Moon

Moon
Pertaruhan



Red tinggal sendirian di rumah berlantai dua yang sejak dua minggu yang lalu tidak tahu lagi bagaimana cara menggambarkannya sebelum bibi suruhan Kirana datang tempo hari untuk membereskan semua kekacauan yang dibuat oleh pria itu.


Red tengkurap di sofa menghiraukan suara deringan telfon yang ada, bahkan pria itu juga tidak risih dengan penampakan sekelilingnya, barang-barang berserakan, pun penampilian dirinya pun juga sama, memakai setelan kantoran namun lusuh. Jika ditoleh kembali, Red seperti ini sama persis seperti saat Sea meninggalkannya dulu, lima tahu yang lalu.


Red menghembuskan nafas panjang teramat berat. Dari kepala sampai kaki, dari pakaian sampai penampilan jauh dari kata bagus, pria itu kacau tak terurus, level berantakan yang Red miliki berada tingkal paling atas.


Red merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, lihat saja, lingkaran hitam matanya persis seperti panda, apalagi saat pria itu membuka mata yang nampak seperti orang tidak tidur satu tahun, lihat dibagian dagu, disana tumbuh rambut karena tidak dicukur.


Mencukur? Mengurus diri? Mana Red punya waktu untuk itu. Red tidak sempat untuk memikirkan dirinya sendiri, pria itu hanya memikirkan istri, anak dan keluarga.


Red belum pernah mengalami gangguan tidur seperti saat ini, jika dulu saat Sea meninggalkannya di Jerman, Red hanya berantakan saja, ia masih bisa meneguk alkohol untuk melupakan dalam waktu semalam karena tidak bisa berbuat apa-apa, tapi ceritanya sekarang berbeda, saat Red ingin memejamkan mata, sulitnya minta ampun, bahkan Edward sering menegurnya karena tidak konsentrasi saat bekerja.


Dua minggu juga Red tidak menempati kamarnya, ia enggan, itu hanya akan membuatnya sakit lebih dalam. Selama ditinggalkan Sea, pria itu tidur di sofa, berharap pintu depan terbuka karena Sea datang dan Red bisa langsung menyambutnya.


Harapan hanya harapan saja bagi Red, namun pria itu tak serta merta rebahan karena meratapi nasibnya. Red setiap pagi tetap sama, pergi ke kantor. Beberapa kali mendatangi Sea meskipun wanita itu tak membukakan pintu. Dan hal paling membuat Red sedih saat Sea pindah rumah lagi dan menempati rumah Oma Seruni, saat itu juga Red hanya bisa memandangi rumah besar itu dari luar, dari dalam mobil, hingga malam tiba barulah Red bertolak untuk pulang.


Red memejamkan mata lagi, ia bingung setengah mati lalu mengusab wajahnya dengan kasar hingga satu pemandangan membuat matanya berkaca-kaca, cincin yang ada di jemarinya.


Red bersumpah. Jika Sea bisa kembali padanya, Red tidak akan berbohong lagi. Sekalipun hal itu kecil, karena pengalaman mengajarkan bahwa istrinya itu mengira kebohongan Red dalam semua hal, dan itu sangat fatal.


Rubby. Sialan, Red benar-benar tidak menyangka wanita itu nekat sekali.


Awalnya, saat di Dubai, Rubby dengan terang mengatakan bahwa wanita itu masih menginginkan Red. Rubby menangis dan memohon agar Red bisa kembali kepadanya. Kondisi waktu itu tidak mungkin bagi Red mengabaikan Rubby, tapi bukan berarti Red perduli dengan wanita itu. Adapun Jantis yang berada disana juga sebenarnya risih, tapi mau bagaimana lagi, malam itu kebetulan ada undangan reunian teman-teman SMA


Di Club Dubai, Red dan Jantis berusaha bersikap biasa saja.


Namun.


Saat Red menolaknya halus, Rubby dengan gila mengancam dengan banyak kata, membuat Red terpaksa menyeret Rubby keluar club, meminta maaf pada wanita itu karena tidak bisa membalas perasaannya, Red bahkan dengan sabar mengantar Rubby untuk pulang ke hotel dimana wanita itu menginap, tapi justru kebaikan Red disalah pahami, Rubby memeluk Red, menciumnya.


Tapi sumpah demi Tuhan, ciuman dari Rubby tidak se-magic itu sampai bisa membuat wanita itu hamil, karena saat itu terjadi, tak sampai lima detik Red segera mendorong bahu Rubby.


Dan hanya itu.


Kedunya memang bertahan lama dalam kamar, tapi Red masih ingat saat dirinya segera menelfon Jantis untuk menyusulnya. Red memutuskan untuk menginap di kamar Jantis, yang mana Jantis memang berada dalam satu gedung hotel yang sama dengan Rubby, tanpa disengaja.


Dan soal video, Red yakin Rubby telah menjebakknya.


Lalu mengadu hamil, dasar wanita gila. Mengancam akan memberitahu Sea, mendatangi kantor atau pun rumah Sea. Red tidak mau Sea mendengar berita konyol itu karena kondisi istrinya yang gampang setres, fisikpun juga tak sehat-sehat amat. Tapi sial seribu sial, Sea harus mendengarkannya, kesalah pahaman yang tidak dapat di elak, tanpa bisa Red cegah.


Red terduduk dengan amarah yang tiba-tiba meluap karena mengingat kejadian itu. “Fu*k.” Umpatnya saat suara dering telepon yang sedari tadi tidak berhenti, akhirnya dengan rahang yang mengeras, Red meraih ponselnya.


Oh. Tidak, ternyata Mama Sekar, mertuanya yang menelfon.


“Halo ma.” Red segera mengatakan itu saat ponsel sudah ada di daun telinga.


“Ya ampun Red. Kamu sedari tadi mama telepon nggak di angkat. Mama gedor-gedor pintu juga nggak denger apa.” Sekar marah tanpa ba bi bu. “Cepet buka pintu.” Sekar tahu Red dirumah karena tiga mobil menantunya itu ada di garasi samping.


Praktis Red segera berdiri, berlari dan membukakan pintu untuk Sekar. Dan saat pintu terbuka, Red dikejutkan dengan teriakan super antusias dari Arche.


“Daddy.” Arche sudah tidak sabar untuk digendong ayahnya sampai-sampai tangan bayi umur empat tahun itu terangkat.


Red tak menunda untuk tersenyum dan meraih Arche dalam gendongannya.


Sedangkan pemandangan yang Arche lihat tidak bisa membiarkan anak itu untuk tidak bertanya, mengenahi jambang ayahnya yang memanjang, Arche sampai-sampai geli saat telapak halusnya memainkan disana, tapi anak itu juga senang.


“Daddy, I miss you.” Arche juga tak menunda untuk mengatakan itu, bahkan semenjak ia berangkat bersama sekar tadi, Arche sungguh-sungguh tidak sabar, membuat Sekar beberapa kali mengatakan, ‘sebentar lagi sampai sayang’.


Setelah saling mengatakan rasa rindu, berpelukan juga. Red akhirnya bisa tertawa dengan tingkah Arche yang menggemaskan. Hal itu juga membuat hati Red membaik.


“Ma ayo masuk dulu.” Red sampai lupa dengan wanita paruh baya yang sekarang menahan pilu di depannya, hingga akhirnya pria itu menawarinya masuk.


Namun gelengan yang Red dapatkan, Sekar tersenyum dan berkata. “Arche masuk dulu gih, ambil mainan yang banyak di kamar, nanti daddy kamu nyusul.”


Tahu kan Arche itu adalah bayi yang sangat peka. Bahkan anak itu mampu menahan agar tidak berpelukan lebih lama dengan ayahnya dan memilih untuk turun, lalu berlari menuju kamarnya.


“Sea udah nggak marah.” Tanpa Red bertanya, Sekar seakan mengerti bahwa Red pasti ingin tahu bagaimana keadaan Sea sekarang. “Tapi kamu juga harus tahu, dia keras kepala, butuh waktu kalau mau ketemu kamu.”


Red tidak lega, sumpah demi Tuhan, lebih baik Sea masih marah tapi mau bertemu dengannya. Dengan Sea yang masih enggan begini menambah sesak yang Red rasa.


“Ma.” Red menggeleng. “Itu bukan Red ma.” Kali ini Red menunduk. “Sumpah demi Tuhan, Aku nggak pernah nglakuin itu sama Rubby di Dubai ataupun dimanapun ma. Kalaupun pernah, itu su…..”


“Udah diem. Mama tahu. Tapi nggak tahu kalau Sea. Kamu tahu sendiri, dia itu paling susah percaya sama orang.” Sekar segera memotong perkataan Red. Wanita itu percaya kepada menantunya.


Kali ini Red mendengarkan.


“Sekali percaya, Sea akan percaya dengan penuh, tapi sekalinya dia dihianati, Sea tidak akan pernah percaya lagi.”


Dan sekarang Sea sudah tidak mempercayai Red.


Dengan ini Red membulatkan tekad kuat untuk menemui istrinya yang keras kepala itu dan menjelaskan semuanya yang terjadi.


“Jadi Red. Sebelum kamu benar-benar menemui Sea, lebih baik cari bukti dulu, hanya itu yang membuat Sea percaya.” Ucap Sekar memberi saran. “Kamu harus cari tahu siapa yang sudah menghamili Rubby kalau itu memang bukan kamu. Tapi mama percaya sama kamu.”


Red menarik napas berat. “Tapi Red pengen ketemu Sea dulu ma.”


“Orang dianya nggak mau. Jangan bikin mama emosi ya.” Sahu Sekar dengan marah yang di buat-buat. “Kamu sabar, tenang, nanti kalau waktunya ketemu, Sea bakal nyari kamu sendiri kalapupun kamu belum ada bukti. Mama juga nggak bisa paksa dia. Mama tahu apa yang dirasakan Sea.”


Prasangka-prasangka yang tidak tahu benar tidaknya, tapi wanita memang begitu.


Red frustasi, ia memijit pelipisnya. “Maaf ma. I know the story.” Ucap pria itu selanjutnya.


Sekar tersenyum lalu mengangguk dan mengambil napas. “Davis Martin bukan orang bijak di awal pernikahan, kami menikah karena sama-sama putus asa dari pasangan sebelumnya. Sampai akhirnya, Davis ada main belakang sama masa lalunya.”


Sekar tidak bermaksud menyamakan nasib dengan putrinya. Namun dari kisah itu, Sekar ingin memberi contoh. Mungkin Sea bisa berkata nasib ibunya lebih baik oleh sebab Sea tidak tahu apa-apa, nyatanya Sekar pernah menelan pil pahit juga, lebih parah.


Red masih mendengarkan. Tak mau sedikitpun membuka mulut untuk menyanggah wanita di depannya.


“Mama waktu itu nggak bisa berbuat apa-apa selain minta cerai.” Ujar Sekar lagi dengan pandangan menerawang dan mulut yang rasanya getir. “Tapi Oma Seruni bertindak cepat, mengatakan jika hubungan bukan hanya antara suami dan istri saja, ada Sea.”


Red masih mendengarkan Sekar.


“Oma Seruni mengingatkan mama soal bagaimana nasib Sea. Bagaimana cara anak itu tumbuh tanpa kedua orang tua. Melihat Sea waktu kecil dulu, tiba-tiba mama berubah, mau untuk bertahan.”


Situasinya sangat mirip dengan yang dialami Red saat ini.


“Perceraian tidak terjadi. Davis berubah karena waktu itu Sky juga ada dalam perut mama. Davis menjadi sosok suami dan ayah yang sebenarnya.”


Dari sini Red sadar permasalahan yang dialaminya tak patut berujung di kata perceraian. Karena dibandingkan dengan pasangan Martin, kesalahan Red benar-benar tidak ada sepucuk jaripun, semua salah paham.


Sekar tersenyum melihat Red dengan tatapan tercenung.


“Dan kamu tahu Red apa yang paling penting?” Sekar berujar lagi, membuat Red menatapnya intens.


“Sea sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya pernah berlaku seburuk itu. Davis tetap menjadi ayah terbaik bagi Sea. Dan kisah hampir berujung perceraian pun tak sampai di telinga Sea maupun Sky, bahkan sampai sekarang.”


Dan Red baru tahu bahwa Sea tidak tahu story itu, bahkan Red sendiri tahu, hanya tahu sedikit.


“Mental anak mama dipertaruhkan. Bakal sekacau apa jika Sea tahu ayahnya adalah orang yang pernah bertindak fatal di masa lalu. Sea tidak akan hormat, akan hilang respect, dan mama nggak mau itu terjadi.”


Arche. Nama anaknya muncul dalam benak Red.


“Arche. Mama tahu kamu mikirin itu. Hal sama juga berlaku buat anak kamu, Red.” Sekar menepuk bahu Red. “Pertahankan ya, cari jalan keluar.”


Red wajib menyelesaikan ini, tapi masalahnya Sea, wanita itu keras kepala.


“Mama tahu kamu pasti sudah memikirkan jalan keluar. Mama yakin kamu pasti tahu harus berbuat apa sekarang.”