Moon

Moon
Rencana Berhasil.



Rolls-Royce Wraith warna merah dengan desain arsitokrat dan mewah itu berbelok arah ke tempat tujuan setelah membelah jalanan kota, menuju tempat parkir sebuah bangunan di kawasan mewah.


Arche yang berada dipangkuan Sea ikut menoleh ke arah luar, terlihat begitu jelas kerlap-kerlip lampu yang menghiasi gedung itu, sedangkan Sea sendiri berdecak, ia malas untuk berpesta, tapi bagaimana jika pria yang saat ini menjadi supirnya memaksa?


Red turun dari mobil duluan, niat pria itu ingin membukakan pintu untuk Sea, menunjukkan jika itu adalah wanitanya, beserta anak yang melingkupi mereka, ingin juga dianggap sebagai keluarga kecil yang sedang berbahagia meski Sea menunjukkan raut yang berbeda, Red tahu wanita yang dicintainya itu sedang badmood total.


Red mengulurkan tangan dengan senyum mematikan, sialnya itu terlihat sangat tampan. “Ayo turun.” ajaknya kepada si wanita.


Sea tak mau menunjukkan kesan memalukan, maksudnya tidak mau membuat Red malu, maka dari itu, Sea memutuskan untuk menerima uluran tangan yang Red tawarkan.


Namun saat Red berpindah tingkah untuk memegang pundak Sea yang sudah berdiri disampingnya, wanita itu melirik tajam dengan gumaman yang tidak keras. “Jangan pegang-pegang.”


Setelah mengatakan itu, Sea menurunkan Arche, membiarkan babynya untuk terbebas dari gendongannya.


“Kamu bilang bentaran doang kan?” Sea bertanya, setelah itu tangannya terjalin untuk menggandeng Red, agar seperti pasangan meskipun kenyataannya mereka berdua sekarang adalah pasangan, calon pengantin yang seminggu lagi menjadi suami istri.


Oke. Sekarang Sea menatap lurus kedepan, ia sudah bisa menebak akan ada banyak orang yang menatapnya, dari atas sampai bawah. Sea tidak begitu kaget karena wanita usia tiga puluhan itu sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.


“Kamu cemberut, nggak mau datang, tapi dandannya cantik banget.” Red berkomentar, memandang Sea yang benar-benar cantik malam ini.


“Aku udah cantik dari dulu, dandanan nggak ngaruh. Pokoknya bentar aja, aku nggak mau lama-lama di pesta.” Dan jawaban Sea membuat Red tertawa, tapi benar juga, Sea sudah cantik Meskipun tanpa riasan.


“Iya, sebentar, habis penyambutan dari Kake kita langsung pulang.” Red berjanji.


“Sampai bohong kamu aku makan.” Red sekali lagi tertawa mendengar ancaman Sea.


Red tidak keberatan jika Sea memakannya, dalam artian tanda kutip tapi. Bisa saja, kenapa pikiran Red melenceng ke arah sana. Sebenarnya pagi tadi Sea kurang enak badan, hamil muda yang pernah dikatakan Latania terulang kembali, Sea muntah-muntah, namun saat siang datang, wanita itu baik-baik saja.


Red sebenarnya tidak tega, namun egonya mengajak untuk berbuat jahat, Red ingin menggandeng Sea di tempat ini, di pesta ini.


“Baby sini ikut daddy.” Red mengambil alih Arche, menggendong bayi itu dengan satu tangan dan tangan lainnya tetap menggandeng Sea.


Sea tersenyum melihat Arche celingukan, bayi empat tahun dengan jas merah itu tampak lucu. Arche menginginkan dandanan serba merah karena ingin berseragam dengan mobilnya. Membicarakan soal mobil, asal muasal Arche meminta itu karena ia kerab sekali keluar dengan Red, bayi itu mengatakan ingin mobil seperti punya ayahnya tapi dengan warna merah yang sebenarnya adalah arti dari nama ayahnya juga, sungguh tidak disangka.


Lagi-lagi Sea tersenyum, ia berjalan beringingan dengan Red yang otomatis membuat orang-orang menyapa keduanya, dan tidak mungkin Sea menampilkan wajah yang datar-darar saja.


Dan sampai pada pintu depan aula, Red dan Sea menarik nafas bersamaan. Boom, benar, semua orang yang sebelumnya sibuk sendiri berlih pandang melihat keluarga kecil nampak bahagia keluarga Ardibrata.


Sea sedikit panik, mata dengan bulu lentik itu memandang ke segala arah.


Sea bisa mendengar semua orang-orang yang bersua, sebagian ada yang menyapa Red, memanggil-manggil nama Arche dan berbisik memuji kencantikannya.


“Jadi itu istri bapak Jared, gila cantik banget.”


Begitulah kira-kira, bahkan Sea juga mendengar sedikit umpatan dari mereka yang merasa kalah saing. Bukannya Sea terlalu percaya diri, sumpah demi Tuhan Sea tidak perduli, tapi bagaimana jika telinganya mendengar secara langsung.


Tapi satu poin yang Sea tidak terima, Sea bukan istri Red, kenapa orang-orang bergumam mendebatkan hal tersebut.


“Nyonya Ardibrata cantiknya nggak manusiawi, kayak Dewi. Lo nggak usah kecentilan sama pak Jared, beda kasta.” Ada agi yang menyeletuk seperti itu, tepat di belakang Sea. Kenapa mereka berbicara dengan vocal yang begitu keras sih? Apa mereka tidak takut Sea bisa mendengar?


Dan Red yang sama mendengar itu makin tersenyum. “Seaku kayak Dewi katanya.”


Sontak membuat Sea memutar bola mata dan tatapan datar untuk calon suaminya. Sea tidak tahu kenapa semakin masuk ke dalam gedung, perutnya semakin mual, apa efek kehamilan berlanjut hingga malam. Saat ini selain pulang tidak ada lagi yang Sea inginkan, wanita itu hanya mendambakan rebahan.


Sea ingin mengeluh, namun derap langkah yang Sea kira dari tiga pria akan berlalu saja ternyata tidak, pribadi pribadi dengan dandanan casual tampak menarik itu berhenti menghampiri, lebih tepatnya menyapa Red saat ini.


“Bapak Jared, selamat atas ulang tahun perusahaan, bagaiamana kabar anda?” Sembari mengulurkan tangan, satu pria memberi salam.


“Fine. Long time no see sir.” Red menjabat satu-persatu dari tiga pria itu.


Obrolan berlanjut ini itu, apalagi jika bukan soal pekerjaan dan proyek-proyek lainnya. Red juga tidak lupa mengenalkan Arche pada mereka yang sontak mengundang kegemasan. Lalu saat Red menatapnya, pria itu berkata. “Perkenalkan ini istri saya.”


Membuat Sea ingin mencakar wajah Red mamun ia tunda, mungkin nanti saja, bisa memalukan melakukan keerasan di tempat umum, apalagi ada Arche yang bisa melihatnya.


Tak mau melihat Red merasa malu, Sea berkedip lembut, tersenyum lalu berkata. “Rose Sea Martin.”


Dan setelah Sea memperkenalkan diri, tiga orang itu terdiam, nampak berpikir. Setelah itu tersenyum dan memperkenalkan diri masing-masing. Nama Martin tidak asing di dunia perbisnisan, mungkin saja mereka sedikit terkejut.


“Selamat menikmati pesta.” Pungkas Red mengakhiri kecanggungan.


Red menggiring Sea duduk di sofa, dan saat pelayan datang menawarkan minuman, Red menolak, meminta dua gelas jus saja karena apa yang dibawa oleh pelayan tadi adalah alkohol.


“Red.”


Sea mengelus perutnya yang masih rata, cemberut dan berkata. “Mual.”


“Habis ini istirahat dulu mau, kita naik ke atas.” Red menawarkan, pria itu ikut mengelus-elus perut Sea.


“Alche mau itu.”


Belum sempat Sea menjawab, bayi berkostum merah itu berceletuk, menginginkan kue cokelat yang ada di meja karena telunjuknya mengarak kesana.


“Baby mau cake?” Sea bertanya lembut.


Red yang mendengar pertanyaan Sea juga langsung bertanya kepada putranya. “Mau cake, mau daddy ambilin?” Tanyanya dengan satu tangan yang masih setia mengelus-elus perut Sea.


Perlakuan Red mengundang atensi banyak orang, tak segan ada yang mengatakan jika pria Ardibrata begitu romantis dan perhatian.


Setelah Arche mengangguk, Red beranjak membawa putranya itu untuk mengambil apapun yang diinginkan, terutama kue cokelat tadi. Red juga berseru agar Arche makan dengan hati-hati setelah satu cake berada ditangannya.


“Ayo pulang, udah kan?” Sekembalinya Red di sofa, Sea langsung meminta pulang. “Kamu tadi bilang bentaran Red.”


“Kita belum keliling Sea, kok udah main pulang.” Protes Red tanpa memandang lawan bicara karena ia sibuk memperhatikan Arche yang makan kue dengan nyaman, takut puteranya itu tersedak jika tidak hati-hati.


Sea semakin sebal, ia melotot dengan gigi gemelatuk. “Beneran aku makan lo kamu Red. Pulang nggak!!” ancamnya.


Yang diancam tidak terpengaruh, sembari tertawa renyah, Red mengatakan sesuatu yang konyol. “Alu belum pamer istri, main ajak pulang aja, bentaran doang.”


Dan Sea hanya menggerutu sebal. Wanita itu enggan menjawab dan berpaling muka.


“Masih mual? Mau ciuman biar nggk mual?”


Penawaran apa itu? Sontak membuat Sea melotot lagi kepada Red, takut Arche mendengar, tidak tahunya saat Sea menatap Arche, bayi itu berkedip-kedip lucu.


Tidak jadi marah, Sea memalingkan wajah lagi. Sea mendapati beberapa orang yang ia kenal, disana ada Rusdi yang sedang menyapa berbagai kolega. Dan yang berpakaian serba putih adalah Edward, teman sekaligus bawahan Red itu juga sedang berbicara dengan banyak orang. Lalu Sea mendapati satu wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang, Sea ingat namanya Jessy, wanita itu bersama dengan Jinsen, untuk Junsen sendiri Sea juga masih mengingatnya.


Lalu dimana Latania dan Jantis? Entahlah, mungkin sedang di sisi sebelah mana, Sea tidak perduli. Karena Sea juga tidak mau bertemu dengan Latania, karea wanita itu masih merahasiakan kehamilannya, takut dimarahi.


Benar yang dikatakan Red, mereka belum berkeliling untuk menyapa semua tamu.


Namun Sea memang benar-benar pening, bukannya tidak mau terus berada di tempat ini, tapi Sea benar-benar tidak mampu.


“Oh my God.” Sea bercelatuk, matanya berbinar saat satu sosok ia pandang.


Red yang merasa terkejut pun lantas menoleh kepada Sea, ada apa gerangan dengan calon istrinya?


“Kenapa?” Dengan kening mengkerut, Red bertanya.


Sea nampak bersemangat. “Enggak, kita nggak jadi pulang, aku udah nggak mual.” Jawabnya, bahkan senyuman menghiasi wajah ayunya.


“Hah? Gimana?” Red menatap Sea bingung, pria itu ikut melihat dimana arah Sea memandang.


“Kenapa kamu nggak bilang Jeremy dateng ke pesta ini.” Sea menunjuk pria dandanan maskulin, kulitnya begitu putih dan tubuhnya nampak lebih kekar. Sea begitu antusias.


Red melirik tajam, alisnya terangkat tinggi-tinggi saat tahu Sea tak menurunkan pandangan ke arah Jeremy, dengan mata berbinar-binar.


“Tahu gitu aku dandan lebih cantik Red. Kemaren di acara ulang tahun baby nggak sempet bicara.” Kata Sea lagi, wanita yang sedang hamil muda itu menoleh pada Red. “Aku kesana ya.”


Lidah Red kelu, ia tak bisa berkata apa-apa untuk sementara, hanya memainkan lidah di dalam mulut yang Red bisa.


Sea mengelus perutnya, “Ini anak kamu pengen ngajak salaman Jeremy, katanya juga pengen cipika cipiki. Oh God, Jeremy kalau gitu ganteng banget.”


Red menggeleng tidak percaya.


Pria tampan dengan muka sebal itu berdiri setelah meraih Arche dalam gendongannya. Dalam satu tarikan, tangan Sea sudah ia pegang. “Ayo pulang.” ajaknya final.


Sea berdiri, dengan raut bingung ia bertanya. “Kok pulang, aku mau kesana dulu Red.” Tangan wanita itu beralih merangkul lengan Red. “Ayo, katanya kamu juga mau pamerin aku.”


Red lagi-lagi melirik Sea dengan tajam, namun pria itu tetap melangkah, menggiring Sea ke pintu keluar. “Nggak jadi.”


Dan saat Red tetap menarik tangan Sea hingga sudah mencapai pintu keluar, Sea tersenyum senang.


Akhirnya pulang juga. Rencananya berhasil