
Rasanya menikah ternyata seperti ini. Sebulan telah berlalu, Sea merasa tidak banyak yang berubah, hanya terkadang ada cek cok karena Red jail luar biasa.
Seperti yang dikatakan Sea, wanita itu tidak mau honeymoon. Bali sudah cukup. Meskipun hanya sebentar, tapi rasa-rasanya hidup di pulau itu sama saja, tidak ada yang spesial karena Red juga sibuk bekerja. Sea sering menghabiskan waktu bermain hanya dengan Arche, berjalan-jalan dan berbelanja saja, selebihnya saat malam ia akan melihat Red sepuasnya. Dan disaat Sea merasa sudah tidak mual, ia tidak menunda untuk pulang ke Jakarta.
Dan Red juga tahu Sea sedikit muak padanya, tapi mana ada Sea akan lama marah? Wanita itu super sabar, jadi Red langsung mengiyakan saat istrinya meminta pulang.
Sea meninggalkan rumahnya untuk hidup di bawah atap yang sama bersama Red. Sea tidak tahu kapan pria itu menyiapkan rumah ini, tapi yang Sea tahu, rumah dengan gaya modern ini tampak baru, mungkin belum ada satu tahun.
Red tetap memperlakukan Arche sama seperti bagaimana cara Sea memperlakukannya. Yaitu menempatkan kamar Arche di lantai satu. Sedangkan kamar Red dengan Sea berada di lantai dua.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Sea sudah sah menjadi ibu rumah tangga bukan? Barangkali ada yang lupa jika kegiatan di pagi hari pasti akan sangat ricuh sekali.
Sea beranjak dari ranjang lalu membuka jendela, mempersilahkan cahaya masuk ke kamar, barangkali bisa membuat Red terbangun dari tidurnya. Oke, dugaan Sea kali ini salah. Red tetap memejamkan mata sembari mulut menganga. Untuk sementara Sea hanya harus menyiapkan pakaian kantor suaminya, kemeja, dasi, jas dan celana.
Langkah selanjutnya Sea keluar kamar untuk membangunkan Arche, Sea sudah mendisiplinkan si baby untuk bangun tepat waktu sejak dini, memperhitungkan jam tidur agar terbiasa sampai dewasa nanti.
Sea kembali lagi ke kamarnya, tugasnya belum selesai, ia harus membangunkan Red. Sea sampai manabok pundak Red, menjambak rambut pria itu juga, bahkan Sea juga tak segan untuk meremas bibir Red karena Sea mulai tahu pria itu sangat sulit dibangunkan.
Astaga.
Tapi tidak ada yang sia-sia, Red mengedipkan mata, menguap dan menggeliat. Syukur, tanda kehidupan sudah ada. Sea segera pergi lagi ke kamar Arche atau ia akan berakhir bersama Red diranjang lagi, kadangkala pria itu tak segan menarik Sea untuk diajak tidur bersama, beruntung pagi ini Sea dapat menghindar sebelum Red melakukannya.
Pekerjaan Sea sangat berat.
Arche sudah tampan karena Sea sudah memandikannya. Baby empat tahun itu sudah duduk di meja makan sembari menunggu makanan yang disiapkan Bibi Rini yang di bantu sedikit oleh Sea. Bersamaan dengan itu, Red datang datang dari arah tangga.
Pria dewasa itu sangat tampan, satu tangan membawa tas kerja sedangkan tangan lainnya membawa jas yang masih enggan dipakai karena dasi yang masih belum dikaitkan di kerah kemeja.
Sea mendengus, sampai kapan Red bisa menyimpulkan dasi sendiri?
Sea mendekati suaminya, mengambil tas Red untuk di taruh di kursi sebelum mengambil alih dasi bermotif garis-garis dan dipasangkan pada suaminya.
Red tersenyum tidak mengalihkan pandangan pada Sea yang sibuk mebenahi dasinya.
Sea merasa puas setelah Red terlihat rapi dengan dandanannya, wanita itu tidak lupa memakaikan jas untuk Red. Setelah semua pekerjaan sudah beres, Sea mengangguk mantap.
“Mom, morning kiss.” Ujar Red sembari menarik tangan Sea yang sudah akan pergi.
Dengan percaya diri Red memejamkan mata, namun bukan kecupan yang ia dapat, justru bibir seksinya mendapat tabokan dari telapak tangan si istri.
Red menggerutu mendapat perlakuan sepeti itu, tidak puas, walaupun tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, akhirnya Red mencuri saja sebuah ciuman.
Padahal dua perkara mengecup dan dikecup itu sangat berbeda, pun rasanya juga tak sama. Tapi apa daya Red yang mempunyai istri jual mahal.
Yang dicuri ciuman tidak bisa marah, Sea tidak mau membakar emosi pagi-pagi, ia ingat perkataan Arche agar bisa menahan amarah, hidup harus bahagia.
“Nanti kamu lembur?” Sea akhirnya bertanya dan menghadap suaminya.
Red terdiam sejenak, pria itu berpikir sebelum akhirnya menjawab. “Aku usahain nggak lembur ya.”
Mungkin Sea berharap Red akan banyak menghabiskan waktu dirumah, tapi ia sadar seorang pengusaha tidak ada waktu luang untuk keluarga, apalagi Red yang harus memegang semua aset Ardibrata, jadi Sea maklum.
Red menghabiskan waktu sepanjang hari untuk bekerja, pulang ke rumah jika sudah malam, terkadang membangunkan Sea jika minta jatah saja.
Arche juga sempat protes kepada Ayahnya, tapi bisa apa bayi itu.
Meskipun terima, Sea tetap dongkol. “Hari ini bawa Arche bisa nggak?”
Red menyahut cepat. “Kamu mau kemana?”
“Nggak ada, Arche nanyain kamu terus.” Balas Sea santai. “Kangen sama Daddynya.”
Meskipun Red merasa bersalah, pria itu justru tersenyum. “Bisa. Setiap hari sebenarnya bisa.”
Sea terdiam tak menanggapi apapun.
Setelah Red menunduk dan mencium perut Sea, pria itu berdiri tegap lagi. “Maaf.” ucapnya.
Sea mendongak. “For?”
“Proyek hampir selesai, aku kejar target, setelah semunya launch, aku bener-bener nggak akan lembur, akan banyak waktu luang buat kalian.”
...***...
Sea termanung mendapati satu botol parfume ukuran kecil berada diantara parfume lainnya. Sea tahu persis model ini di khususkan untuk wanita. Sea sudah sebulan tinggal di kamar ini, tapi kenapa ia baru pertama kali mendapati parfume wanita ada di lemari parfume milik Red.
Beruntung mual-mual Sea sudah sembuh, wanita itu langsung menyemprotkan parfume itu, dan benar, aroma yang ditimbulkan sangat manis dan tidak mungkin Red membeli maupun memakainya karena Sea belum pernah mecium bau parfume ini dari tubuh Red.
Pertanyaannya, milik siapa parfume yang ada di tangan Sea sekarang?
Setelah selesai sarapan, Sea ingin pergi sebentar menemui Latania karena Arche benar-benar ikut Red ke kantor atas permintaannya. Namun langkah Sea tertahan sampai satu jam, wanita itu masih duduk di ranjang dengan satu botol parfume di genggaman.
Sea benar-benar menemui Latania di sebuah cafe matcha dan memesan es krim duluan. Wanita hamil itu menunggui Latania hampir sepuluh menit sebelum gadis Thailand itu akhirnya muncul juga.
“Wassap bumil.”
Sea memutar bola matanya, dasar Latania si kelebihan tenaga. Latania meringis dan semangat saat melihat Sea, gadis itu juga tidak lupa mengusap perut Sea yang masih rata.
“La, mungkin nggak cowok kayak Red suka sama parfume cewek modelan Dior? Manis bunga.”
“Lo tanya apaan deh?” Latania mengedipkan mata, namun sedetik kemudian gadis itu berteriak. “Jangan bilang lo mergokin Red pulang malam dan lo nyium bau parfume cewek.”
Astaga, kenapa larinya jadi kearah sana sih? Sea memejamkan mata karena banyak sekali pengunjung cafe yang menoleh kearahnya.
“Santai dikit Latania.”
“Nggak bisa dibiarin!!” Latania bertambah emosi.
Sepertinya Sea memang salah memilih bertanya kepada gadis bar-bar seperti Latania.
“Laaa…..”
“Red selingkuh?”
Sea terdiam. Jawabannya tidak tahu. “Aku ngajak kamu kesini tuh bukan mau bahas itu. Sini cepet duduk.”
“Jangan ganti topik.” Selak Latania. Ia tidak mau mendengar pegalihan dari Sea. “Ngomong sama gue. Red selingkuh?”
Padahal Sea tidak pernah bilang Red selingkuh.
Sea menggeleng, es krim matcha sudah datang dan wanita itu langsung memakannya. Keadaan perut yang sudah normal membuat Sea memesan es krim sangat banyak. “Huwaa seneng banget, Latania thanks, pilihan cafe ini recommended banget.”
Keduanya mungkin saling berbicara, namun Sea dan Latania jelas berbeda arah.
Latania mengerutkan kening. Gadis itu selanjutnya menundukkan badan lebih mendekat pada Sea. “Enggak kan Se?”
Tentu saja gadis keras kepala seperti Latania tetap mempertahankan topik yang sedari awal mencokol otaknya.
Sea menaruh es krim di meja, mendongak menatap Latania dengan senyuman penuh dan berkata dengan santai. “Mau selingkuh atau enggak sebenarnya nggak ngaruh sama aku La. Anak juga udah dua.”
Padahal Sea pernah mengatakan agar Red jangan mengecewakannya. Tapi jika itu benar terjadi, apa yang harus di pertahankan? Tidak ada. “Hati Red untuk siapa, aku nggak berhak melarang meskipun Red sering bilang dia cuma cinta sama aku.”
Dengan begitu Sea menegaskan jika siapa yang ada di hati Red bukanlah tanggung jawabnya. Semua orang berhak memiliki apa itu cinta, mau diberikan kepada siapa saja juga terserah mereka. Dan jelas hati Red adalah milik pria itu sendiri. Sea tidak berhak ikut campur.
Kenapa Sea sampai berpikir dan menganalisa sejaih ini? Karena pada dasarnya Sea sedang dilandai badai gundah.
Lalu Sea menggeleng. “Kalaupun hati Red nggak bertahan lama untukku, aku juga nggak berhak ngelarang Red buat jatuh ke wanita lain.”
Latania mendengus tak percaya. “Tapi dia suami lo bego!”
Sebal kan jadi Latania. Sea memang se lempeng itu.
Sea terdiam, wanita bersurai pirang itu tidak marah meski dikatai bego.
Apakah karena Red suaminya jadi menurut Latania Red tidak boleh menjatuhkan hati pada wanita lain? Jika itu benar, lantas Sea harus bagaimana jika semua yang di khawatirkan olehnya benar-benar terjadi.
“Sekarang bilang sama gue. Lo harusnya nggak sesantai ini kan?“
Benar yang dikatakan Latania, harusnya Sea memiliki sesuatu seperti perasaan marah atau murka yang membakar di dalam hatinya.
Tapi Sea itu siapa? Memangnya ia berhak?
Dulu alasan Sea menikah dengan Red karena ada bayi kedua, pun karena ia merasa Arche juga butuh sosok ayah dalam hidupnya. Bahkan Sea tidak yakin ia berada di dalam sebuah kehidupan pernikahan. Sea hanya menjalani hidupnya, mengikuti alur saja.
Tapi kenapa sekarang Sea merasa alasan awal itu terasa omong kosong belaka? Kenapa Sea merasa ada sesuatu yang berbeda?
Sea bagai terkurung di dalam labirin.
“Aku udah nyaman di pernikahan ini meskipun alasan nikah karena Arche.” Entah darimana tiba-tiba kalimat itu muncul dari mulut Sea.
“Terus, maksud lo soal parfume?”
“Red nyimpen parfume cewek di lemarinya.”
“Sh*t. Anjing.” Latania tidak bisa menahan umpatanya. “Cowok emang gitu? Lo udah pastiin parfume siapa? Red bener-bener sinting. Giliran udah dapet enak gitu berpaling.”
“La, aku nggak bilang Red selingkuh. Belum tentu juga parfume itu milik cewek lain, atau ceweknya Red. Siapa tahu itu milik Ibu kirana.”
Latania gemas sekali. “Labil banget sih, tadi lo bilang seolah-olah ragu, ngomong segala macem tentang hati Red bukan hak lo. Dan sekarang lo seakan-akan ngebela Red.”
Sea mendengus. “Aku lagi hamil muda Latania. Emosi lagi naik turun. Makanya aku bilang jangan di bahas ya jangan. Kamu tanya mulu.”
Melihat Latania segera meminuh air putih dengan tegukan besar-besar, Sea menyandarkan punggung di sofa. Sea merutuki diri sendiri, kenapa juga ia harus bingung dengan perasaan disaat ia sudah setua ini. Kenapa juga harus dilema hanya gara-gara Jared Ardibrata.