
Dan saat pagi harinya, Sea mendapati Sekar berada di lantai bawah, meminum teh bersama Oma Seruni. Raut muka ibu dari Sea itu nampak muram, tapi sedikit lega saat mendapati Sea menuruni anakan tangga.
Sea mau merasa bersalah, tapi tidak juga. Tujuan Sea ke rumah Oma sudah jelas ingin mencari ketenangan, biar ibunya itu juga merasa bahwa tekanan yang di berikan mampu membuat Sea yang sedang mengalami stres bisa bertahap menjadi depresi jika tidak cepat-cepat mengambil jalan keluar.
Pagi ini setelah mandi Sea menghubungi Davis, papanya itu bertanya dimana Sea berada, dan wanita itu tentu saja langsung berkata jujur bahwa dirinya berada di rumah oma Seruni, makanya mungkin saja Sekar datang kesini karena Davis sudah memberitahunya.
“Ma, mulai hari ini aku mau bantu Oma di perusahaan.” Sea tanpa memyambut Ibunya justru memilih untuk menginformasikan pekerjaan barunya.
Memang benar, dandanan Sea pun tampak casual, warna baju yang dipilih pun juga nampak elegan. Apalagi rambut yang ditata rapi tidak sepeti biasanya yang di kuncir asal.
Sedangkan Sekar yang mendengar perkataan putrinya itu sedikit bertanya-tanya.
Namun alasan Sea juga karena kasihan pada Oma Seruni, wanita tua itu sudah seharusnya istirahat dirumah, tapi memaksakan diri untuk bekerja.
“Nggak usah, katanya keadaan kamu nggak lagi baik, biar mama yang bantu oma?”
“Kenapa baru sekarang mama mau bantu oma. Lagian yang sakit bukan fisik Sea ma, tapi pikiran, karena seorang pria, tapi kalau dibuat bekerja Sea merasa sangat mampu.”
Sebenarnya Sekar mau saja dari dulu membantu pekerjaan ibunya, tapi wanita itu kurang lihai dalam menjalankan bisnis, Sekar sejak dulu sangat mengukai bidang fashion hingga memiliki merk sendiri yang dan membangun butik yang sudah terkenal di berbagai kalangan.
Melihat keterdiaman Sekar, Sea berujar lagi. “Nanti mama bisa anterin Arche nemuin ayahnya kan, ma?”
Sekar mengedip, sekarang ia tahu tujuan Sea pagi-pagi menghubungi ayahnya. Sudah pasti, agar Sekar datang ke rumah oma dan dimanfaatkan untuk mengantar Arche menemui Red. Cerdik sekali.
Sekar membuang napas pelan, melihat Sea yang perlahan mendekatinya dan berakhir duduk di sofa, sedangkan oma Seruni baru saja berjalan ke arah kamar, jujur saja Oma Seruni tidak mau ikut campur, tidak mau juga menambah beban pikiran Sea.
“Kenapa nggak kamu aja yang anterin Arche?”
Sea terdiam benerapa saat. Ia sangat tahu Sekar tidak akan membirkan Sea tanpa omelan.
Namun setelah berberapa saat, Sea menjawab. “Aku lagi banyak urusan.” Jujurnya, urusan penyembuhan hati. “Sama nggak mau sakit hati, nggak mau makan hati, mau istirahat dulu.”
“Istirahat kamu udah kelamaan Sea.” Sekar memprotes, yakin sekali bukan itu maksud dari putrinya. “Mama tahu kamu masih mau kabur.” Koresksinya.
Kabur? Sea tidak kabur, wanita itu hanya ingin istirahat sebentar saja, kenapa ibunya tidak paham sama sekali.
“Ma, rentan waktu dua minggu nggak cukup, aku masih butuh waktu lagi.” Sahut Sea akhirnya. Baru kali ini juga Sea mengerutkan kening akibat dongkol minta ampun. “Ya udah deh, kalau mama nggak mau nanti aku paketin Arche di pos, biar dikirim ke alamat Red.”
“Ngawur.” Sekar menanggapi cepat. Sekar juga tiba-tiba dongkol dengan Sea, tangannya menabok pelan paha Sea. “Sea, mama nggak main-main saat bilang ke kamu waktu itu, dipikir dulu, jangan ambil keputusan buat pisah.”
“Aku juga nggak main-main saat bilang mau cerai.”
Ya Tuhan, mulut Sea ini memang kadang-kadang minta di tampol.
Sedikit banyak melihat Sea yang sudah berceloteh dan main otot ada bagusnya bagi Sekar. Tapi mendengar keteguhan Sea yang masih menginginkan perpisahan adalah sebuah kegagaln buat Sekar, wanita itu gagal memberi petuah untuk putrinya. Kalau terus-terusan begini kapan Sea bisa menemukan akar masalah.
“Sea, apa kamu pikir percerian itu baik? Satu-satunya penyelesaian yang terbaik?”
“Mama sebagai orang tua punya pengalaman banyak Sea. Mama seperti ini bukan berarti mama nggak ngrasain apa yang kamu rasain Sea. Mama sama sakitnya, tapi pengalaman mengajarkan mama, mama serius ngomong sama kamu.”
Sea tak menyahut.
Wanita hamil itu hanya menatap ibunya yang berkata panjang lebar. Padahal Sea sama sekali tidak ingin diolemi lagi, tapi lihat apa yang dialaminya sekarang. Ibunya itu seperti tak melewatkan kesempatan sedikitpun.
“Mama sedih juga kan? Kalau begitu harusnya mama ngertiin perasaan aku. Aku nggak sanggup ma. Udahan aja.”
Sekar terlihat menghembuskan nafas lelah. “Sea, anakmu itu mau sama ayahnya.”
“Dan aku nggak mau ma.”
Kalau saja Sea membatalkan niat bercerai karena satu alasan yaitu Arche, bukankah hal tersebut seperti lelucon yang tidak masuk akal. Penghianatan Red belum apa-apa, kalau saja Sea mau menggali lebih dalam, fakta-fakta menyakitkan akan nampak lebih banyak lagi di masa depan, dan Sea tidak mau merasakannya.
“Toh habis ini Arche ketemu ayahnya. Jadi apa yang perlu dikawatirkan?”
Kemudian Sea melengos, berdiri dan melangkah untuk meninggalkan Sekar.
Sedangkan Sekar tak membuang waktu, wanita itu mengejar Sea dan mengikutinya dari belakang. “Sea, mama tahu betul kamu itu ngerti maksud mama. Arti ketemu yang sebenarnya bukan ketemu lalu pisah lagi kayak saudara jauh berkunjung lalu pergi.” Perkataan Sekar teramat cepat, wanita itu atraktif dengan menggerak-gerakkan tangan ke udara. “Bertemu maksud mama adalah bertemu seperti keluarga semestinya, kembali dalam satu rumah.”
Sea mengepalkan tangan.
Sea menganggap Sekar sedang berbicara tidak masuk akal. Sea sampai sekarang masih berpikir kenapa ibunya itu ngotot sekali sedangkan permasalah yang dialami Sea sangat jelas dan fatal.
Maria hilang kesabaran, wanita itu menoleh, menatap ibunya tajam. “Setelah Red punya anak dengan Rubby?”
Sea tidak yakin ia akan tetap watas apabila ia menuruti keinginan ibunya.
“Oke. Mama tahu, problemnya adalah Rubby.” Sekarang Sekar melipat tangan di bawah dada, dan lanjut mengomel lagi. “Apa yang membuat kamu percaya apapun yang dikatakan Rubby adalah benar? Kenapa kamu lebih percaya wanita itu dibandingkan Red, suami kamu sendiri.”
Sea diam, wanita itu abai lagi lalu melangkah menuju lift, ingin ke lantai tiga mengambil berkas yang akan dibawa ke kantor. Namun lagi-lagi langkah Sea terhenti saat Sekar dengan keras berbicara. “Apa kamu pikir lelaki seperti Red bisa berselingkuh Sea? Terlebih menyelingkuhi kamu?”
Lelaki seperti Red?
Sea tahu, Red tidak pernah selingkuh saat dulu bersama Rubby, dan sekarang saat Red kembali pada Rubby ketika Sea menjadi istrinya, hal itu bisa saja terjadi, Red dengan mudah atau tanpa pikir panjang berselingkuh.
Sea memencet tombol pada lift agar terbuka, namun Sekar lagi-lagi menggagalkan langkah Sea yang akan memasuki lift dengan ceramah lainnya. “Sea, mama berani bersumpah Red bukan lelaki bajingan.”
“Tapi dia Rubby ma, Rubby.” Sea menyahut sangat cepat, mata wanita itu merah, suaranya pun keras dan menggema dalam ruangan. “Ma, ini masalah rumah tangga Sea, jadi please biar aku sendiri yang memutuskan semuanya.”
Sekar menggeleng keras. “Mama bener-bener nggak ngerti sama kamu.”
“Aku juga nggak maksa siapapun buat ngertiin aku ma, termasuk mama.” Balas Sea lebih.
Pada intinya Sekar kecewa kepada kekeras kepalaan Sea. Pikir Sekar begitu ya tingkah orang dewasa itu, Sea tidak lebih dari anak SMP yang sedang patah hati tanpa memikirkan benar tidaknya. Masalah itu untuk diselesaikan, bukan seperti Sea yang membiarkan berlarut-larut tanpa ujung.