
Jika diibaratkan, Sea sepeti petualang yang menjajah dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Sea benar-benar tidak merasa nyaman berada di rumah baru, pun setelah satu minggu berlalu, Sea memboyong Arche untuk tinggal di rumah utama, Rumah Oma Seruni.
Tak banyak yang menyambut Sea, hanya bibi pekerja rumah saja karena Oma Seruni berada di kantor, meskipun wanita tua itu sudah keriputan. tapi siapa lagi yang akan menanggung pekerjaan selain dirinya, lagipula oma Seruni masih sangat bugar meski kerab sekali jatuh sakit.
Sea menurunkan Arche dari gendongannya, wanita itu menyeret berbagai keperluan penting yang dimasukkan di dalam koper, terutama mainan-mainan kesukaan putranya itu.
Lega, Sea seperti kembali ke rumah, karena sejak kecil Sea memang menempati rumah utama sampai pada wanita itu harus pergi ke luar Negeri untuk bersekolah dan mandiri.
“Nona Sea sendirian saja? Nggak bareng Nyonya Sekar?” Tanya bi Rani salah satu bibi yang menyambut Sea, lalu wanita sekitar umur empat puluh tahun itu menyuguhkan minuman, Teh dalam cangkir.
“Mama masih dirumah Bi, nanti pasti kesini.” Jawab Sea bohong.
Pasalnya mamamya yang bernama Sekar itu tidak tahu Sea berada dirumah ini, pasti Ibunya itu nanti ngomel panjang lebar, atau mungkin saja ibunya saat ini berada dirumah baru Sea dan mendapati Sea tidak ada disana.
Dengan jawaban Sea yang seperti itu, Bi Rani tersenyum. “Nona Sea rencananya mau tinggal disini lagi?” tanyanya kemudian.
Sea tersenyum, wanita itu mengangguk. “Iya Bi, mulai hari ini.”
Senyum tak malu Bi Rani berikan, akhirnya, Bi Rani adalah salah satu orang yang sangat menyukai Sea, menurut Bi Rani wanita yang tengah mengandung anak kedua itu sangat baik dan ramah, satu lagi, sangat cantik, dengan melihat Sea saja bisa membuat Bi Rani semangat bekerja.
Jujur Sea juga senang kembali ke rumah ini, apalagi Arche, putranya itu sangat suka karena banyak teman ditempat ini, bibi sangat banyak dan bisa mengajak Arche bermain, mengitari taman, berenang dan tak menanyakan banyak hal, termasuk tentang Red.
Sedangkan untuk Oma Seruni, wanita tua itu tidak banyak berkata saat ia tahu kedatangan Sea setelah pulang dari kantor. Oma Seruni cukup bahagia tanpa mau memperburuk keadaan, ia lebih memilih memberikan Sea waktu untuk meregangkan pikiran dengan tidak banyak mengintoregasi cucunya tersebut.
Itulah yang Sea pikirkan.
Ya.
Sebelum semua praduga Sea berubah saat malam tiba.
Lampu kamar sudah mati berganti lampu kecil remang-remang, diatas ranjang besar milik Sea, keduanya berpelukan, dari sanalah pertanyaan Arche dimulai.
“Mommy, are you sad?”
Kantuk tak membawa Arche memejamkan mata meski telapak tangan ibunya sedari tadi menepuk-nepuk lembut pahanya. Mata anak itu berkedip-kedip, kepalanya mendongak dan menatap Sea dengan polos.
Sea yang semula memejamkan mata terpaksa harus membuka, melihat Arche yang nampak lucu dipelukannya. “Enggak.” Jawabnya lembut. Tangan Sea terangkat untuk menyugar surai hitam mengkilap putranya, wanita itu tersenyum lalu bertanya. “Kenapa baby bertanya seperti itu?”
Arche tetap pada posisinya, tetap mengedip-ngedipkan mata polos, bayi berumur empat tahun itu terdiam, ada sedikit rasa enggan, takut dan ragu yang menjadi satu.
Sea tidak sabar menunggu, sebenarnya apa yang menagganggu isi kepala anaknya ini. “Kenapa? Apa yang baby pikirkan?”
“Arche mau daddy.” Ujar anak itu kemudian.
Seketika Sea terdiam.
Sea salah besar mengira Arche baik-baik saja tanpa ayahnya. Sea kira saat bermain dari pagi sampai malam dengan senyum ceria beserta celotehan khas anak-anak berarti Arche tidak membutuhkan Red. Tapi nyatanya anak itu merindukan ayahnya.
Mau setumpuk mainan pun Sea rasa tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Red bagi Arche, tidak akan sebanding, karena Sea tahu, Red adalah ayah terbaik untuk Arche.
Arche tidak terbiasa meminta tanpa takut-takut. Arche juga sudah terbiasa mengatakan apapun yang diinginkannya. Jadi, untuk saat ini, apa yang membuat Arche begitu ragu hanya untuk mengatakan bahwa anak itu merindukan ayahnya?
“Baby rindu daddy?” Tanya Sea, lagi-lagi jawaban dengan anggukan pelan membuat Sea jadi gemas. “Oke, besok mommy bilang ke oma Sekar ya, biar baby diantar ketemu daddy.”
Jawaban Sea sontak membuat Arche berbinar, senang luar biasa. Tapi tiba-tiba Arche berhenti tersenyum kemudian bertanya. “Apa daddy pergi naik pesawat? Kenapa Arche pergi bareng oma?”
Kenapa anaknya ini pintar sekali.
Sea tersenyum lalu menggeleng. “Enggak.”
“Kalau daddy nggak naik pesawat kenapa Arche harus ditemani oma, kenapa nggak bareng mommy aja?”
Sea terdiam. Semyum diwajahnya pun juga ikut menghilang.
Sea meringis dalam hati. Apa yang bisa Sea lakukan untuk menjawab pertanyaan lugu putranya. Tidak mungkin bukan Sea menjawab bahwa ayahnya jahat, berselingkuh dan sudah memiliki wanita lain yang mungkin orang-orang sebentar lagi akan mengangap wanita itu sebagai ibu tiri dari Arche.
“Daddy bandel ya mommy?” Tanya anak itu ketika ibunya melamun dan tak menjawab pertanyaannya. “Mommy lagi marahan lagi sama daddy?”
Ketika mendengar pertanyaan kali ini, Sea tersadar dan menggeleng. “Enggak, besok ketemu daddy ya. Sekarang baby tidur dulu.”
“Mommy sedih ya kalau Arche mau daddy?”
Sea membeku ditempat.
Inilah kenapa Sea kadang kurang suka dengan kepintaran putranya, sangat merepotkan saat semua urusan dapat Arche pahami dengan benar, Arche juga perasa yang hebat. Dan pertanyaan yang Arche sebutkan tadi bukanlah hal wajar yang biasa ditanyakan anak dengan usia empat tahun.
“Enggak.” Sahut Sea sekenanya.
Mata Arche masih berkedip-kedip sembari menatap ibunya. “Apa artinya Mommy happy?”
Sea menarik napas dalam, memeluk Arche lebih erat dan mencium kening putranya itu. “Happy baby, mommy sangat happy.”
“Mommy happy kalau Arche mau daddy?” Astaga, bagaimana Sea bisa menanggapinya, terlebih pertanyaan Arche selanjutnya benar-benar membuat Sea tak bisa berkata-kata lagi. “Kalau mommy sedih Arche mau daddy, Arche nggak jadi mau daddy, mom.”
Rasa-rasanya ada bom yang menghancurkan tubuh Sea.
Bagaimana bisa anak umur empat tahun mau mempertaruhkan kebahagiaannya demi kebahagiaan ibunya. Sea merasa malu, wanita itu merasa sangat egois. Sea lebih senang Arche merengek, menangis keras ketika menginginkan sesuatu, tidak seperti sekarang ini.
Arche tidak perlu melakukan itu semua.
Dada Sea terasa sesak.
Sea gagal menjadi seorang ibu. Dan Sea telah menjadikan Arche sebagai salah satu anak yang mengalami broken home. Harusnya Arche tidak boleh merasakan kepahitan retaknya sebuah keluarga.
“Jangan ngomong begitu baby, mommy will give you anything, jus say baby.” Suara Sea bergetar mamun perkataannya sangat halus.
Lagi-lagi Sea mengeratkan pelukannya kepada Arche beserta mencium putranya itu beberapa kali.
“Mommy, don’t cry.” Arche juga tidak tuli saat ia mendengar Sea terisak lirih.
Sea menggeleng. “Enggak sayang, mommy nggak nangis, nangis ini karena mommy happy,” Sea yang besar kepala dengan keyakinan bahwa ia bisa membahagiakan Arche seorang diri nyatanya harus mengubur kata-katanya itu. Sea gagal. “Maaf.” Sea berkata lagi.
Arche mengangguk polos, anak itu membalas pelukan Ibunya. “Don’t cry, i love you mom.”
Sea akhirnya mengangguk.
Wanita itu kemudian mengusap sudut matanya, tersenyum begitu lebar. “Sekarang kita bobok yuk, besok Arche ketemu daddy, mommy nggak sedih, percaya mommy ya baby.” Sea harus mengulang beberapa kali agar Arche mempercayainya. “Kalau baby mau sesuatu, baby harus bilang, harus minta. Mommy akan kasih semuanya buat baby.”
Dan Arche percaya, mengangguk patuh dan kemudin tidur saat Sea menepuk-beouh pahanya lagi.