Moon

Moon
Harapan



Malangnya seorang Sea saat hamil memang begini, baru saja bangun dari tidur wanita itu bergegas menuju kamar mandi karena mual di perut sudah tidak bisa ditahan lagi.


Setelah Sea memuntahkan semua isi lambungnya, wanita itu berkaca di cermin yang menempel diatas wastafel, menghembuskan nafas lega, ia meraih sikat gigi setelah itu membasuh muka dengan pencuci wajah.


Lagi-lagi Sea menghela napas saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati dua manusia berjenis kelamin sama dan memiliki postur tubuh yang berbeda berada di atas ranjang, masih pulas dengan tidurnya.


Sea menggeleng, Red dengan posisi tengkurap sama sekali tidak terganggu oleh Arche yang mendindih perut pria itu.


Kemudian Sea beralih menuju jendela, membuka tirai disana, saat pandangan Sea menuju arah pantai, wanita itu tersenyum, sangat segar pikirnya.


Karena Sea tidak mau mengganggu ketenangan dua orang yang masih tidur disana, wanita itu beralih menuju balkon, ingin duduk-duduk sembari menikmati udara pagi yang segar.


Namun saat ia menoleh ke kanan, tak disangka, Kirana juga sedang memandangi pantai di balkon kamarnya. Kamar-kamar di hotel ini memiliki balkon yang terhubung satu sama lain.


“Sea, udah bangun.” Ketika Sea ingin menyapa ibu mertuanya, ternyata Kirana yang mendapati menantunya ada disana memilih menyapa duluan. “Kamu nggak capek jam segini udah bangun?”


Sea menggeleng. “Enggak bu, tadi kebangun, mual.”


“Masih parah?” Tanya Kirana sembari mendekat ke arah Sea.


Sea menggeleng. “Enggak bu, lebih parah lagi waktu hamil Arche.”


Sea mengedarkan pandangan menuju semua balkon yang berjejer-jejer. “Semua milih kamar di urutan ini bu?” tanyanya.


Dalam satu baris, ada sekitar sepuluh kamar, dan Sea mendapati mertuanya tepat disamping kamarnya, siapa tahu yang lainnya juga berada di samping-sampingnya lagi.


“Iya, papa kamu yang ngatur semuanya.” Jawab Kirana kemudian. “Katanya hotel ini milik kamu ya?”


Sea mengangguk. “Iya bu, tapi lama banget Sea nggak kesini. Sibuk.”


Dan Sea juga baru tahu, papanya yang mengurus hotel satu-satunya milik Sea yang ada di Indonesia, tepatnya di pulau Bali ini. Karena setahu Sea, Devon lah yang membantunya selama ini.


“Ada apa nih, pagi-pagi udah ngerumpi.” Celetuk suara dari balik punggung Sea. Red tiba-tiba sudah ada di sana, menggunakan hoodie dan celana training. “Selamat pagi Ma, selamat pagi wife.”


Dan saapaan itu membuat Sea dan Kirana geli.


“Yaudah mama masuk dulu, nggak mau gaggu pengantin baru.”


Dan sepeninggal Kirana, Red langsung mencium sekilas bibir Sea, dan bagaimana respon Sea mendapatkan kejutan dengan tiba-tiba dari suaminya? Wanita itu hanya memejamkan mata, ia sudah tidak bisa marah.


Sedangkan Red yang tidak dilawan beralih memeluk Sea dari belakang, melingkarkan tangannya di periut si wanita, keduanya sama-sama memandang arah depan, pantai dengan langit yang sedikit terang karena masih jam setengah lima pagi.


“Jangan pegang-pegang.” Sea menegur karena tangan Red mengelus-elus perutnya.


Mungkin semua orang sudah paham bagaimana Red dan Sea kerab sekali berseteru, mungkin juga semuanya juga sudah tahu jika Red tidak pernah mendengarkan peringatan wanita itu, lihat saja, Red sekarang tersenyum seperti orang idiot.


“Kenapa bangun pagi-pagi banget?” Tanya Red kemudian. Suara Red dibuat berbisik hingga membuat Sea merinding karen nafas pria itu sangat hangat.


“Kebanyakan tidur.” Jawab Sea singkat.


Dan pertanyaan Red selanjutnya mengenai anaknya. “Arche nanti disekolahin dimana?”


“Masih lama Red.”


Arche sudah genap empat tahun. Butuh dua semester lagi untuk babynya itu menuju bangku sekolah, Sea juga masih banyak waktu untuk mengajari banyak hal untuk mempersiapkan puteranya.


“Yaudah, karena aku sekarang udah jadi istri kamu, terlebih aku nggak mungkin balik lagi ke luar Negeri, aku percayakan sama kamu. Di sekolahan kamu dulu juga bisa.”


Red mengangguk, Sea dapat merasakannya karena dagu pria itu sedang bersandar di pundaknya.


“Honeymoon mau kemana?” Red bertanya lagi.


Sea merasa pagi ini, atau pagi pertama menjadi istri Red membuatnya lebih percaya bahwa pria yang sudah menjadi suaminya itu sangat cerewet.


“Honeymoon? Kamu masih kepikiran itu saat baby udah disini?” Sea menepuk sendiri perutnya yang dilapisi lengan Red. “Nggak ada honeymoon!” Tolaknya kemudian.


Red berdecak, gemas sekali dengan istrinya. “Nggak bisa banget diajak romantis.”


“Kamu masih ada sesuatu sama Rubby?”


Pertanyaan dari Sea menbuat Red terdiam. Kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah Red sudah sering sekali mengatakan jika ia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mantannya itu.


Akhirnya Red menggeleng. “Enggak.” jawabnya.


Namun sepertinya jawaban Red tidak pernah berhasil membuat Sea percaya, lalu wanita itu menanyakan hal yang sama sekali diluar nalar seorang Red.


“Di Dubai kemaren kamu nggak tidur sama dia kan?”


Red menghembuskan nafas pelan. “Enggak mommy, nggak mungkin lah aku tidur bareng Rubby. Kenapa tanya-tanya itu sih?”


Red memang pernah tidur dengan Rubby, tapi demi Tuhan itu dulu, saat mereka masih berpacaran, bahkan setelah menyentuh Sea untuk pertama kalinya, Red sudah tidak memiliki hubungan dengan siapapun, apalagi tidur dengan sembarang orang, Red bukan pria seperti itu.


Merasa pertanyaannya tidak dijawab, Red melepaskan pelukan, pria itu membuat Sea untuk menatapnya secara langsung, membalikkan badan wanita itu agar pembicaraan ini menjadi jelas.


“Kenapa?” Tanya Red lembut.


Sea mengedip, ia sedikit tersenyum.


“Aku nggak percaya dengan apa itu cinta setelah apa yang aku laluin dulu. Aku juga tidak percaya tentang pernikahan. Aku sudah ambil resiko buat percaya sama kamu.” Menikah dengan Red, sama dengan Sea mempertaruhkan hidupnya bersama pria itu. “Aku nggak mau kecewa. Jadi, aku mau tahu sedikit tentang kamu.”


Red terdiam.


Betapa Red tahu bagaimana hati Sea sejak awal memang bukan untuknya. Dan saat ini ia tahu, sedikit demi sedikit wanita yang dicintainya itu mau membuka hati untuknya.


Wanita yang hanya memperdulikan pekerjaan, hanya perduli tentang Arche, hanya perduli tentang bagaimana meluaskan jaringan hotel agar bertambah banyak itu mau memikirkan soal Red meskipun sedikit saja.


“Mulai dari mana? Mantan? Aku cuma punya mantan Rubby doang. Dan satu-satunya wanita yang aku cintai cuma kamu.”


Sea mengangguk. “Dan karena itu juga, Rubby masih mempunyai peluang besar untuk merebut kamu kembali.”


Seketika itu tawa Red mengudara keras, membuat Sea menatap dengan sebal, namun saat Red mengelus pundak si wanita, disaat itu juga Red menatapnya dengan serius. “Pemikiran yang konyol. Dugaan kamu nggak mendasar.”


“Nggak tahu. Aku cuma ngerasa seperti itu.” Karena wanita sangat peka, dan sialnya Sea merasakan firasat buruk, tentang Rubby dan suaminya.


Daripada meladeni pikiran konyol Sea, Red memilih untuk mendekap istrinya agar bayang-bayang soal Rubby hilang di kepalanya.


“Mom peluk aku balik.”


Saat Sea menuruti permintaannya, dan di saat tangan Sea melingkar untuk memeluknya. Red yakin, harapan indah untuk masa depan akan menjadi kenyataan.