Moon

Moon
Best friend



“Asem, anjrit, crazy, you are.”


Sea terdiam melihat kehebohan Latania. Seruan teramat bising ditelinga itu Latania ungkapan dengan duduk bersila di atas sofa disebelahnya.


Sea yang sedang memakan sereal itu berkedip polos, ia hanya menyaksikan temannya yang tersentak kaget mendengar berita kehamilannya.


Kabar yang sebenarnya menggembirakan untuk Latania itu baru saja ia dengar dari temannya, Sea akhirnya mau menikah. Latania berpikir pernikahan Sea karena temannya itu sudah sadar, tapi nyatanya, Sea hamil duluan, untuk kedua kalinya.


Coba saja Latania tidak memberikan pertanyaan ala wartawan kepada Sea, mungkin wanita hamil muda itu tidak akan memberitahu apa alasan Sea mau menikah dengan Red.


Mulut Latania yang awalnya hanya membuka menutup beserta pelototan menyebalkan akhirnya berbicara lagi. “Bentar bentar bentar. Ini serius? Lo nggak canda kan? Bunting? Lagi?” selaknya lagi.


Sea hanya mengangguk, tetap santai seperti orang berjemur di pantai. Menikmati serela yang tidak ada habisnya.


“Ya ampun, lo kapan bikinnya coba? Kok lo nggak bilang sama gue waktu bikin? Bilangnya nggak mau, nggak mau, tiap ketemu menghindar.” Sela Latania lagi. “Eh tahunya bunting.”


Mendapat respon seheboh ini sudah menjadi prediksi Sea sejak awal, jadi wanita itu tidak bisa terkejut lagi. Sea sudah menyiapkan selama lebih satu minggu untuk berhadapan dengan Latania. Namun yang menjadi masalah, bisa tidak Latania itu berbicara sedikit pelan? Ruang tamu rumah Sea menjadi bergema hanya untuk menampung teriakan Latania.


Sea merubah posisi, ia duduk menghadap Latania. “Aku setres, kamu jangan bikin aku tambah pusing, pelan dikit ngomongnya.”


“Setres kenapa lagi?” Jawab Latania dengan suara yang kebih lantang dari sebelumnya, larangan itu bukan untuk dipatuhi, tapi untuk dilanggar, bagi Latania.


“Papa belum mau pulang ke rumah, papa bilang pulang waktu hari-H akad, maksa aku buat nikah banget nggak kalau begitu caranya.” Jelas Sea sesal, raut wajahnya terlihat sedih namun tak membuat Latania mengasihi temannya itu.


Waktu itu, saat Rusdi menelpon Davis, ayah dari Sea mengatakan tidak akan pulang dulu, Davis akan benar-benar menampilkan batang hidungnya saat Sea benar-benar duduk di pelaminan.


“Stress lo bikin sendiri, makanya empukin itu tempurung kepala, kerasnya kebangeten, emang harus bunting dulu baru lo mau nikah?”


Sea menghembuskan nafas berat, tambah runyam.


“Gue bener-bener stress saat tahu hamil La.” Karena Sea harus mengalami sembilan bulan siksaan, seperti dulu saat mengandung Arche.


Sea masih ingat, bagaimana perjuangan waktu dulu, muntah berlebihan, badan kurus dan sering pingsan. Sea bukan tidak bisa menerima kehamilannya. Namun saat tubuh benar-benar serasa mau mati lantas apa yang ada dipikiran? Sea merasa kehamilannya jauh dari kata normal, jujur ia takut.


Lalu sekarang, membayangkan sembilan bulan kedepan saja menurut Sea sudah menguras banyak tenaga, dan Sea menjadi lemas.


Sea mengusap perut ratanya, lalu memandang Latania dengan cengiran. “Aku nggak tahu, meskipun aku menghindar dengan berbagai cara, akhirnya nikah juga, bener-bener nggak nyangka.”


“Lo emang harus nikah, bahkan dari dulu harusnya lo udah nikah.” Sahut Latania kemudian, boleh tidak ia merasa geram dengan temannya ini. “Jangan bilang lo masih takut sama pernikahan. Jangan bilang juga lo lebih minat jadi wanita simpanan. Lo nggak mungkin masih suka sama Jeremy itu kan?”


Sea mendengus. Kenapa membahas Jeremy saat pria itu saja sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Sumpah demi apapun ia sudah tidak pernah memikirkan Jeremy.


Latania yang melihat keterdiaman Sea akhirnya ingin mengumpat. “Lo jangan bikin gue emosi deh Se.”


Sea mendongak. “Tapi…”


“Apa? Lo nggak cinta sama Red?” Tukas Latania cepat, ia benar-benar tidak tahu isi kepala Sea. “Lo bilang nggak cinta gue getok pala lo ya. Anak udah mau dua. Emosi gue.”


Sea memejamkan mata. Percuma mendebat Latania yang tak pernah kehabisan tenaga, berbeda dengan Sea yang sedang lemas menyerana, untung baby Arche tidur dan pintu tertutup, jadi si baby tidak akan terganggu oleh vokal Latania yang tak main-main kerasnya.


“Gue kayak nggak kenal lo lagi Se. Dimana Sea yang apa-apa pakek logika?“ Latania sepertinya tidak ingin membuat Sea tenang untuk sementara, ocehanya bertambah skala. “Gue nggak tahu lo risih apa enggak tiap orang tanya dimana bapaknya Arche. Tapi lo mikir nggak sih gimana nanti Arche ditanyain soal bapaknya kalo kalian berdua enggak nikah? Lo nggak kasihan sama Pangeran Numan gue?”


Arche? Apa benar ia egois tidak memikirkan bagaimana tumbuh kembang anaknya nanti, Sea mengelus perutnya dan Latania lanjut menceramahinya.


“Anak ke dua lo juga iya.” Terang Latania yang ikut mengelus perut Sea. “Nikah nggk sesulit yang lo bayangin kok Se. Gue nggak jamin semua akan baik-baik saja, tapi setidaknya jika ada masalah, misal ngurus anak, nggak cuma lo yang mikir, ada Red yang bisa lo ajak diskusi, apalagi kalau lo cinta, semua bakalan indah.”


Latania tidak tahu benar apa tidak yang ia bicarakan, setidaknya saat ia melihat keluarganya yang bahagia, ia mencoba menasehati Sea dengan contoh yang ada disekitarnya.


Mungkin Sea biasanya akan mengancam Latania yang kerab sekali meminta perhiasan limited edition yang ia punya, mengatakan tidak akan memberikan kepada Latania jika ia sudah bosan. Tapi rasa-rasanya hari ini ia tak mampu mengancam temannya itu. Sea hanya diam.


“Gue tahu banget karakter Red. Dia itu cowok setia, Rubby contohnya. Dan setelah mereka putus, Red juga nggak gandeng cewek mana-mana, sekalinya lo ya tetep lo, dia Serius sama lo Se.” Latania mengelus rambut pirang Sea, ia tahu temannya sedang pening, tapi apa boleh buat, ia bertugas untuk meluruskan jalan pikiran Sea yang sudah terlanjur rusak. “Lo nggak mungkin nggak percaya gue kan. Take my word, Se. Gue serius, Red pilihan terbaik buat lo.”


“Aku udah terima dia, udah fitting baju juga, aku udah siap nikah La, aku udah siap jadi istri. ” Sahut Sea akhirnya. Sea memejamkan mata, masih lesu dengan pikiran yang semrawut. “Kalau masalah percaya, aku mohon jangan paksa aku untuk percaya. Aku masih berusaha buat yakinin diri sendiri. Hati manusia tidak ada yang tahu La. Semua bisa berubah arah.”


Latania tersenyum lebar. “Alhamdulillah ya Allah. Setidaknya lo sedikit berubah.”


Sea akhirnya tersenyum melihat Latania yang sedang kegirangan hanya karena ucapannya. Keduanya pun lantas tertawa bersama dan melanjutkan obrolan ringan lainnya.