
Semua kebisingan yang ada seakan lenyap begitu saja. Musik klasik yang mengiringi canda dan tawa juga seakan tak terdengar oleh telinga. Red hanya memusatkan pandangan kepada Sea, yang sedang bercengkrama layaknya orang yang sudah tak bertemu lama dengan teman-temannya.
Jika itu teman Sea, maka wajar.
Tapi yang membuat Red salut adalah Sea yang cepat akrab pada teman-teman semasa SMA-nya, bahkan kurang dari 30 menit mereka sudah mengobrolkan hal begitu banyak.
"Haaaaai teman-teman tampan...gue kangeeeeen." Jessy, gadis cantik berambut hitam legam bergelombang menyapa dengan berisiknya.
Jessy berdiri sebentar, matanya beredar kemana-mana sedangkan mulutnya berguman, seakan menghitung siapa saja yang hadir di dalam ruang VIP bar Bandung langganan mereka.
Mata Jessy berbinar, gadis itu langsung berlari ke arah pemuda yang duduk menampakkan punggungnya. "Muaaaach," Jessy mencium pipi Red dengan mudah. "Nggak ada Rubby, gue bisa cium lo Red."
"Sinting." Edward mengumpati Jessy.
"Biarin. Kenapa? Lo iri?"
"Najis."
Sedangkan Red yang baru dicium acuh saja, asalkan jangan ada Rubby. Tidak. Bukan Red yang akan hancur kepalanya akibat dihantam kursi oleh kekasihnya. Melainkan Rubby dan Jessy lah yang akan bergelut sampai mati jika tidak ada yang melerai keduanya.
"Bang Jinsen mana?" Red bersuara setelah Jessy duduk tepat di sebelah Sea.
"Dibelakang lo."
Red memutar badan melihat pemuda yang sudah berdiri di belakangnya. "Bang, pacar lo yang kurang ajar, bukan gue." adunya, membela diri sebelum Jinsen marah karena kekasihnya mencium Red dengan sembarangan. Sedangkan tanggapan Jinsen hanya sebatas bahu yang mengangkat dan menurun saja, karena ia tahu sesuka itu Jessy dengan Red.
Menyadari bahwasanya ada makhluk asing yang tak Jessy kenal duduk berada disampingnya, maka gadis itu segera menoleh dramatis. "Cantik bener. Siapa yang bawa dia?"
Edward yang geram karena Jessy tak ada sopan-sopannya padahal diantara mereka semua Jessy-lah yang paling tua, ditambah ada Jinsen yang lebih tua lagi, lupakan soal umur, mari kembali ke keadaan bagaimana Edward akan memberi pelajaran untuk Jessy.
"Lo it.."
Ceramah sesi Edward diputus oleh Latania. "Dia Sea, kenalan dulu kek mbak."
Jessy meringis tak berdosa. "Hai Sea, gue Jessy, kandidat utama perebut Red dari Rubby."
Jantis melihat kecentilan Jessy hanya bisa menggelengkan kepala, pasalnya jika para leluhur tahu tingkah keturunannya, maka, sudah pasti Jessy akan diberi pelajaran.
"Kakek Yaka, saya Latania, cucu dari..."
Jessy merebut ponsel Latania dengan gesit hingga Sea harus memundurkan badan, jika tidak, tubuh ramping gadis itu sudah pasti diterjang habis-habisan oleh Jessy.
"Sialan lo." Jessy memberengut setelah ditipu oleh Latania, pasalnya, gadis keturunan Thailand dari ibunya itu tidak sedang menelfon siapa-siapa.
Jessy tahu dengan jelas bagaimana akhirnya jika Kakek-nya yang begitu terhormat itu mengetahui cucu seperti dirinya membuat ulah. Petuah jawa dari a-z pasti akan dijejalkan dalam otak Jessy selama sehari penuh.
"Makanya jangan centil, lo nggak malu dari tadi Sea lihatin lo."
Sea yang merasa menjadi kambing hitam lantas melambaikan tangan. "Enggak, aku nggak gimana-gimana, kalian lucu." begitu saja tanggapannya.
Jessy mendengar suara lembut Sea, detik itu juga, gadis itu meleleh dibuatnya. "Ya ampun, nemu Sea dari mana sih. Jujur, siapa yang bawa Sea kesini?"
Sea meringis, dia bukan barang temuan tolong. "Aku ke Bandung sendiri. Tapi nanti pulang bareng Red." putus Sea memberi jawaban sendiri karena ia tahu, manusia diruangan ini selain dirinya tak begitu menganggap kehebohan Jessy.
Sekali lagi Jessy terpana. "Sumpah demi apa. Lo nggak takut dimakan Rubby, berani bener pulang bareng Red."
Sea menggeleng. "Kenapa harus takut dengan Rubby."
Jawaban Sea membuat Red marah, wajah pemuda itu langsung muram. "Dia orang yang selalu ganggu malem minggu gue."
Semua tercengang mendengar Red yang begitu ketus menghadapi Sea. Padahal kenyataannya malam minggu ini Sea tak mengganggu acara Red dengan Rubby. Kenpa juga Red harus mengumumkan hal itu.
"Se. Lo biasa diketusin Red?" Latania bertanya.
"Enggak, La." bohong Sea.
Latania tidak percaya, matanya menyipit, mengintimidasi tatapan benci Red yang di layangkan untuk Sea, lalu Latania bertanya lagi kepada gadis pirang itu. "Lo nggak lawan dia?"
Sea menggeleng. "Enggak La, apanya yang dilawan?"
"Kenapa?" Latania tetap tidak percaya.
"Karena aku suka Red." putus Sea mengakui.
Dimana bumi, dimana langit.
Pernyataan Sea membuat yang mendengar seperti tak menapakkan kaki.
Amazing.
Pertama. Sea tidak takut dengan Rubby. Hal langka itu membuat mereka berpikir jika Sea adalah hasil penemuan langka yang harus dibudidayakan keberadaannya.
Kedua. Sea mengatakan dengan terang jika dia menyukai Red. Hal langka yang telah mereka temukan lagi adalah, Sea masih bisa berhadapan dengan Red, jika itu perempuan lain, jangan harap, memandang Red dari kejauhan sepuluh meter saja tidak akan bisa.
Ya, kecuali yang masih bisa bertahan adalah Jessy, karena kenyataannya Jessy adalah sepupu jauh Red, tapi juga musuh besar Rubby. Logika Rubby yang sedari dulu dipertahankan adalah, meski sepupu, kemungkinan jatuh cinta tidak ada yang tahu.
Padahal, Jessy cinta mati dengan kekasihnya, Jinsen.
Rumit.
Jessy tiba-tiba antusias. "Gue dukung lo, dukung seratus persen. Makhluk kayak lo langka Se. Rebut Red dari Rubby."
Giliran Edward memejamkan mata. "Lo ngajarin anak orang jadi pelakor?"
Edward adalah manusia pertama yang mendukung Red putus dengan Rubby karena alasan keduanya menjalin hubungan toxic selama ini, bahkan Edward juga kerab sekali mengatakan itu kepada pemuda Ardibrata itu. Tapi, jika jalannya menggunakan perselingkuhan, amit-amit, Edward tidak setuju.
"Gue cuma pengen yang terbaik buat Red. Nggak bosen bareng Rubby terus." timpal Jessy membela diri.
Sea meringis. Tidak ada dalam kamus Sea merebut pacar orang. "Aku suka. Bukan berarti mau jadi pacarnya, mbak Jess."
Sedangkan Jessy tiba-tiba lesu. "Gue kira Rubby dapet lawan sepadan."
"Mendengar itu, Red menjadi berapi-api. "Kenapa lo nggak pernah ngehargain Rubby? Apa karena status sosial dia? Kasta dia? Dia pacar gue, Jess." Beralih pandang, Red beralih ke memandang Latania. "Lo juga La. Kenapa nggak mau akrab sama Rubby? Salah kalau dia jadi pacar gue?"
"Anjing. Gue diem tetep salah." Latania bergumam, tubuhnya sudah beringsut mendekati Jantis, gadis itu tak mau menjawab lebih.
Red menakutkan.
Keadaan membeku. Red nampaknya tak main-main dengan ucapannya.
Tapi sungguh, Jessy maupun Latania tak pernah membedakan kasta. Mau miskin, kaya, kaya raya, konglomerat ataupun milyader, tak ada bedanya bagi mereka.
Semua makan NASI, semua mengeluarkan TAI.
"Lo tanya pacar lo yang nggak pernah open minded itu Red! Siapa sih yang nggak pernah dimusuhin kalau lagi deket sama lo. Posesif. Toxic." Ungkapan marah Jessy disambut oleh diam.
Sunyi.
Tidak ada yang menyaut, hanya tatapan Red saja yang semakin menusuk, jika diibaratkan pedang, mungkin tubuh Jessy sudah tercompang-camping tidak karuan.
"Satu lagi. Mata lo kelilipan planet mana sih, Red? Mana ada kita mandang kasta, pernah lo lihat kita ngrendahin sesama?" Imbuh Jessy kembali, kali ini gadis sepupu jauh Red itu berkata dengan nada lebih tinggi, ia marah.
Jinsen memandang kekasihnya, antara ingin menangis atau tertawa. Seingat Jinsen, tanggal ini bukanlah hari-hari dimana Jessy mendapatkan periode, tapi kenapa gadis itu seolah ingin memakan Red hidup-hidup.
Red yang dikatai begitu masih marah sekaligus sadar jika yang dikatakan Jessy ada benarnya, bahkan lebih daripada benar.
Mereka memang kaya, terlahir dari keluarga yang luar biasa, tapi tak pernah menganggap rendah kaum tak ber-uang. Contohnya saja Edward, ngomong-ngomong tentang Edward, pemuda itu sedang termanung mendengar perdebatan yang menyangkut-pautkan tentang kasta.
"Jess.."
Perkataan Jantis terpaksa dipotong oleh Edward. "Lo nganggep gue kaya Red? Nganggep gue kalangan atas seperti kalian?" karena jujur ungkapan yang Red lontarkan sedikit menyentil hati Edward. Bagaimana bisa mereka membedakan kasta dalam pertemanan mengingat Edward sadari dulu sudah melewati lautan sedih senang bersama, Edward bukan kalangan dari mereka.
Ada apa dengan Red?
Kalau saja Red sadar, ah, Edward tahu Red tidak mau membuka mata, telinga dan alat indera lainnya. Red hanya perlu sadar, jika pacarnya itu yang bermasalah.
Red memandang sengit teman sekaligus partner kerja dalam kantornya, tapi jika dilihat dari teknis, Edward adalah bawahan Red. Tapi lupakan dulu soal jabatan, yang lebih perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana Red saat ini mengeratkan rahangnya.
"Gue pergi."
Tak ada yang menyangka. Diberi tekanan begitu banyak dari temannya membuat Red tak mampu menimpali, pemuda itu justru memilih kabur.
Percuma.
Sialnya, mulut teman-temannya jika ditanggapi akan semakin membuka fakta lebih dalam lagi, dan itu selalu benar.
Bagian menyedihkannya.
Red tidak mau mendengarkan.
Disaat Red sudah berjalan beberapa langkah, ia memejamkan mata lalu menghentikan pijakan kakinya. "Se, berdiri, pulang!!"
Sea yang sadar lantas menepuk jidatnya asal. Gadis itu terhanyut oleh suasana sekitar. Makanya ia ikut-ikutan diam dan hanya menjadi penonton saja.
Sea berdiri, bergegas dan berpamit. "Aku pergi dulu ya, lain kali ketemu."
"Cepet." Sentak Red tak sabar.
Sea hanya bisa menghembusakan napas pelan. Ia tak bisa berkata-kata berkat tahu bagaimana suasana hati pemuda yang sudah berjalan tergesa di depannya. Tidak mau menambah beban pikiran, Sea berjanji akan menutup mulut penuh saat nanti di perjalanan.
Saat Red dan Sea sudah menghilang dari jangkauan, Jessy menangis tersedu-sedu, definisi makhluk alay 2021 jatuh ditangannya. "Gue cuma pengen Red hidup bahagia, kalian paham nggak sih?"
Latania melepaskan diri dari Jantis, perlahan mendekati Jessy. "Gue tau perasaan lo mbak, tapi lo lihat sendiri gimana kerasnya Red nutup telinga. Biarin aja, namanya juga cinta."
"Ini nih definisi temen nggak bener." Jessy menyentak Latania.
Menurut Jessy, Lala terlalu acuh dan hanya mementingkan hubungannya sendiri. Padahal tak hanya sekali Red tertekan dan menahan diri akibat batasan yang ditetapkan oleh Rubby. Sebagai teman yang sangat menyayangi Red, hati Jessy teriris sakit.
"Mbak. Kita harus menghargai keputusan Red. Betul kata dia. Lain kali kita harus kontrol emosi juga. Biar bagaimanapun, Rubby sudah dipilih, emang lo mau tanggung jawab kalau Red bunuh diri karena ditinggal Rubby."
"Njing, bunuh diri, kira-kira kalau ngomong. Masih banyak beban hidup yang harus dicoba, enak bener main mati dengan mudah." Edward merasa kesal, enaknsaja bunuh diri.
Jantis dan Jinsen yang sedari lahir sudah di ciptakan menjadi manusia pendiam hanya memutar bola matanya asal, biarkan tiga manusia ini berdebat sampai berbusa.
"Emang lo, beban hidup." Jessy tak akan diam.
"Gue tau gue miskin."
Satu bantal mulus mendarat dikepala Edward, kali ini ulah Jantis. Pemuda itu sudah terlalu muak mendengar kan perdebatan mengenai harta, harta dan harta.
Kenapa sih manusia selalu menilai finansial sesama.
"Gue buang lo ke laut, nggak gue balikin ke Jakarta kalau gue denger hal itu lagi." Ancam Jantis.
"Mampos." Jessy bersorak.
"Mbak. Diem. Minum jus lo. Biar otak lo bener." Kali ini Jantis memarahi Jessy.
Mata Jessy berkaca-kaca mendengar kata dengan komposisi kasar di dalamnya, Jantis telah menyakitinya, gadis itu beringsut mendekati Jinsen. "Beb, Jantis jahat."
Selain memeluk kekasihnya apalagi yang bisa Jessy lakukan. Pemuda Jinsen dengan usia 28 tahun itu tahu betul bagaimana pertemanan mereka, perdebatan kecil seperti ini bukanlah ranah yang harus ia campuri juga, Jinsen percaya, pasti sebentar lagi percikan api itu akan mereda.
Sedangkan Jantis yang sudah kembali dingin dari amarahnya sedikit kecewa dengan pertemuan mereka yang berakhir sia-sia, kepulangan Red akibat tempramen pemuda itu menggagalkan lagi acara temu kangen yang kerab kali gagal. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur. Jantis juga dapat bonus mengukur jalanan Bandung-Jakarta hanya untuk mengantar pulang Edward ke rumahnya.
Rejeki, anggap saja amal.