
Red baru saja keluar dari tempat meeting, pria itu menggunakan setelan jas biru tua dan kemeja putih namun tanpa dasi, ya tahu sendiri, tanpa adanya Sea, apa yang bisa Red lakukan untuk dasi dasi itu.
Red bergegas menuju ruangannya oleh sebab tak ingin membuat putra tercinta menunggu terlalu lama, namun agaknya Red terlalu percaya diri menganggap Arche kesepian tanpa dirinya, lihat saja, bayi tampannya itu sedang bergembira ria dengan mainan-mainan beserta dua karyawan yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
Red menunduk ketiaka tepat di depan anaknya hingga mengalihkan atensi anak itu pada sang ayah, tak lama kemudian Arche kembali lagi pada mainan-mainannya.
Red cemberut. Ya, inilah hasilnya apabila sering meninggalkan Arche dan lebih mementingkan pekerjaan, jadi untuk Arche sendiri, bermain ular tangga lebih penting dibandingkan berlama-lama dengan ayahnya. Sungguh, Red tidak bisa membiarkan ini terjadi terlalu lama, Red akan merencanakan sesuatu untuk menyelesaikan masalah kecil ini.
Dan langkah awal Red memberbaiki moodnya adalah menarik Arche dalam gendongan dengan dua tangannya, karena demi Tuhan Arche semakin berat, sepertinya berat badan anak itu semakin hari semakin bertambah.
“Baby nggak bosen main terus?” Tanya Red kemudian.
Arche mengangguk, pelan, “Bosen.”
Berbeda dengan jawabannya, justru Arche semakin sibuk dengan rubik yang ada ditangan, setelah permainan ular tangga, bocah itu tak hilang akal, saat ayahnya menggendongnya, dengan praktis tangan mungil Arche menarik satu rubik untuk dimainkan.
“Maaf ya, daddy rapatnya pasti kelamaan.” Ujar ayah satu anak itu dengan tulus, kemudian Red menarik rubik dalam tangan Arche kemudian diletakkan di atas meja. “hari ini baby mau main ke mana?”
Arche yang awalnya hendak protes karena rubik diambil dengan paksa sontak membinarkan mata dengan ajakan ayahnya. Anak itu mengerjab imut. “Kita main sama mommy yuk, dad.”
Red pun tersenyum. “Kangen?” Tanyanya lembut.
“Iya, pakai banget.” Jawab bocah itu sembari mengangguk cepat-cepat.
Red akhirnya tertawa. “Sama, daddy juga kangen mommy, pakai bangeeeeeet.”
Mungkin sudah beberapa hari Red tidak bertemu dengan Sea. Terakhir kali saat Red memberi bukti rekaman cctv setelah pria itu pulang dari Dubai, itupun hanya sebentar, tak lebih lima menit karena Sea benar-benar tak mau bertatap muka lebih lama dengan Red.
Saat Red hendak melewati ruang Melody, sekertarisnya itu membuat gestur bahwa ada seseorang yang sedang menunggu, tepat di ruang sebelah. Red mengurungkan niat memberi wejangan kepada Melody untuk mengurus sisa pekerjaan karena Red akan pergi dengan putranya.
“Bapak, ada tamu di ruangan sebelah, katanya penting dan sudah bikin janji dengan bapak.” Ujar Melody kemudian.
Red tidak merasa memiliki janji dengan siapapun, dengan alis mengkerut, pria itu bertanya. “Siapa?”
“Bapak Homan, setahu saya Lawyer keluarga Ardikara.”
Red terdiam.
Untuk sesaat Red tidak mengatakan apa-apa sampai pada akhirnya menghela napas teramat pelan beserta mata yang tiba-tiba kepanasan. Apa Sea benar-benar serius ingin bercerai? Bahkan setelah Red membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah? Tidak berselingkuh? Wanita itu justru mengirim pengacara dengan dokumen perceraian untuk Red tanda tangani?
Red menoleh kepada Melody, pria itu menyerahkan Arche agar dijaga sebentar.
Setelah itu Red langsung masuk ke ruang kerjanya setelah menyuruh Melody untuk membiarkan tamunya masuk dalam ruangan. Red menutup pintu rapat-rapat. Red pandangi pria paruh baya dengan jas amat rapi serta tampilan yang begitu nyentrik. Pengacara yang dikirimkan Sea itu mengulurkan tangan dan menyapa dengan bahasa formal.
Kemudian Red menyuruh tamunya untuk duduk kembali.
“Pak Homan, saya tidak akan tanda tangan.” Sebelum Homan menyodorkan dokumen, Red terburu untuk mengatakan penolakan.
Red tidak akan membiarkan ada pembicaraan yang Red sumpahi tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Bayangkan saja, menunggu Sea seumur hidup, mendapatkan Sea dengan cara mati-matian, lalu bercerai dengan mudah? Enak saja! Red tidak mau.
Disamping itu Red sendiri mengenal Homan, sangat bahkan, makanya Red bisa berbicara blak blakan.
Homan memandangi Red dengan diam, tak begitu lama pria paruh baya itu tersenyum, jemarinya mengeluarkan dokumen dari tas yang ia bawa.
Meletakkan map itu di atas meja kosong, Red tidak melewatkan untuk tetap memandang apa-apa yang dilakukan oleh Homan, pun masih sama, tak mengatakan apapun lagi.
Homan menunjuk dokumen itu sembari berkata. “Ibu Sea berniat melimpahkan semua saham yang beliau miliki kepada anda Pak Arve Jared Ardibrata, saya kesini karena diutusi untuk mengurus semuanya. Jadi, mohon bapak menandatangani agar pelimpahan dapat diselesaikan dengan cepat.”
Bayangkan bagaimana terkejutnya Red mendengar pernyataan Homan.
Red terkejut minta ampun. Ia tak menyangka Homan datang menemuinya tidak untuk membicarakan perceraian. Red juga tak menyangka Sea memerintahkan pengacaranya untuk melakukan hal yang sangat mengejutkan.
Kendati senang, Red diributkan oleh pikiran yang tiba-tiba datang. Kenapa? Kenapa tiba-tiba sekali? Dan satu hal, Red sama sekali tidak mengunginkan materi dari istrinya.
Red mengerutkan kening, tersadar kembali jika hal ini juga tidak benar. Red juga tidak menemukan alasan kenapa Sea melakukan ini semua, sangat tidak masuk akal. Red mengangkat pandangan untuk menatap Homan lagi.
“Apa ada pesan dari istri saya?” Tanya Red kemudian.
Homan mengangguk. “Bu Sea berpesan, ucapan terimakasih teramat banyak karena selama ini sudah membantu perusahaan Ardikara disaat perusahaan dalam keadaan terpuruk. Dan Bu Sea menginginkan anda memegang penuh apapun yang selama ini hanya anda jalankan.”
Mendengar itu, barulah Red menemukan alasan sebenarnya.
Pikiran Red terpaut oleh prasangka bahwa Devon lah satu-satunya orang yang akan mampu memberitahu Sea. Dan sumpah di Tuhan, Red melakukan ini semua bukan karena materi. Sedari awal Red melakukan ini hanya agar Oma Seruni tidak menekan Sea terlalu jauh, membiarkan Sea hidup tenang di Jerman seperti sebelumnya.
“Apa semua ada hubungannya dengan Arche?” Tanya Red dengan nada lembut. “Apa Sea pikir dengan jaminan bulshit ini, saya akan setuju menandatangani surat cerai?”
Jika memang itu tujuan Sea, wanita itu benar-benar tidak bisa memahami Red sama sekali.
Red adalah seorang pria yang mampu membuat uangnya sendiri, jadi untuk penawaran Sea, Red sama sekali tidak tertarik. Dan untuk melepas Sea pergi? Jangan harap Red akan melakukannya.
Homan menarik napas dalam-dalam. “Untuk hal tersebut saya tidak tahu Pak Jared.”
Pengacara keluarga Ardikara itu kemudian berkata lagi setelah dua detik terdiam. “Setahu saya, beberapa hari yang lalu Bu Sea ingin membatalkan gugatan cerai meskipun masih sedikit ada keraguan, jadi untuk suarat cerai kami belum menyiapkannya, kami masih menunggu konfirmasi dari beliau.”
Red berhasil dibuat terdiam kembali.
Fakta bahwa Sea mengurungkan niat dan berpikir-pikir kembali membuat pria itu bahagia, jujur itu adalah hal paling baik di dunia, tapi pertanyaannya ‘kenapa?’. Tapi untuk sekarang ini Red hanya bisa mengambil satu kesimpulan bahwa Sea sudah bisa mempercayai dirinya kembali.
Homan melihat keterdiaman Red.
“Saya memberitahu perihal ini agar anda bisa membujuk Ibu Sea lebih gigih lagi Pak.” Ujar Homan, lalu pria itu menunjuk dokumen di atas meja. “Lalu untuk pelimpahan as…”
“Saya tidak bisa, saya keberatan.” Ujar Red cepat-cepat, ada kerutan di dahi Red yang begitu terlihat. Red masih bingung karena ada kabar yang begitu membingungkan secara bersamaan. “Saya akan berbicara dulu dengan istri saya.”
Dan itu membuat Homan tak bisa melakukan apa-apa lagi. Keputusan Red untuk tidak menandatangani surat pelimpahan itu secara otomatis memerintah Homan untuk berdiri dan berpamit.
Seperginya Homan dari ruangan, Red terdiam memegang kepalanya, bersamaan itu hembusan napas kecil namun berat pria itu loloskan beberapa kali.
Sea sangat sulit ditebak, apa yang ada di dalam otak wanita itu yang sebenarnya? Red kesusahan hanya untuk mengira-ira saja.
Bersamaan Red berdiri berniat ingin menghampiri Arche, ponsel yang ada di saku celana berdering.
“Latania?” Guman Red, tumben, ada apa, lalu Red segera menggeser tanda hijau dan menempelkan ponsel di daun telinga.
“Halo.” Red bersuara, namun dibalik telepon ada suara yang begitu gaduh, sampai-sampai Red mengerutkan kening.
“Halo, Latania.” Ulang Red kemudian, karena memang Latania belum menyahutinya.
Suara isak tangis tiba-tiba terdengar. “R…Red…” Latania terengal-engal dalam berucap. “Se…Sea, Red.”
Sama sekali tidak jelas.
Kening Red semakin mengkerut, ia mencoba memfokuskan diri, menghentikan semua kegiatan dan berkonsentrasi mendengarkan apa-apa yang ada di balik panggilan suara.
Karena jujur, Red hanya mendengar Latania menyebut namanya dan nama Sea juga.
“La, ada apa?” Tanya Red sekali lagi. “Ulangi lagi, gue nggak denger.”
“Red, Hiks, Red, Hiks.” Isak Latania semakin jelas dari seberang sana.
Tiba-tiba perasaan tidak enak datang dalam diri Red. Pria itu was-was, matanya menajam, pun cengkraman di ponselnya menguat.
“Kenapa? Ngomong yang jelas!” Red memperjelas ucapannya, pun nada yang ia keluarkan sedikit tinggi, kehilangan kesabaran.
“Sea kecelakaan.” Balas Latania akhirnya.
Yang mana hal itu membawa sesak di dada Red.
“Darahnya kelur banyak, gue kerumah sakit sekarang, pak hiks cepetan ya Tuhan, gimana ini.”
Red memandang kosong ke arah depan. “Dimana?”
“Rumah saki…”
Bersamaan dengan ucapan Latania, Red segera bangkit tanpa mematikan sambungan telepon, berlari tergesa untuk keluar.
Jantungnya berdetak terlalu keras sampai terasa nyeri.
Saat melewati ruang Melody, Red memandangi Arche yang berada dipangkuan sekertarisnya, dengan cepat Red berucap. “Tolong bawa Arche pulang ke rumah mama Kirana.”
Setelah mendapat anggukan beserta tatapan bertanya dari Melody, Red berlari cepat untuk keluar, mengabaikan semua karyawan yang menyapanya.
Red menuju bagasi sepeda motor, Red berpikir cepat untuk menggunakan kendaraan itu saja agar lebih mudah membelah jalanan. Tapi meskipun begitu, Red mengumpat keras-keras setiap kali mendapati lampu merah sedang menyala.
Red tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelum-sebelumnya. Tapi yang Red tahu, ia hanya ingin melihat keadaan istrinya, memastikan bahwa Sea baik-baik saja.