Moon

Moon
Ingkar



Tidak puas dengan Latania, Sea memilih untuk pergi ke tempat lain. Jujur Sea merindukan berjalan-jalan sendirian, menghilangkan stress yang baru saja datang.


Sea sudah berada di salah satu restoran Italia, daging tebal-tebal dalam menu steak akan menjadi santapan Sea siang ini. Setelah memesan makanan, Sea membaca laporan-laporan yang dikirimkan Devon untuknya, mengenahi semua hotel yang Sea punya.


Sea menarik napas dalam, satu hotel di Jamaika mengalami penurunan oleh sebab pandemik yang melanda. Oke, tidak apa-apa, orang-orang memang harus mendekam di rumah agar tetap bisa hidup daripada terserang penyakit.


Sea terdiam sejenak, wanita itu menelan ludah dan berkedip saat mendapati satu wanita hendak mendekatinya.


“Hai, Rubby.” Tidak mau di dahului mantan kekasih Red itu, Sea lebih baik menyapa dulu.


Wanita pemilik body goal dengan lipstik merah terang itu tersenyum. “Hai, Sea.”


Tanpa disuruh, Rubby menduduki kursi kosong yang ada di depan Sea. Maksudnya apa coba? Tapi karena Sea adalah wanita yang ramah, maka ia biarkan saja.


Tapi satu yang mengganggu Sea, sebelum Rubby duduk tadi, wanita itu sempat melirik perutnya yang memang sudah sesikit mengembang, entah apa yang ada di pikiran Rubby. Tak mau merisaukan hal itu, Sea segera menghempas pikiran macam-macam yang hampir mampir untuk meyerang.


Sea mengambil satu roti dengan selai yang sudah disiapkan restoran sebelum steak pesanannya datang. “Kamu mau makan? Udah pesen?”


“Nggak usah sok akrab.”


Satu alis Sea terangkat. Oke, jika yang dihadapi Sea adalah keketusan Latania, wanita itu sudah biasa. Tapi yang ada di depannya itu bukan Latania, melainkan Rubby orang yang tengah habis mencokol pemikiran negative hanya karena Sea mulai nyaman dengan Red.


“Kamu ada kepentingan apa? Kalau emang nggak ada, kamu boleh pergi, aku mau makan.”


Sekali lagi Rubby memandang Sea dari atas ke bawah, wanita itu bersendekap dada. “Lo pikir setelah lo nikahin Red……”


“Aku dinikahin bukan menikahi, dua poin itu berbeda, kamu harus paham.” Selak Sea sebelum Rubby menuntaskan kalimatnya. “Mau kamu apa?”


“Lo tanya? Harusnya lo paham gimana sakit hatinya gue setelah lo ngrebut Red. Gue juga nggak nyangka kalian bikin anak dibelakang gue.”


Sea menaruh rotinya, tidak bernafsu memakannya meski ia rasa perutnya sudah keroncongan. Bukankah kabar burung mengatakan Rubby juga sudah bersuami, sudah memiliki seorang putri. Jadi dimana masalahnya? “Terus mau kamu apa? Mau balikin waktu juga udah nggak bisa. Mau dapetin Red lagi?”


Jika dulu Rubby sangat bar-bar dan tidak segan mencakar siapa saja yang menganggu hubungannya dengan Red, namun hal seperti itu sudah tidak berlaku untuk sekarang maupun sejak Sea datang beberapa tahun yang lalu. Masih sama, Rubby tidak bisa menjawab apapun yang Sea tanyakan atau menyanggah apa yang Sea katakan.


Pembawaan Sea yang terlalu santai membuat Rubby mengurungkan niat.


Rubby melirik paper bag yang ada di atas meja, ia yakin itu milik Sea. “Apa lo masih ngerasa pantes bisa dampingin Red sedangkan lo nggak tahu apa-apa tentangnya?”


Sea diam, jika ditanya perihal itu, jawabannya adalah iya, Sea tidak tahu apa-apa tentang Red. Lantas kenapa? Apa urusannya dengan Rubby?


“Lo beli selai kacang?” Tanya Rubby lagi.


Sea melirik paper bag miliknya. Yang dikatakan Rubby lagi-lagi benar. Sebelum sampai restoran Sea memang menyempatkan diri membeli selai kacang karena sekali lagi Sea sudah lama tidak makan enak, dan dia ingin selai kacang sebagai olesan roti untuk sarapan setidaknya satu minggu kedepan.


“Kamu mau? Kamu boleh ambil kalau mau.”


Sial. Kenapa Rubby malah ditawari. Sea ini sebenarnya terbuat dari apa sih? Kenapa sulit sekali membuat wanita ini marah. Orang normal jika dihadapkan dengan Rubby pasti sudah mencak-mencak.


“Jangan kasih Red selai kacang kecuali lo mau lihat Red bentol-bentol kayak orang sakit kulit kronis. Red alergi kacang.”


Sea lagi-lagi menaikkan satu alisnya, kali ini Sea benar-benar tidak nyaman. “Oh ya? Makasih infonya.”


Sea tidak bisa berbohong dan pura-pura tahu mengenahi Red dengan alergi kacangnya.


Rubby mati kutu dengan tanggapan Sea, wanita yang mulai kegerahan sendiri itu segera berdiri. “Gue duluan.” pamitnya.


Sea terdiam di tempat.


Sea melihat punggung Rubby mulai menjauh dan meninggalkan restoran. Serius Rubby hanya ingin berbincang dengan Sea tanpa memesan makanan. Kenapa terlihat seperti main-main.


“Bau ini?”


Sea termanung dengan sisa parfume yang ditinggalkan oleh Rubby. Parfume manis yang Sea ingat betul wanginya. Baru saja tadi pagi, parfume yang Sea semprotkan dari salah satu deretan milik Red. Miss Dior.


...***...


Sea memutar kemudi mobilnya untuk berbelok memasuki sebuah perumahan. Rasa-rasanya sangat lama Sea tidak pulang ke rumah ini. Rumah orang tuanya sendiri.


“Eh anak Mama ingat rumah.”


“Apaan sih Ma. Orang Mama sendiri yang musuhin Sea.”


Baru saja memasuki ruang tamu, sambutan hangat dari Sekar mampir di indra rungu, pun Ibunya itu seakan mengintimidasi Sea dengan mengatakan anaknya lupa rumah. Apa-apaan.


“Itu ada baju couple buat Arche sama calon adeknya. Sky yang beli.”


Sea mengangguk setelah menoleh paper bag yang ada di sofa. “Orang masih lama juga babynya lahiran.”


“Ya nggak apa-apa kak, ditampung dulu, itu baru permulaan, nanti aku beliin yang lebih banyak.” Sky dari arah tangga dengan tampilan casual itu berujar.


Gadis kesayangan Sea itu langsung memeluk kakaknya.


“Berarti Kakak nggak usah beli baju lagi dong. Yaudah kamu aja yang nyiapin buat baby.”


Mendapat mandat sedemikian rupa bagi Sky adalah anugerah yang sangat indah. Kapan lagi ia akan direpotkan oleh Kakaknya, rasa-rasanya ini baru pertama kali. “Siap boss.”


Dan satu jam berikutnya Sea menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama Ibunya saja karena Sky ada keperluan sangat penting di luar. Adik Sea itu sekarang menjadi lebih sibuk karena ada sesuatu yang dikerjakan, kabar dari angin mengatakan Sky akan mengikuti jejak Sea, merintis bisnis hotel tanpa mau melibatkan keluarga, Sea hanya berharap Sky tidak terlalu memaksa, harus santai tapi serius agar pekerjaan lebih ringan.


Dan hal yang tidak bisa dilupakan Sea saat dirumah ini adalah, ia harus mengunjungi Ibu Kirana, mertuanya, setelah berpamit pada Sekar, Sea berjalan ke arah belakang rumah, berniat untuk memasuki rumah Ardibrata lewat belakang saja.


“Ibu…” Sea tadi sudah bertanya kepada Sekar apakah Kirana ada dirumah, dan ibunya mengangguk, jadi Sea tak ragu untuk memanggil-mangil Kirana seperti sekarang.


“Ma…..”


Sea mendengar Blue berteriak dari ruang tamu.


“Apa Blue.”


Dari arah ini, Sea juga dapat melihat Blue menengadahkan tangnnya di depan Kirana yang baru saja menghampiri pemuda itu. “Ma, mana kado buat Blue.”


“Kamu minta apa, Mama kasih nggak pakai diskon.”


“Blue pengen ngobrol sama Papa.”


Karena tepat seminggu setelah Blue ulang tahun satu beberapa tahun yang lalu, Daren tiba-tiba berpulang, dan itu adalah kado terburuk yang pernah dindapatkan Blue.


Sea dengan mata berkaca-kaca menyaksikan sepasang Ibu dan anak yang saling memandang, Sea menyembunyikan diri di balik tembok untuk sementara, tidak berani memunculkan diri.


“Iya deh, Blue mau secara resmi masuk kantor, bantu Abang. Itu kado terbaik yang Blue minta.”


Sea mendengar suara tepukan di bahu beserta tangisan Kirana yang sedikit pilu.


Dan disaat Sea merasa Kirana dan Blue mengobrol dengan normal lagi, disaat itulah Sea berjalan mundur ke pintu belakang, lalu Sea berteriak. “Ibu, Ibu.” Dan memasuki rumah Ardibrata seolah-olah wanita itu baru saja datang.


“Ibu…”


Berhasil, panggilan Sea disambut oleh Kirana yang keluar dari arah depan, mata Ibu mertuanya masih merah, tapi Sea tidak mau bertanya karena pada dasarnya ia sudah tahu.


Kirana memeluk Sea erat, diikuti oleh Blue yang tidak lupa selalu gemas dengan Sea, pemuda itu mana bisa tidak mencium pipi Sea, kadang kala hal itu membuat Red cemburu.


“Kamu sendirian?”


Sea mengangguk. “Arche ikut Red ke kantor Bu. Bu boleh pinjam Blue sebentar.”


Kirana tidak bisa untuk tidak terkikik. “Pinjam semau kamu. Lain kali Ibu datang kerumah, biar bisa nemenin kamu. Sekarang Ibu mau arisan sama Mama kamu.”


Benar, tadi Sekar juga mengatakan sebentar lagi para Ibu-ibu akan mengadakan arisan di salah satu restoran vvip. Sea tidak tahu menahu bagaimana orang-orang bisa mengadakan acara seperti itu, tapi yang dimengerti Sea perkumpulan arisan yang dilakoni Ibunya itu tidak main-main, mereka menjadikan berlian, emang batangan dan berbagai jenis perhisan sebagai benda fisik yang dininvestasikan.


Sea mengangguk. “Yaudah Ibu hati-hati.” Sea memeluk Kirana sekali lagi dan sekarang gilirannya untuk berurusan dengan Blue. “Blue, ayo ikut Kak Sea. Kamu nggak ada kerjaan Kan?”


Blue akan siap meninggalkan pekerjaan apapun demi Sea, maka pemuda yang ditanyai Sea seperti itu akan dengan mudah mengangguk mantap. “Mau kemana Kak.”


“Udah ikut aja. Kamu yang nyetir naik mobil Kak Sea.” Bersamaan perintah itu, Sea melempar kunci mobil miliknya.


Dan dalam tiga puluh menit berikutnya, Sea dan Blue menghabiskan waktu di dalam mobil, keduanya menuju ke arah Jakarta Selatan, hanya Sea yang tahu, Blue sebagai supir dadakan mengikuti apa yang diperintahkan.


Hingga saat mobil putih BMW M4 Coupe milih Sea terparkir di depan gedung dengan simbol banteng warna emas terkurung dalam segitiga. Detik itu juga Blue jelas paham dimana dirinya sekarang.


“Kak Sea mau beli mobil?”


“Bentar.”


Sea merogoh ponselnya, mencari salah satu kontak teman yang masih disimpan sejak dulu. Ketemu. Sea segera memencet tanda telepon. Tak lama terdengar suara sapaan dari balik ponsel. “Hai Kevin. Kamu ada di Dealer nggak?”


“Ada, aku di dalam. Kamu dimana?”


“Oke aku masuk. Dalam waktu sepuluh menit, siapin seperti biasanya.”


Dan tak menunggu waktu lama, Sea bersama Blue memasuki Dealer, sedari tadi pertanyaan Blue masih menggantung butuh jawaban. “Kak Sea ngidam beli mobil apa gimana nih kak?”


Oh. Astaga, Sea ternyata lupa karena mengabaikan pertanyaan Blue. Akhirnya Sea meringis. “Tahu aja, Kak Sea denger ada mobil keluaran terbaru, tadi malam sempet cari tahu juga sih, bagus, pengen beli satu.”


Bukan hal asing lagi melihat Sea menginginkan barang dan harus dapat secepatnya, jadi Blue hanya mengangguk-angguk menanggapi Kakak iparnya.


“Sea.” Pawakan pria tinggi lenghampiri Sea, keduanya adu tos. “Aku sudah atur di lantai dua.”


Sea mengangguk. “Ayo Blue, ikut Kakak.”


Lalu Sea menggandeng tangan Blue dengan mengikuti Kevin yang ada di depannya. Dealer penampung mobil mewah ini tidak main-main, Blue sampai berbinar saking terpesonanya.


Jika dituntut menggunakan barang mewah, jujur Ferrari pemberian Sea lima tahun yang lalu masih menjadi barang termahal milik Blue. Pemuda itu sebenarnya bisa membeli lebih mahal, tapi ia masih menempuh pendidikan dan Mamanya tidak akan pernah mengijinkan.


Di lantai dua ada beberapa mobil Lamborghini Aventador dengan berbagai macam warna, tapi dari sekian banyak warna mata Sea tetap tertuju di warna putih.


“Blue, menurut kamu diantara semua mobil ini paling bagus warna apa?”


Blue yang masih tercengan dengan mobil-mobil mewah seharga kurang lebih dua puluh miliar itu hanya menggeleng dan menganga. Pasalnya semua warna sama bagusnya.


“Nggak ada yang bagus?” Sea nampak kecewa karena Blue menggeleng.


“Enggak Kak, maksudnya Blue itu bagus semua. Tapi kalau Kak Se emang tanya, Blue jawab warna hitam paling bagus.”


Oke, Sea sudah mendapatkan jawaban. “Kevin, aku ambil yang hitam ya, pembayaran seperti biasanya. Kunci kasihin Adikku ini.” Di akhir kalimat Sea menunjuk Blue.


Sebentar.


Apa maksudnya?


Blue tidak salah dengar kan?


“Kak…”


“Hadiah buat kamu. Nanti sekalian kamu bawa pulang, Kak Se habis ini langsung pulang juga ke rumah.”


Jadi benar? Blue mendapatkan mobil dari kakak iparnya ini? Untuk kedua kali?


Dan belum sempat Blue mengucapkan termakasih, ia melihat Sea berlari, “Kak…”


“Baby nangis, Kak Sea pulang duluan, kamu hati-hati Blue. Byee..”


Karena Sea baru saja mendapatkan pesan. Bibi yang membantu Sea mengurus pekerjaan rumah mengatakan Arche pulang bersama Melody karena Red harus lembur lagi, mengingkari janji.