Moon

Moon
Kecewa



Sea tidak pernah tahu makna dari titik balik kehidupan dimana orang-orang berkoar hal tersebut membuat hidup 360 derajat berubah dari sebelumnya oleh sebab hal tak terduga terjadi dalam kehidupan.


Sea menerka-nerka hal itu tidak ada bahkan saat ia hamil Arche sekalipun. Sea menganggap kecelakaan di malam itu adalah suatu kesalahan semata, hanya musibah yang terjadi dalam hidup Sea, hal berikutnya pun tak ada yang berbeda, Sea tetap sama, menjalani kehidupan layaknya orang remaja dengan ditambah satu makhluk kecil saja, itu tidak berat, tidak ada yang berubah secara signifikan.


Tapi hari ini, akhirnya Sea mengerti apa yang dirasakan orang-orang karena Sea baru saja mengalaminya.


Sea percaya dari momen-momen kehidupan pasti ada proses, batu sandungan menuju kedewasaan dan lain sebagainya. Lalu Sea akan mengakui seratus persen bahwa yang dialaminya saat ini adalah sebuah titik balik yang akan membuat ia menjadi dewasa atau sebuah pembelajaran yang akan dirasakan suatu saat nanti.


Namun untuk sekarang, rasa-rasanya pendewasaan dan pembelajaran bukanlah hal yang Sea rasakan, ia belum mendapatkan apapun untuk itu.


Sea meraih ponselnya sendiri, ia menghubungi seseorang, tidak, Sea akan memilih untuk mengirim pesan saja.


Sea:


Kak Suri. Apa yang kakak rasain saat aku dulu main belakang dengan Kak Jeremy?


Sial. Sea tidak jadi mengirim pesan, wanita itu menaruh ponselnya kembali. Ia menyadari bahwasanya Jeremy dan Red memiliki cara pandang terhadap percintaan dengan bebeda, sangat jauh, dan untuk kasus perselingkuhan, Jeremy bisa dibilang pria yang beruntung karena Suri dengan pintu terbuka mengijinkan suaminya. Jika dipikir memang sedikit tidak normal saat Sea sekarang merasakan sendiri bagaimana rasanya dihianati saat ia baru saja ingin mempercayai seseorang.


Dan sumpah demi Tuhan Sea kebingungan sendiri, ia seperti seseorang yang tersesat.


Kedua tangan Sea meremat sprey, di ambang pintu sana ia pandangi Arche yang berada digendongan Kirana, hati Sea terasa hancur melihat putranya yang menatap polos tidak tahu apa-apa dan ia juga akan menyaksikan jika sebentar lagi Arche merasakan bagaimana berada diantara kedua orang tua yang penuh problema.


Sedangkan tepat dihadapannya ada Red yang menunjukkan kepiasan, mata pria itu bergetar, entah apa artinya.


“Dengerin aku dulu, nggak…..”


“Cukup, please, kamu pergi aja, ya!” Sea memohon kepad Red agar pria itu cepat beranjak karena ia tidak ingin berdepat kala si putera berada diantara mereka.


Saat Sea mendongak lagi, menatap Arche lagi, wanita itu tanpa sadar meloloskan cairan bening tanda pesakitan yang Red berikan, dadanya sesak, tenggorokannya tiba-tiba sakit seperti disumpal batu.


“Aku mau jelasin.”


Sea menatap tajam suaminya. “Ada Arche, Red.” Suaranya tercekat.


Sea tidak ingin mendengar barbagai alasan-alasan lainnya yang nyatanya hanyalah kebohongan semata, Sea lelah.


“Nggak, kita harus ngomong sekarang, berdua.” Jika Red memutuskan pergi, pria itu sangat tahu ia tidak akan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan masalah, alih-alih Sea memaafkan, Red yakin dengan bagaimana kepribadian Sea, wanita itu akan pergi sejauh mungkin.


Sea menunduk, tak mengatakan apapun, jujur Sea ketakutan, takut tentang banyak hal yang tidak bisa Sea ungkapkan satu-persatu.


Dan seperti mengerti, Kirana yang mendengarkan ketegasan Red untuk berbicara berdua dengan Sea untuk menyelesaikan masalah, ibu dari Red itu keluar, membawa serta Arche bersamanya, melindungi mental Arche dari kerubutan orang tuanya.


“Start, aku denger.” Sea bersuara duluan, memberikan ruang untuk Red agar berbicara.


Red meneguk ludahnya keras, tidak seperti perdebatan sebelumnya, saat Red meraih jemari Sea, wanita itu langsung menepisnya.


“Sea, enggak….”


Dengan suara lirih, Sea memotong perkataan Red. “Enggak? Masih mau bilang enggak? Aku nggak percaya. Jangan bohongin aku lebih dari ini. Semua udah cukup Red.”


Karena pda dasarnya Sea memang tidak percaya dengan Red, jadi ada sedikit kelegaan tidak menaruh harapan tinggi kepada suaminya. Tapi tetap saja, rasanya sakit.


Sea mempertahankan keketusan. “Sejak awal aku udah bilang sama kamu bahwa kehadiran Arche nggak usah dibikin pusing, nggak perlu diributkan ataupun dipertanggung jawabkan, see, kamu bisa dapet dari Rubby kan?”


Sea mendongak, menatap Red yang yang semula duduk dan beralih berdiri di depannya. “This is what I mean, Red. Kamu nggak perlu aku. Kenapa kamu dateng di hidup aku, buat berantakan sedangkan kamu bisa dengan wanita lain. Aku nggak minta tanggung jawab dan kamu maksa.”


Sea menunduk, suara wanita itu melemas. “Harusnya kamu tetap bareng orang yang kata kamu bisa menyembuhkan semua luka kamu, kalau kenyataannya dia memang tempat ternyaman harusnya kamu nggak perlu menikahi aku.”


Lalu Sea meringis, mendongak lagi, menatap Red yang sampai saat ini memandangnya dengan pilu. “Hamilin aku lagi setelah kamu hamilin Rubby, nikahin aku dan ngehancurin hidup aku. Buat apa?”


Dan saat ini Sea sudah berada di ambang batas, ia sudah tidak bisa menahan, dadanya begitu sakit menahan sesak, suranya pun juga mulai bergetar hebat. “Brengsek, kamu brengsek Red.”


Air mata Sea semakin keluar dengan banyak sementara tangannya memukul ringan dada suaminya. “Mereka selalu bilang pernikahan bukanlah hal yang buruk untuk dijalani, pernikahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti hingga aku memutuskan untuk single, tapi lihat? Aku tahu mereka yang selalu menasehatiku adalah wanita-wanita beruntung mendapatkan seorang pria setia hingga mereka bisa berkata demikian.” Sea berkata panjang lebar, terkadang ada jeda untuk mengambil napas dan menahan isakan, lalu Sea menggeleng lemah. “Dan sialnya aku dapet kamu Red, seorang pria bajingan.”


Sea merasa putus asa hingga tangan yang awalnya memukul-mukul Red kini berpindah meremas pahanya sendiri.


Sea bukanlan wanita kuat seperti yang orang-orang kira, wanita itu cenderung menghidari masalah bukan karena ia masa bodoh, tapi karena Sea tidak mampu mengatasinya.


Dan sedari dulu, Sea tidak pernah bermimpi atau menginginkan Red untuk menjadi suaminya, malang nasibnya hamil oleh pria itu pun tidak menjadikan Sea ingin dipertanggung jawabkan, sejak awal Sea tahu Red sangat mencintai Rubby.


“Harusnya aku nggak dengerin mereka.” Sea sekarang menyesal, hal-hal baik dan nasehat orang terdekat nyatanya adalah keputusan yang kurang tepat.


Sekarang Sea sudah terjatuh dalam jurang tanpa dasar.


Awalnya Sea mau menikah karena ayahnya yang kabur tanpa kabar, ditambah ia hamil juga, lalu nasehat Latania, ibunya dan juga orang-orang terdekat. Setelah menikah Sea mencoba untuk memupuk kepercayaan, sikap Red juga membuat ia nyaman. Sea sadar ia sudah jatuh cinta dengan Red, lalu bagaimana dengan sekarang? Sea sepeti menelan racun meski tahu itu mematikan.


“Aku benci kamu Red.”


Mendengar itu Red yang semula diam saja akhirnya bereaksi, pria itu menggeleng keras, menolak kebencian dari orang yang paling dicintainya, Red menangis, air matanya keluar banyak.


“Sea.” Red memanggil lirih. “Tolong dengerin aku dulu.”


Sea mendongak sekali lagi, mata wanita itu sembab. “Kamu nikahin aku karena bayi ini kan? Dan kamu juga punya calon bayi lagi. Jadi Arche dan bayi ini buat aku ya? Aku nggak punya apa-apa lagi selain mereka.”


Sea menghalau Red saat pria itu mencoba untuk lebih dekat lagi. “Aku udah nggak mau bertahan lagi Red.”


Sea meraih ponselnya lagi, mencoba menghubungi Rubby, dan beruntung, wanita perusak rumah tangganya mengangkat telepon. “Rubby, kamu menginginkan Red kan? Ambil. Tapi suatu saat nanti, aku jamin kamu bakal nerima apa yang telah aku terima saat ini. Itu karma dari aku.”


Panggilan Sea tutup sepihak. Dan untuk pertama kalinya juga Sea menyumpahi seseorang.


Sea menatap Red lagi, wanita itu mengusap air matanya, tatapan pias yang terlihat sangat menyedihkan. “Aku mau kita cerai. Titik.”


Setelah mengatakan itu, Sea tidak lagi berpikir panjang, wanita itu merebahkan diri lagi, memunggungi Red dan menutup selimut sampai kepala, meninggalkan suaminya yang terdiam membeku tanpa bisa berbuat apa-apa.


Dan tak lama, suara pintu terbuka, setelah beberapa saat, suara tamparan keras terdengar, hal selanjutnya yang Sea tak mau barang sedikitpun berkutik karena ia tidak sanggup lagi menatap Red yang sedang dimarahin oleh Kirana.


“Mama nggak pernah sekecewa ini sama kamu Red.”


Kirana teramat kecewa, sebelumnya Red sudah membuatnya marah karena menghamili Sea, bahkan dua kali, tapi itu masih bisa ditolelir, Tapi perselingkuhan, Kirana benar-benar tidak habis pikir.


“Jangan berani kamu dekati menantu mama, pergi.” Dan tatapan Kirana juga sangat asing untuk putranya, Kirana benar-benar tidak ingin melihat Red untuk sementara. Selain itu, Kirana merasa Sea juga butuh istirahat.