Moon

Moon
Rahasia Sea



Setelah kepergian Jeremy dari acara pesta menuju tempat pertemuan yang Sea dengar dari telepon, gadis itu menemui Ayah-nya. "Pa, acara dansanya jam berapa, aku sudah ngantuk."


Davis menggeram. Bagaimana bisa punya anak gadis ansos seperti Sea, jika diteliti lebih jauh, bukankah Sea pecinta musik malam dan suka berpesta di luar negeri sana, kenapa di acara sendiri justru malas-malas begini.


"Kamu itu. Ini acara kamu, kok kamu nggak minat, hormati oma."


"Bukan begitu pa, Sea lagi PMS, sakit banget. Lagian lihat sendiri, berapa banyak laki-laki yang sudah oma kenalin ke Sea, benar kan dugaan Sea, oma mau jodohin Sea."


Davis diam. kenyataannya memang benar, ibu mertuanya niat sekali mencarikan jodoh untuk Sea. Makanya anak sulungmua sampai merengek tidak mau mengadakan pesta, pasti tidak nyaman.


"Sea juga nggak bohong pa, lagi PMS."


"Halah alesan." Demi menutupi rasa bersalah, Davis tetep kukuh dengan menggunakan reaksinya yang biasa saja.


Sea sedih. Sama sekali bukan alasan, ia benar-benar kedatangan tamu bulan ini, selain sakit diperut, Sea juga merasakan sakit di ulu hati, jadi bolehkan jika Sea undur diri sebelum pesta usai?


"Sea." Oma memanggil dengan langkah pelannya, disebelah sisi kanan Oma ada Tante Stevanie yang Sea sangat kenal adalah otak dari rencana perjodohan yang berkali-kali ia tolak. "Stevanie Aunty akan mengenalkanmu dengan seseorang."


Lagi? Sea lelah.


"Itupun jika Sea mau, Oma, jangan memaksa atau Sea kabur saat ini juga." Sea tidak membiarkan ada pembicaraan lebih setelah ini.


"Sea, kamu itu mau jadi perawan tua, kamu sudah cukup umur, kamu anak pertama, harus punya tanggung jawab."


"Tanggung jawab nggak harus menikah auntie, jadi please, biarkan Sea begini, biar Sea yang menentukan, jangan biarkan Sea tidak betah tinggal di Indonesia, Sea meminta sekaligus memohon."


"Davis. Kau sebagai ayahnya seharusnya lebih tegas kepada putrimu, bagaimana kalau rumor Sea menjadi perawan tua beredar di kalangan kita, bisa memalukan." Stevanie memarahi Davis, adiknya sepupunya.


"Kak. Biarkan Sea, jangan ikut campur."


Inilah yang tidak disukai Sea saat pesta bersama, tidak jauh dari perjodohan, pernikahan, perusahaan dan bla, bla, bla. Sea muak.


Namun, setelah perdebatan lama tak kunjung berakhir menemukan titik terang, Sea diam termanung melihat tatapan Red yang begitu tajam kearahnya, pemuda itu berjalan cepat sampai-sampai Sea sulit mencerna suasana hatinya, bagaimnaa yang dirasakan Red sekarang?


"Red? Ada apa?" Mengabaikan orang yang merecoki Sea, gadis itu memilih menyapa Red yang berdiri tegak di depannya.


Red tak menjawab, pemuda itu menatap Davis, "Om, biarkan Red yang menjadi partner dansa bareng Sea."


"Wah, dipersilahkan Red, om juga lagi encok."


"Nggak berkelas banget penyakitnya." Ejek Red dengan bibir menyabik.


Davis yang sudah biasa menjadi olokan anak-anak muda disekitarnya diam saja, mau bagaimana punggungnya juga sakit, bagaimana tidak, latihan dansa bersama Sea memiliki jam terbang tinggi hingga membuatnya kelelahan disaat punggung tak lagi sehat seperti dulu.


"Terserah kamu Red, sana-sana bawa Sea, om mau nyamperin kakek Rusdi." Davis mengusir dan pria itu berjalan menghampiri Rusdi, Kakek Red juga datang menghadiri pesta Sea. Rusdi tadi juga menggoda ternyata cucu sulung Seruni sangat cantik, awas saja mata si tua jelalatan.


"Red. Kamu itu sudah punya pacar kan? Kemana pacar kamu, kok tante nggak lihat?" Lagi-lagi Stevanie merecok. Wanita dengan umur 50 tahun itu tak bisa tidak ikut campur urusan orang, Red amat kenal dan hapal.


"Dia lagi nggak bisa datang, Tan, lain kali Red bawa."


"Halah, alesan, bilang aja nggak kuat derajat."


Red memejamkan mata, Stevanie selain suka merecok, mulutnya juga suka menghina, dan itu sering membuat orang muak.


Sea meremas tangan Red, mencoba untuk meredam emosi pemuda itu, siapa sih yang terima jika pacar dihina orang terdekat. Jika itu Sea, gadis itu juga akan marah.


"Oma, om, tan, Red permisi."


Sedangkan Sea tersenyum saat tangannya ditarik oleh Red. Gadis itu suka, daripada dansa dengan Ayah-nya, mending dengan Red yang tak akan membahas perihal aneh-aneh. "Red, kenapa tiba-tiba ngajak aku dansa. Kamu sudah mulai suka ya sama aku?"


Red melotot tak menjawab, seolah memberi tahu Sea untuk diam dan tak banyak bicara.


Setelah MC mengumunkan untuk acara dansa, dalam hitungan tiga, semua pasangan yang sudah berdiri di Hall bersama masing-masing pasangan mulai berdansa mengikuti alunan musik yang berputar.


Dansa seperti ini. Tentu saja Red pernah melakukannya, dengan Sky, satu-satunya, dan yang kedua kali adalah Sea.


Red membimbing tangan Sea untuk ditaruh di bahunya. Lalu menempatkan satu tangannya sendiri di pinggang Sea, dan menggenggam tangan Sea yang lain.


"Red. Aku tanya nggak dijawab, apa kamu menyukaiku?"


Red diam, masih sama seperti sebelumnya, pemuda itu menuntun dan menjadi pemandu dansa, sama sekali tidak berminat menjawab.


Sea membiarkan Red menyentuh sesukanya, menarik dan menggoyangkan badan mengikuti irama, keduanya kini saling menatap tanpa enggan, Sea dengan sorot mata teduh dan senyum tipisnya sedangkan Red dengan sorot mata tajam hingga pikiran yang bertanya-tanya.


Disamping Sea dan Red berdiri, ada Jeremy dan Suri. Senyum miring Jeremy menyapa hingga membuat Sea membalas dengan senyum paksa, terlihat kaku seolah-olah seperti orang yang akan dijagal, Red menyaksikan dengan kepala berasap dan amarah meluap.


"Jeremy dan Suri pasangan yang serasi." Red bersuara, membut Sea lantas mendongak, menatap Red penuh dengan tanda tanya.


Sea tidak mau mendengar nama Jeremy dari mulut Red saat ini, tapi kenapa pemuda itu tiba-tiba membicarakan nama pria itu. Tak mau ekspresinya terbaca, Sea tersenyum dan menjawab. "Iya, pasangan suami istri yang serasi."


Alunan musik tetap terdengar. Tidak terlalu cepat dan juga tak terlalu lambat. Cukup lembut ditelinga.


"Tipe cowok yang lo suka seperti Jeremy?" Tanya Red saat berputar bersama Sea, lalu berpisah dan kembali pada barisan masing-masing, menyatukan tangan dan berdansa saling menautkan jemari.


Jika tidak salah dengar, Red baru saja menanyakan tipe cowok bukan, kenapa mengarah ke Jeremy. "Tipe cowok yang aku suka seperti kamu."


"Gue?" Tatapan Red mengejek. "Cowok suka mengumpat, lo suka?"


Sea mengangguk, namun pandangan beralih dan membuat alisnya menukik saat satu senyuman melirik, Jeremy dengan bibir tersenyum miring membikin situasi mecengangkan yang memenjara. Red sama sekali tidak buta hingga bisa dengan jelas melihat air muka Sea yang berbeda, dan itu membuat Red semakin muak, Sea dan omong kosongnya.


Sea memutari tubuh Red yang berbalut jas biru tua, nampak gagah dan mempesona. "Sedari awal aku sudah mengatakan Red, aku suka kamu, dan itu nggak akan pernah berubah."


Kali ini Red tidak membalas jawaban yang Sea berikan. Dia mengikuti gerakan, kembali ke tengah lagi dan benar-benar kembali ke barisan setelah sesi dansa berakhir.


Perkataan dan segala gerak-gerik Sea membuat Red meradang tak ada hentinya. Ia ingat perkataan Jeremy yang membuat kepalanya hampir meledak.


"Bukan urusan lo, Red. Casanova disaat gue sudah punya istri atau enggak. Atau selingkuhan gue Sea atau orang lain. Lo nggak berhak tau. Bahkan jika itu bukan gue, lo harusnya nggak begitu ikut campur urusan orang lain."


Brengsek. Jawaban Jeremy berbelit. Yang dibutuhkan Red bukan nasehat, tapi jawaban pasti iya atau tidaknya Jeremy memiliki hubungan dengan Sea.


Namun harapan pupus seketika saat Jeremy meninggalkan Red begitu saja di tempat parkir sebelum pria casanova itu mengatakan tak perlu ganti rugi kerusakan mobil, anggap saja dalam pertemaan tidak ada kompensasi asal jangan mengurusi masalah pribadi.


Red belum puas saat meninggalkan lantai dansa sebelum mendapatkan jawaban. Disaat semua menikmati minuman dan makanan dalam pesta, Red kehilangan Sea tanpa jejak, namun gaun biru muda yang terlihat mencolok menyilaukan mata berada di teras belakang rumah Oma berhasil membuat Red berbapas lega.


"Se."


Sea menoleh, mendapati Red berdiri dengan satu tangan berada di kantung celana. Tatapan pemuda itu tak terartikan. Sea sedikit menaikkan alis sebelum tahu-tahu Red dengan cepat berada tepat di depannya.


"R-Red." Sea tergagap saat jarak Red tak lebih dari tiga jengkal.


Sunyi, hanya napas yang saling beradu dengan cahaya bulan sedikit meremang sebagai lampu. Keduanya diam, saling berbicara lewat mata sedikit lama.


"Lo pernah tidur sama dia? Jeremy?" tanya Red kepada Sea saat ini juga.


Sea seperti menahan napas, netranya bergetar, mencoba tangguh, dan itu berhasil. "Hell no!! Nampaknya aku terlalu kasar ya kalau menjawab seperti itu. Tapi kenapa tiba-tiba? Kenapa hari ini kamu ngomongin Jeremy terus?"


"Lamborghini Aventador warna abu-abu, mobil yang kemaren datang ke rumah lo, itu milik Jeremy? Lo tau kan gue masih disana waktu mobil itu masuk rumah lo!"


Masih dengan tenang, Sea menjawab. "Aku pikir kamu salah paham Red, atau jangan-jangan kamu cemburu ya."


"Kalau iya, apa lo bisa terima setelah ini.."


Red lebih mendekat. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Sea. Sejenak gadis itu menahan napas sembari menutup mata, tidak tahan ditatap tajam seperti itu oleh Red, dan ini untuk pertama kalinya.


Red mendekatkan bibir ke telinga Sea, terpaan napas hangat diterima dan membuat bulu kudu si gadis meremang, mula-mula kecupan mendarat di pipi, namun tak lama menjadi kecupan di bibir.


"Kalau lo benaran suka sama gue, disini...." Setelah memisahkan dua bibir, Red tanpa canggung merebahkan tangan tepat di dada dimana letak jantung Sea. "Getaran dada lo bakalan berbeda, lebih cepat."


Setelah kalimat sarkas itu terucap, Red berlalu meninggalkan Sea dalam kebingungan luar biasa.


Sea ketahuan.


Dan Sea sadar, hidupnya akan berbeda dengan satu rahasia yang terbuka.