Moon

Moon
Keputusan



Mau sampai berapa lama ketegangan di ruang tengah ini akan berakhir?


Jawabannya tidak tahu, bahkan semua masih diam karena si pembawa berita belum kunjung berbicara setelah para terua di ruangan ini menutup mulut semua.


Kondisinya begini, Red mengumpulkan semua orang, dari keluarga Ardibrata, Martin dan Ardikara. Namun hal berbeda bukan lagi di rumah Oma Seruni, melainkan rumah Rose Sea Martin sendiri, sontak membuat si pemilik rumah seperti di serang badai topan.


Tatapan Sekar kosong ke arah meja dimana ada sebuah tespek terletak disana, dengan itu pula, wanita ibu dari Sea merasa akan hadirnya bayi baru di antara mereka.


Sea menunduk, ia tak bisa berbuat apa-apa, Sea hanya menautkan jemari tanpa bisa berbicara, namun saat ia menoleh dimana tempat Red sedang duduk, rasanya Sea ingin melempar pria itu, bayangkan, Red tersenyum sendiri seperti orang tolol.


Red sadar dirinya diperhatikan, dan benar, saat ia melihat Sea, wanita itu meliriknya dengan tajam.


“Apa? Tolol!!” Sea berbicara namun tak menimbulkan suara, hanya bibirnya saja yang bergerak mengatai Red yang sekarang tengah berpura-pura buta dan mengalihkan pandang darinya.


Sebenarnya Sea sudah pernah mengalami hal seperti ini, tepat saat ia mengandung Arche, namun sekarang situasinya berbeda, jika dulu ada Davis ayahnya. sekarang hanya ada Sekar yang masih belum mengeluarkan suara, setidaknya Sea ingin dimarahi atau semacamnya, tidak diam begini.


Berbeda dengan Kirana, wanita itu nampak gelisah, berkali-kali menarik nafas. “Kalian sering begituan?” tanyanya setelah beberapa saat.


Sea mendongak dengan cepat, tidak menyangka ada pertanyaan seperti itu, sumpah demi Tuhan, mereka hanya dua kali dan langsung jadi. Sea melirik Red sebentar lalu berbalik memandang Kirana lagi, takut menjawab.


“Ma, ini rahasia.”


“Jared. Rahasia kepalamu. Ini bukan menyangkut dirimu saja, tapi juga keluarga dan mama.” Kirana naik pitam.


Wanita kalem itu menarik napas lagi, tidak pernah dalam kamus Sea menyimpan memori kemarahan Kirana, jujur ini baru pertama kali.


Yang dimarahi bukannya beringsut takut, Red tetap tersenyum konyol. “Mama nggak suka Sea hamil lagi? Cucu mama sebentar lagi dua.” ucapnya ringan.


Kehamilan memang sangat membahagiakan bagi orang yang menginginkan, tapi dengan cara yang benar. Meskipun Arche memang buah dari kesalahan, sumpah demi Tuhan Kirana sangat menyayangi cucunya itu. Namun saat semua kesalahan tidak dijadikan pembelajaran, maka delikan kekesalan ia layangkm lagi untuk putranya itu.


Sedangkan Red adalah orang paling bahagia saat tahu hamilnya Sea, tentu saja, ia bisa mewujudkan wishes Arche ke empat tahun.


Kirana berbalik, menatap lembut Sea dan berbicara sehalus mungkin. “Ibu seneng sayang, tapi kenapa kalian tidak menikah dulu?”


Mendengar itu, Sea menunduk lagi, dan demi apapun, hal paling memalukan yang pernah Sea alami adalah hari ini, kasus ini dan semua gara-gara Red.


Dan menikah. Sea selalu menolak ajakan Red untuk menikah dan sekarang ia sudah mengandung benih kedua, dari pria yang sama.


Sea harus bagaimana?


Dan dalam keterdiaman, ia merasakan pundaknya dielus setelah pantulan sofa disebelahnya ia rasakan. Kirana sudah ada disana setelah Sea mendongak dan menatap wanita itu.


“Sea, bicara jujur sama ibu, Red paksa kamu ya?” tanya Kirana kemudian.


Pertanyaan Kirana justru mengundang rasa tidak terima dari Red, pria itu melotot. Jika begini dimana Red akan mencari perlindungan? Ibunya sendiri sedang tidak mengulurkan bantuan. Meskipun hari itu Red sedikit memaksa, tapi jika Sea meninjunya ia tidak akan berbuat lebih, begitu bukan? Lagi-lagi Red kembali tersenyum konyol mengingat hari itu.


Tapi Red tidak lupa untuk menegur ibunya. “Ma….”


“Kamu diam.” perkataan yang belum tuntas dihentikan oleh Kirana, membuat Red menutup mulutnya lagi.


“Enggak, bu.” Akhirnya Sea menjawab, ia tidak bisa menjadi manusia munafik, dimana hari itu Sea juga ingin, wanita itu menginginkan Red, wanita itu merasa butuh disentuh oleh Red.


“Berarti Sea yang maksa kamu Red? Seperti dulu?” Giliran Sekar bersua, berbicara dengan Red yang ada di depannya.


“Iya Tan, Sea yang maksa.” Dan itu membuat Sea berdiri tanpa ragu hanya untuk memukul lengan pria itu dengan keras, setelah emosinya tersalurkan, Sea duduk lagi ke tempat semula.


Sea menggingit bibir bawahnya, memandang Red tanpa putus, sungguh Sea ingin mengumpat, tapi ia tahan mati-matian.


Red sekarang sudah sangat terbiasa diberikan tatapan mengerikan, jadi ia sama sekali tidak takut. Red memilih mengangkat bahu dan tersenyum jahil tanpa putus.


“Sea? Terus gimana? Kalau begini kamu masih nggak mau nikah sama Red?” Suara Kirana terdengar lagi, kali ini wanita itu bertanya dengan senyuman, berharap Anna yang sedang mengandung anak kedua itu berubah pikiran.


Sea menarik nafas dalam-dalam, di putaran hidupnya, ia masih tidak menyangka akan ada sidang keluarga oleh sebab hamil duluan, untuk kedua kalinya.


“Red akan menikahi Sea.” Red bersua. Entah Sea yang sedang salah lihat atau bagaimana, namun yang jelas saat Red mengatakannya, Sea sama sekali tidak melihat jika pria itu sedang bercanda.


“Red ak….”


“Minggu depan, aku akan menikahimu minggu depan.” Sebelum Sea protes, Red mengimbuhi lagi.


Dan untuk kali kedua, Sea berdiri, menghampiri Red lagi, memukul keras-keras pada lengan pria itu sembari memarahinya. “Jangan ambil keputusan sendirian, jangan seenaknya.”


“Ya Tuhan sayang, sakit, kamu KDRT lo ini.” Red mengaduh, dielus-elusnya lengan yang baru saja dipukuli oleh Sea.


“Kamu mau nyawa kamu melayang, jangan panggil yang, yang…”


“Kalau aku mati, anak kita jadi yatim, kamu mau?”


Sea stagnam. Kenapa mendengar Red berkata tentang kematian membuat dadanya kesakitan?


Sea menarik paksa lengan Red, mengajak pria itu berdiri, dan saat Sea ingin mengatakan sesuatu, Sekar mencegah terlebih dahulu.


“Kamu masih mau nolak juga? Cukup, mama nggak mau denger lagi alasan dari kamu.” Karena Sekar tahu sekali perangai putrinya.


Sea tipikal keras kepala, dan Sekar tahu tidak akan pernah ada jalan buntu dalam otak putrinya itu. Daripada mengulur waktu lebih lama lagi dan memberikan kesempatan Sea untuk menghindar, lebih baik Sekar memutuskan perkara ini.


“Coba sekali lagi kamu bilang ke mama, apa lagi alasan kamu menolak Red?” Satu kali saja, Sekar ingin mendengar dengan benar.


Jika masalahnya karena Sea tidak cinta, lalu kenapa ada calon bayi kedua?


Sea terdiam mendengar apapun yang diucapkan oleh ibunya.


“Ma, Sea…”


“Tidak ada alasan kan?” Sekar menuntut lebih jauh saat Sea masih memikirkan apa yang akan dikatakan.


“Sea nggak nolak, Sea mau ngasih pengumuman, Sea mau menikah dengan Red.” Dan saat mengatakan itu, Sea tidak sadar tengah menggenggam erat jemari Red, sedangkan Red sendiri bahagia luar biasa.


Saat keputusan final sudah dilayangkan, kedua tetua yang sedari terdiam melihat drama, siapa lagi, Seruni dan Rusdi, kakek dan nenek yang duduk dibagian paling pojok itu berdiri.


“Oma bangga sama kamu Sea.” Seruni dengan perasaan lega akhirnya bisa mendengar setidaknya Sea mau menikah. “Oma bisa mati dengan tenang.” Dan kata-kata itu sontak membuat Sea sedih.


Dan bagaimana dengan Rusdi, pria tua itu meraih ponsel di saku celana, semua mata memandang ke arahnya, dan saat ponsel itu sudah berada di daun telinga, Rusdi berkata. “Sea menerima Red. Cepat pulang, minggu depan putrimu menikah.”


Rusdi menelfon Davis.