Moon

Moon
Sea Menolak



"Gue denger-denger mall Sentra Ardibrata mau join sama Bandara Ardikara? Beneran? Sumpah? Red semakin terdepan berani join bareng oma Seruni."


Latania bertanya tidak hanya dengan satu poin saja, bahkan gadis itu memuji nama orang yang baru saja membuat jantung Sea hampir lepas dari tempatnya. Bahkan, rasa gugup yang Sea rasakan masih membekas di dada, apalagi ciuman terakhir beserta ancaman bahwa Red akan menyeretnya lagi di ranjang, sumpah membuat Sea membayangkan hal yang iya iya.


Ok. Sea akan menjelaskan situasi saat ini.


Sea dan Latania tidak pulang ke rumah kediaman Martin, Sea memutuskan secara mendadak untuk pulang ke utama, milik Oma Seruni. Untuk alasan, apalagi kalau bukan untuk menghindari Red, wanita satu anak itu takut Red akan mendatangi kediaman Martin dan bertemu dengan Arche mengingat jarak rumah mereka, tak perlu dijelaskan bukan, tetangga, bahkan rumah bagian belakang tak ada batasan, atau berkesinambungan atau bisa disebut juga dengan dua rumah yang di gabung jadi satu, begitulah pokoknya.


"Aku aja nggak tau." Sea yang sedang memberesi baju-bajunya menjawab seadanya.


"Lo kan cuma ngurus hotel-hotel ajaib lo itu, mana tahu soal ini."


Hotel ajaib. Begini, Sea sudah dari muda sejak umur 20 tahun, wanita itu sudah membuat bisnis dengan mengandalkan uang sisa jajan dari orang tua-nya. Membangun hotel-hotel unik di berbagai belahan negara tepat di pusat wisata yang befokus dan berteman dengan alam, maka dari itu, meski tak pernah lagi meminta uang pada Davis, Sea sudah kaya raya.


"Itu kerjaan La, kamu sih aku ajak nggak mau."


"Kali ini gue mau, gue mau sibuk menjadi wanita karir, ayo ajak gue join, pengen kaya dan tidak bergantung pada orang tua. Gue nyerah jadi penulis novel, mau kembali ke realita."


Bagus. Menjadi penulis novel yang tidak terkenal-terkenal amat saat unur menginjak usia dewasa akan jadi percuma. Sebab apa? Tidak akan cukup untuk membiayai hidup.


Manusia harus realistis, tapi kasus untuk Latania sedikit berbeda. Gadis yang terkenal dengan nama pena lilipee itu sebenarnya sudah berhasil mencetak beberapa novel, sangat terkenal tapi menurutnya tetap tidak cukup jika dibandingkan dengan kekayaan milik keluarga-nya, jadi mungkin ini saatnya bagi Latania untuk bangkit dari dunia leha-leha yang hanya mengandalkan hayalan semata, dan ini saatnya Latania berjalan di jalan yang sama dengan Sea.


"Nah, bagus. Jadi, kamu tahu mall Sentra Ardibrata gabung Bandara Ardikara itu dari siapa?"


"Gue denger langsung barusan, Oma Seruni habis telfonan."


Sea menjewer telinga Latania. "Kamu nguping?"


"Nggak sengaja astaga, main jewer, gue aduin kakek gue lo ya."


"Cepu."


"Lo tau bahasa lokal?"


Wajah Sea tiba-tiba memanas, belum genap satu jam mendarat di Indonesia, ia sudah mendapatkan bahasa lokal yang bisa terbilang tidak wajar, mendengar pertanyaan Latania mengingatkan Sea pada kata '*****', sialan.


"Baby Arche tampan banget gile, nggak heran sih keturunan kak Alvaro, orang daddynya ganteng juga." Sky memekik dengan Arche digendongannya, membuat Sea dan Latania segera menoleh ke arah gadis itu.


Sea melirik, membiarkan Sky beralih di atas ranjang, dan Latania menyambut kedatangannya. Alvaro? Untung temannya itu juga tampan, tak jauh berbeda dengan Red, alis juga sama tebal, hidung juga mancung, jadi siapapun akan percaya jika Arche anak kandung Alvaro.


"Maknya juga cantik kali Sky." Latania berbincang dan sesekali menjawil pipi Arche dengan gemas.


"Sama sekali nggak ada muka kak Sea lho babynya."


Cukup. Sea sedikit sakit hati, kenapa pangeran tampannya tidak persis seperti dirinya? Kenapa harus mirip Red sih? Meski Sky berkali-kali memuji baby Arche mirip Alvaro, eh, bukannya bagus ya. Yasudah, lupakan.


"Kak Sea dicari oma, ada hal penting!" Blue menongol dari pintu dan langsung memberitahu Sea begitu.


Ada yang bingung?


Sebentar. Setelah Sea memutar arah tujuan pulang. Wanita itu tidak lupa memberi kabar keluarga intinya jika ia berniat menetap di rumah Oma Seruni, jadi, Mama Sekar, Blue dan Sky langsung meluncur ke rumah Oma Seruni.


Davis? Papa dari Sea mengatakan masih ada urusan di luar.


Ibu Kirana? Masih menjalani bisnis di Dubai, kabarnya ada kerjasama penjualan produk lokal melalui mall Sentra Ardibrata yang bekerja sama dengan salah satu mall besar di Dubai.


"Harus banget sekarang? Masalah kerjaan atau apa?"


"Katanya pekerjaan kak Se, kalau nggak salah denger, kak Sea mau diserahin urusan Bandara Ardikara."


Mampus.


Sea melirik ke arah Latania, sedangkan sahabatnya hanya menarik turunkan alisnya. Sialan memang. Kenapa nasib membawa Sea untuk berurusan dengan Red? Bandara Ardikara, yang baru saja Sea dengar dari Latania akan bekerja sama dengan mall Sentra Ardibrata.


Sea mengangguk dan Blue menghilang dari pandangan.


"Jadi janda sibuk amat sih."


"Ya ampun. Kan aku ngomong kenyataan."


"Kak Sea nggak mau nikah lagi? Bang Jared jomlo ngomong-ngomong." Sky yang sedari tadi diam akhirnya berbicara, mengabaikan Arche yang saat ini diam karena lebih mementingkan rubik yang ia pegang.


"Nah, bener tuh, gebet aja, lumayan, udah ganteng, mapan lagi. Tapi, bukannya dia sama Rubby ya?" Latania yang awalnya menggebu lantas teringat dengan gadis macan bermama Rubby.


"Udah putus kali kak, kak Rubby udah nikah, punya anak sama orang lain. Bang Jared yang masih bujang."


"Se, gebet dah, gue jamin, Red mau kok meski lo udah jadi janda."


"Led dad..."


Sea melotot lantas membekap mulut Arche, ibu satu anak itu sepintas melirik tajam ke arah Latania, semua karena ulah sahabatnya hingga sebutan daddy kepada Red sudah melekat dikepala Arche.


"Kak Sea nggak minat nikah, kalaupun tertarik, mending rujuk sama Alvaro." Elaknya, dan itu membuat Sky kecewa.


Sky berharap Sea bisa menjadi istri Red, karena Sky tahu Red mencintai Kakaknya.


Empat tahun yang lalu. Disaat Red bersimpuh dan menangis setelah menerima telepon dari Sea, dari situlah Sky tahu jika Red menaruh hati pada kakaknya. Hal itu tidak disangka-sangka. Yang Sky tahu, Red sangat tergantung kepada Rubby, jadi sangat mengherankan melihat Red sampai menangis dan melajang hingga saat ini.


"Kalau ada niatan rujuk kenapa harus cerai sih kak?"


"Ada hal yang nggak bisa kak Sea ceritakan, jadi stop bahas hal ini, oke."


"Orang nggak nikah, mana ada cerai, rujuk. Dasar ratu drama." Latania membatin dan melirik Sea, temannya ini tidak capek apa membohongi banyak orang?


Dan disaat Sea turun untuk menemui Oma Seruni di bawah, sosok Ayah-nya baru saja masuk dan tersenyum padanya.


"Papa, Sea kangeeeeeeen."


Keduanya berpelukan, tidak begitu lama saat terakhir kali bertemu. Palingan satu tahun yang lalu. "Dimana Arche?" tanya Davis kemudian.


"Diatas, sama Latania dan Sky. Katanya oma mau bahas kerjaan, Sea baru banget sampai lho, harus sekarang juga?"


Davis sedikit mengerutkan dahi, kenapa Ibu mertuanya mau membahas pekerjaan? Apa soal Bandara Ardikara?


Davis mengambil microphone yang ada di pojok ruangan, menyalakan alat tersebut sebelum mengecek sound, "Satu, dua, tiga."


Sea yang melihat Ayahnya beringkah seperti itu hanya diam, sedikit kesal karena keluahannya tidak di dengar, jujur Sea kelelahan setelah perjalanan panjang dari Jerman-Indonesia.


"Cek, cek, semua berkumpul diruang tengah sekarang, Sky, Blue, Latania dan Arche juga, Sekar istriku tercinta dan mama Seruni yang saya hormati, saya dengan hormat meminta untuk berkumpul di ruang tengah. Salam Davis."


Sea berpikir, mengira-ira ada apa dengan Ayahnya, berita heboh seperti apa yang akan Sea dengar?


Satu-persatu  sudah memasuki ruang tengah, berkumpul dan duduk di sofa dengan tenang, Arche baru saja dibawa oleh baby sister karena bocah itu rewel sedangkan Davis meminta ada sedikit ketenangan saat ini. Maka saat semua sudah siap, Davis berdiri menjadi juru bicara.


"Sky, apa kamu tahu bang Jared tidak menikah karena apa?" Davis bertanya langsung kepada Sky, dan membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Pa, serius ngumpulin kita cuma mau ngomongin soal bang Jared?" Sky sedikit protes, karena ia sendiri belum siap jika disuruh menjawab yang sebenar-benarnya.


"Karena papa wali bang Jared, sudah menjadi tanggung jawab papa menikahkan anak itu, dan satu masalah muncul, bang Jared nggak mau menikah. Jadi, papa mau tanya sama kamu, karena kamu yang paling dekat dengan bang Jared. Jadi, apa papa bisa dapat jawaban dari kamu nak?"


Sky berkali-kali melirik ke arah Blue, mengedip-ngedipkan mata tanda meminta bantuan, namun tanggapan Blue hanya biasa dan berakhir mengedikkan bahu. Setelah pengabaian dari Blue, gadis itu melirik ke arah Kakak-nya, dan Sea hanya menyatukan alis karena tidak paham dengan tatapan Sky yang menyedihkan.


"Itu, pa...anu..apa itu, jadi begini, bang Jared patah hati, jadi nggak bisa jatuh cinta lagi, nah iya, betul pa, bang Jared nggak bisa jatuh cinta makanya nggak mau nikah."


Blue mengangkat tangan, tidak, bahkan pemuda bungsu Ardibrata berdiri dengan percaya diri. "Bang Jared nunggu kak Sea om, artinya, bang Jared cuma mau nikah sama kak Sea. Itu jawaban dari Blue."


Seketika ruangan yang senyap bertambah senyap lagi.


Davis tersenyum dan beralih menatap putri sulungnya. "Karena papa tidak pernah melarang kamu nak, apapun jawaban kamu, papa terima. Sebagai wali Arve Jared Ardibrata, apa kamu mau menikah dengannya?"


Sea tanpa ragu berdiri. "Maaf pa, Sea menolak."