Moon

Moon
Tatapan Sea



"Red, gue udah nunggu lo sedari tadi."


Seorang gadis tiba-tiba merangkul dan memeluk Red tanpa perduli anggapan dari tamu-tamu lainnya, sudah biasa, hanya saja orang sekitar nampak terkejut mendengar Jessy yang berucap kegirangan dengan lantang, setelah itu, suasana kembali normal dengan minuman dalam wadah gelas yang masing-masing di pegang oleh tangan.


"Lo nggak bawa Rubby?" Jessy bertanya, tepat setelah melepaskan pelukan.


"Perlu banget lo tanya?"


"Ya siapa tau."


"Itu nggak akan mungkin."


Iya. Tidak akan mungkin bagi Rubby menghadiri pesta mewah milik keluarga Martin, terlebih yang saat ini sedang berulang tahun adalah Sea, gadis musuh besar yang baru-baru ini membuat dongkol kekasih Red.


"Hai kak Jess."


"Haloo cantik Sky. Malam ini siapa nih raja dan ratu pesta? Kamu dan Red lagi?"


Sky menggeleng, "Papa dan kak Sea." bisiknya agar tak terdengar oleh tamu yang lain.


Jessy berbinar. Satu fakta jika Sea adalah anak pertama dari keluarga Martin memang baru di dapati oleh Jessy, lebih tepatnya saat undangan dengan desain mewah mampir di rumahnya, ia sadar jika Sea benar-benar berada digolongan yang sama dengannya, dan itu menarik.


Satu hal lagi, dalam setiap pesta konglomerat seperti mereka, pasti akan ada acara dansa, melibatkan lawan jenis menjadi sepasang raja dan ratu dalam semalam. Dalam hal ini, Red dan Sky selalu mendapatkan atensi lebih oleh sebab keduanya yang terlihat sangat cocok dan pandai menari sejak kecil.


"Lo emang harus turun tahta Red." Jessy mengatai dan menunjuk dada Red.


Red diam, sedangkan Sky tersenyum sekilas sembari mengalihkan pandangan kepada tamu-tamu lainnya, "Bang Jinsen mana, kak?"


"Kenapa? Kamu naksir pacarku?"


"Idih. Enggak lah, terlalu kalem, nggak asik."


"Kamu maunya yang asik-asik, itu ada Jeremy, casanova kebanggaan kaum hawa." Jessy menunjuk satu pria yang saat ini menggendong anak sekitar usia dua tahunan.


Sky tertawa melihat ke arah Jeremy, "Amit-amit kak, nggak mau jadi pelakor."


"Jeremy juga ogah kali sama kamu, istrinya bening gitu. Gue heran kenapa di pesta ini nggak ada yang burik ya?" Jessy mulai dengan kerandomannya.


Lagi-lagi Sky dibuat tertawa oleh tingkah Jessy. "Masih ada yang burik kak, ditambah orangnya bodoh, sedikit hitam, pokoknya nggak masuk kriteria orang tampan lah."


"Siapa-siapa?"


"Bang Jared, siapa lagi."


"Njing, sakit bang." Sky mendesis saat satu pukulan pelan mendarat di kepalanya.


"Gue gateng."


"Masih ganteng gue." Jantis tiba-tiba mengatakan itu saat baru saja datang, dengan Latania yang sudah digandengan. "Keren gue, pinter gue."


"Ya, ya, ya, gue emang orang paling bodoh di dunia." Red mengalah.


Red sedari tadi tak begitu menggubris dengan orang-orang disekitarnya, yang ia lihat adalah, tiga orang yang sedang mengobrol dari arah jam sembilan, Jeremy yang fokus dengan anaknya dan Sea yang berbincang dengan istri Jeremy, yaitu Suri.


Yang Membuat Red heran, bagaimana ketiganya terlihat begitu akrab dan saling melempar tawa, Sea tak pernah segembira itu, dan satu hal yang membuat Red terganggu, Sea yang beberapa kali mencuri pandang kepada Jeremy.


"Kakak-kakak yang terhormat yang sudah bersedia datang di acara kak Sea, aku duluan ya, mau nyamperin Blue. Silahkan menikmati hidangan pesta." Sky berpamit dan melambaikan tangan.


Sepeninggal Sky, Jantis dan lainnya melihat ke arah Red, yang kemudian mengikuti pandangan yang dituju oleh pemuda itu.


"Gue yakin, lo terpesona dengan Sea kan?" Satu ungkapan dari Jantis membuat Red memutar bola matanya.


"Gue masih waras dan tetap setia."


"Sok tau."


"Tau banget, gue denger hari ini pacar lo nge-klub, bareng model-model lainnya, satu hal lagi yang gue yakin, Geido pasti nemenin dia. Aduh, Red kasihan, ada yang patah tapi bukan tulang."


Jika diibartkan, mulut Jantis ini seperti cabai rawit super pedas dan mampu membuat kepala Red meradang, Red tahu, tahu semuanya, tapi kenapa harus diungkapkan juga di depan umum meski hanya teman-teman sekitar, Red yakin, tujuan Jantis untuk mempermalukannya lagi, karena Red cukup tahu, jika seorang teman yang menasehati dengan diam-diam, itu baru bisa dikatakan tulus.


Tapi, Red memang mengakui jika hubungannya semakin memburuk semenjak sore kemaren. "Gue ribut, dia nggak ngebolehin gue datang kesini, dan itu hal yang nggak mungkin bisa gue turutin."


"Nah. Benar 'kan. Gue tebak Rubby cemburu nih sama Sea." Jessy ikut menjadi kompor.


"Jangan sampai temen gue Sea dianggap perebut, awas lo Red!" Latania sebenarnya sedikit tidak terima jika Rubby membenci Sea dengan alasan cemburu.


"Red, Red tolongin gue, gue nabrak mobil diparkiran." Edward dengan cairan yang membasahi pelipisnya berujar begitu ketakutan.


"Kok bisa sih, Ed?" Jessy terlebih dulu menimpali.


Harga mobil yang berada diparkiran tidak akan mungkin dibilang murah mengingat siapa saja yang menjadi tamu di acara pesta ini. Jessy takut jika pemilik akan minta ganti rugi dengan harga fantastis.


Red bersikap tenang, tahu betul jika ia ikut cemas, lalu bagimana dengan Edward, sebagai teman yang super baik hati dan boss yang begitu loyal dengan karyawannya, maka tangannya segera menarik Edward menuju parkiran. Melihat bagaimana kondisi mobil naas yang sudah dirusak oleh Edward.


"Yang mana?" Saat sudah di lantai bawah tanah, Red menyisir area, sedangkan Edward masih takut-takut.


"Itu." Edward menunjuk dengan gemetar.


Saat Red mengikuti arah telunjuk Edward, disaat itu juga, ia terdiam di tempat, otaknya dipaksa untuk mengingat saat hari jumat, di depan perumahan Green Line, rumah Sea.


Lamborghini Aventador warna abu-abu. Sial. Red ingin mengingat plat momor mobil itu, tapi sayang ingatannya buram, atau lebih tepatnya saat itu Red tak begitu melihatnya.


Red mendekati mobil mewah dengan harga lebih dari 6 miliar itu untuk mendapat informasi, siapa tahu pemilik meninggalkan nomer ponsel jika saja memang terjadi sesuatu seperti saat ini, biasanya orang-orang memang begitu.


Namun, tak ada sedikitpun angka yang menunjukkan jika itu nomer ponsel, tapi ada satu titik terang yang Red dapatkan, stiker kecil yang menempel pada kaca bagian belakang.


Magnate Group, dimana group perusahaan besar itu milik keluaraga Nicholas yang hanya memiliki anak tunggal, Jeremy Nicholas.


Perasaan Red tiba-tiba tidak enak, sesak seperti ada udara keruh yang masuk paru-parunya, pemuda itu tidak tahu pasti, tapi yang ia yakini ada sesuatu yang tidak beres berkaitan dengan dirinya, iya dirinya.


"Gue urus masalah ini, lo nggak usah khawatir, sana masuk dulu."


"Tapi ini salah gue."


"Masuk nggak lo!!"


"Astaga, nyeremin banget boss." Edward yang sudah dibuat spot jantung akibat kelalaiannya sendiri dibuat tertekan lagi oleh Red yang menyentak sampai menusuk hati, kasihan sekali hidupnya.


Sepeninggal Edward, Red mencari nama kontak di dalam ponselnya, menekan tombol hijau untuk menghubunginya.


"Bisa ke parkiran lantai bawah. Gue nambrak mobil lo, sekarang."


"Red, lo nggak lagi bohong 'kan?"


"Enggak, gue lihat stiker di kaca belakang, gue pastiin itu nama perusahaan lo. Mobil model Aventador jelas bukan milik om Thomas 'kan?"


"Oh. Oke gue kesana sekarang."


Red tersenyum miring sembari menaruh bokong di bibir mobil yang ia duga memang benar milik Jeremy. Segala spekulasi yang mengerubung diotaknya membuat ia benar-benar pusing. Apalagi Red tak pernah lupa dengan tatapan Sea kepada Jeremy, dan itu semakin membuat mata Red kepanasan tanpa alasan yang jelas.


Namun, lamunan Red menghilang saat ia melihat sosok Jeremy datang mendekat, disaat bersamaan tubuh Red mulai menegak, berdiri dan menatap Jeremy dengan datar sebelum dua pertanyaan ia lontarkan dan membuat Jeremy diam dan ingin mengumpat.


"Ada hubungan apa lo sama Sea? Apa jangan-jangan hobby casanova lo belum kelar?"