
“Edward, please.”
Sea dengan berbagai confetti yang berserakan di lantai dihadapakan dengan Edward yang ngotot sekali ingin memakai event organizer, jelas sekali jika itu suruhan dari Red.
“Terus gue ngapain dong kesini? Nanti Red marahin gue Se, lo tahu kan calon laki lo itu kembaran Setan.”
“Setan?” Arche yang sedang bermain-main dengan mobil-mobilan menoleh, lalu menatap Edward dengan kedipan matanya. “Uncle? Siapa yang kembaran setan?”
Sea segera menutup telinga Arche sembari berjongkok, lalu menatap Edward dengan pincingan matanya. “Edward, ya kan, kalau kamu masih mau hidup, pulang, kalau enggak aku aduin ke Red nih, aku bilang ke Archi ‘kata Uncle Edward yang mirip setan itu Led Daddy’ kamu mau Edward?”
“Gimana, mau?” Sea menanyai Edward yang sama sekali belum sempat menjawab saking terintimidasi oleh Sea yang tersenyum miring.
“Oke, gue pulang, tapi jangan bilang Red.” Pulang tidak pulang bagi Edward adalah kesalahan, karena ia datang ke rumah Sea untuk mengurus acara ulang tahun Arche, tapi karena mulut yang tidak bisa diajak kompromi, dan karena Arche itu bocah dengan keingintahuan yang tinggi, makanya Edward nanti akan menanggung konsekuensinya sendiri.
Sepeninggal Edward dari rumah ini, Sea meneruskan lagi untuk menghias ruang tamu. Kenapa Sea di hari sabtu ini begitu repot mengingat wanita itu bisa melakukan apa saja dengan uang?
Jawabannya.
Sea ingin mencurahkan kasih sayang yang penuh dengan usaha tangannya sendiri. Sea ingin berkeringat untuk menyulap ruangan ini sebagai panggung pesta Arche dengan dekorasi karyanya sendiri. Untuk acara besok pagi.
“Mommy, calon laki itu apa?”
“Baby, bimsalabim.” Sea menggerakkan tangannya di depan muka Arche, berlagak seperti penyihir.
“Oke, It's not time for Arche to know. Yes mommy?”
Ya Tuhan gemas sekali sih Arche ini, dengan jawaban Arche yang seperti itu sontak membuat Sea menciumi pipi gembul si baby.
“Pinter banget sih babynya mommy.” Sea berucap dan kembali ke kesibukan awal, membiarkan Arche bermain mobil-mobilan.
Oh, Sea hampir lupa. “Baby, habis hias-hias nanti ikut mommy ke rumah Eyang ya, kata Eyang Seruni baby mau dikasih hadia.”
Entah kenapa, Seruni pagi-pagi memberitahukan hal itu, padahal ini hari sabtu dan Sea sudah berbicara kepada neneknya agar tidak mengganggu, karena Sea sibuk.
Arche yang sibuk dan beralih pada lego pun menjawab tanpa menoleh. “Iya mommy.”
Sea kembali sibuk dengan rumbai-rumbai slinger dua macam warna, gold dan silver, sesuai dengan kesukaan Sea. Namun sesaat fokus Sea teralihkan ketika melihat baby Arche, diam-diam Sea mengamati bagaimana bibir si baby mengerucut karena konsentrasi penuh berada pada lego ditangan, apa Red begitu ya kalau sedang konsentrasi?
Sea menggelengkan kepala. Kenapa ia tiba-tiba memikirkan Red?
Sea teringat kembali pesan dari Red.
Orang nggak jelas:
Mommy, acara perusahaan di undur, ke pestanya dua hari setelah ulang tahun Arche.
Kan, tidak jelas sekali. Sea beberapa kali merinding dengan panggilan Red.
Ok. “Sea kamu harus konsentrasi, jangan memikirkan Red.” Batinya.
“Baby, tadi mainan di kamar udah diberesin belum? Ingat apa kata mommy?”
Ya kan, Arche terusik, bayi tiga tahun itu menoleh ke arah ibunya, dengan anggukan antusias, Arche berlari menuju kamar, karena jika ia malas, Led Daddy tidak mau menemuinya. Se-simpel itu, padahal Red tidak pernah berkata demikian, karena ini memang akal-akalan Sea saja.
Sebenarnya Sea hanya iseng, tahu-tahunya Arche percaya, karena Arche sangat menyukai Red, jadi bayi itu rajin dan menurut.
Suara deruman mobil memasuki pelataran, sebenarnya Sea tak begitu mendengar, namun dari kaca yang teramat besar ia tahu bahwa mobil hitam mengkilap itu milik Red.
“Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?” Sea benar-benar tidak mau bertemu Red, untuk saat ini. Tapi bagaimana jika bocah usia tiga tahun itu tahu-tahu lari melewati Sea dengan memangil-manggil ayahnya.
Dari mana Arche tahu Red datang sedangkan baru saja bayi itu memasuki kamar? Sungguh ikatan yang begitu kuat.
Namun Sea tersenyum saat Arche dan Red mengobrol antusia, baby memperlihatkan lego-lego yang berserakan dilantai hingga berceloteh panjang lebar.
Dan tahu apa yang lebih sial saat ini?
Sea sedang berada di tangga segi tiga, Sea berada di posisi paling atas untuk menempelkan linger di pinggiran tembok saat Red mendongak ke arahnya. Dan bagian paling riskan, Sea tidak bisa mengira jika jantungnya berdegup kencang hingga kaki bergemetar, alhasil, tangga sedikit goyah dan Sea bisa saja terjatuh jika tangan kekar Red tidak menangkup pinggangnya.
“Hati-hati dong mommy.” Red mengatakan itu dan Sea langsung menjaga jarak.
Dan tahu bagaimana respon Sea?
Normalnya orang yang diberi pertolongan itu mengucapkan terimakasih, tapi Sea memilih untuk menunduk karena otaknya sedang berkecamuk.
Aha, satu ide Sea temukan, mulai hari ini, Sea akan menulis di papan dan ditaruh di halaman dengan tulisan ‘pria dewasa dilarang masuk’ karena Sea tidak mau nanti dijadikan bahan gosip karena Red hampir setiap hari ke rumah ini.
Padahal, tetangga bodo amat.
“Kamu ada perlu apa kesini?” Tanya Sea karena kasihan juga Red diabaikan.
Red tersenyum. “Ketemu calon istri.” jawabnya.
“Sea, yuk nikah, mau ya, jangan nolak terus.”
“Bulan depan kalau salju turun aku mau nikah sama kamu.”
Logikanya Indonesia tidak akan turun hujan, artinya Sea menolak dan Red tahu betul jawabannya akan seperti itu pada akhirnya.
Sea mendorong bahu Red, kemudian berniat untuk menaiki tangga lagi, pekerjaannya masih banyak. Namun saat kaki Sea menaiki tangga, pinggang wanita itu ditarik oleh Red beserta lingger ditangan diambil juga. “Aku aja.”
Sea menoleh, “yakin?” tanyanya dengan nada teramat pelan.
Sea mana bisa sih marah dengan Red. Bukankah dari dulu seperti itu, Sea si wanita lempeng.
Tanpa basa basi Red menaiki tangga dan menempelkan lingger dengan double tip, Sea dari bawah mengintruksi dengan tangannya. “Habis itu kesana, pojok sini, pokonya harus rapi.”
Red harus bolak balik turun tangga dan pindah posisi, membuat peluh di dahi menetes. Red tidak menyangka Sea mau kerepotan menghias semua ruangan hanya untuk acara ulang tahun anak kecil, maksud Red, kenapa Sea menolak event organizer yang telah ia siapkan? Kan gampang jika memakai jasa mereka dan Sea tidak akan kelelahan.
“Kamu dari pagi ngerjain sendiri?”
Sea mengangguk dibawah, Red menayainya tanpa menoleh kearahnya, pria itu masih sibuk diatas tangga, akhirnya Sea memilih untuk menjawab. “Kenapa? Kamu kelelahan?”
“Enggak. Untung aku dateng, kalau enggak kamu bisa pasang semuanya sendiri?”
Sea memincing sinis. “Aku bisa, sini kamu turun, gantian aku.”
“Aku aja.” Jawab Red ringan.
Dan Sea diam lagi, satu senyuman ia tahan mati-matian.
Red akhirnya menuruni tangga, sedangkan Sea meniup balon diatas karpet.
“Mommy.” Panggil Red.
Sea tuli, tidak, ia hanya pura-pura tuli dengan menyibukkan diri meniup balon tanpa henti.
“Sea.”
Sea tetap diam, kali ini wanitu itu menyatukan balon satu dengan balon lainnya.
“Sayang.”
“Apa sih Reeeeeeed?” Sahut Sea sembari mendongak, Red sudah di depannya.
Mendadak muka Red yang tadinya suram berubah manis dengan senyuman saat yang dipanggil menatapnya.
“Ini.” Red menunjukkan kakinya yang sedikit gemetar. “Sakit, kram.”
“What? Wait……sini.”
Sea otomatis menuntun Red ke arah sofa, memijit-mijit kaki Red sebisanya, jujur Sea tidak tahu cara mengatasi kram. “Kamu udah tua.” tiba-tiba Sea menyeletuk.
Yang dipijit tidak terima dibilang tua, enak saja, ia masih perkasa. Umur pun tak jauh berbeda dengan si wanita, anak juga cuma satu, buatnya juga barengan. Enak sekali Sea berbicara semaunya.
“Aku cuma kram, nggak ada hubungannya dengan umur.” Red berkata demikian namun tidak ketus juga, ia memandangi Sea yang mencibir dengan masih memijit kakinya. “Aku masih muda, masih perkasa dan berstamina, kamu sendiri jadi saksinya kan wak…..”
“REEEEED.”
Setelah berteriak, Sea memincing tajam, ia amat yakin wajahnya juga merah padam. Namun Sea berkomat-kamit kepada Red, jika Red tidak salah tangkap, Sea sedang memberinya peringatan namun tanpa nada suara.
“Aku nggak mau ngomong sama kamu kalau bahas itu.”
Tiba-tiba tawa Red menguar. “Serius? Kamu malu?”
Sea mendelik. “Sana pulang.” Usirnya.
Sea berdiri, meninggalkan Red dan sibuk lagi dengan balon-balon. Sea ingin sekali mengumpat tapi ia tahan karena ada Arche.
“Arche.” Panggil Red kepada putranya.
“Iya daddy.” Arche menjawab dan menghampiri Red di sofa.
“Arche mau daddy pulang apa disini?” Tanyanya setelah pria itu menoleh Sea sekilas.
Sea berpirkir pria itu sangat curang.
Arche menjawab antusias, “Jangan pulang.”
Red mengangguk puas dengan jawaban putranya, lalu pria itu mengangkat Arche untuk duduk dipangkuannya, berceloteh ringan dan bercanda.
Red menoleh ke arah Sea yang kebetulan juga memandanginya, tersenyum jahil lalu berlata. “Mommy, anaknya yang mau daddynya tetap disini.”