Moon

Moon
Kiss



Di bandara yang ada di Jakarta, Sea mendorong kopernya, ia menggunakan topi baseball, kaca mata hitam dan masker hitam untuk menutup wajahnya. Di samping kirinya, terdapat satu anak, Arche tentu saja.


Sea berjongkok, "Arche, ingat apa yang Mommy katakan bukan?"


"Ingat mommy." Arche menjawab, matanya menyipit, artinya anak itu tersenyum dan patuh dengan rencana-rencana yang sudah di atur oleh Sea.


Latania berjalan di samping kanan Sea, gadis itu tampak bahagia kerena ia juga rindu Jakarta, "Lo yakin rencana lo berhasil?" Ia berbisik kepada Sea.


"Asal mulut kamu bisa dijaga sedikit saja, La, aku mohon, jangan sampai kamu cari gara-gara." Sea tak kalah berbisik, takut Arche yang sedang berfokus pada ramainya bandara malah berganti menguping percakapan ibunya.


"Yah, padahal seru kalau Red tahu-tahu punya anak dari lo, sumpah gue pengen bikin vlog."


"Dan saat kamu bikin vlog, aku jamin perhiasan Tiffany & Co yang aku janjikan nggak akan aku kasih ke kamu."


"Mainnya ngancem, nggak seru. Lagian kenapa nggak pulang pakai jet pribadi lo dan mendarat di bandara Oma Seruni, biar nggak sembunyi-sembunyi gini."


"La, aku susah payah ngakarin biar anakku hidup nggak manja, biar Arche hidup sederhana, karena di laki-laki, harus dibiasakan dari kecil." Seperti Davis yang mendidik Sea, mandiri semenjak kecil meskipun tanpa kekurangan uang, bagaimana cara menggambarkananya? Entahlah, buktinya, jadilah seorang Sea yang seperti ini.


Banyak mata yang memandang ke arah Sea, tampaknya penampilannya menyedot perhatian, terkhusus Arche yang menggemaskan dengan jaket Jersey biru dan celana hitam panjang beserta sepatu Nike Air Jordan Retro berwarna senada dengan jaketnya. Yang membuatnya begitu mirip dengan Sea adalah, kacamata hitam dan masker hitam memenuhi wajah, dan itu semakin memancing rasa penasaran orang.


Tetap berjalan dengan kepala terangkat, Sea mengabaikan bisikan-bisikan kekaguman yang ada di sekitarnya, banyak yang berkata Arche tampan, meski pada kenyataannya, hanya alis, dahi dan rambut saja yang terlihat saat ini.


Jika di Jerman Arche terbiasa berphoto dengan orang asing, tapi Sea memohon disini jangan sampai ada yang berniat sama. Karena, biar bagaimanapun, Sea sudah menipu banyak orang, terlebih Red yang tidak tahu itu anaknya, Sea tidak mau memperlihatkan Arche di depan umum, kalaupun kepergok dengan tidak sengaja dengan Red, Sea sudah menyiapkan jurus jitu, dan Arche tahu apa yang harus ia lakukan saat ia melihat orang yang berkali-kali Sea tunjukkan photonya.


"La, aku kebelet, ya ampun kenapa harus saat ini sih?" Wajah Sea memerah menahan kencing, di saat situasi menegangkan, perutlah yang menjadi sasaran, segala macam kotoran mendesak ingin keluar, dasar Sea.


"Ya udah, gue sama Numan masuk Starbucks aja kali ya, sekalian kasih makan anak lo, katanya minta cake cokelat."


"Oke, oke, Arche, mommy ke toilet dulu ya, kamu sama Nia auntie makan cake disana."


Kebetulan di dalam bandara ada Starbuck Coffe dan tempatnya sangat dekat dengan posisi Sea sekarang, maka setelah berpamitan, Sea yang hanya membawa tas slempang berjalan mencari toilet.


Ditengah perjalanan menuju toilet yang tak kunjung Sea temukan, tanpa disangka ia bertemu dengan Rubby, wanita itu sedang menggendong anak kecil. Sea melihat satu anting di telinga kiri si bayi, artinya perempuan. Apakah Red dan Rubby menikah setelah sesaat Sea pergi ke Jerman? Jika dilihat, anak itu berusia sama dengan Arche.


Beruntung wajah Sea tak terlihat barang sedikitpun oleh sebab atribut yang ia guanakan, wanita itu masih berdiri mengamati Rubby, yang aneh disana, kenapa Rubby seorang diri dengan hanya ada bayi di gendongannya? Kenapa pula berada di bandara ini? Kemana Red suaminya?


Entahlah, Sea tidak mau berpikir ke arah sana, itu bukan urusannya, akhirnya Sea berlalu hingga ia menemukan toilet yang sudah ia impikan sedari tadi.


Toilet perempuan dan laki-laki berjejer, Sea adalah orang dengan pikiran random, disaat ia melihat lorong toilet laki-laki, ia berpikir kenapa toilet umum di semua Negara harus berjejer? Kenapa tidak dipisah beberapa meter, karena tidak ada yang tahu bukan kejahatan apa yang akan dilakukan pria kepada wanita di tempat seperti itu, meski umum, tidak bisa menjamin banyak orang yang datang untuk membuang hajat.


Seperti sekarang, keadaan toilet sepi sekali, dan saat Sea akan memasuki lorong toilet perempuan, ia tak sengaja melihat seseorang dan otomatis mengumpat, "What the ****."


Sea berlari terburu-buru masuk kedalam, dan dengan tangan yang bergetar, Sea meraih ponselnya. "La, angkat dong." gumamya, ia menggigit kuku di jari dan hentakan kaki bertubi-tubi.


"Halo La, sial, ada Red disini, kamu cepet ngumpet, aku papasan di toilet, sekarang kamu ngumpet atau waspada, jangan sampai Red tahu, atau atribut kamu pakai, lengkap."


"Aku makannya gimana dong, ini pangeran Numan lagi makan juga."


"Masih mikirin itu? Ini genting banget lho." Meskipun begitu, Sea berbisik di dalam toilet hingga hanya ia dan Latania saja yang mampu mendengar.


"Yaudah, lo cepetan balik."


Sea mematikan ponselnya, ia segera buang air kecil yang sempat tertunda masih dengan degup jantung yang berantakan. Setalah ia selesai, Sea ingin membenahi tampilannya, ia membuka topi dan kacamata lalu keluar dari bilik toilet.


Sea membuka pintu, saat ia akan keluar, tanpa di duga satu manusia jangkung mendorongnya untuk masuk lagi ke dalam beserta bunyi pintu yang terkunci.


Sea mendongak. "Astaga naga terbang ke angkasa, R-Red?" Sea menutup mulutnya yang kebetulan masih tertutup masker hitam.


"Apanya yang terbang?"


Sea melotot, suara itu, benar Red. Sea hanya menggeleng, ia mencoba untuk mendesak dan keluar. Namun apalah daya tenanga perempuan, semakin ia mendorong, Red semakin memojokkannya.


Sea hanya bisa pasrah. Ia melepas masker yang menutup mulutnya. "Hai Red, apa kabar? Ini maksud kamu apa? Mau mesumin aku?"


Red terkena serangan mental. Kenapa harus to the point seperti itu. Sea tidak pernah berubah.


"Kamu tampan." Iya bukan, kata itu tidak pernah hilang dalam otak Sea, dan tutur lembut itu masih ia pertahankan. "Sekarang, boleh aku keluar?"


Dan tahu apa yang Red lakukan, tanpa wajah berdosa, ia berkata. "Gue sengaja ikutin lo, wangi lo sama, tadi yang lari itu lo kan?"


"Eng-enggak kok, eh iya mungkin, aku kebelet. Kenapa ngikutin aku? Aku punya hutang sama kamu sampai kamu kejar-kejar gini?"


Red tertawa kecil dan berakhir dengan senyum begitu lebar. Ia melihat Sea dengan tatapan yang sama sekali tak bisa diartikan oleh wanita itu.


Red mendengar Sea bercerai dengan suaminya, ia juga mendengar Sea sudah punya anak, dan Red juga dengan sadar masih mencintainya, apakah hal tersebut bisa dikatakan hutang? Iya, mungkin Sea berhutang kepada Red, hutang yang harus dibayar, karena Red menuntut agar Sea membalas cintanya, tak perduli dengan apa yang dilalui Sea sebelumnya, tidak perduli Sea bekas orang lain, dan tak perduli Sea sudah mempunyai anak sekalipun.


Setelah malam itu. Dan satu bulan setelah malam itu, Sea menghubunginya dan menutup akses sampai saat ini, ia memohon kepada Sky untuk memberi nomor ponsel Sea, tapi dengan kasar Sky berkata 'Jangan ganggu rumah tangga orang bang, lo manusia terhormat, jangan menjadi rendahan hanya karena wanita'.


Dan saat satu bulan yang lalu, Sky mengatakan Sea sudah bercerai, dengan isyarat pasti, Sky berkata, 'Kalau lo masih suka kakak gue, kejar bang, kabarnya janda sekarang semakin terdepan, kakak gue cerai ngomong-ngomong'.


Dan kebetulan lagi, hari ini Red baru saja bertolak dari Bali karena proyek marketplace yang dikerjakannya berada dinpulau tersenut, tidak tahunya bertemu dengan Sea di toilet bandara Jakarta, menabjubkan bukan?


"Mulai sekarang lo nggak bisa lepas dari gue." Pria berkaos kerah polo itu semakin maju dan mendesak Sea untuk mundur sampai punggungnya menabrak tembok.


Sea mendelik. Ada apa ini? Kenapa? Sea salah apa? "Red, kamu macem-macem aku tendang nih." ancamnya, karena di detik sebelumnya tangan Red sebelah kanan sudah melingkari pinggang Sea.


Tidak perduli dengan ancaman Sea, Red tersenyum miring, ia mengendus bagaimana wangi wanita itu, masih sama, aroma mawar. Sedangkan Sea menunduk dan menahan napas, karena ia tahu, jika ia mendongak, ia akan dihadapkan dengan wajah Red saja.


Ketika tangan Sea mencoba mendorong bagian dada Red, rahu-tahu Red mencengkramnya dan dengan halus berkata. "Gue rela kok, mau lo tendang, bunuh atau apapun itu."


Sea mendongak, dan itu keputusan yang salah karena saat itu juga, tatapan mata beriris cokelat memenuhi pandangannya, bibir yang tersenyum membuat jantungnya berantakan, dan sekali lagi napas halus yang berhembus dari Red bagai bius yang tidak sadar membuat Sea terdiam.


Red membuatnya tak berkutik dan terlambat untuk merespon jika sekarang pria itu sudah membubuhkan ciuman di atas bibirnya.


Sea tetap diam dan mengamati bagaimana Red melakukannya dengan mata terpejam. Alis pria itu, kelopak mata unik pria itu, bulu mata yang panjang pria itu, hidung mancung pria itu, semua komposisi wajah pria itu, membuat Sea tenang karena mengingatkan wajah Arche saat tidur.


Sea membiarkan Red bertindak tanpa sedikitpun mengganggu hingga bibir pria itu beralih mengulum bibir bawahnya dan memainkannya sebentar. Hanya sebentar sampai Red melepaskan bibir Sea dengan tarikan pelan dan terdengar bunyi seperti decakan.


Senyum jahil muncul mengiasai wajah Red. Pria itu mundur dan memberi ruang agar Sea bisa melakukan apa saja untuk membalas perlakuannya.


Sea menatap datar ke arah Red, lalu sedetik kemudian ia tersenyum. "Hutang aku itu? Sekarang impas?" Karena Sea sadar empat tahun yang lalu Sea lah yang mencium Red terlebih dahulu, mungkin pria itu ingin mengambil bagian yang sama.


"Kalau lo nganggep ini hutang, harusnya belum impas sih, sekali lagi boleh?"


Dan ketika Red mendekatkan lagi wajahnya, Sea menghindar, memiringkan kepala, menolak kecupan kedua yang akan Red berikan. Hembusan napas pelan Red layangkan, lalu ia benar-benar melepas Sea dari jeratannya.


"Red, apa kamu tahu ini salah. Aku sudah menikah."


"Dan menurut info yang sangat akurat, satu bulan yang lalu lo cerai." Red tidak bisa tahan untuk tidak mengatakan itu saat omong-kaosong Sea ucapkan untuk mengatasi perlakuan Red padanya. "Selama empat tahun, gue rasa waktu selama itu cukup buat gue diem dan nunggu."


Sea menggelengkan kepalanya tidak paham lalu menatap Red dengan heran. "Buat apa kamu nunggu? Apa yang kamu tunggu?" tanyanya demikian.


Red mendongak dengan decak frustasi. "Se, lo nggak bisa bertingkah kayak gini!! Seolah-olah kita nggak pernah nglakuin apa-apa. Empat tahun yang lalu?"


Lagi, Sea hanya tersenyum melihat Red beringkah seperti itu. "Emang apa?" tanyanya balik.


Red terdiam seketika itu.


"ML, MAKING LO-."


Sea melotot beserta tangan yang bergerak cepat untuk membekap mulut Red yang dengan kurang ajarnya berbicara hal serupa dengan keras, suaranya sampai mendengung di dalam bilik toilet.


"Red kamu sadar nggak kita ada dimana? Ayo kita keluar dulu." Sea berbisik teramat pelan, masih dengan tangannya yang membekap mulut pria itu.


Namun tanggapan Red hanya sebatas gelengan kepala. "Red, aku yakin kamu punya istri dan anak yang lagi nunggu kamu diluar. Serius, kamu samperin aku cuma karena hal itu?"


"Itu hanya one night stand, bukan masalah besar." diakhir kalimat Sea melepaskan bekapannya, memberi kesempatan Red untuk berbicara.


Dan untuk perkataan Sea tentang sepelenya malam panas itu membuat Red sedikit naik pitam, diantara ketenangan yang Sea tunjukkan, atau Sea yang tidak pernah marah padanya, baru pertama kali ini Red merasa harga dirinya terinjak-injak.


Lalu istri? Anak? Istri dan anak siapa yang menunggu Red diluar. "Gue lajang dan belum pernah ***** lagi setelah terakhir kali sama lo?"


"*****?" Sea memiringkan kepala.


Red lupa Sea bukanlah orang yang bisa diajak bicara dengan bahasa lokal. "*****, kawin, *******, make out, dan ML itu satu spesies, mereka saudaraan. Biar lo paham!!"


Red dari keluarga konglomerat, tapi salahkan teman-teman seperkumpulan hingga bahasa aneh seperti itu sangat nyantol di otaknya, apalagi Edward yang selalu memberi petuah-petuah super ngaco kepada Red.


Contohnya:


"Lo ***** mulu, tobat Red, masih SMA gaya lo udah nyimpang."


*"Sela*angn Rubby selalu di hati Red sampai lo nggak ada waktu buat kumpul sama temen-teman lo!"*


*"Kata pak haji, kebanyakan nge*tot akan menurunkan tingkat kepuasan Red, harus terjadwal biar lo nggak bosen sama Rubby. Atau nggak usah sekalian. Berhenti dan tobat."*


Daripada menunjukkan emosi yang tidak perlu, akhirnya perkataan random ajaran dari Edward-lah yang keluar dari mulut Red, dan itu berhasil membuat Sea tertawa.


"Lalu, Rubby, anak itu, aku tadi lihat Rubby gendo..."


"Bukan urusan gue."


Banyak hal yang tiba-tiba mengganggu Sea mengenai keyakinan yang ia pegang semenjak mengenal Red, ia tahu begaimana Red sangat mencintai Rubby, tahu juga jika Red tidak bisa berpaling dari wanita itu, lantas, sekarang.


"Jangan bilan..."


"Gue nggak tahu lo mau ngomong apa, yang jelas, sekarang cuma lo, tujuan gue cuma lo."


Astaga. Benarkah. Sea menganga lebar-lebar, melihat Red dari atas kebawah. Apakah benar? Red menaruh minat padanya?


Kalau memang benar Sea menempati daftar list wanita kriteria Red, tapi ia yakin masih banyak wanita segar dan lebih molek daripadanya, karena Sea tak begitu menarik bagi kaum Adam, body sih oke, tapi kebanyakan orang menganggap Sea seperti orang yang kekurangan makan, jikapun Red tertarik, ia yakin ada yang salah dalam otak pria itu.


Lalu alasan sebenarnya apa?


"Karena one night stand? Red sekali lagi, untuk terakhir kali aku bilang sama kamu, kamu nggak perlu khawatir soal itu, anggap malam itu nggak ada, sperti yang aku janjikan di waktu itu juga, nggak ada yang tahu tentang kita."


"Enggak, bukan karena one night stand, karena gue su.."


Sea menggelengkan kepala dengan cepat. "Apapun niat kamu, mau PDKT, ngajak pacaran, ngajak nikah atau hubungan yang melibatkan aku dan kamu, apapun itu, aku menolak dengan tegas."


Belum Red mengatakan perasaannya, satu tolakan dengan satu tarikan napas membuatnya seperti sampah yang tak pernah terlihat keberadaannya.


"Siapa hei di dalem?" Ada ketukan dari luar dan itu membuat Sea menganga lebar.


Namun berbeda dengan Red yang masih memandang Sea penuh arti namun sama sekali tak di mengerti oleh yang dipandang.


"Toiletnya masih saya benerin, saya petugas." Red mengatakan itu, dan berhasil.


Setelah derap langkah menjauh, Red dengan sangat lancang merogoh kantung celana Sea, mengambil ponsel wanita itu dengan paksa.


Setelah apa yang dilakukan Red tanpa perlawanan berarti dari Sea karena memang Sea tidak pernah melawan dari dulu, akhirnya ponsel itu kembali ke pemiliknya.


"Angkat telfon gue kalau gue hubungin lo. Lo nggak mau PDKT atau apapun itu kan? Jadi biar gue yang PDKT sama lo. Meskipun lo nolak. I would do anything to fall asleep with you, just like that time..."