
Pada dasarnya Sea memiliki tubuh yang sehat, tidak pernah sakik-sakitan.
Tapi berbeda jika wanita itu sedang hamil, fakta itu terjadi saat kehamilan Arche empat tahun yang lalu, entah itu bawaan dari bayi atau dasarnya penyakit Sea hanya datang saat hamil saja. Padahal kondisi sudah dipastikan tidak bermasalah, tapi Sea tetap tumbang.
Apalagi sekarang, jika saat hamil Arche wanita itu sakit fisik dengan parah meskipun tampa pikiran tertekan, coba bayangkan bagaimana nasib Sea saat hamil kedua dengan masalah yang menindas hatinya?
Jawabannya?
Ya, jawabannya ada saat sekarang Sea berada di atas ranjang rumah sakit, semua ornamen di ruangan berwarna putih, di sofa sudah ada kedua orang tuanya, Davis dan Sekar yang menunggu Sea siuman.
Beruntung sekarang Sea sudah membuka mata hingga kedua orang tua yang semula duduk segera berdiri.
“Nak, maafin papa, harusnya papa nggak nyuruh kamu urusin kantor.” Davis lebih dulu membuka suara, menghampiri putrinya dan mengelus surainya.
Sedangkan Sekar bereaksi berbeda. “Udah tahu kamu itu nggak bisa capek waktu hamil, kenapa berlagak kuat, lihat sendiri sekarang?”
Suara kedua orang tua Sea terasa lenyap saat Sea kembali teringat dengan beban pikiran yang dua hari menyerangnya.
Benar. Curiga yang Sea rasakan memang benar terjadi. Kecurigaan Sea kepada Red nyata adanya. Red mampu berbohong tanpa Sea tahu pria itu jujur apa tidak, sangat pintar bersembunyi, mengatakan cinta setiap hari, tersenyum manis di setiap kesempatan, dan video yang Sea lihat seolah menunjukkan jika semua tindakan yang dilakukan Red padanya adalah palsu.
Jika memang masih ada Rubby dihatinya kenapa harus memilih Sea yang nyata-nyata sedari awal sudah menolak?
Sea sudah merasa nyaman, pria itu mampu menginjak kawasan hati Sea, membuat Sea hampir gila karena perasaan cinta. Bukankah itu sebuah kebrengsekan yang mulus? Kalau memang Sea cinta pertama yang tidak bisa Red lupa, atau memang Red benar-benar menginginkan Sea jadi miliknya, kenapa pria itu justru berbuat sesuatu dengan wanita lain bahkan saat Sea sendiri tidak dekat dengan pria manapun.
Lalu apa? Kenapa?
Sea mengaku serangan nyaman dalam rumah tangga sudah ia rasakan dan sekarang Sea harus menarik kembali kata-kata itu, nyatanya rumah tangga yang sedari awal tidak dipercayai Sea berwujud nyata.
Jujur Sea teramat menyesal telah memutuskan untuk menikah. Semua yang dikatakan Red adalah kebohongan semata. Membuat Sea tak bisa berhenti memikirkan dan berakhir di bangsal, tumbang.
Sea membalik badan, membiarkan kedua orang tuanya yang masih mengoceh saling menyalahkan, Davis yang menyesal dan Sekar yang terus menyerang.
Sea berkali-kali mengambil napas untuk menahan gejolak sesak di dada, matanya setia berair dan wajahnya pucat sekali.
Suara pintu terbuka, Sea tidak akan penasaran lagi dengan siapa yang datang karena beberapa saat tadi Sea sedikit mendengar ayahnya menjawab telepon dan mengatakan nomor kamar rawat inap miliknya, dan itu adalah Red.
Red menghampiri Sea, akibat Sea tak berpaling, Red memilih untuk memutar posisis agar tepat di depan Sea, agar bisa melihat wajah istrinya.
Kemeja keluar dari celana dan itu tidak rapi sekali, rambut acak-acakan serta raut khawatir dari Red membuat Sea bertanya-tanya lagi. Apakah kekhawatiran Red adalah nyata? Pria itu pura-pura atau sungguhan menghawatirkan dirinya?
Tak lema bertanya dalam pikiran, Sea memilih untuk memejamkan mata kembali. Kehadiran Red membuatnya semakin pedih, mengingatkan akan isi video yang ia tonton.
“Mulai sekarang nggak usah ke kantor, aku tadi juga udah bilang om Davis.” Suara Red terdengar jelas, pria itu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Sea. “Aku nggak mau lihat kamu ambruk kayak gini.”
Sea tak bisa barang sedikitpun untuk menahan matanya agar tetap terpejam, Sea sontak membuka mata dan menatap Red dengan tajam.
Dengan suara bergetar, Sea mengucapkan satu kalimat perintah. “Jangan berisik!”
Red hanya bisa mengelus dada, meskipun sabar tapi dapat terlihat jika pria itu sedang menahan dongkol.
Oke, Red dua hari di diami Sea, wanita itu sama sekali tak menyapa seperti hari-hari biasanya, tatapan Sea juga seperti orang yang tidak mengenal suaminya sendiri. Dan hari ini, berita buruk tentang tumbangnya Sea sontak membuat jantung Red hampir lepas dari tempatnya. Red khawatir sampai-sampai pria itu meninggalkan meeting penting dan menyetir mobil dengan urakan.
“Aku lagi bilangin kamu, baik-baik, dan begitu respon kamu.” Wajah Red sedikit mengeras, mata pria itu juga berair dan merah. “Aku suami kamu, dengerin Sea.”
Sea memilih untuk melihat jendela dengan kordain yang bergoyang-goyang akibat terhempas oleh angin, wanita itu total mengabaikan Red.
Dada Sea semakin sesak, melihat Red marah menambah kebingungannya, pria itu benar-benar khawatir apa tidak? Tapi jika khawatir karena apa? Apa yang ada dipikiran pria itu?
“Mulai sekarang kamu nggak boleh kemana-mana kalau nggak sama aku, aku ambil cuti atau kerja dirumah saja.”
Lagi, kalimat Red membuat Sea semakin bingung. Apa Red sedang bersandiwara?
“Kamu nggak boleh kemana-mana!” Red melanjutkan kalimatnya.
Sontak membuat Sea memandang pria itu lagi. “Sekalian aja borgol tanganku.”
Red menarik napas dalam.
“Masih ngebantah!!” Padahal Red belum selesai meberi petuah-petuah lainnya. “Aku tadi langsung nemuin dokter sebelum lihat kamu. Katanya kamu kecapean, jangan kerja berat, jangan banyak mikir, harus mikirin adeknya juga Sea.”
Sea masih menatap tajam kepada Red, namun wanita itu tak memberikan jawaban apa-apa. Justru saat ini yang membuat Sea tambah dongkol saat Sekar bersuara lagi. “Bilangin Red, mama nggak tahu lagi harus ngomong apa, Sea keras kepala, mama sama papa keluar dulu, kalian ngobrol baik-baik.”
Berbeda dengan Davis, pria itu mengetakan. “Papa keluar dulu, nanti kesini lagi, dan kamu Red, jangan dimarahin, nggak udah denger omongan mama Sekar.”
Sea masih tidak bisa mengatakan apa-apa, layaknya ia diciptakan untuk tidak berbicara saja. Dan setelah Davis dan Sekar keluar kamar, Red menyugarkan rambutnya.
“Salah ya aku ngomelin kamu?” Red kembali bersuara.
Tidak.
Jika tadi dada Sea sesak, tidak dengan sekarang, rasanya napasnya mau berhenti saja.
Red melihat air muka Sea yang sudah tertekan. Good. Red telah membuat Sea semakin terpuruk. Apalagi saat ini saat pipi Sea sudah basah karena wanita itu mendadak menangis tanpa suara.
Omelan-omelan macam ini sebenarnya sangat tidak perlu. Yang dibutuhkan Sea hanya ketenangan.
“Kamu dengerin aku kan?” Red akhirnya merendahkan nada bicaranya, pria itu mengambil tangan Sea, menbawa punggung tangan itu mendekat untuk di kecup lembut.
“Sudah makan? Mau makan? Aku suapin mau?” Tak mau menyerah, Red bertanya lagi dengan sebuah penawaran.
Tapi tetap sama, rasanya sangat sulit bagi Sea untuk membuka mulut.
“Baby nggak apa-apa, kamu juga nggak apa-apa.” Red meberi tahu apa yang dikatakan dokter.
Dan seketika itu Sea melengos lagi.
“Tapau daddy mau tanya. Mommy beneran nggaka apa-apa?”
Mendengar kalimat pertanyaan dari Red terakhir justru membuat Sea terisak lagi.
Sea tetap seorang wanita, ia punya hati yang rapuh, mau setegar apapun, jika hati wanita sudah kena, maka akan mudah rentan. Apalagi Sea lagi terekan, sedang tidak baik-baik saja, jika ditanya tidak apa-apa, maka jawabannya sudah tentu ada apa-apa, dan air matalah yang menjadi perwakilan atas jawaban.
Red mengusap pipi Sea dengan ibu jarinya. “Jangan nangsi dong Mom. Udahan.”
“Kamu gila!!” Sentak Sea cepat. “Ngomel terus, aku lagi sakit butuh ketenangan, bukan marah-marah nggak jelas.”
Oke. Sekarang Red yang terdiam.
Masalahnya Red itu tidak tahu dengan isi kepala istrinya. Sea diam, sekalinya bicara sudah meledak-ledak, tatapannya sinis seperti menghadapi musuh bebuyutan. Sumpah demi Tuhan, ia tidak pernah menduga mendapat perlakuan sedemikian rupa dari Sea.
Jadi wajar bukan jika Red bingung dan sekarang memilih untuk diam? Agar setidaknya Sea bisa tenang.
“Kamu pikir aku nggak khawatir sama bayi aku saat aku sakit kayak gini? Apa kamu pikir aku milih mau sakit apa enggak?” Sea berbicara lagi. “Aku juga takut bayiku kenapa-napa. Kamu nggak perlu ingetin sedangkan aku tahu sendiri kalau aku salah, iya aku salah kan udah nggak becus rawat diri. Jadi sekarang kamu diam.”
“Iya sayang. Maafkan aku. Udah ya, jangan nangis.” Red sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena kalimat panjang yang terurai dari istrinya itu disertai dengan isakan tangis yang pilu, Red tidak tega.
“MAKANYA KAMU BERHENTI NGOMEL. DIEM!!”
Ya tuhan. Red kaget, istrinya serem.
Tapi disaat emosi Sea memuncak, Red malah menahan senyum yang justru membuat Sea tambah ingin *******-***** wajah suaminya itu.
Sedangkan bagi Red, omelan Sea sangat berarti untuknya, akhirnya Sea mau berbicara lagi dengannya, tidak diam seperti patung pajangan di tengah-tengah kota.
“Iya.” Sahut Red lagi. “Tapi sekarang dengerin aku ya, aku nggak mau ngomel. Tapi kamu kalau ada apa-apa bilang ke aku, kalau ada masalah bilang ke aku juga, dibagi ke aku, biar ringan.”
Dan bagi Sea, masalah satu-satunya dalam hidup adalah suaminya. Bagaimana cara Sea berbagi dengan Red sedangkan titik permasalah dari hidupnya justru pria itu?
Sea membuang napas, mengusap ingus dan sisa air mata.
Sekali lagi soal kepercayaan. Dengan bohongnya Red membuat Sea total frustasi. Pria itu sudah membuat Sea jatuh cinta yang dasarnya wanita itu sangat sulit untuk percaya dengan orang lain. Gambaran rumah tangga yang Sea pelajari adalah Jeremy, tapi lihat Red berhasil membuat Sea lupa dengan bagaimana Jeremy bertindak dalam rumah tangga pria casanova itu sendiri.
Tapi jika kepercayaan yang diusik kembali. Bahkan Sea tidak bisa mempercayai diri sendiri, lantas bagaimana lagi cara Sea untuk percaya dengan Red yang sudah kepalang basah berbohong.
Sea mengaku video berpelukan bahkan berciuman yang dilakukan Red dan Rubby itu sebelum Sea menempatkan cincin pernikahan di jemarinya, namun kenapa Red harus berbohong segala dengan mengatakan tidak terjadi apa-apa di Dubai? Kenapa?
Dan untuk kasus ini, Sea seperti dihianati. Tidak bisa, Sea tidak bisa diam saja.
“Red.”
“Iya sayang, kamu mau apa?”
Hati Sea teriris lagi. Kenapa ia jatuh cinta kepada suaminya? Sea pernah berbicara, akan meninggalkan Red saat pria itu ketahuan berbohong. Tapi kenapa rasanya sekarang ia tidak sanggup.
Sea mengubah posisi, dengan pelan wanita itu mendudukkan diri. Sea menatap wajah yang sama-sama frustasi, Red sama seperti dirinya, mungkin pria itu sedikit tertekan karena di diami oleh Sea. Rasa-rasanya raut Red sudah tidak sama, dulu Sea melihat pria itu penuh dengan canda tawa, tidak dengan sekarang. Apa semuanya karena Sea yang sering memarahinya? Apa karena Sea selalu membawa ribut dalam rumah tangga mereka?
Sea menebalkan niat, matanya bergetar dan ia mencoba menelan ludah banyak-banyak.
Sea siap. “Rubby, kirim video ke aku.” ungkapnya kemudian.
Sea menyaksikan wajah Red yang sontak menegang. Pria itu tak mengatakan apapun, diam cukup lama dan menambah asumsi jika setelah ini hubungan mereka tidak akan baik-baik saja, rumah tangga mereka berada di tepi jurang.
“Video apa?” Red akhirnya bertanya.
Sea tersenyum sayu, matanya membentuk garis tipis. “Video kamu sama Rubby lagi make out, di Dubai, satu bulan sebelum kamu pulang ke Indonesia.”