
Entah sudah berapa jam Red berada di dalam mobilnya yang terparkir diantara mobil-mobil lainnya, tepatnya dilantai bawah tanah sebuah apartemen, milik Rubby.
Red tahu, di jam ini Rubby belum pulang, hari rabu, gadisnya berkata jika ada pemotretan, tapi masih di kawasan Jakarta selatan, jadi Rubby pasti akan pulang.
Tak sabar.
Red bergegas untuk keluar dari mobilnya, ia akan menunggu Rubby saja di dalam untuk menuntut penjelasan, tapi sebelum tubuh Red keluar utuh, satu mobil yang sangat ia kenali memasuki area parkir, membuatnya urung dan kembali kedalam mobil.
Red tersenyum tipis, mengamati dengan duduk tenang dan tatapan mencekam. Geido berada didalam sana, menjadi pengemudi mobil bersama Rubby yang duduk di sebelahnya.
Red masih tenang saat semua masih tampak wajar dimatanya, namun tidak setelah beberapa detik berlalu--Red jelas melihat Gedio melirik kearahnya tanpa diketahui oleh kekasihnya, satu senyuman kemenangan Geido tunjukkan sebelum meraih kepala Rubby dan menyematkan satu kecupan di kening.
Red tahu gadisnya menegang dengan tatapan kosong menerima perlakuan Geido, tapi tak begitu lama percekcokkan ada didalam sana dan berakhir ketika Rubby keluar sembari mengusap air mata.
Red:
Kamu dimana
Setelah mengirim pesan itu, Red tahu Geido berlalu sebelum menatap Red dengan berang dari seberang.
Rubby:
Aku di apartemen, Red
Setelah itu Red bergegas naik ke lantai lima, dimana unit Rubby berada. Perasaan sakit yang Red terima memang tak semudah itu dia lupa, tapi mengingat tangisan Rubby, ia jadi luluh lagi.
"Cantik banget pacarnya Red?" Red memeluk Rubby, ia juga melihat ujung mata kekasihnya basah. "Udah makan?" tanyanya.
Rubby menggeleng. "Bentar, mau masak dulu, kamu mau makan ap..."
"Nggak usah biar aku aja."
Red mengeksekusi dapur apartemen milik Rubby. Melihat-lihat bahan yang ada disana. Dada Red masih sakit, tapi pemuda itu tak tahu harus memulai percakapannya dari mana dulu.
Bel apartemen berbunyi, Red tak mendapati Rubby berada di sekitarnya, mungkin gadisnya sedang membasuh diri. Jadi, Red beranjak membukakan pintu untuk tamu.
"Oh. Pacar sahabat gue lagi ngapel? Tumben hari rabu, biasanya seminggu sekali atau tidak sama sekali." Geido, menggoda dengan tatapan mengejek sembari membawa kantung belanja di kedua tangannya.
"Kenapa lo kesini?" Red jelas tahu Geido tengah pura-pura lupa kejadian di lantai bawah, atau laki-laki pengganggu itu memang sengaja mencari ribut.
"Red, ada tamu?" Rubby dari balik punggung Red bertanya.
"Iya, sahabat kamu." jawabnya datar.
Rubby menegang. Baru saja perasaannya tenang karena Red sudah memeluknya setelah Geido dengan mendadak menciumnya.
"Barang lo ketinggalan di mobil gue." Geido menyerahkan dua kantung belanjaan kepada Rubby. Dengan perasaan bersalah, Rubby segera menghilang dari dua pemuda di sekelilingnya.
"Cewek lo banyak yang suka. Lo hati-hati, dijaga yang bener."
Red tahu. Rubby cantik, banyak yang tertarik. Tapi sekali lagi, selama hati Rubby masih ada digenggamannya, maka tidak akan ada yang bisa mengambilnya.
Sedangkan Rubby menahan getar dan debar yang begitu riak di dadanya. Rubby takut, jika Red bertindak barbar mengingat bencinya pemuda itu kepada sahabatnya.
"Kamu pergi lagi sama dia?" Setelah Red memasuki ruang tamu, tak mengurung waktu, pemuda itu langsung bertanya dengan perasaan yang tak menentu.
"Aku bisa jelasin."
"Dari mana?" Red yang diawal yakin tak akan marah semakin tersungut melihat Rubby yang gemetar ketakutan.
Rubby-nya sedang bersalah, jika gadis itu benar, kepalanya congkak, tidak menunduk seperti anak anjing minta pengampunan.
Apa kali ini Rubby akan diam lagi seperti sebelumnya?
"Mobilku mogok. Kamu kerja dan cuma Geido yang bisa jemput."
"Kamu nggak kasih tahu aku. Kesimpulan apa yang kamu coba jelaskan?" Mana bisa Red membantu kalau Rubby saja tak memberitahu.
Red paham. Geido berperan besar dalam hidup Rubby, membantu gadisnya jika Red tidak bisa apa-apa. Red harusnya tak marah, tapi semakin kesini, keduanya sudah kelewatan, hampir melampaui batas.
"Gimana rasanya di cium Geido?" Akhirnya Red bertanya perihal sesak yang meremas dadanya semenjak tadi.
Rubby menegang di duduknya, wajahnya sudah memucat. "Aku bis...."
Bersandar di dinding, tangannya sudah melipat di bawah dada, tatapannya tetap lurus mengamati Rubby. "Dua kali. Kamu biarin dia cium kamu dua kali. Itupun yang aku tahu. Di club dan tadi. Apa ada penjelasan yang logis, Rubby."
Rubby merasa ada hantaman keras yang menimpa kepalanya. Tuntutan Red begitu mendesakkannya, membuatnya sakit hati juga, seakan gadis itu sangat suka jika dijamah bibir dari pemuda lainnya.
"Maaf. Tapi kamu mungkin butuh waktu buat redam emosi dulu." Hanya itu yang dikatakan Rubby sebelum gadis itu berdiri dan membanting pintu kamar setelah menenggelamkan tubuh di dalamnya.
"Sialan," Red sangat marah.
Rubby tidak menghargainya. Red cemburu, benci dan ingin memukuli--Geido terutama, tapi tidak bisa, takut ada berita yang meliputnya, dan Kakek-nya akan menyeret Red untuk di lempar di kandang buaya.
Memalukan, Rusdi pasti akan berkata begitu, apalagi yang dilakukan hanya karena Rubby, Kakek-nya tidak akan habis hanya untuk menyalahkan gadis itu.
Semua sudah tidak masuk akal. Ciuman, kategori itu sudah melewati garis petahanan.
Red:
Lo dimana?
Sea:
Share location
Red memejamkan mata, astaga, gadis itu sedang dirumah, kenapa tidak dijawab dengan mudah saja.
Red tertawa. Apa sih maunya? Kenapa tiba-tiba ia ingat Sea.
Balas dendam.
Menggunakan Sea untuk membalas Rubby?
Konyol.
***
"RED. JANGAN LAKUKAN INI PADAKU RED. SUMPAH GUE BELUM KAWIN. GUE PENGEN NIKAH ANJING." Edward berteriak histeris dengan kedua tangan yang memegang jaring-jaring di sudut pesawat.
Teriakan Edward kian lama kian tak terdengar oleh sebab deru angin yang masuk akibat bagian belakang pesawat yang terbuka lebar. Sea berada di sana juga, sedikit terkagum dengan awan berlangit biru serta permukaan bumi yang terlihat jauh lebih indah dipandang dari atas.
"Sea. Tolongin gue, Se. Gue janji nggak bakal kirim-kirim line lagi ke lo."
"Kenapa lo ganggu Sea. Gue kan udah bilang, nyerah aja." Red geram bersamaan memasangkan kaca mata bening untuk Edward.
"Edward nggak apa-apa kok. Aku nggak keganggu." Jawab Sea lugu.
"Lo nggak keganggu, tapi Edward yang keganggu. Dia naksir lo bego."
Sea hanya mengangkat bahu, karena saat ini giliran dia lah yang menggunakan alat pengaman.
"Red. Please, gue mohon lepas ini. Gue nggak akan bilang lagi kalau permainan basket lo nggak seru. Ayo main basket lagi."
"Nggak."
Red beralih membenahi dandanan Sea, dari sini Red mengerutkan keningnya, pikirnya apa Sea akan baik-baik saja mengingat gadis itu hanya diam sedari tadi, tapi pancaran matanya tak menggambarkan kegelisahan.
Red hanya ingin, Sea melupakan masalahnya akibat Seruni, karena dengan sky diving Red juga akan meresakan kelegaan saat tubuhnya terombang ambing oleh angin, setidaknya, mengusir bayang-bayang Rubby.
"Red. Kali ini aja, gue mohon. Gue cuma bercanda."
Tetap, Edward tak berhenti memohon.
Salah siapa menyinggung hati Red yang sedang galau. Dimana Red yang baru sampai rumah, entah Edward kenapa tiba-tiba ada dilapangan basket bersama Sea.
Hello, bersama Sea. Ngapain mereka?
Red menawari Sea, menantang Sea untuk one by one, belum selesai Red menantang, Edward dengan olokannya mengatakan. "Banci, nantang Sea main basket doang. Dia jago. Lebih keren dikit lah." Alhasil, inilah tempat terkeren yang ada dalam pikiran Red.
Tapi lihat. Sekarang siapa yang pucat pasi?
Edward. Jawabannya pemuda itu, bahkan Sea oke saja.
"No. Sekali enggak ya enggak."
"Gue bisa mati Red."
Edward menggeleng. "Lo jamin apa?"
"Lo bawa ktp kan?"
Edward mengangguk.
"Bagus. Seenggaknya kalau sesuatu terjadi sama lo, evakusainya nggak akan sulit karena lo bawa identitas."
"Evakuas..."
"Ayo, Se,"
Setelah mengatakan itu, Red menarik Sea dan Edward bersamaan untuk jatuh kebawah langit bebas, merasakan angin menerpa wajahnya dengan tenang.
***
"Ed.."
"No. Tidak. Enggak. Gue pergi. Sialan."
Edward kabur setelah berhasil mendarat dengan selamat. Benar bukan yang dikatakan Red. Mereka pasti akan selamat.
"Udah lega?" Sea bertanya kepada Red di dalam mobil yang masih belum dinyalakan mesinnya.
Red menggeleng. "Belum." jawabnya.
"Kali ini. Rubby kenapa?"
Sepeti dugaan. Sea paham dengan suasana hati Red yang lagi galau berat akibat pacarnya. "Tapi Red. Kalau kamu lagi murung, gantengnya berkali-kali lipat. Aku terpesona. Apalagi ada kumis tipisnya."
Sedetail itu. Red tak bisa menahan senyum. Ia ingat Rubby yang suka dengan kumis tipis. Tapi hari ini, kekasihnya tak mengatakan kegembiraan itu. Ah. Mungkin Rubby belum melihat. Mungkin.
"Rubby dicium."
"Sama?"
"Sahabatnya, Geido, dia suka Rubby. Tapi Rubby enggak dan gue tetep nggak terima."
"Di bibir?"
Red menggeleng. "Pertama di bibir, kedua di kening."
"Yang paling kamu nggak suka? Di bibir apa di kening."
"Di bibir lah, masih tanya."
"Red lihat ada kucing lucu." Sea menunjuk arah luar, Red otomatis berpaling kearah yang gadis itu sebutkan.
Saat menyadari tak ada apa-apa, Red kembali menatap Sea, tapi kejutan yang ia terima membuat otaknya buyar.
"Lo apaan sih?"
"Cium kamu."
Benar. Sea mencium bibir Red. Sengaja. Sedangkan pemuda itu nampak risih. Karena apa? Coba saja bayangkan. Sea bukan siapa-siapanya, mendadak mencium, sebagai laki-laki setia, hatinya menolak.
Red lupa satu fakta. Sea gila.
"Red. Gimana perasaan kamu setelah aku cium?"
Red mengerutkan kening. Berpikir.
"Kalau Rubby nggak suka. Pasti rasanya sama seperti apa yang kamu rasakan sekarang. Kamu nggak suka kan waktu aku cium bibir kamu?"
Dari sini paham. Sea mencoba untuk membalaskan dendan Red kepada Rubby. Impas bukan?
"Harusnya, kamu nggak marah. Posisi Rubby juga sulit. Apalagi dia sahabatnya. Sulit memutus hubungan yang terjalin sudah lama. Apalagi sahabat, lebih erat dari teman biasa. Sekarang tinggal kamunya, yakin nggak dengan Rubby. Dalam hubungan, yang terpenting adalah saling percaya."
Benar. Rubby terlihat marah dan menangis saat Geido menciumnya tadi. Pantas Red juga kena marah saat ia memojokkan kekasihnya.
"Harusnya kamu bisa jagain dia Red. Sebagai pasangan, pernah kamu berada di sisinya sepanjang waktu? Dia perempuan , di keadaan mendesak tetaplah lemah dan sulit untuk menghindar. Kamu saja barusan juga nggak bisa menghindar kan saat aku cium."
Red memgangguk. Benar. Yang dikatakan Sea tidak salah sama sekali. Harusnya Red marah kepada Geido saja.
"Thanks, Se."
Sebelum Sea menjawab. Ponselnya berdering nyaring. "Halo."
"Buka kamera."
Sea menjauhkan ponselnya. Panghilan video call tersambung dengan bagus. "Iya ada apa?"
"Kamu kemana sayang? Katanya mau telefon habis main basket."
"Maaf, aku keluar." Sea menunjukkan layarnya untuk meliput wajah Red. "Ini Jared, kenalin. Aku keluar, tadi diajak dia tiba-tiba."
"Duh. Kok ganteng banget. Kamu jangan naksir."
Sea tersenyum. "Ini yang sering aku ceritain. Jared, yang rumahnya nempel rumahku itu."
"Oh. Kesayangan papa kamu?"
"Iya...Red sini-sini." Sea mendekati Red. "Kenalin, ini Jared, tapi aku biasanya manggil Red, Red kenalin ini Jay."
"Jared." Red menjawab dengan senyum tipisnya.
"Jay, salam kenal."
"Kamu jangan kepincut ya sayang. Jared gantenge nggak main-main."
Sea menyengir, malu lah, setelah itu panggilan diputus karena Sea juga sudah akan pulang bersama Red dan berjanji untuk menelfon pacarnya setelah sampai rumah.
"Kenapa Red?" Sea praktis bertanya karena Red menatapnya dengan mulut yang ternganga.
"Lo punya pacar Sea. Dan lo suka sama gue."
Alis Sea terangkat. "Ada larangan aku nggak boleh suka sama kamu sedangkan aku sudah punya pacar."
"Sejak kapan lo pacaran? Kok gue nggak tau?"
"Kan kamu nggak pernah tanya, Jared."
"Ya Tuhan, Sea."
Benar. Davis memang benar dengan ucapannya. Kali ini Red mengaku jika Sea benar-benar gila.
"Kenapa lagi? Kamu nggak pernah tahu orang pacaran dobel-dobel ya?"
"Gue bukan pacar lo."
"Aku nggak bilang kamu, tapi aku."
"Jadi, lo..."
Sea mengangguk. "Saat ini masih sisa 4 sih, yang Jay pacar ke tiga, harusnya hari ini jadwal apel. Tapi aku sibuk main basket. Jadi aku janjiin telfon aja. Eh taunya kamu ngajak main. Ya udah, nggak apa-apa, nanti aja telfonnya."
"Ke tiga? Tiga?"
Sea mengangguk lagi. "Pacar hari jumat udah aku putusin. Karena LDR-nya jauh, Australia."
"Terus, gue, lo suka kan sama gue?"
"Iya, sejak enam bulan yang lalu. Dan aku pilihin kamu di hari sabtu."
"Lo gila, Se. Makanya lo ngrecokin gue hari sabtu doang karena ini?"
"Iya." Anggukan Sea begitu polos. "Kamu kenapa? Minta tiap hari ya? Yaudah, nanti aku kondisikan."
Astaga. Sea memang minta dilempar dari jendela. Tapi ada perasaan lega yang Red rasakan dan pengabaian yang Red lakukan sebelumnya terasa ringan begitu saja.
Hah Red jadi gemas. "Rasain lo."
"Red lepasin. Sakit Red." Sea meronta karena kedua pipinya di tekan dari dua sisi oleh tangan lebar milik Red, membuat bibir Sea seperti bebek.
Red tertawa terbahak-bahak.