
Bersama langkah yang menjauh hingga punggung di telan pintu, dengan tatapan terakhir sedingin jeruji besi berlapis tujuh, Red meninggalkan Sea dalam keterdiaman tanpa melawan, bahkan sedikit mengelak saja tidak.
Red kebingungan sendiri dengan dada yang tak berirama sama seperti milik Sea, jika gadis itu normal-normal saja, kenapa Red harus merasakan tekanan yang hampir membuatnya meledak?
Red meraih ponsel, melihat lagi gambar yang ia terima satu jam yang lalu, Rubby bersama Geido dengan ciuman bibir tak berjarak, pinggul seksi Rubby yang dielus posesif dan tangan si gadis yang merangkul agresif.
Pantaskah Red tertawa dengan keadaan yang memcengkram hatinya dengan membabi buta? Jika jawabannya tidak pantas, lantas bagaimana dengan tawa Red yang mengudara dengan mata berkaca-kaca?
Ditengah riuhnya pesta, beserta langkah Sea yang menuruni tangga, Red sempat terpaku saat mata gadis itu menatap kearahnya sejenak dan tak lama berpaling karena Latania memanggilnya, menggiring ke tengah untuk berbincang dengan pemuda pemudi lainnya.
Para orang tua sudah tidak ada, meninggalkan acara karena mereka tahu yang muda sudah menguasai tempat, bahkan Red juga tak melihat Jeremy si casanova karena pemuda itu yakin dengan membawa bayi, Jeremy tak akan berlama-lama berada di tempat ini.
"Hai Red. Sea dimana?" Pemikiran yang penuh, Suri menghampiri Red dengan pertanyaan.
Red menaikkan satu alisnya, terlihat kentara jika ia sedang di herankan dengan kehadiran Suri yang begitu khawatir ingin menemukan Sea. Pertanyaannya, Jeremy dimana?
Dilihat dari kacamata biasa pun, tidak akan pernah ada yang curiga dengan problema rumah tangga dengan Sea yang hadir diantara mereka, bahkan Suri memang terlihat dekat dengan Sea.
Red memberanikan diri karena penasaran mencokol sampai dasar otak. "Ada apa cari Sea?" tanyanya, senormal mungkin dengan raut sedikit tersenyum. "Sea tidak enak badan, sudah pamit duluan."
Karena Red baru saja mendapti Sea menghampiri Davis, pria tua sebagai Ayah Sea itu sedikit khawatir dan menempelkan punggung tangan di dahi putrinya. Mungkin Sea memang tidak enak badan.
Apa karena Red menciumnya?
Entahlah.
Raut muka Suri berubah, sedih kentara jelas di wajahnya yang ayu rupawan. Balutan dress putih senada dengan suaminya Jeremy menambah kesan sexy karena dibagian lengan bebas tanpa kain, sedangkan pinggung melekuk berbentuk. Jika dipikir, apa lagi yang diperlukan Jeremy dari tubuh Sea sedangkan istrinya sudah luar biasa?
Pemikiran itu terus bergelut bagai kemelut tak kunjung susut.
"Terimakasih Red. Dia pulang atau kemana? Kalau pulang, dia pulang ke rumah orang tuanya atau di perumahan Green House?"
Jantung Red rasanya berhenti saat ini.
Green House?
Suri tahu tempat itu?
"Green House?"
Suri mengangguk. "Iya, kalau Sea di Green House, kebetulan sekali, aku lebih baik kesana langsung, kebutuhan Robby tertinggal saat aku berkunjung tempo hari."
Robby, nama anak Suri dan Jeremy.
Apa ini? Apakah Red salah paham menuduh Sea bersama Jeremy tempo hari, melainkan gadis itu sebenarnya bersama Suri.
Tapi benarkah begitu. Lalu apa arti dari diamnya Sea? Lalu apa arti dari tatapan Sea yang dalam kepada Jeremy? Lalu apa arti jawaban berbelit yang Jeremy ungkap dengan terang-terangan?
Apa?
***
Sea benar-benar tak terlihat selama satu minggu, Red sengaja mencari tahu, dengan mengendap-endap rumah sebelah, mengaku kehabisan air minum dan berakhir menggeledah lemari es keluarga Martin. Atau berlagak mencari stick golf karena kepunyaan pemuda itu hilang entah kemana, bahkan memberanikan diri masuk kamar Sky untuk mencari prahara agar mengundang atensi dan berharap Sea keluar dari kamarnya.
Namun nihil.
Dan itu membuat Sky mengerutkan kening. "Lo apa-apaaan sih bang, malem minggu sono lo pergi, ganggu orang main ps. Nggak ada kerjaan lo? Nggak kencan? Sono kecengin pacar posesif lo."
Mata Red berkedip-kedip. Bahkan ini malam minggu, hari dimana Sea selalu mengganggu. Kemanakah gadis itu?
"Kakak lo kemana?"
"Tanya sendiri, punya nomernya kan? Tapi mau apa lo nyariin kak Sea?"
"Nggak terkirim. Heran, malem minggu nggak ganggu gue."
Sky mau tak mau terkikik dan membalikkan badan dari layar televisi. "Ya pantes nggak terkirim. Kak Sea ngomongnya ke Australia."
Red membeo, gadis sulung Martin bukankah selangka itu, bepergian ke luar negeri bagai rutinitas yang biasa saja dijalani.
"Kenapa lo nyariin kakak gue, bang? Gue serius tanya."
"Kepo." Red menutup pintu kamar Sky dengan keras.
"Urusin pacar lo, jangan ganggu kak Sea."
Meski kamar Sky tertutup, suara nyaring gadis itu masih di dengar oleh Red. Pemuda itu abai dan menuruni anak tangga untuk pulang kerumahnya.
Mengenahi pacar?
Huh. Sky seperti mengingatkan saja. Seminggu penuh Red berdiam diri, mengatasi sakit hati akibat ulah Rubby dan menyalahkan diri sendiri karena tuduhan Sea tak terbukti.
Hingga waktu berlalu, dan malam tiba dengan langit mulai menggelap, Red berdiam diri, tak melakukan pergerakan berarti sampai satu pesan membuatnya berubah pikiran, Rubby mengajak makan malam.
***
Restoran yang mereka booking berada di tengah kota, sebuah restoran Prancis dengan varian berbagai menu berada di dalamnya. Desain minimalis dan elegan menabah suasana terkesan mewah, Red terduduk disamping Rubby untuk makan malam.
Setelah suasana hati mampu Red atasi, mana bisa ia mengabaikan Rubby sampai berhari-hari, seminggu sudah cukup.
Rubby terlihat anggun dalam balutan gaun warna peach. Keduanya menyantap makanan dengan diiringi obrolan ringan. Jika Rubby sampai bisa tertawa dengan lebar, tidak dengan Red yang membawa sakit hati namun tetap memaksakan.
"Kamu kenapa diemin aku terus seminggu ini?" Rubby bertanya setelah obrolan yang nampak akrab berlalu, dan itu yang mendorong gadis itu untuk berani menanyakan kegundahan hati. "Harusnya aku yang marah karena kamu dateng di pesta Sea." Protesnya melanjutkan.
Jika Red bukan laki-laki dengan kesabaran luar biasa, maka bisa saja pemuda itu menyiramkan cocktail dari campuran minuman bersoda dan potongan buah.
Namun alih-alih muram, Red justru tersenyum, sangat tampan sampai-sampai ada sepasang kekasih bertengkar karena si wanita terlalu menatap meja dimana Red berada.
Rubby menunggu jawaban Red, tangan lentiknya memegang pisau kecil dan garpu, berusaha mengiris daging di atas piring, menjadikan potongan-potongan kecil sebelum memakannya.
"Iya maaf."
"Seloyo itu? Aku kira cinta pertama itu cuma cinta monyet belaka, tapi aku nggak nyangka, kekasihku terpesona sampai tak bisa lupa." Rubby mengulum senyum setelah mengatakan sindiran dengan lembut. "Disini yang jahat sebenarnya aku apa kamu? Disini yang sudah berkorban banyak aku atau kamu? Dan menurut kamu, aku harus tetap bertahan atau pergi jauh dari kamu?"
Red berusaha menahan diri, takut jika semua yang keluar dari mulut menjadi mala petaka tak berujung di kemudian hari.
Pengorbanan Rubby, jelas banyak, penyerahan kegadisan adalah harga setimpal untuk menjadikan Rubby pelabuhan terakhir, Red tidak mau brengsek main celup sana-sini, dan banginya, Rubby sudah menjadi yang pertama, dan akan menjadi yang terakhir.
Red menyesap minuman berbuih, warna strawberry mengingatkan Red pada bra yang ia beli waktu itu untuk mengganti pakaian basah Sea. Ia teringat bagaimana Sea meringis menahan malu saat dimandikan di pinggiran jalan, Sea dengan muka merah padam saat banyak pengendara yang melihat kearahnya.
"Red, jawab, kamu ngelamunin cinta pertamamu."
Red secara tidak sadar mengangguk. Namun, saat mata Rubby mulai berkaca-kaca ia langsung menggeleng kuat, kelabakan dan mencoba menahan kontrol untuk menyentuh pipi gadisnya.
Bayangan di photo saat Rubby berciuman dengan Geido kembali menyeruak di ingatan, tapi Red menahan untuk tidak murka, bahkan saat ini pemuda itu meraih tangan Rubby. "Bagaimana kalau kita dansa?"
Ajakan Red disambut anggukan oleh Rubby. Gadis itu tahu, Red sedang memohon kepadanya agar tak membahas masa lalu yang dapat memporak-porandakan hubungan yang terbentuk sedari dulu. Red sedang mencoba menguatkan hati agar tetap berdiri teguh disamping Rubby, jelas gadis itu paham.
Pengorbanan keduanya sama besar.
"Jangan marah." ucap Rubby di sela musik.
Red menatap bingung. "Aku nggak marah."
Rubby tersenyum simpul, meletakkan kepala di bahu kekasihnya. "Maaf, aku tidak akan membahas masa lalu, cinta pertama kamu dan segala tentang gadis itu."
"Secara nggak langsung, setiap hari kamu selalu mengingatkanku, cukup percayai aku, maka tidak akan ada hal buruk yang terjadi."
Rubby mendesah samar, merasa kekecewaan dalam hatinya. Red begitu kuat menyimpan lara hingga gadis cinta pertama kembali dan merusak perasaan yang sudah tertata rapi. Rubby susah payah membuat Red menjauhi para gadis-gadis lainnya agar pemuda itu tak terpedaya, jika si gadis cinta pertama saja tak bisa membuat Red jatuh terlalu dalam kepada Rubby, bagaimana jika Red berdekatan dengan para gadis lainnya, bisa jadi peluang Rubby tidak begitu besar.
"Kenapa diam saja?"
"Aku takut Red." Rubby mendongak.
Red manautkan alis. "Takut apa?"
"Takut kamu berpaling, takut kamu mengulang masa lalu dan hubungan yang kita jalani gagal total."
Suara tawa kecil keluar dari mulut Red. Penuturan Rubby menurutnya sangat lucu. "Bagaimana aku akan pergi jika saat ini saja kamu yang ada dipelukanku."
"Hanya ragamu Red, tudak dengan hatimu. Hatimu masih berada di gadis itu. Aku mencoba menghilangkan dia dari pikiranku, sebisa mungkin tidak menyebutnya sebagai cinta pertamamu. Tapi mana bisa aku tenang saat dengan terang dia bilang menyukaimu, bayangkan jadi aku."
"Dia tidak menyukaiku. Meskipun begitu, aku jamin hanya kamu yang akan menjadi wanita terakhirku."
"Aku tidak yakin."
Red meraih kepala Rubby, merebahkan kepundaknya. "Jangan ngaco, nggak lucu." Meski mengatakan itu, namun bayangan lain yang melintas di kepala Red.
Sialan.
Keduanya berdansa sampai dua putaran lagu. Setelah makan malam selesai, Rubby diantar oleh Red ke apartemen, niat Red untuk merebahkan tubuh di hunian gadisnya ia tunda, Red sedang tak tenang hati, pun pikiran yang menyabang kemana-mana.
Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Red memutuskan untuk menginap di apartemen miliknya sendiri, tidak pulang ke rumah keluarga Ardibrata.
Tujuan Red ingin menghabiskan Rokok dan sedikit minuman alkohol, pemuda itu benar-benar penat.
Tangannya merogoh saku celana, dan mulai membuka lock yang menampilkan layar utama, belum lebih dari lima detik, pesan masuk dari orang yang selama seminggu tak ia lihat batang hidungnya membuat Red berdiri tegak.
Sea:
Red, kamu dimana?