Moon

Moon
Sebuah Berita Mengejutkan



Suara deruan mobil terdengar di halaman depan, penghuni rumah tidak segera muncul karena ada urusan di dalam.


Red, pribadi itu baru saja menuruni mobil berwarna merah bersama Arche. “Kita sudah sampai.” katanya pada anak laki-lakinya itu.


Arche menenteng satu bungkus makanan, sedangkan Red membawa rantang yang isinya juga makanan. Pria itu memasuki rumah dengan Arche berada di gendongan.


“Baby, panggil mommy.” Red memerintah pada Arche. Anak usia empat tahun itu segera berlari kecil setelah sebelumnya menaruh bawaan di atas meja.


Arche berdiri di anakan tangga karena ia mengingat tidak boleh naik tangga sendirian, akhirnya bayi itu hanya berteriak sembari memanggil ibunya.


“Mommy, mommy, Alche sama daddy udah pulang.” Arche berteriak beberapa kali, namun si Ibu tak kunjung memunculkan batang hidungnya.


“Mommy masih tidur kali ya?” Tanya Red yang hanya ditanggapi dengan gelengan oleh Arche.


Red melihat jam tangan, sudah pukul dua siang. Apa wanita itu benar-benar belum bangun?


Tempo hari Red mendapati putranya itu bersama kakek Rusdi, bermain di perusahaan pria tua itu. Red yang hendak membahas pekerjaan langsung penasaran kenapa Arche ikut kakeknya.


Rusdi mengatakan Sea sakit hingga Arche dibawa Oma Seruni, maka tak perlu memikirkan banyak hal, Rusdi memilih untuk membawa Arche bermain saja. Dan sejak itu sampai hari ini Arche diurus oleh Red.


“Mommy, mommy, I’m here with daddy.” Arche berseru lagi, lebih kencang dari pertama kali.


“Mommy, keluar dong, daddy kangen nih.” Tak kalah dengan Arche, Red berteriak juga, sungguh aneh pasangan anak dan ayah ini.


Dan panggilan itu tak berhenti, bahkan berkali-kali seperti paduan suara sampai sorakan pendukung sepak bola.


Sedangkan Sea yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa sebal sendiri melihat tingkah mereka, Sea ternyata tidak di dalam kamar atas melainkan berada di kamar mandi dekat tangga.


Dan munculnya Sea membuat Red serta Arche menoleh, seperti orang bodoh.


Dasar, Sea menarik napas dalam, jika saja suara Arche tidak sampai melengking, Sea masih akan dikamar mandi sedikit lama, wanita itu tidak mau anaknya sakit tenggorokan karena berteriak begitu kencang. Sekarang Sea menoleh pada Red, ingin sekali mencekek leher pria itu, tidak sabaran sekali.


Sea memincing, “Aku ini orang paliiiiing sabar di dunia, tapi kamu buat aku marah.”


Arche segera berlari, memeluk kaki ibunya dan itu membuat Red merasa lega karena Sea baik-baik saja, Red hanya takut ada apa-apa dengan Sea.


Red tadi sebenarnya ingin naik ke atas dan mencari Sea dikamarnya, tapi ia takut karena Sea sudah pernah bilang jangan melewati batas, Red cukup sadar dan tidak mau membuat Sea berpikir lebih buruk lagi tentang dirinya.


“Mommy lama sih di kamar mandinya.” Red bersuara serta mendekati Sea. “Arche sampai terika-teriak, daddy juga.”


Oh Tuhan, boleh tidak Sea menambal mulut pria itu, penggilan menggelikan itu sungguh membuatnya mual.


Sea mengabaikan Red dan berjalan menuju sofa, duduk di sana dan Arche disamping kanannya.


“Masih pusing?” Red mengikuti Sea dan duduk di samping kirinya.


Sea melirik Red sebentar, jika Red mengartikan tatapan Sea, jawabannya sulit, wanita itu seperti menyembunyikan sesuatu. Namun saat gelengan kepala dari Sea menjawab sebuah pertanyaannya, Red menjadi sedikit lega.


Sea beralih menatap Arche, mencubit pipi gembul putranya itu lalu bertanya. “Hari ini baby kemana aja nih?”


“Main ke kantor daddy.” Jawab spontan Arche.


“Ke kantor Daddy? Lalu kemana lagi?” Tanya Sea lagi. Wanita itu bergerak sembari melepas topi yang Arche pakai dan meletakkannya di atas meja.


“Eeeeeem.” Arche berguman, jari mungilnya mengetuk-ngetuk pipi dan pandangannya ke atas, seperti berpikir keras. “Terus, main, main, main dan main.”


Jawabsn Archr membuat Sea dan Red tertawa lebar. Jawaban apa yang sebenarnya di cari oleh Sea? Bukankah kegiatan anak-anak setiap hari adalah bermain?


“Baby enggak nakal kan?” Tanya Sea lagi, sekarang Sea juga menoleh pada Red untuk mendapat jawaban juga, dan pria itu mengangkat bahu ringan, Sea seperti mendapati dua orang dengan karakter sama karena Arche pun juga enggan mengatakan apa-apa, bocah itu sedang sibuk melepas sepatunya sendiri. Lalu Sea bertanya lagi. “Baby nggak bosen masin terus?”


Arche menggeleng. “Di kantor daddy mainannya banyak.”


Melody adalah orang yang membuat ruangan Red menjadi arena bermain, karena wanita itu diperintah langsung oleh Red untuk membeli mainan yang banyak agar Arche tidak bosan jika ditinggal meeting sebentar.


Red percaya untuk meninggalkan Arche di dalam ruangannya karena tanpa Red pun bocah cilik itu sudah banyak penjaga, karyawan Red bolak-balik keluar masuk hanya untuk menyapa dan menoel pipi Arche, terlalu gemas kata mereka.


“Mama bawain makanan buat kamu.” Red berkata sembari menunjuk meja dengan dagunya. “Ayo makan bareng.”


“Ibu Kirana yang masak?” Tanya Sea dan Red mengangguk beserta melepas jasnya.


Red tidak perlu mengatakan apa-apa pada ibunya dan Kirana berinisiatif memasak untuk Sea karena wanita itu tahu Sea hanya memasak untuk Arche saja setiap harinya. Dan untuk makan Sea sendiri, wanita itu terlalu sering makan diluar, adapaun baby sister hanya untuk mengurus Arche saja, tapi dalam satu minggu ini baby sister libur karena ada kepentingan keluarga.


Sea mulai membuka rantang itu satu-persatu. “Ini nggak kebanyakan?” serunya setelah semua terjejer rapi di meja.


Red yang sibuk dengan ponselnya itu menyahut. “Kamu terlalu kurus, makan yang banyak biar nggak sakit.” Satu telapak tangan pria itu juga mengelus punggung Sea.


Sea menoleh pada Red dan mencibir, lalu ia berdiri. “Aku ambil piring dulu.”


Sea mengambil dua piring beserta sendok yang diletakkan langsung di nampan, wanita itu peralih pada gelas kaca, ia juga mengambilnya setelah mengisinya dengan air putih.


Dan pandangan saat Sea lembali dari dapur adalah Arche yang bergelendot di dada Red sedangkan pria itu masih bersandar punggung di sofa serta tangan mengelus paha putranya, oh jangan lupakan tangan satunya masih bermain ponsel.


Apa Red terlalu sibuk?


Sea berjalan lagi untuk mengambil alat makan Arche dan kembali untuk menyiapkan dulu apa yang akan Arche makan.


“Aaaaa…” Sea mulai menyuapi satu sendok makan pada mulut Arche, bocah itu membuka mulut, namun matanya tak beralih untuk melihat apa yang ada di dalam ponsel ayahnya.


Sea tersenyum, sampai ia berpikir satu ide saat melihat cemong di pinggiran bibir Arche. Sea meraih ujung dasi Red, mengelap mulut Arche dengan itu. Dan, hello. Si empu tak terusik, Red melirik sebentar dan beralih lagi pada ponsel, tidak mempermasalahkan tindakan Sea.


Namun tak berapa lama Red meletakkan ponselnya beserta tangan yang melingkar pada tubuh Arche. Red menoleh pada Sea. “Aku aaaa juga dong.”


“Nggak punya tangan?”


“Tangannya lagi sibuk meluk baby.” Dengan ringan Red menjawab.


“Makan sendiri, aku udah bawain piring dua.”


Red mencebikkan bibir, pria itu menatap putranya seraya berkata. “Kalau daddy lepas tangan daddy, artinya daddy pulang, baby mau dipeluk terus apa tidak?”


Dengan sisa kunyahan, Arche menjawab. “Peluk terus.”


Dan Sea memutar bola matanya, ia sebal. Lalu apa gunanya piring itu disana? Meskipun begitu, meskipun Sea mendengus, wanita itu mengambil piring untuk diisi makanan.


Sea menyuapi Red bergantian dengan Arche, Pria itu tersenyum puas dengan mata berbinar. Setelah Arche merasa kenyang dan minta minuman, barulah giliran Sea untuk makan, tapi setelah selesai menyuapi Red.


Sea merasa punya bayi dua untuk disuapi.


Ponsel Red berdering bersamaan dengan piring yang sudah kosong, artinya giliran Sea sekarang yang makan.


“Baby, sebentar daddy mau angkat telfon.” Red mengurai pelukannya pada Arche dan beranjak dari sana.


Sea mengikuti punggung pria yang sedang menerima telepon itu, jika tidak salah dengar Red sedang membicarakan pekerjaan.


Semakin menjauh, Sea semakin melihat Red mendekati tangga dan masih berbicang dengan lawan bicara di telepon, namun mendadak dada Sea berdetak lebih cepat beserta kaki yang gemetar saat satu suara pintu tertutup, pintu kamar mandi dekat tangga.


Sea mendongak lalu terburu melekakkan piring di meja, “What the….oh no.” Sea berlari kencang seakan tidak akan ada hari esok.


Napas Sea ngos-ngosan setelah sampai di depan kamar mandi, tangannya mengepal kuat lalu dilepas lagi, mengepal lagi lalu dilepas lagi sampai terhitung lima kali dan akhirnya Sea mengepalkan tangan dan menggedor pintu.


“Red…” panggil Sea dari luar.


Red tidak menjawab.


“Red.” Panggil Sea lagi. “Keluar dulu, sebentar saja.”


Dan tak butuh waktu lama, pintu terbuka, hal mengejutkan adalah saat Red keluar dengan cepat, Sea juga mendapati satu tangan Red berada dibalik punggung pria itu.


Perlahan, Red mengangkat tangan dan menunjukkan ujung benda tipis berwarna putih, dari pandangan Sea, wanita itu tak dapat melihat hasil apa yang tertulis disana.


Karena Sea tahu, benda itu test peck.


Dada Sea berdebar lebih kencang dari sebelumnya.


Sea mendapati tubuh sama seperti empat tahun lalu, sedikit-sedikit lemas, pusing dan


Mual. Ia berniat memeriksakan kecurigaan yang mencokolnya beberapa hari ini, dan baru terlaksana tiga menit sebelum Red dan Arche berteriak memanggil-manggil namanya tadi.


“Garis satu, artinya apa?” Red bertanya, senyum misterius muncul di bibir si pria dan Sea tidak tahu artinya, namun ia cukup tenang Red mengatakan garis satu.


Sea tidak hamil.


“Negative.” Jawabnya beserta lolosan nafas lega.


Pandangan Red tak terputus, pria itu semakin intens menatap Sea bahkan tak berkedip juga


“Kalau garis dua?” Senyum mengembang menyertai Red saat bertanya satu poin itu.


Belum sedetik Sea merasa tenang dalam pikiran, pertanyaan yang Red ajukan lagi membuat Sea merasa berdiri di ujung jurang.


Tidak bisa, Sea tidak bisa mengucapkan sepatah kata karena lidah terasa kelu.


“Sini.” Akhirnya Sea berinisiatif untuk mengambil testpek dari tangan Red, namun pria itu menghindar dengan kerlingan mata nakal.


Sea semakin maju kedepan, dan itu memberikan kesempatan untuk Red menangkup pergelangan Sea lalu diletakkan dibelakan punggung wanita itu.


Red menunduk, mencium lama bibir Sea, setelah pangutan terlepas ia memandang Sea yang masih memberikan ekspresi bertanya-tanya, sekali lagi Red mencium Sea, kali ini satu kecup saja.


Sea hanya diam, seperti empat tahun yang lalu, seperti saat nyawanya beterbangan untuk menolak kenyataan.


“Baby.” Red berteriak agar Arche bisa mendengarnya. “Congratulation baby, your baby sister on the way.”


Sea hamil.