
Seperti yang Sea janjikan.
Gadis itu benar-benar diam saat dirinya sudah berada di dalam mobil selama 30 menit. Sea meluangkan waktu untuk memandang bulan dari balik kaca.
Sea benar-benar mengingat apa saja yang ada di dalam memori masa lalunya, Red dan bulan, diatas rumput basah.
Sea lebih menyukai bulan penuh dari pada bulan sabit. Oma-nya dulu sering berkata, "Pandang bulan, siapa yang kamu pikirkan saat kamu menutup mata dibawah cahayanya yang terang adalah orang yang akan menemanimu sampai hari tua."
Jadi Sea memilih bulan penuh karena cahaya yang keluar adalah yang paling terang.
Sea tahu itu hanya penghiburan saja sebab saat itu Sea masih anak kecil bau kencur yang tak tahu makna sesungguhnya. Mungkin Oma-nya juga mengambil kutipan dari buku dongeng anak-anak.
Tapi yang aneh. Meski dengan sadar sampai beranjak dewasa, hanya bayangan Red dalam pikiran Sea, dimanapun gadis itu berada dan menyempatkan waktu bersama bulan, hanya pemuda itu yang ada dikepalanya.
Semua gara-gara Oma-nya membuat Sea yang sudah terlanjur menanamkan kalimat tak masuk akal dan mendarah daging sampai sekarang.
"Lo mau pulang apa nginep?"
Lamunan Sea buyar. Bulan yang sedang berjalan bersama terpaksa ia palingkan. "Terserah kamu. Aku nurut."
Red mengedikkan bahu, laju mobilnya semakin cepat, Sea tak tahu jalanan Bandung, tapi Sea tahu betul jika tujuan Red adalah ke arah perbukitan terlihat dari jalannya yang menanjak.
Sea kembali diam, ia sudah berjanji tak akan merecoki Red, maka dengan mati-matian ia tidak akan menggoda seperti biasanya, tapi sumpah demi Dewa paling mempesona sejagat raya, Red yang diam begini sangat tampan melebihi angan-angannya.
Sea sempat berpikir, kapan sih pemuda ini terlihat jelek?
Sea menghembuskan napasnya yang sedikit memberat, iya kan, gara-gara Red, gadis itu enggan lagi melihat kearah luar, ia memilih tetap pada posisinya, memandang Red yang bungkam sembari fokus ke jalanan.
Ponsel Sea bergetar, gadis itu menerima panggilan dari Ayah-nya. "Iya pa." jawabnya.
"Red mana. Papa mau bicara."
"Red. Lagi nyetir, pa."
Red yang di usik namanya lantas menoleh hingga memelankan laju mobilnya, alisnya terangkat memandang Sea. "Loud." ucapnya pelan.
Sea mengangguk, menuruti Red untuk beralih ke mode pengeras suara. "Papa ngomong aja langsung, ini aku kerasin suaranya."
"Red. Guna hape untuk apa?"
Red gemas sendiri dengan Davis, tapi kalau dipikir, tidak Ayah tidak anak sama saja, suka mencarinya. "Om sendiri tau aku lagi nyetir."
"Senen om ke Bandung, kamu nggak usah pulang ke Jakarta, rapat evaluasi enam bulanan sekaligus penangkapan penggelapan uang, om sudah tahu siapa saja yang terlibat."
Praktis, Red menggiring mobilnya untuk menepi. "Siapa om?" tanyanya antusaias.
"Nanti om telepon lagi atau besok saja dibahas, sudah malam, kamu juga lagi diperjalanan."
Dada Red berangsur lega dari sesak yang mendesak semenjak terjadinya penggelapan uang di perusahaannya.
Red sudah mencicipi berbagai pekerjaan saat masih duduk di bangku SMA. Mulai dari membuka cafe kecil-kecilan yang hanya akan mengurusi permasalahan dalam skala minim. Bermain saham yang hanya akan merugi jika salah menentukan target.
Dan semua itu tidak bisa membuat Red kebingungan setengah mati.
Tapi.
Permasalah yang sebenarnya datang saat Ayah-nya meninggal dunia. Red terjun bebas bermodalkan tekad menantang dunia yang sesungguhnya. Jadi, dihadapkan masalah seperti itu membuat Red hampir gila.
Telepon kembali ke mode normal. "Pa, Sea tutup ya."
"Kamu besok harus ke rumah utama."
Rumah utama adalah mala petaka. "Pa..." Sea merengek.
"Keputusan bukan ditangan papa, Se. Kamu rayu, pakai jurus andalanmu."
Jurus andalan apa? Sea tidak paham.
"Pa, Sea bukan anak kecil lagi. Memaksa sama saja membuat Sea nggak akan balik ke Indonesia. Papa mau ambil resiko itu? Papa mau bukti?"
Hening sebentar. Davis tak membalas ancaman putrinya.
Sedangkan Red masih menunggu Sea sampai nanti selesai berbicara dengan Davis. Gadis itu nampak frustasi sampai kalimat ancaman mengudara.
"Papa 'kan sudah bilang. Keputusan bukan lagi ditangan papa. Kamu perlu tahu, Se. Kesehatam oma meningkat drastis enam bulan ini. Kamu nggak mau kan membuat oma kecewa."
Sea menyandarkan kening di dashboard mobil, agak keras, Red yang melihat sedikit meringis. Pasti sakit.
"Iya, besok Sea ke rumah utama. Sea tutup pa. Selamat malam."
Red tahu betul suasana hati Sea sedang buruk. Tapi sekeras apapun ia mengancam atau menuai protes dan menolak kepada Ayah-nya, nada bicara gadis itu tak pernah meninggi satu oktaf pun, tetap rendah dan terkesan lembut.
Tapi Red jelas tahu jika Sea sedang pasrah.
Sea menegakkan badannya kembali. Menoleh ke arah Red yang saat ini memperhatikannya. "Ayo jalan lagi, Red." ucapnya dengan senyum mengembang.
Bagaiman cara Sea mengontrol amarahnya membuat Red terpana. Tapi Red tak mau ambil pusing memikirkan ataupun memperhatikan, maka setelah itu, Red menancap gas lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Hampir pukul sembilan malam saat Red dan Sea sampai ke tempat tujuan. Udara segar menyambut Sea saat gadis itu keluar dari mobil. Villa di depannya sangat bagus, lokasinya di tengah perbukitan, dikelilingi pemandangan sawah dan lembah hijau yang indah. Sayup-sayup, suara aliran sungai menggelitik telinga. Benar-benar nuansa alam.
Red memasuki halaman luas diikuti Sea dari belakang, di depan sana sudah ada seorang wanita usia 40-an yang menyambut mereka.
"Den Jared malam-malam baru sampai, untung bu Kirana tadi telepon bibi. Masih sempet nyiapin makanan."
Red meringis, "Tadi main dulu, makanya sampai kemaleman," jawabnya.
"Ini nona Sea?" Tanya bibi beralih pandang ke arah Sea.
Sea yang benar-benar tidak mengerti dengan situasinya hanya mengangguk dan mengatakan iya.
"Mama bilang apa bi?" Sembari memasuki villa dengan bibi mengikuti di belakang, Red sedikit penasaran apa saja yang sudah dikatakan ibunya.
"Tadi ibu bilang, den Jared mau menginap bareng den Edward dan non Sea. Tapi den Edward mana?"
"Aku buang di hutan."
Red memang berencana untuk menginap semalam, tapi bersama Edward. Berhubung temannya itu membuat ia kesal, maka Red tak mau melihatnya, biar Jantis saja yang mengurus sisanya.
Mengenai Sea. Red memandang gadis itu. "Lo nyusul gue bilang ke semua orang?"
"Enggak." Sea berkata jujur.
"Lalu?"
"Aku di Bandung dari hari jumat, ibu nyuruh aku chat kamu, makanya aku kirim lokasi siang tadi. Mungkin ibu juga yang bilang ke papa."
Jadi. Semua diatur oleh Kirana. Ibunya itu sungguh, oke, Red hanya akan sabar. Kirana juga pernah berpesan untuk baik-baik dengan Sea. Sebagai anak yang berbakti, Red akan menuruti.
"Halo ma."
Red berjalan menuju lantai dua, seperti yang Sea duga, pemuda itu menelfon Mama-nya.
"Non, benar den Edward dibuang di hutan?"
Sea tertawa, bibi dibuat ternganga seperti mendapati bidadari yang turun dari surga, Sea pantas mendapatkan gelar itu karena senyuman indahnya begitu mempesona.
"Enggak bi. Edward baik-baik aja kok. Dia pulang ke Jakarta." Jawab Sea seperti biasannya, teramat lembut dan nyaman di telinga.
"Bibi ayo cepetan pulang, sudah malam, saya antar biar aman." Red berlari sedikit terburu.
Villa pribadi itu milik keluarga Ardibrata. Tidak disewakan seperti pada umumnya. Setiap hari dibersihkan dan bibi diberi mandat untuk melakukan itu. Tapi urusan malam, villa akan dibiarkan kosong dengan hanya ada satpam yang menempati bagian bangunan luar.
"Baik den. Semua sudah bibi siapkan." Jawab bibi saat Red sudah ada di depannya. "Non, saya harus pulang. Semoga betah non."
"Gue keluar dulu."
Sea hanya mengangguk dan melambaikan tangan. Red baik.
Sea jadi berpikir, haruskah ia menjadi bibi agar Red berubah perhatian.
***
Sky Laura Martin:
Kak Sea kemana? Aku denger dari papa kak Se ngancem balik Amerika!!!!😡😡
*Rose Sea Martin**:
Aku di Bandung dek. *
*Sky Laura Martin**:
Blue Kahiking Ardibrata:
Kak Sea jangan pergiðŸ˜
Sky Laura Martin:
Kenapa lo yang alay monyet.
Blue Kahiking Ardibrata:
Lo diem, Sky.
Kak Sea, aku tadi juga denger dari om Davis.
Sea memejamkan mata. Setelah Sky memasukkan ia kedalam group chat khusus untuk kedua keluaraga--Martin dan Ardibrata--Sea menjadi sedikit terhibur. Kedua anak remaja itu berisik dan lucu.
Tapi untuk kali ini tidak bisa dibilang lucu mengingat ancaman itu benar adanya, sedihnya, Blue dan Sky pasti tidak akan membiarkan itu semua.
*Rose Sea Martin**:
Sky ikut kak Se ke rumah utama.
Blue, kak Se usahain ya.*
*Sky Laura Martin**:
Rumah utama?
Ogah. Alergi oma.*
Rose Sea Martin:
Sky, typing-nya? Nggak bileh gitu sama oma.
Sky Laura Martin:
Sorry. Tapi aku nggak mau ikut.
Blue Kahiking Ardibrata:
Aku ikut kak Se nggak apa-apa
Rose Sea Martin:
Oke. Blue ikut.
Sky nggak ikut \= kak Se terpaksa pulang Amrik nih
Arvee Jared Ardibrata:
BERISIK!!!
Sky Laura Martin:
Bye abang dekil.
Blue Kahiking Ardibrata:
Berpamit.
Rose Sea Martin:
Red? Sejak kapan kamu masuk grup.
Sky Laura Martin:
Tepuk jidat.
Blue Kahiking Ardibrata:
Tepuk jidat.
"Ngancem hobby lo?"
Sea menoleh, praktis mengangkat kepala karena Red ternyata berada dibelakangnya. "Aku nggak ngancem, Red." jawabnya polos sembari berdiri.
Red menggoyangkan ponselnya, layar itu menunjukkan obrolan grup yang baru saja dijadikan ajang perdebatan bagi mereka. "Ini apa? Lo ngancem Sky. Lo udah dewasa, nggak usah bawa anak-anak dalam masalah lo."
Sea memang orang paling sabar di dunia. Gadis itu hanya menghela napas dengan pasrah sebelum satu senyuman mampu meredakan gejolak yang sedikit mengganggu dadanya.
"Iya, maaf."
Red luluh, mata anak anjing minta pengampunan menggelitik hatinya. "Kenapa lo belum mandi?"
Nah. Ini juga yang ada dikepala Sea sedari tadi.
"Aku nggak tahu kamarku yang mana, kamu pergi gitu aja."
Red menaiki tangga dengan Sea yang mengikutinya, setelah berada di lantai dua, pemuda itu menunjuk dua kamar yang berdiri bersebelahan. "Kamar cuma ada dua, sebelah kiri kamar gue, lo pakai yang kanan."
"Red. Aku nggak bawa baju."
"Ada piyama Sky didalam."
Sky?
Jadi gadis kesayangan Sea juga pernah menginap ditempat ini. "Kekecilan, Sky masih pendek."
Red praktis memandang Sea dari ujung kepala sampai kaki, Sea tinggi. Tapi yang ada di kepala Red hanya mengingat satu hal. Setelan panjang. Sea selalu memakai setelan panjang. Rasa penasaran muncul lagi di pikiran.
Memar di pergelangan tangan Sea apakah masih ada? Tapi Red tidak bisa menanyakannya.
"Ikut gue!!"
Sea mengikuti Red memasuki kamarnya. Warna bangunan villa dari luar sampai dalam konsisten, perpaduan abu-abu dan putih. Tapi yang lebih menarik dimata Sea adalah, banyaknya ornamen kayu dimana-mana, menambah kesan hangat.
Begitupun kamar Red yang baru saja dimasukinya, Sea bisa memandang pohon bergoyang dari balik jendela kaca. Satu kata. Mengagumkan.
Sea sering berada di tempat seperti ini saat menjelajah berbagai Negara. Karena bisnis hotelnya juga dimana-mana. Tapi ia tak pernah merasa ramai seperti saat ia bersama Red saja.
Sea selalu sendiri.
Hanya adanya Red bersama dirinya saat ini menambah memori kenangan yang akan Sea abadikan.
"Lo pilih sendiri. Ada yang ukuran kecil." Red menunjukkan mini closet miliknya.
Jika dilihat dari pakaian yang ada di dalam sana. Sea berasumsi jika villa ini adalah rumah kedua bagi pemuda itu. Setelan jas untuk bekerja tak terhitung jumlahnya. Kaos santai tersusun rapi jadi satu. Piyama yang tak bisa dibilang sedikit juga menggantung ditempatnya.
"Kamu sering main kesini?" tanya Sea basa-basi.
"Kalau lagi setres."
Gerakan tangan Sea berhenti, piyama motif garis-garis warna cokelat yang memikat matanya langsung ia abaikan. Ia memandang sejenak dengan penuh perhatian kepada pemuda Ardibrata.
"Kamu ada masalah sama Rubby?"
Anggap Sea lancang, gadis itu merasa. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur bertanya. Jika Red marah dan menyeretnya dari tempat ini, maka Sea tidak dengan berat hati menuruti.
Bayangan mengerikan seperti anjing diseret Tuan-nya dijalanan seperti yang berputar dikepala Sea buyar begitu saja saat Red membalas tatapan Sea dengan dalam. "Arti cinta. Lo tau?" tanyanya.
Cinta?
Sea tahu.
"Belas kasih." jawab Sea dengan pandangan kosong. Tapi tak lama, gadis itu menatap Red dengan senyum mengembang layaknya orang jatuh cinta. "Menempatkan kebutuhan diatas kebutuhan. Memberi kebahagiaan tanpa mengharap imbalan." imbuhnya.
Diakhir kalimat, Sea membalik badan, mengambil setelan piyama yang sudah diincar sedari tadi. Setelah itu ia berjalan melewati Red yang terdiam dengan mata mengamati setiap gerakannya.
Sebelum benar-benar pergi, Sea menyempatkan diri memberi kalimat panjang yang membuat Red sadar jika Sea memang seperti yang dikatakan ibunya. Gadis baik, karena masih perduli meski Red sering memaki.
"Apa yang kamu percaya pertahankan, Red. Apa yang terbaik buat kamu cuma kamu yang tahu. Pertengkaran itu wajar, mengambil jeda juga perlu. Tapi saat kamu merasa tidak bisa hidup tanpa orang yang kamu cinta, kamu harus berbalik, kembali, kamu harus pulang."
Hingga suara angin menyatu dengan pohon mengambil alih perhatian, sampai Sea hilang dari pandangan diganti dengan pintu yang tertutup perlahan. Sedikit-demi-sedikit Red paham.
Red paham jika sebagian hatinya telah pulang.