
Sudah sangat lama Sea tidur tidak ditemani dengan mimpi indah, namun sayang, mimpi itu harus terhempas jauh kala ia merasa sebuah kecupan mendarat di bibirnya singkat namun berkali-kali, bahkan Sea tak perlu membuka mata hanya untuk tahu siapa yang berani menyentuh bibirnya dengan intim.
Sea tetap diam, ia tidak mau merespon dan melanjutkan tidur, lebih tepatnya Sea berpura-pura agar malam tak berakhir dengan panjang dan panas.
“Sea, Mommy, sayang.” Red berbisik lirih, pria itu tak berhenti menggoda dengan tujuan memabngunkan istrinya, berpindah posisi, kali ini Red mengendus leher Sea yang praktis menimbulkan afeksi menggairahkan. “Mom, nggak usah pura-pura tidur. Dua hari kamu tidur bareng Arche terus.”
Sea tetap sama, diam tak bereaksi apa-apa.
Masih ingat bukan jika pria Ardibrata itu keras kepala? Tidak mau membiarkan Sea mempermainkannya, Red menarik gaun istrinya itu keatas praktis membuat Sea membuka mata dan langsung memelototi suaminya.
Red benar-benar orang ini.
Red tersenyum, sengaja menyulut emosi.
“Mom, malam ini pindah, jangan tidur bareng Baby.” Red merayu, karena benar yang dikatakan, Sea selama dua malam tidur dengan Arche dan membiarkan Red sendirian dan hanya ditemani gelap.
“Aku lagi nggak pengen ngapa-ngapain, apalagi apa itu, kamu biasanya ngomongnya apa, oh ngew*, aku lagi nggak mau.” Tolak Sea mentah-mentah dan menyingkirkan tangan Red dari pinggangnya. “Aku tidur bareng Baby lagi malam ini.”
Kali ini Red menatap Sea lemah, pria itu berpikir sejenak setelah menghebuskan napas kecil. “Marah ya?” tanyanya lembut.
Sea tidak menjawab.
Pasalnya apakah pertanyaan itu perlu dijawab?
Sea merasa Red tidak perlu diberi jawaban atas pertanyaan tolol yang kelaur dari mulutnya, jelas, tidak bisa diragukan karena benar Sea marah.
Dua hari yang lalu, pria itu berjanji pulang tepat waktu, tapi apa yang Red lakukan benar-benar membuat Sea muak. Arche dikirim ke rumah sore hari oleh sekertaris pria itu, Melody. Saat Sea menanyai Melody, perempuan itu menjawab hanya diberi mandat untuk mengantar Arche pulang, selebihnya tidak mengatakan apa-apa.
Sea tidak pernah menuntut banyak hal, atau Sea tidak juga ingin diratukan yang apa-apa harus dituruti. Tapi setidaknya jika keadaan tidak memungkinkan untuk Red lakukan, pria itu jangan membuat janji. Bukankah Sea sudah bertanya perihal pria itu lembur apa tidak? Jika Red pintar harusnya pria itu hanya menjawab lembur, maka urusan beres. Tapi nyatanya apa, Red seperti memberi harapan tapi ingkar.
Arche menunggu ayahnya sampai jam sepuluh malam hingga baby itu kecapekan dan tertidur samapi tidak sempat melihat Red, keesokan harinya Red lembur lagi, lalu malam ini? Lihat, pria itu baru pulang tepat pukul jam setengah dua belas.
Apalagi Arche yang sudah pintar berbicara, protes dan marah. Sea sampai kualahan menjelaskan bagaimana sibuk Ayahnya itu. Sea sempat berpikir, jika saja Arche tidak mengenal Red, hal merepotkan ini tidak akan mungkin terjadi.
“Maaf.” Tidak bisa dipungkiri, raut wajah Red memang bersalah.
“Terlambat.” Ujar Sea cepat, wanita itu menggeleng, ia juga dapat melihat bagaimana bentuk kantung mata Red beserta warna yang mulai menghitam, tapi itu tak membuat Sea iba. “Lagian kamu nggak ada perlu minta maaf ke aku. Minta maaf harusnya ke Arche.”
Sea mendudukkan diri, melihat Arche di samping kiri dan menarik selimut yang tak sampai pundak baby itu.
“Lagian kalau nggak bisa nepatin janji jangan ngasih harapan palsu.” Red diam mendengarkan apa-apa yang akan dikatakan Sea, ia pantas mendapatkannya. “Umur segitu paling peka nangkep hal baru, direkam di otak dan di inget-inget terus. Kamu kalau mau Arche jadi anak baik, bilang, kasih penjelasan kalau kamu sibuk, kalau kamu belum bisa pulang cepet, lama kelamaan Arche juga bakal paham. Nggak mau kan Arche niru kamu?”
“Enggak.” sahut lelaki itu. Red meraih tangan Sea dan berujar sekali lagi. “Maaf.”
Dan disaat Sea hampir luluh entah bagaimana bau harum menguar sangat lekat dari tubuh Red. Wangi itu, parfume itu.
Sea tidak yakin ini adalah dirinya sendiri saat ia dengan sengaja mendorong Red secara tiba-tiba, mata Sea memanas dan wanita itu beranjak dari duduknya untuk berlari keluar kamar, Red diperlakuakn seperti itu tak membuang waktu untuk segera berlari menyusul istrinya.
“Kamu punya pacar?” Tanya Sea saat wanita itu membalik badan, ia tahu betul tempat ini sudah keluar dari area kamar putranya dan Red juga ada dibelakangnya.
Kenapa tiba-tiba? Punya pacar? Apa Sea bercanda? Tapi Red merasa tatapan Sea menakutkan. Ia yakin malam yang harusnya indah berubah mencekam.
Red terdiam, ia lebih berani menatap mata Sea karena pria itu serius butuh jawaban. Seriuskah? Atau hanya pertanyaan iseng belaka?
“Hah?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Red akhirnya, karena sumpah demi apapun pertanyaan Sea aneh.
Sea menarik napas singkat. “Waktu kamu di Dubai, enam bulan, Rubby juga disana.”
Hal paling pertama yang Sea ingin pastikan adalah bau parfume Rubby yang mengganggu ketenangannya.
Dari jarak sekitar dua meter, Sea dapat melihat mata Red melebar. Pria itu diam dan Sea yakin memang ada yabg disembunyikan.
“Kamu tahu sendiri aku kerja, Rubby juga kerja, kamu sendiri yang minta. Lalu masalahnya?”
“Kenapa kamu nggak ngubungin aku selama lima bulan terakhir?”
“Apa kamu mau ngangkat telfon seandainya aku hubungin kamu terus-terusan? Kamu nggak inget berapa kali nomerku kamu blokir?”
“Lalu bagaimana dengan janjimu di rumah pohon terakhir kali? Apa kamu pikir aku wanita gampangan yang mudah mengabaikan janji orang?”
Hening, setelah pertanyaan bertubi itu Red tak berkutik.
“Aku mau telfon Melody.” Sea melenggang pergi mengambil ponsel di dalam kamar Arche, tak lama wanita itu muncul kembali.
Good job. Panggilan tersambung. Mengenahi bagaimana Sea mendapatkan nomer Melody, jawabannya dua hari yang lalu saat Melody mengantar Arche pulang.
“Se…”
Sea tersenyum kecut saat Red memanggil namanya lirih.
“Halo Miss.”
Sea menarik napas dalam. Ia tak putus menatap Red dari jarak ini.
“Melody, saya mau tanya, waktu di Dubai…….”
Sea melotot saat ia akan mengatakan hal banyak ponsel di tangannya sudah hilang dirampas oleh Red. Pria itu mematikan sambungan telepon. Sea dapat melihat bagaimana wajah Red yang mendadak mengeras.
“Sialan, pembohong.” Sea menatap tajam penuh desisan kepada suaminya.
Red menurunkan emosi, pria itu menarik napas dalam. “Kamu nggak perlu tanya orang lain, tanya semuanya ke aku, aku bakalan jawab.”
Sea berdecih. “Apa kamu pikir aku masih bisa percaya kamu setelah apa yang kamu lakukan barusan?”
Red menatap Sea dengan raut memohon, berharap Sea menyudahi pertikaian ini. “Sayang, buk…”
“Aku orang yang sangat sulit percaya dengan orang lain, butuh banyak waktu buat aku yakin bisa nikah sama kamu. Aku berusaha percaya.” Perkataan Sea meskipun terlihat tenang tapi sebenarnya wanita itu sedang mengungkapkan kekecewaan. “Aku istri kamu Red. Bukan cuma wanita pemuas saat kamu butuh di ranjang aja.”
Kali ini Red menggeram. Kalimat menusuk dengan nada penuh kesedihan membuat Red menutup mata.
Apakah yang disampaikan Sea menjurus soal pernafsuan saja? Jika itu benar, Red tidak butuh Sea, ia bisa mencari wanita manapun diluaran sana.
Red menggeleng kecewa. “Kamu bilang berusaha, tapi ini usaha kamu, tetap nggak percaya sama aku?”
“Iya aku nggak percaya.”
Red menggeleng. “Apapun yang berkaitan dengan Rubby kamu selalu emosi, selalu nggak percaya dan curiga. Aku udah berusaha, tiap kali kamu ngomongin Rubby sebisa mungkin aku mengalihkan pembicaraan, ya biar nggak begini, nggak bikin emosi.”
Dengan jelas Red menghindari pertikaian. Maka dari itu Sea terdiam. Apa artinya jika Red jujur sejak awal Sea akan menerima hubungan yang harusnya tidak boleh terjadi? Apakah jika sejak awal semua saling terbuka Sea tidak akan memulai pertikaian penuh emosi?
Tapi mungkin tidak.
Sea rumit. Red berpikiran begitu bukan? Sea yakin dirinya memang rumit, dan Red frustasi karena Sea memang tidak mencoba untuk mempercayainya.
Sea menunduk lesu. “Kamu ada sesuatu lagi sama Rubby?”
“****, fu*k.” Pria itu mengeram emosi sembari meremat rambutnya sendiri. “Pertanyaan tolol darimana? Nggak mungkin Sea.”
Sea akhirnya mendongak. Dengan netra sedih ia menanyai Red lagi. “Yaudah, aku mau penjelasan kamu.”
“Dubai?”
Sea mengangguk.
“Selama satu bulan aku hubungin kamu terus, kamu cuek, tiap aku telfon kamu selalu kasih ke Arche, nah kamu pikir aku nggak kangen kamu? Dari situ aku berpikir, aku nggak mau telfon lagi karena aku takut kamu blokir nomerku. Setidaknya aku tahu kamu masih buat story yang bisa aku lihat. Untuk lima bulan terakhir. Aku benar-benar kerja, aku nggak aneh-aneh, kamu boleh tanya Jantis, anak itu juga ada disana kalau kamu lupa. Atau Melody, kamu besok bisa oergiy ke kantor buat tanya dia, bukan malam-malam ganggu orang istirahat.”
Sea hanya terdiam.
Entah setan apa yang merasuki Sea hingga ia bisa emosi dengan kecurigaan tak mendasar seperti ini. Jika dibicarakan baik-baik begini jauh lebih enak kenapa Sea memilih sebuah perdebatan. Sea bisa saja mengabaikan bau parfume Red persis seperti milik Rubby dengan dalih pria itu memang penyuka wangi feminim, tapi Sea malah membuatnya jadi masalah.
Sea malah membuat Red marah, membuat Red menangis seperti sekarang.
Tiba-tiba sesak menyerang dada Sea. Wanita itu tak bisa menjeda untuk mengeluarkan air mata. Sea berada di puncak kebingungan. Pertanyaannya kenapa? Kenapa Sea bisa segundah ini?
Red melihat Sea dalam kecemasan wanita itu, membuat Red sama sesak karena baru pertama kali Sea menangis pilu. Dan Red tak menunda untuk meraih Sea dalam pelukan.
“Aku bukan pria semacam itu Sea. Aku nggak mau ngungkit, tapi aku cuma mau kasih tahu kamu. Aku bukan pria yang bisa hidup dengan dua wanita. Apa kamu ingat, aku benar-benar mengabaikan perasaanku sendiri demi janji yang aku buat dengn Rubby, artinya aku mengabaikan kamu saat aku sangat mencintaimu karena aku punya komitmen kuat waktu itu. Dan sekarang, apa mungkin aku bisa nyia-nyiain kamu saat orang yang paling aku inginkan cuma kamu.”
“Rubby masih cinta sama kamu.”
Red memejamkan mata. “Perasaan orang nggak penting, yang penting sekarang itu aku dan kamu, buat komitmen bersama. Kamu bisa mikirin perasaan Rubby tapi kenapa nggak bisa mikirin perasaanku.”
Red mendekap Sea lebih erat dari sebelumnya. “Aku cuma sayang sama kamu Sea.”
Detik itu ada perasaan aneh dalam hati Sea. Dekapan Red kali ini berbeda, lebih hangat dari sebelumnya. Apa karena ada bumbu sayang yang terucap dari pria itu?
Dan wangi ini? Tetap menjadi penganggu.
“Parfume siapa yang kamu pakai?”
Red menguraikan pelukan. “Parfume ini?” Red mengedus badannya sendiri sembari bertanya mesmastiakn, meliahat keterdiaman Sea lagi, pria itu menjawab. “Sky yang beliin, dia tahu kamu mual-mual, dan Sky juga tahu aku nggak bisa nggak pakai wewangian, jadi dia pilihin aroma yang agak ringan. Tapi meskipun begitu akan nggak mau pakek apapun sampai kamu udah nggak mual lagi. Dan sekarang aku tahu kamu sudah nggak mual-mual, makanya hari ini aku mulai pakai parfume ini.”
“****. Fu*k. Red, aku mulai sayang sama kamu. Karena itu aku curiga. Kalau enggak, aku nggak akan peduli kamu mau ada affair sama siapaun itu.” Kecurigaan itu yang membut Sea seperti orang tolol.
Bolehkan Red menjadi satu-satunya pria paling bahagia malam ini? Setelah pertikaian hebat dan sedikit penjelasan mampu membuat Sea mengatakan sayang. Red bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi?
Sea lebih mendekat, menaruh telapak tangan untuk mengungkung pipi suaminya. Kemudian Sea berjinjit, mengecup bibir Red dan berujar pelan. “Daddy, maaf.”