
Seruni dengan langkah tuanya beserta dagu yang terangkat keatas menyusuri koridor gedung kantor Ardibrata. Bahkan, disini bukanlah tempatnya, tapi sosok angkuh yang jelas tergambar dalam sosoknya tak mampu membuat orang dapat menghentikannya.
Meski umurnya sudah memasuki 87 tahun, tapi jangan salah kira jika nenek dari keluarga Martin itu akan bersedia duduk di kursi goyang atau merebahkan tubuh di ranjang saja.
Berpakaian santai layaknya orang pergi ke pantai, berbalut sepasang kemeja dan celana kain bermotif bunga, Seruni memasuki ruang kerja Red tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Jared, oma berkunjung, apa mengganggu?"
Red mendapati Seruni yang membobol pintu ruang kerjanya beserta beberapa penjaga berada dibelakang wanita itu. Satu orang berwajah pucat dengan tampang salah meminta pengampunan karena tidak bisa mencegah Seruni.
Red memberi isyarat dengan mengangkat dagu kepada Roni, salah satu stafnya di kantor dengan maksud menyuruhnya pergi, setelah itu Red tersenyum dan memperdekat jarak untuk memeluk Seruni. "Oma, tambah cantik aja." godanya setelah pelukan itu terurai.
Seruni membeo, ada beberapa orang mengelilingi meja di dalam kantor pemuda yang sudah dianggap cucunya sendiri itu. "Kamu sedang meeting?"
Red mengangguk. "Apa oma mau menunggu sebentar?" tawarnya.
"Baik." Seruni menjawab beserta menuju ruang privasi milik Red; sebuah kamar di dalam kantor dengan pintu berada di bagian paling pojok.
Meeting berlanjut untuk membahas hal lain setelah pintu ruang privasi Red tertutup dengan rapat. Red mendengarkan tapi juga tidak terlalu fokus. Pikirannya bercabang mengenai senyum cerah Seruni yang mendatanginya secara tiba-tiba.
Sudah lama Seruni tidak menampakkan diri, Red juga lama tak berinisiatif menemuinya, bukan karena enggan, tapi Red benar-benar sibuk dengan kegiatan barunya, memimpin perusahaan yang dianggapnya sangat mendadak, waktu enam bulan untuk beradaptasi bukanlah jumlah yang cukup, bahkan masih banyak hal yang harus di pahami oleh Red di masa depan.
Seruni sudah seperti neneknya sendiri, pun wanita itu juga sangat menyayanginya sama seperti cucu sendiri, Seruni sering mengenalkan kepada orang-orang jika Red dan Blue adalah cucu laki-lakinya.
***
Seruni Sedang memandang gedung-gedung besar dari balik jendela ruang privasi milik Arve Jared Ardibrata. Hati Seruni sedang galau, anak muda sering megatakan istilah itu.
Ia telah berani menerima resiko jika Sea benar-benar menetapkan diri pergi ke Jerman atau malah kabur saat pesta ulang tahunnya. Dan ia tak akan membiarkan itu terjadi begitu saja. Seruni sudah tua, sudah saatnya bertindak secara manusiawi dan mementingkan kebahagiaan cucu pertamanya.
"Oma.."
Suara berat dari seseorang tengah membuyarkan lamunannya. Orang itu Jared.
Seruni berbalik mendapati Red sudah membawa satu buket bunga, anggur dan satu kotak kue. Pemuda itu sangat tampan, senyum kotaknya tak pernah hilang dan selalu melegakan.
"Oma. Apakah aku akan mendapat kejutan? Tiba-tiba kemari." berbicara dengan mata menyipit, Red menyerahkan buket bunga mawar kepada Seruni, "Karena kuenya terlalu manis, jadi buat Red saja."
"Oma merindukanmu, cu."
"Benarkah?" Red tertawa diikuti Seruni juga. "Aku membawa anggur khusus dari luar negeri, koleksiku dari abad pertengahan, aku sendiri sangat enggan meminumnya."
"Bocah tengik. Lalu buat apa kau bawa kemari. Kau ingin membunuhku dengan meminum anggur tua itu?"
"Oma pintar sekali, jadi berhenti minum anggur lainnya mulai sekarang." Red menaruh bawaannya ke sembarang tempat begitu saja. Lalu beralih memijit pundak Seruni. "Oma pasti pegal-pegal."
"Disini oma yang ingin menjilatmu, kenapa jadi kamu yang sedang merayu."
"Karena aku merindukanmu, oma. Jadi, ada apa? Semoga tidak merepotkanku dengan mencarikan jodoh lagi. Rubby sudah cukup. Kasus ditutup."
Seruni tertawa. Yah. Seruni memang kerab sekali mencarikan jodoh untuk Red karena wanita itu merasa Rubby bukanlah gadis yang pantas. Alasan Seruni cukup klasik, seperti orang kalangan atas pada umumnya, Rubby bukanlah orang yang sepadan untuk bersanding dengan Red.
Tapi tidak untuk sekarang. Seruni hanya ingin cucu-cucunya bahagia, itu saja.
"Tenang cu, oma sudah terlalu tua untuk mengurusi permainan anak muda. Terserah kamu saja, kamu bahagia, oma bisa mati dengan tenang."
Red tak kuasa untuk tidak memeluk Seruni. Bagaimana bisa Oma-nya ini mengatakan kematian yang sama sekali tidak mau dibayangkan. Kehilangan Daren begitu menyesakkan dada, jangan lagi ada yang meninggakkan Red setelah ini, meski siapa yang tahu dengan nasib dari ilahi.
"Jadi? Ada apa?"
"Bantu oma, menyiapkan ulang tahun Sea."
Inilah yang membuat Red mati penasaran. Kenapa Seruni memaksa sedangkan Sea enggan menerima. Bahkan lihat saja mata tua yang begitu berbinar mengatakan acara ulang tahun Sea.
"Oma. Red dengar Sea tidak mau, kenapa oma memaksa?"
"Semua orang pasti tahu ya. Semua salah oma." Pandangan yang tiba-tiba sayu membuat Red tak tega melihat itu.
"Apa oma mau bercerita?" Red bertanya sebelum menggiring Seruni duduk di sofa, tidak baik, sudah tua berdiri telalu lama.
"Sea cucu pertama dari dua keluarga, Martin dan Ardikara, sedangkan kami hanya memiliki dua, dia dan Sky saja. Apa kamu bisa membayangkan bagaimana beban yang harus Sea tanggung seumur hidupnya?"
Red paham akan hal itu. Sangat paham. Sea sama seperti dirinya, menjadi cucu tertua yang harus menanggung beban banyak. Sedangkan Blue masih sangat muda.
"Lalu? Sea sama sepertiku oma. Apa masalahnya?"
"Dia perempuan." Tatapan nanar menyimpan kepedihan keluar bersamaan air mata. Seruni menangis.
"Akibat usulan oma. Sea harus dibuang jauh keluar negeri saat usianya 10 tahun. Atas usulan oma juga, ia tak boleh pulang sebelum benar-benar menjadi dewasa. Oma ingin Sea kuat, mandiri layaknya laki-laki dan mampu bertanggung jawab mengurus aset keluarga nantinya. Menjadi wanita tahan banting dan tegas. Menjadi wanita cerdas dan menemukan pria yang pantas setelah bertemu beberapa di luar sana."
Red menyimak dengan diam, satu fakta itu membuat hatinya teremas sakit.
Jika lahir di keluarga kaya adalah kebanggaan bagi semua orang, oke, tidak masalah, tapi tidak tahukan kalian jika beban berat itu nyata. Persaingan tak hanya membutuhkan otak saja. Fisik dan psikis dikuras habis-habisan. Belum lagi jika ada pesaing yang tak main-main melakukan pembunuhan.
"Sampai oma sadar Sea benar-benar berada di posisi yang lebih dari yang oma harapkan, terlalu bagus sampai senyuman cerianya hilang. Ada hasil dan imbas yang sangat oma sayangkan. Oma ingin mengembalikan apa yang membuat Sea bahagia, tapi tidak tahu caranya. Mungkin dengan menemukan Sea dengan semua kerabat saat ulang tahunnya nanti akan membuatnya mengingat masa kanak-kanak yang membuatnya bahagia."
Tapi, seingat Red. Selama ini Sea terlalu tersenyum bahagia meski ia maki seenak mulutnya. Tak pernah protes saat Red memperlakukan dia dengan semena-mena, dan terakhir yang Red ingat, Sea menangis di pelukan Davis saat dipaksa untuk acara ulang tahunnya, itupun karena Sky yang memberitahukannya.
Jadi. Apa langkah oma salah?
Haruskah Red memberitahu oma?
Tapi bagaimana bisa Red menghancurkan angan-angan Oma Seruni?
Tatapan penuh harapan sangat jelas. Red jadi tidak tega. Bagaimana ini? Apa Red salah bertanya?
"Itu hanya harapan. Seingat oma, Sea selalu bahagia bermain dengan mereka dibelakang taman rumah utama."
Jika begitu, Red bisa apa. Mungkin yang dikatakan Seruni ada benarnya, pasalnya Red juga tak begitu paham dan sulit mengingat apa saja yang ada di masa kanak-kanak. Karena jujur, Red menghipnotis masa itu untuk dilupakan dalam otaknya.
"Baik. Kalau begitu, oma minta bantuan Red untuk membantu di bagian mana?" untuk menenangkan Seruni, Red tersenyum kembali.
Tapi sebelum Seruni menjawab Red dengan senang, panggilan yang masuk di telepon duduk menganggu keduanya.
"Red boleh mengangkat telepon?"
"Kau kira kau ini sandera?"
Red hanya meringis dan mengangkat telefon. "Ada apa? Saya sudah bilang jangan ada yang menganggu karena saya sedang sibuk."
Red memang berpesan kepada Melody sekertarisnya untuk tidak mengganggu sebelum Seruni berpamit pulang.
"Pak. Maaf. Tapi bapak Rusdi memaksa masuk. Kalau tidak, beliau akan memaksa untuk mencium saya."
Red memejamkan mata. Kakeknya itu memang luar biasa dan tak terduga. Mentang-mentang sekertaris Red cantik, mata tuanya tidak pernah dijaga.
Rusdi tak jauh berbeda dengan Seruni, tapi sekarang hanya Rusdi saja karena Seruni sudah merelakan Red dengan Rubby. Lalu apa masalahnya kali ini? Memaksa berpisah lagi? Red sungguh lelah.
"Berikan teleponnya pada kakek." Pinta Red tegas.
"Jared."
"Ada apa kakekku sayang." Red mencoba dengan sabar menggunakan suara super lembutnya.
"Cucu bajingan. Kenapa kamu mengabaikanku dan mengkunci pintu kantormu. Buka atau ku rusak pintu ini. Sialan." Teriak Rusdi cukup membuat Red malu jika ada orang banyak diluar sana.
"Kakek telefon Red 'kan juga bisa. Ada apa sebenarnya?"
"Kamu mengabaikan teleponku brengsek. Bagaimana kalau aku mati dan kamu tidak tau."
Red memutar bola matanya. "Kalau kakek mati, kakek tidak akan bisa menelfonku dong. Dan sekarang artinya kakek baik-baik saja." Jelas Red.
"Kamu bisa bicara seperti itu. Tapi bagaimana kalau aku benar-benar mati. Kamu pasti akan menangis."
"Kakek tidak bisa mati. Tenang saja." Red tersenyum dalam sela.
"Ah. Benar. Aku tidak akan mati sebelum kamu berpisah dengan Rubby dan menikah dengan gadis yang tepat. Cepat buka pintumu, atau benar-benar akan ku hancurkan gedungmu ini."
Ah. Red menyerah. Jika kakeknya memaksa, maka bisa apa. Daripada diluar kegaduhan semakin bertambah mengingat Rusdi tidak pernah main-main dengan perkataannya.
"Kakek tengilmu?" Seruni bertanya dan Red mengangguk.
"Kakek harus masuk, atau kantor Red hancur. Tunggu disini oma."
"Oma ikut, oma akan buat perhitungan."
Maka Red hanya pasrah. Masalah pasti akan bertambah jika Seruni dan Rusdi bertemu. Pertengkaran perebutan hak cucu pasti akan di perdebatkan, dan itu tidak akan berakhir dengan cepat.
Setelah dipikir kembali. Kenapa hidup Red sangat ribut sekali.
"Mau apa kau memaksa menemui cucuku." Seruni sudah melayangkan protes saat Rusdi memasuki ruangan Red.
"Dia cucu kandungku." Tak mau kalah, Rusdi membalas dengan fakta.
Red diam-diam menutup pintu agar orang lain tak bisa mendengar perdebatan yang tak patut dicontoh ini.
"Kau ini kakek yang tidak patut dicontoh, suka sekali mengumpat. Kau pikir telingaku sudah hilang fungsi, bagaimana bisa kau mengatai cucu sendiri."
"Itu terserahku karena Red pantas mendapatkan itu. Lihat ini dan kau akan menutup mulutmu sendiri."
Beberapa photo sudah menyebar di meja, di dalam sana ada gambar dua orang manusia seperti menjalani kencan dengan sembunyi. Tapi bagian itu tak penting karena Red sudah sering melihat.
Tapi, yang paling menyita perhatian adalah dua photo yang terserak di bagian lantai karena Rusdi tak tanggung mambanting sebelumnya.
"Itu gadis yang kamu pilih, Red. Sekarang terserahmu saja. Kakek tidak mau ikut campur lagi. Jangan cari kakek jika kamu sudah menyesal."
Rusdi minggat, kekek kandung Red itu sangat marah. Red tebal telinga saat Rusdi sering mengingatkan jika Rubby bukanlah pilihan yang tepat.
Jelas saja. Alsan Rusdi dulu memang karena kasta, tapi untuk sekarang, kakenya benar-benar murka melihat kekasih cucunya dengan senyum mengembang tengah dikecup mesra oleh seaeorang, yang Rusdi yakin sosok itu bukanlah Red.
Red dengan tangan bergetar mengambil dua lembar photo yang tergeletak di bawah. "Oma..." gumamnya.
Red sudah tidak tahu harus berkata apa setelah dua orang tertua dalam hidupnya menyaksikan kepedihan yang harusnya Red saja yang tahu. Karena selain malu, Red ingin harga diri Rubby tetap terlindungi.
"Oma tidak bisa berkata apa-apa, temui dulu, tanyakan dulu. Jangan mengambil keputusan disaat kepalamu sedang panas. Atau penyesalan yang akan kau dapatkan. Oma selalu percaya kau dapat mengambil keputusan terbaik."
Seruni sudah akan meninggalkan Red yang masih diam dengan tatapan kosong. "Red. Ingat. Wanita yang baik selalu menghargai prianya. Tapi kamu juga harus memastikan wanitamu cukup, lahir dan batin. Jika kamu merasa tidak bisa dalam dua hal itu, maka jangan salahkan satu pihak, karena hubungan itu bukan dari satu tangan, tapi dari dua kepala yang disatukan."
Pertanyaan Red.
Kenapa luka yang selalu ia tahan dengan sekuat tenaga tidak berubah menjadi reda?
Kenapa Rubby selalu menambah kadar keperihannya?