
"Ini." Edward menunjukkan ponsel Red yang baru saja dikirimi pesan oleh mis.xxx yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sea.
+62xxx
Share location
"Bangsat. Kira-kira njing ngerem mobilnya." Edward memegang dada dramatis, untung saja kepalanya tidak berpelukan dengan dashboard. Edward baru sadar betapa pentingnya sabuk pengaman, hari ini ia selamat.
Red mendadak harus mengerem mobil SUV hitam yang dikendarainya. Sedangkan Edward sungguh ingin melempar teman bangsatnya ini keluar dari jendela untuk dibuang di jalanan.
Red merebut ponsel dari genggman Edward. "Bandung Sentra Ardibrata. Gue nggak buta 'kan?"
"Perlu gue congkel mata lo terus gue ganti mata kambing, biar lebih gedean, biar lebih jelas."
"Bego, nggak gitu juga kali."
Red memutar kemudi, berlawanan. "Dasar gadis gila." geramnya.
"Sial." tak lama kemudian Red mengumpat membuat Edward hanya bisa menggeleng kepala.
Red baru saja ingat jika hari ini adalah hari sabtu, hari dimana Sea selalu mengaggu. Tidak mau mengulang kejadian minggu lalu dan berakhir Sea pergi ke Negara lain tanpa memberitahu, cukup, Red harus menghampiri gadis itu.
"Berhenti. Tukar." Edward tiba-tiba menggeram melihat kemudi Red begitu cepat.
"Apa?"
"Tukar, gue yang nyetir. Gue masih pengen hidup, burung gue masih nganggur njing. Masih pengen kawin."
Red memutar bola matanya dan itu sangat mengganggu Edward.
Hello.
Edward lelaki sejati, tidak akan main celup-celup sembarangan. Apalagi untuk orang tersayang, tidak akan pernah bagi Edward untuk mempermalukan mereka dengan meniduri lalu ditinggal begitu saja. Ya, meskioun banyak sepasang kekasih yang melakukan itu sebelum menikah dan berhasil menuju ke pelaminan. Tapi itu sama saja merendahkan martabat wanita, makhluk lemah seperti mereka harus dijaga layaknya berlian. Setidaknya itulah pemikiran Edward yang begitu suci menurut dirinya sendiri.
"Basi lo. Diem." Red tetap tidak mau bertukar tempat.
"Gue nggak basi. Lo yang busuk."
"Ya pantes lo nggak laku njing!!"
"Kenapa?" Tanya Edward begitu polos.
Jujur ia memang belum laku. Padahal rupa juga nggak buruk-buruk amat. Kulit putih, rambut hitam mengkilap. Tubuh tinggi lebih dari 180 cm. Apa lagi kurangnya? Jika dibandingkan dengan makhluk kecoklatan disampingnya itu, Edward tak kalah jauh, meski, ya, Edward mengakui jika Red itu, hah, Edward saja sebagai teman tidak bisa mendefinisikan, daya tarik Red itu berbeda, bisa melemahkan kaum hawa dengan sekali lirikan saja.
"Pemikiran lo terlalu kuno. Suka ya suka aja. Nggak usah banyak mikir ini-itu. Lo mana tau ternyata jodoh lo udah lewat beberapa kali. Nggak capek?"
"Nggak cocok."
"Gitu ae terus. Minggu lalu, lo bilang, gue belum mapan Red, dua minggu yang lalu lo bilang, terlalu cantik Red. Satu bulan yang lalu lo bilang, dia terlalu kaya. Terus mau lo yang bagaimana? Ribet kek perawan."
Terpaksa Edward menempeleng kepala Red. Mulut temannya satu ini memang mirip bon cabe level paling pedas, tapi kenyataan memang tidak bisa ditampik lagi, perkataan Red tidak salah.
Edward merasa dirinya terlalu banyak menghindar dan akhirnya ditinggalkan.
"Kok gue ngerasa hari ini gue bakalan ketemu jodoh."
"Ntar lo ngomong...."
"Enggak, gue nggak bakal banyak alesan kali ini, firasat."
"Kepedean lo."
"Aku memang selalu salah dimata kamu Red."
"Jijik anying."
Keduanya tertawa. Tapi tak akan hening jika Edward berada bersama temannya satu ini. "Rub..."
"Nggak usah bahas Rubby, hari ini aja, dan gue cukup berterimakasih kalau lo nurut."
Edward adalah saksi mata untuk kesekian kalinya Rubby jalan berdua bersama sahabatnya yang bernama Geido. Meski Rubby setia, tapi tetap saja sikapnya membuat Red cemburu.
Toleransi yang diterapkan Red kepada kekasihnya itu membuat iri banyak orang. Disaat Red terlalu menuruti Rubby, berbanding terbalik dengan gadis itu. Rubby seakan menutup telinga, ia merasa paling benar atas tindakannya.
"Sorry. Tapi gue tetep mau bahas."
Red menghela napas berat. Penasehat Edward mulai beraksi. Red berfirasat buruk.
"Lo ngerasa hubungan lo itu toxic nggak?"
"Gue sayang dia, Ed."
"Gue mau ngomong serius Red!" Edward sampai memiringkan badan untuk oenegasan yang ia berikan.
Sedangkan Red sungguh tidak ingin mendegarkan. Pemuda Ardibrata masih berkonsentrasi dengan jalanan.
"Red dengerin gue. Nggak semua yang lo kejar itu bisa lo dapetin. Sekali-kali lo harus mundur, biar Rubby tahu arti menghargai. Lo sadar nggak sih?"
Red cukup sadar. Tapi mau bagaimana jika tidak ada Rubby disampingnya maka tak ada lagi yang tersisa. Perjalanan mereka sangat panjang, dari kelas satu SMA sampai sekarang. Red tidak suka kontak dengan perempuan lain untuk hubungan yang lebih serius selain dengan Rubby.
Edward sudah cukup pusing melihat kondisi Red, persis seperti kambing conge, otak teman satunya ini cukup pintar, lebih malah, tapi urusan pacar, kok bisa sampai berlutut segala.
"Gue sayang dia, Ed."
Oke. Edward mengalah lagi.
"Makan tu sayang. Percuma gue ngomong."
"Selagi dia nggak ngelakuin hal fatal, gue oke. Nggak masalah."
Edward angkat tangan.
Mobil Red memasuki area parkir Bandung Sentra Ardibrata. Sumpah demi kota Bandung yang menjadi kenangan indah itu, Red sama sekali tidak ingin berada di tempat ini, setidaknya hari ini. Tujuan Red setelah meninjau tempat bersama Edward adalah untuk bersenang-senang bersama teman-teman mereka.
Semua gara-gara Sea.
"Ngapain kesini?"
Red memutar bola matanya, memangnya daritadi mata Edward ditaruh mana sampai tidak tahu arah laju mobilnya.
"Lo turun dulu, nggak usah pakek cing-cong. Baru sadar gue nyetir sampai mall Ardibrata?"
Baru setelah Edward turun, Red membuka ponselnya.
"Lo dimana?" Red menelfon Sea.
"Aku di lantai B-1, food court, Italy Restaurant."
Setelah mendengar itu, Red mengambil masker, kacamata dan topi hitam yang berada di bagian kursi belakang. Pemuda itu juga mengabaikan Edward yang sedari tadi memandanginya dari luar.
"Ayo." Ajak Red setelah keluar dari mobil.
Sedangkan Edward yang tahu suasana hati Red sedang buruk segera memutup mulutnya rapat-rapat. Takut juga si Boss memotong gajinya.
Disaat Red menemukan Sea di tempat duduknya, pandangan pemuda itu justru berada pada sepasang manusia yang duduk di depan Sea, Jantis dan Latania.
Satu pertanyaan yang berputar di kepala Red, bagaimana mereka bisa saling mengenal?
Sedangkan Edward. Firasat kental mengerubung kepalanya saat ini juga, belahan jiwa yang ia cari-cari ada di depannya, rambutnya pirang, senyumnya menawan, sungguh hati Edward dibuat bergetar.
"Red, gue nemu jodoh."
"Mana? Mana?"
Cukup antusias menanggapi Edward mengingat temannya ini sangat jarang berbicara mengenai jodoh, maka saat tangan Edward menunjuk ke arah Sea, ada perasaan tak terduga memukul hati Red.
"Nanti lo bilang."
"Enggak, kali ini enggak."
Masalahnya bukan Red cemburu atau semacamnya. Kasta. Perbedaan kasta antara Sea dan Edward tidak bisa diucap dengan kata-kata. Red sakit hati jika harus melihat Edward menyerah lagi akan cintanya.
"Ayo gue kenalin."
"Lo kenal?"
Red mengangguk serta memimpin jalan. Saat keduanya sudah sampai di tempat tujuan, bukan Sea yang terkejut, Jantis dan Lala lah yang sontak berdiri.
"Ngapain lo kesini? Kata temen-temen ketemu di bar?"
Red membuka topi, masker dan kacamata. "Lo kenal gue."
"Identitas lo nggak diragukan. Meski lo pake mukena gue tetep bisa kenal." Jantis menjawab dengan mudahnya.
Satu pukulan mendarat di kepala Jantis. "Anjing. Sakit bego." adunya.
"Edward." Edward tak memeperdulikan teman-temannya yang sedang bertengkar, melainkan ia sibuk ingin berkenalan.
Sea tersenyum, sangat cantik. "Hai Edward, kenalin aku Sea." Jawabnya menerima uluran tangan Edward.
Mendengar perkenalan yang mendadak, Red, Jantis dan Latania saling beradu pandang. Red segera duduk disamping Jantis, sedangkan Edward sudah duduk disamping Sea. Red menduga, Edward serius dengan perkataannya. Lihat saja, binar mata bahagia muncul tak tertahankan.
"Lo ke Thailand gara-gara makhluk ini?" Red mengubah suasana, menanyai Sea perihal perginya gadis itu ke Thailand minggu lalu. Latania memang berasal dari Negara itu.
Sea mengangguk. "Iya, sekalian jemput Lala."
"Lo kenal darimana?"
"Dari pesta."
"Kapan?"
"Dulu, waktu umur sepuluh tahun. Kamu 'kan juga ada disana Red. Kamu lupa?"
"Gue lupa."
Perasaan Edward kacau. Kenapa Sea memandang Red seperti memuja, juga, tutur kata Sea begitu lembut di dengar oleh telinga.
Sedangkan Jantis dan Latania saling memandang. Mereka diam-diam menilai situasi. "Kalian kenal?" Akhirnya Latania bertanya kepada Red dan Sea.
"Lo pikir pakek logika, gue tetanggaan. Lo kenal Sea berarti harus paham."
"Mulut Lo emang nggak pernah santai ya Red, heran gue. Bukan temen gue mutilasi lo."
Red acuh, tak mau lagi menanggapi Latania untuk perdebatan yang lebih tidak penting lagi. Pemuda itu lalu menoleh ke arah Edward yang tiba-tiba murung. "Kenap lo?"
"Red, gue nyerah?"
"Belum apa-apa?"
"Lo tahu sendiri, nggak usah banyak cing-cong."
Red paham. Mungkin setelah mendengar kata pesta ditambah Sea adalah tetangga Red, membuat Edward mengerti bagaimana status sosial gadis itu, bukan main-main bukan.
Mengenai pesta. Lala, Red dan Jantis adalah keluarga terhormat, yang hanya akan mengahadiri pesta kelas atas saja, berarti dengan itu juga, Sea adalah bagian dari mereka.
Mengenai tetangga. Edward tahu, tetangga Red hanya satu, keluarga Martin. Ya sudah, Edward menyerah.
"Gue mau ke bar, lo mau ikut gue apa pulang sendiri?"
"Gila lo, dia ikut kita." Kali ini Jantis turun tangan, sebagai pemuda keturunan George yang selalu menempatkan wanita berada di bagian paling atas merasa miris mendengar Red akan menelantarkan Sea.
Red hanya mengedikkan bahu. Lalu bertanya lagi kepada Sea. "Lo ikut mobil gue apa mereka?"
"Aku ikut kamu."
"Gue ikut mereka." Edward memilih memisah diri sebelum perasaan berkembang luar biasa kepada Sea.
Saat Edward, Jantis dan Lala hilang dari pandangan meninggalkan Red dan Sea saja, maka pemuda Ardibrata segera memakai topeng, yaitu kaca mata dan topinya.
"Kenapa kamu nutupin muka?"
"Gue nggak mau ada yang ngenalin."
"Kamu nggak bawa Rubby?"
"Nggak usah bahas dia atau lo pulang."
Oke Sea diam. Tapi bibirnya tanpa dipaksa tersenyum. Gadis itu sudah lama tak melihat Red marah-marah. "Red, kamu tambah ganteng."
Red memutar bola matanya meski Sea tak dapat melihat. "Dari dulu gue ganteng."
"Aku suka kamu."
"Gue juga tahu lo suka gue."
Sea tersenyum lagi. Hari ini Red berbicara banyak dan Sea suka.
"Aku minta maaf buat minggu lalu."
"Basi."
Sudah satu minggu berlalu, kenapa baru minta maaf. Red juga sudah lupa dengan kejadian itu.
Keduanya sudah berada di dalam mobil. "Lo sengaja ke Bandung buat nemuin gue."
"Iya."
"Harus?"
"Harus. Karena aku kangen kamu."
Red memejamkan mata. Gadis ini. Red menyerah karena Sea terlalu terus terang.