Moon

Moon
Balas Dendam



Percayalah.


Red itu pernah patah hati sampai-sampai ia tak mau makan, mogok bicara dan yang paling parah berimbas pada saat remaja; yang sangat klise dalam bentuk tawuran masa SMA.


Waktu itu, Kirana dan Daren tidak perduli, bagaimana mau perduli jika yang diurusi hanya tumpukan berkas perusahaan. Bagi keduanya, yang terpenting Red tak bodoh saja.


Fakta itu benar.


Meski bebalnya minta ampun, tapi siapa yang berani mengusir Red dari SMA, prestasi dimana-mana, ganteng juga iya, dan tak kalah penting adalah orang tuanya penyumbang terbesar di tempatnya Sekolah.


Case close.


Itu saja.


Tapi semua berubah. Seperti novel-novel remaja pada umumnya, ketua geng tawuran vs ketua OSIS yang akhirnya saling jatuh cinta.


Rubby Jane Abdigara, anak dari seorang pimpinan Polisi Bandung yang punya watak persis bapaknya; keras, disiplin dan bertanggung jawab yang mampu menarik total Red untuk dimilikinya.


Alasan Red sangat menyukai Rubby karena gadis itu cukup logis dalam argumenya, tegas dan paling penting tidak menye-menye seperti gadis-gadis lainnya yang begitu gencar mengejar sampai tak perduli dengan adab ********. Mengenaskan.


Red yang awalnya hanya mengalami kenakalan remaja pada umumnya, dengan ditambah kehadiran Rubby, pemuda itu menjadi nakal dalam hal lainnya. Terkadang sampai lupa dengan kebiasaan buruk menghajar para pemberontak sekolah tetangga, yang ia ingat hanya menghajar Rubby dalam desahannya.


Red merasakan jatuh cinta yang teramat memabukkan. Rasa penasaran akan pelajaran pembuahan di kelas biologi ia terapkan dengan benar, sialnya, kekasihnya itu mau saja. Disaat masa SMA harus berkutat dengan buku-buku, menambah ilmu lebih banyak lagi, tidak dengan keduanya.


Red dan Rubby sering menghabiskan waktu bersama, berperang peluh dalam senggama.


Dan.


Mereka tak menyesalinya.


Mengingat itu, Red sangat ingin menempatkan Rubby dalam ranjangnya saat ini juga.


Red tersenyum, ia mengingat lagi saat semalam Sea menasehatinya dengan petuah begitu mendalam. Red harus pulang, membawa hatinya untuk ditaruh ditempat semestinya—yaitu Rubby. Saat semalam pemuda itu ingin menghubungi kekasihnya, keberuntungan mengikuti, Rubby sudah duluan melakukan itu.


Rubby:


Maaf. Aku kangen.


Rasa rindu dari Rubby.


Red bahagia, sampai lupa bagaimana caranya nelangsa. Se-cinta itu Red dengan Rubby-nya.


"Iya, pa, Sea inget. Ini jatuhnya papa yang maksa apa oma yang maksa?"


Saat menuruni tangga, Red mendengar Sea berargumen dengan ponsel yang berada di atas meja, mode loudspeakers dinyalakan, karena si gadis sedang makan.


"Papa ini menantu yang sangat berbakti, jadi harus nurut, nggak baik ngelawan orang tua sayang."


"Kenapa Sea merasa tersindir ya pa, papa jago banget tau."


"Papa janji, kalau kamu nurut kali ini saja, apapun yang kamu inginkan papa turuti. Tanpa terkecuali."


"Menetap di Jerman. Cuma itu yang Sea mau. Titik!!"


"Kecuali itu."


"Nggak."


"Oke. Papa tutup."


"Sebentar. Iya apa enggak pa?"


"Enggak lah, enak aja, papa nggak rela. Tapi kamu harus nemuin oma. Titik!!"


Tut.


Panggilan berakhir. Red masih mematung setelah mencuri dengar dengan sengaja, dan si empu yang baru saja menyelesaikan perdebatan dengan Ayah-nya itu sudah kembali berkutat dengan piring tanpa ada beban sedikitpun.


Sebenarnya Davis, Papa si gadis itu memaksanya untuk melakukan apa sih?


Red penasaran.


Sea menoleh ke arah belakang, membuat Red sedikit terkejut tapi untung pemuda itu bisa bersikap normal dan menuruni tangga dengan santai.


"Habis ini gue anter ke bandara."


Sea mengangguk. "Baru aja aku mau telepon Lala buat jemput."


"Nggak usah. Gue aja yang anter lo."


Senyum mengembang dari bibir Sea. "Oke. Kalau lagi baik, gantengnya berkali-kali lipat, aku mau tanya, kapan sih kamu keliatan jelek? Aku penasaran."


Red bergidik ngeri. Meski saat ini ia sudah tidak membenci Sea seperti sebelum-sebelumnya, tapi jika ditodong pertanyaan seperti itu membuat Red sedikit…..


Sulit untuk dikatakan.


"Makan, jangan banyak omong, pamali." putusnya mengakhiri pembicaraan soal tampan.


Red menggaris bawahi kata Sea 'kalau lagi baik', membuat pemuda itu menyadari lagi dan lagi jika perlakuannya terlalu buruk untuk Sea selama ini, selama enam bulan lebih, cukup lama.


"Kamu kelihatan bahagia. Udah baikan?"


Ternyata Sea masih ingin bicara. Red hanya takut gadis itu tersedak, lihat saja, adab makan saja diabaikan. Kalau orang jawa, makan itu harus diam, tenang. Tapi ini Sea, Red tidak lupa jika gadis itu menghabiskan hidupnya di luar negeri.


Lupakan soal itu.


Perhatian.


Sea begitu perhatian. Kenapa?


"Lo masih suka sama gue?"


Sea mengangguk. "Masih. Sangat. Nggak akan berkurang. Dosisnya nambah terus sih."


Red tak bisa berkata-kata. Semakin ditanya semakin ngelantur saja. Tapi Red tetap penasaran dibuatnya.


"Apa yang lo suka dari gue?"


Cukup.


Red tahu. Sangat tahu jika ia tampan meski sang Mama dan Sky kerab sekali mengatainya dengan sebutan 'dekil' dan itu sangat tidak manusiawi.


Tapi ini Sea, yang sudah melalang buana ke negara orang. Apa tidak ada manusia berkelamin pria diluar sana yang lebih tampan dari Red?


Sungguh Red tidak mau terlalu tinggi mengagungkan ketampanan meski ia mengakui jika dirinya memang tampan, dan Sea selalu menyebutnya tampan, Red yakin, mata Sea bermasalah.


"Gue mau makan, jangan banyak omong."


Final. Red mengakhiri perbincangan.


Disaat Red mampu menutup mulut Sea dengan pelototan matanya, wanita berusia 40 tahunan berlari ke arahnya. "Den Jared mau keluar?"


"Bi, kata Red ngak boleh ngomong, dia lagi makan. Jadi, biar aku aja yang jawab. Iya, Red mau keluar, nganterin aku ke bandara. " jawab Sea polos.


Red sangat yakin, bukan hanya mata, bahkan otak Sea juga bermasalah. Jika pertanyaan bibi hanya itu saja kan tidak apa-apa untuk Red menjawab.


"Nona Sea mau kemana?"


"Mau balik Jakarta. Masakan bibi enak, aku nambah, makan dua piring. Makasih ya."


Red melirik Sea yang begitu nampak mengakrabkan diri dengan bibi, bahkan gadis itu tak sungkan memuji.


"Makasih, non. Kalau nona kesini lagi, bibi pasti masakin yang lebih enak lagi."


Red memutar bola matanya. Buat apa Sea kesini lagi? Dan perbincangan antara dua perempuan berbeda usia itu berlanjut begitu saja. Red total abai dan hanya fokus pada makanannya.


***


Sea fokus dengan jalan yang menurun dan pemandangan samping yang begitu asri. Masih pagi, jadi gadis itu membuka sedikit jendela mobil untuk mempersilahkan angin menerpa wajahnya, sampai tertidur.


Tubuh tenang, dengkuran halus dan mata tertutup membuat Red terpaksa memelankan laju mobilnya, ditambah rambut pirang si gadis sedikit berterbangan, persetan dengan lamanya perjalanan, toh penerbangan Sea ke Jakarta tidak semepet itu.


"Se. Bangun."


Setelah perjalanan tak lebih dari satu jam, Red sudah sampai di bandara, tapi ia tak tega membangunkan Sea. Tapi jika dibiarkan saja, maka gadis itu tak akan usai dengan mimpinya. Lihat, Red sudah menggoyangkan tubuh Sea, tapi gadis satu ini tak terusik juga.


"SE, BANGUN." Red terpaksa berteriak tepat di telinga Sea.


Sea sontak berjingkat dan membuka mata. "Udah sampai? Maaf aku tidur." ucapnya serak.


Red ingin menenggelamkan diri di rawa-rawa. Bagaimana bisa Sea tidak marah setelah Red membangunkannya dengan cara yang tidak manusiawi.


Terbuat dari apa sih Sea ini?


"Udah, ayo turun."


Saat memasuki bandara, Sea dikagetkan dengan sosok cantik yang berjalan dengan senyum sangat lebar, tapi, saat mata harta karun milik Rubby menatap ke arahnya, senyum gadis itu memudar. Tampak jelas.


"Red. Ada Rubby?" Sea melirik Red dan menanyakan hal tersebut.


"Iya, gue tau."


Jadi? Ada apa ini?


Tapi Sea tak begitu kikuk, suasana seperti ini bukan yang pertama kali, tapi berlali-kali. Jika dapat sarkas dan semacamnya, Sea sudah sangat kebal.


"Aku kangen." Rubby tak menggubris Sea, gadis itu langsung memeluk kekasihnya yang sudah jelas diterima dengan baik oleh Red.


"Ada penjelasan?" Rubby bertanya setelah mengurai pelukan.


Red tahu, Rubby setengah mati penasaran. "Semalam, aku dan Sea tidur di villa."


"Dalam artian?"


"Mama kan udah bilang sama kamu, aku dan Sea adalah keluarga, kerabat yang tidak berat sebelah oleh perasaan. Nggak kayak kamu sama Geido."


Sekarang Rubby tahu maksudnya. Ini adalah pembalasan dendam. Red tahu Rubby cemburu mampus, tapi pemuda itu malah menghadapkan Sea tepat di depannya. Meski Mama Kirana sudah meluruskan, tapi perasaan Rubby tetap sakit. Tidak apa, biar Red puas, gadis itu juga salah sebelumnya.


"Iya. Maaf." Maka Rubby tak bisa berkata selain iya. Yang terpenting, hati kekasihnya masih utuh untuknya, itu lebih dari cukup.


"Tapi kamu bisa bantu aku 'kan? Kalau cuma aku yang usaha, hubungan nggak akan baik-baik ke depannya. Kamu bisa kan lakuin itu semua?"


Rubby mengangguk. Perasaan bersalah kembali lagi memukul dadanya. Yang dikatakan Red benar. Yang dimohonkan Red juga memilukan. Lain kali, Rubby berusaha untuk menolak ajakan Geido, untuk alasan apapun.


Sedangkan Sea sudah persis seperti penonton bioskop pribadi dengan tema film romansa cinta sehidup semati. Gadis itu hanya diam mengamati interaksi Red dan Rubby. Tapi sampai tangan Red memeluk pundaknya, barulah Sea tersadar.


"Hati-hati. Sampai Jakarta kabarin."  ucap pemuda Ardibrata.


Luar biasa. Red mengatakan dengan kelembutan yang tak pernah Sea rasakan sebelumnya. "Thanks." Bisik Red lagi sebelum Sea beranjak dan melambaikan tangan.


Jadi Sea disini untuk alat balas dendam? Gadis itu praktis tahu tujuan Red yang berbaik hati mengantarnya daripada dijemput oleh Latania.


Semua sudah direncanakan.


Tapi Sea mana ada sakit hati sih. Seperti sebelum-sebelumnya, Sea hanya biasa saja, sudah kebal, ia hanya suka Red, bukan untuk merebutnya.


Itu saja.


Tapi satu hal yang membuat Sea bahagia. Senyuman Red terbit hari ini juga, artinya, pemuda itu sudah baik-baik saja.


"Se. Jangan baper lo. Red cuma cinta sama gue." Rubby tak tahan untuk tidak mengatakan itu dengan lantang setelah tahu perlakuan manis pacarnya yang dengan terang ditunjukkan.


Red kurangajar, tapi Rubby sayang.


"Tenang, Rubby. Red nggak semenarik itu buat dampingin aku." Teriak Sea tak kalah lantang. "Tapi kamu harus khawatir, karena aku masih suka sama dia."


Praktis membuat Rubby cemberut kesal.


Mau bagaimanapun Rubby memprofokasi Sea, tapi gadis itu tetap sama, tak terpengaruh sedikitpun, ingat ya, tak sedikitpun.


Rubby kerab sekali dibuat bungkam oleh Sea hanya dengan kata-katanya. Disaat Rubby marah, Sea hanya tersenyum seadanya, niat Rubby untuk memukul rubah satu itu selalu gagal karena memang Sea tak layak untuk dipukul, maksudnya belum layak. Nanti, pasti, saat Sea sedikit melunjak, atau sedikit melawannya, maka Rubby akan bertindak.