
Red baru saja menuruni salah satu eskalator di dalam mall Sentra Ardibrata ditemani oleh Broto; penanggung jawab keuangan yang bekerja bersama keluarga Ardibrata sejak lama.
Di usia yang sangat muda, Red memang sangat tertekan dengan jabatan Presiden Direktur yang memang diembankan kepadanya tepat setelah Daren berpulang. Tak ada jeda untuk istirahat atau sekedar menetralkan pikiran dari kabung yang masih meninggalkan cairan di pelupuk mata, Red menjalaninya, berat.
Berat sampai keinginan menyerah tidak ada, yang tersemat jelas adalah bagaimana ia harus membuat semuanya jadi mudah.
Begitulah Red, pekerja keras.
Saat pikiran penuh dan ingin sekali kembali pulang untuk istirahat, Red menangkap pemandangan yang praktis membuat matanya terbuka lebar, kantuk mendadak hilang, dan kaki yang berjalan pelan ingin sekali melangkah dengan lebar.
"Kirim semua hasil laporan keuangan pusat Sentra Ardibrata, saya tunggu paling lambat jam delapan malam." Red memberi perintah kepada Broto sebelum memasuki salah satu restoran yang tepat berada pada sisi kiri.
Red sudah berada di dalam restoran, namun telinganya sangat terganggu oleh sebuah pertengkaran setelah ia sendiri melihat beberapa saat yang lalu Sea mendapatkan tamparan.
"Dasar cewek murahan, nggak tau diri. Berani lo deketin pacar gue." Satu gadis berapi-api sembari memarahi Sea yang duduk manis di salah satu kursi.
"Sea, dia bukan pacarku, kamu harus percaya." Sedangkan pemuda dengan tampilan rapi dan cukup tampan mencoba meyakinkan Sea jika yang dikatakan gadis yang berdiri di antara keduanya adalah salah.
Sea hanya diam mengamati, pipi yang merah akibat tamparan ia diamkan, masih dengan tenang, Sea mendadak syok karena melihat Red dengan tangan yang sudah melipat di bawah dada, memandangnya dengan pelototan juga.
"Reno. Lalu siapa aku saat kamu tadi malam meniduriku! Cowok brengsek." Gadis itu menampar pemuda Reno, "Dan lo, ini hadiah dari gue."
Praktis Sea memejamkan mata, tanpa peringatan atau karena memang Sea yang bersedia menjadi samsak pelampiasan, gadis itu dengan tenang menerima guyuran air berbau, huh, Sea mendadak pusing saking menyengatnya cairan itu, merusak penciuman.
Gadis itu pergi, hilang dari pandangan sebelum Sea membuka matanya kembali. Pemuda Reno ingin mendekat, tapi kalah cepat sebab Red menghadang dengan tatapan tajam. "Pergi lo!" perintahnya.
Reno terkesiap, "Red?" gumamnya, pemuda yang berdiri di depannya sangat familiar bahkan Reno masih mengingatnya, teman SMA.
"Pergi!!"
"Red. Gue Reno, temen SMA lo."
Red tahu. Tapi tidak mau tahu lebih lanjut. "Gue nggak kenal orang brengsek. Pergi lo."
Reno tampak geram, tetap ngotot dan tak mau mengalah. "Gue nggak ada urusannya sama lo. Jadi lo nggak ber-"
"Urusan Sea urusan gue. Pergi atau gue gebukin lo disini."
Reno tampak frustasi. Jika ancaman itu benar, maka ia tak akan selamat. Sepak terjang Red dalam tawuran sangat mengerikan.
"Sea, aku be-"
"Kamu sebaiknya pergi, senang bisa kenal. Lain kali, jangan gitu lagi ya. Kasian ceweknya." Sea menimpali, tanpa lupa memberi petuah agar Reno sadar jika dia salah.
Tiga puluh detik setelah kepergian Reno, Red masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Sea. Luar biasa gadis ini, sinting.
"Hai Red, kok diam." Sea akhirnya berbicara dengan senyum yang menguar tanpa beban masalah, "Udah mau pulang? Aku numpang ya, tadi nggak bawa mobil."
"Lo masih bisa senyum? Lo goblok banget sih. Ngapain lo disini?"
"Aku kan lagi ketemuan, kencan." Jawabnya lugas, membuat Red muak.
"Sama pacar orang?"
"Aku nggak tahu, Red. Dia bilangnya jomlo."
Red ingin sekali *******-***** muka Sea, pipi merah, rambut basah, bau busuk. Astaga, keadaan gadis itu sedang tidak baik-baik saja, tapi Sea sepertinya masih nyaman-nyaman saja.
"Red, pelan." Sea menggerutu, hampir jatuh.
Red mengambil tangan Sea dan menyeretnya keluar dari gedung mall dengan tergesa, biarpun pemuda itu sedikit malu oleh tampilan yang super berantakan dari gadis dibelakangnya, tapi jika meninggalkan Sea sendirian, Red sama saja dengan laki-laki tak perperasaan.
Tapi ngomong-ngomong soal perasaan, Red tak sebaik itu hingga mengijinkan Sea menaiki mobilnya dengan tubuh basah dan bau yang sama sekali tak bisa diterima.
Maka,
Red celingukan, seingatnya, di sebelah mall ini ada toko kecil yang menjual beberapa barang seperti, shampoo dan air, hanya dua benda itu yang ada dalam list otak Red saat ini.
"Red kita mau kemana? Mobil kamu dimana? Kenapa keluar."
"Nggak usah banyak omong, nurut sama gue."
Saat selesai mengatakan otoritasnya, Red nampak berbinar karena apa yang ia cari ada di depan mata, langsung saja, tak mau menunggu waktu lama, Red menarik tangan Sea, kali ini tak tergesa.
"Lo tunggu disini."
Sea dengan tatapan sangat biasa itu hanya mengangguk, seperti anak kecil dimarahi oleh Ayah-nya.
Sedangkan Red memasuki sebuah toko kecil, tak lebih besar dari ukuran 5x5 meter. "Bu. Saya beli sampo saset tiga dan air putih botol besar 5."
Setelah menerima barang dan menyelesaikan pembayaran, Red keluar dengan bawaan yang sudah memenuhi dadanya. Berhenti sejenak, Red menghembuskan napas pelan saat melihat sosok Sea yang benar-benar menunggu tanpa beranjak sedikitpun.
Sea menoleh, tersenyum. Red ingin sekali mengantongi gadis itu. Masih bisa tersenyum, lagi dan lagi.
"Sini lo." Red memanggil Sea, meminta untuk mendekat ke arahnya.
Di depan toko ada sebuah kursi kayu yang berdiri dibawah pohon untuk menaruh barang belanjaan Red. Setelah pemuda itu berbincang dengan ibu pemilik toko akan niat yang sudah ia rencanakan, maka, saat inilah ia akan segera menunaikan.
"Taroh tas lo di kursi ini." Sea menurut, diikuti Red yang melepaskan jas miliknya, lalu menggulung lengan kemeja sampai siku.
Sea terpana, melihat penampilan Red, terlebih kemeja tanpa dasi. "Red kamu ganteng dan seksi."
Byur...
"Red..." Tatapan Sea menyerana.
Red?
Tetap melanjutkan kegiatannya, satu botol penuh ia tumpahkan untuk memandikan Sea. "Lo bau, gue nggak mau lo ngotorin mobil gue."
"Tapi Red. Harus disini juga mandiinnya?"
"Lo mau mandi di dalam mall? Mau jadi tontonan banyak orang?"
"Aku kan bisa madi sendiri." Jelas, Sea punya pikiran logis untuk mandi sendiri.
"Nggak, kelamaan, gue mandiin biar cepet." tukasnya yang sama sekali tak bisa dibantah lagi.
Red mengambil dua sampo saset, membuka dengan satu gigitan lalu menuangkan di kepala Sea.
"Kamu serius mandiin aku disini? Red? Serius?"
Seumur-umur Sea tidak pernah merasa semalu ini, apa lagi banyak pengendara motor yang melintas dan memandang ke arah mereka, dengan tatapan aneh, tapi tak sedikit yang tertawa, seperti melihat orang gila.
"Gue lebih dari serius." ucap Red meyakinkan. "Lagian lo kenapa cari gara-gara, Sea? Pacar 4 masih kurang?"
Sea hampir menangis, bukan persoalan pacar, tapi mandi di jalanan, meski begitu, yang namanya Sea tetap mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Red barusan, dan itu membuat Red ingin mengelus dada.
"Ya Tuhan. Lo punya pacar banyak buat apa? Angkat tangan lo." Sea menurut lagi. Kali ini satu botol penuh Red guyuran lagi dari atas kepala Sea, tak lupa dengan satu tangan Red yang menggosok rambut gadis itu. Red sangat niat memandikannya.
"Hari ini jumat." Sea menjawab.
Red memejamkan mata, masih ingat jika di hari jumat Sea tidak ada pacar, karena yang sebelumnya sudah diputuskan oleh sebab LDR, Indonesia-Australia.
"Terus target lo Reno? Lo nggak tau dia dan asal iya aja? Lo ditampar ceweknya, disiram. Lo nggak malu?"
"Nggak apa-apa. Ditampar, nggak sesakit itu."
Red ingat jika matanya masih sangat sehat, melihat ruam kemerahan di pipi Sea yang sampai sekarang belum mereda menandakan jika tamparan itu kuat, pasti sakit.
"Setelah ini lo masih pengen cari pacar jumat lo?"
Sea mengangguk. "Kasian hari jumat kalau nggak dimanfaatkan Red, nanti iri."
"Lo sinting." Satu botol air Red siramkan lagi, kali ini sudah botol ke empat, Sea hampir bersih meski tak bisa dibilang bersih, tangannya juga sudah di usap-usap oleh Red, bau sudah hilang karena wangi sampo yang menguar.
Sea yang memang sudah kehilangan muka tanpa bisa berbuat apa-apa terpaksa mengatakan jika dirinya kalah, tapi minta lebih. "Tangan aja, badanku pasti juga bau, nggak sekalian kamu mandiin? Nggak sekalian aku buka baju disini?"
Red tak bereaksi apa-apa. Biarkan orang gila didepannya mengoceh hal yang tidak wajar. Setelah Red menuangkan botol terakhir, pemuda itu mengusap peluh di dahi. "Selesai. Lo tunggu disini."
Sebelum Red benar-benar pergi, ia mengambil jas yang ada di kursi kayu untuk menutupi badan Sea yang basah, baju putih sedikit menerawang sebenarnya membuat mata Red sedikit gatal sedari tadi, si adik untung tidak bangun, bagaimana bisa bangun kalau hatinya dongkol minta ampun, Sea hari ini begitu menguras tenaganya.
Sea yang diperlakukan seperti itu tidak bisa berkata-kata, rasanya ingin menangis, tertawa, dan berbagai emosi lainnya.
Dimandikan.
Sea bersumpah di masa depan tidak akan mengalami hal serupa. Kalau bisa mandi saja bersama.
Disaat mobil Rolls Royce Ghost warna putih menghampirinya Sea, gadis itu berdiri, jika tidak salah ingat, mobil ini milik Red yang jarang sekali dipakai.
Ah. Sea tersenyum. Pantas Red mati-matian tidak membiarkan Sea masuk kedalam mobil mewah itu, karena jika itu terjadi, pencemaran tidak dapat dihindari.
Red keluar membawa handuk putih, dan satu kantung plastik. "Gue beliin lo daster, celana dalem, bra, bukan merek mahal, tapi bisa lo pakai sementara, nanti bisa dibuang."
Sea menerima kantung plastik, namun lagi-lagi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa saat Red membersihkan tubuhnya yang basah dengan handuk. Red ini tipe laki-laki yang dominan, yang sangat sulit dibantah, Sea sudah menganalisa.
"Sana, ganti didalam mobil."
"Kamu yakin ukuran bra-nya cukup?"
"Yakin. Gue beliin ukuran anak SMP."
Muka Sea memanas. Sekecil itu ya. Awas kalau tidak muat.
Sea pun bergegas, namun saat tangannya akan menarik handle pintu mobil, satu tepukan di bahu membuatnya berpaling, kebelakang, ada Red. "Ada apa?" tanya Sea.
"Hari jumat, gue milik lo, asal sabtu jangan ganggu gue."
Alis Sea menyatu. "Maksudnya?"
"Lo nggak usah cari pacar, hari jumat, lo bisa sama gue, tapi hari sabtu jangan ganggu gue."
"Aku nggak mau. Aku suka kamu hanya di hari sabtu."
"Jadi lo nggak suka gue selain hari sabtu?"
Sea mengangguk.
Red?
Tidak bisa berkata-kata.