kamu merindukan aku sampai bertanya mengenai hal itu?" Tristan senang istrinya semakin terang-terangan menyatakan kerinduannya meski hanya sekedar bertanya kapan pulang.
"Enggak, aku hanya bertanya saja. Emangnya gak boleh?" Seandainya ada Tristan di depan mata pasti pria itu sudah meledeknya. Bagaimana tidak, wajah Alana begitu merah malu dan juga rindu.
"Tentu boleh dong, sayang. Aku pun rindu ingin peluk kamu. Oh iya, kamu mau pesan apa mumpung aku masih di jalan?"
"Aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin kamu cepat pulang saja," lirih Alana menunduk malu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan kiri setelah duduk di tepi ranjang.
Tristan tersenyum, "Iya, aku usahakan secepatnya sampai."
Tristan terus bertukar suara dengan istrinya. Perlahan namun pasti, keduanya saling melengkapi dan merasa nyaman saat bersama dia.
Mereka terus berkomunikasi sampai mau Isya. Ternyata jatuh cinta itu indah. Mengobrol lewat udara pun terasa begitu bahagia jika bersama orang yang di cinta. Sesuatu yang baru itu bisa membuat orang lupa waktu.
Begitu pula dengan Alana yang baru pertama kali telponan sangat lama dengan seseorang yang sudah merasuk kedalam hatinya. Setengah jam lamanya mereka menghabiskan waktu lewat pesan suara.
Ponsel, bisa di bilang salah satu alat untuk mendekati seseorang.
Ponsel, bisa di bilang salah satu alat untuk mencari jodoh dan mendekati pasangan.
Ponsel, alat untuk semua orang berkomunikasi.
Bahkan ponsel, salah satu alat canggih masa kini. Dengan adanya ponsel, kita bisa mengetahui kabar seseorang meski tak langsung bertegur sapa secara langsung. Alat untuk menjalin komunikasi dengan semua orang bahkan dari berbagai macam negara dan tempat.
Beda orang, beda pula pemikirannya dan tujuannya. Begitulah kiranya orang yang memakai sosmed.
"Tristan, aku merasa nyaman saat denganmu. Aku mencintaimu," gumam Alana sangat lirih.
"Apa sayang? Aku tidak dengar?" Tristan ingin sekali lagi mendengar kata cinta dari Alana.
"Hah, tidak. Aku tutup dulu, ku tunggu kamu di rumah."
Tut...
"Hei, jawab dulu..." Tristan mendengus kesal, namun seperkian detik kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman. "Aku juga mencintaimu, aku akan segera pulang sayang." Tristan menyenderkan tubuhnya ke jok kursi, ia terus tersenyum seraya bersiul riang gembira.
"Jatuh cinta sejuta rasa, ada rindu bila tak jumpa. Aakhh... Alana, aku ingin segera bertemu denganmu."
Namun, di tengah perjalanan pulang beberapa menit lagi, ia di kagetkan oleh keadaan orang yang hendak meloncat dari jembatan. Dia mengenali siapa dia.
"Lisa..."