
Manusia tidak akan bisa terhindar dari pikiran negatif, justru manusia perlu untuk memiliki itu agar tidak terlalu kecewa apabila ada hal yang tidak sesuai dengan harapan.
Namun ada cara agar pikiran negatif hilang, yaitu menutup semua dengan pikiran positif.
Tapi, bagaimana jika yang dirasakan Sea sulit untuk dibendung adanya, pikiran negatif yang berkumpul menjadi bertumpuk, tebal dan kuat, susah untuk dirubah layaknya jeruk nipis yang tak bisa begitu saja jadi manis.
Sea hanya manusia, memiliki kesabaran setipis kertas dalam kondisi tertentu. Apalagi ada Rubby yang menanamkan langsung di depan matanya, membuat Sea tak bisa berhenti dari bayang-bayang mengerikan.
Hati tidak tenang, pikiran kemana-mana, jantung berdetak lebih kencang sampai rasanya mau muntah oleh sebab prasangka yang enggan keluar dari tempurung otak Sea.
Sea tahu selama bertahun-tahun bahkan sejak kecil ia sudah menyakiti hati Red karena ia tidak sengaja mengabaikan pria itu, jika dipikir Sea juga tidak salah juga karena Red tidak memberitahunya, namun Sea adalah pendengar yang baik dan akhirnya merasa bersalah juga. Sea juga tahu disaat Red terpuruk ada Rubby yang membuat pria itu bangkit, seperti yang dikatakan Rubby kemarin. Logika Sea mengatakan Red tidak akan membuang dengan sia-sia jika kenyataannya Rubby orang yang benar-benar baik untuk pria itu. Dan jika Sea menjadi Red, ia pun juga tidak akan pernah meninggalkan Rubby hanya demi cinta pertama.
Jadi, apa memang benar Red dan Rubby masih memiliki hubungan? Dan apa benar prasangka soal Red menikahinya hanya karena tanggung jawab semata?
Apa mereka berdua-
“Sial, wanita sialan.” Umpat Sea sembari menggebrak meja, padahal sudah tiga hari setelah terakhir bertemu Rubby.
Sea masih ingat pertengkaran terakhir dengan Red adalah soal trust issue, sekarang Sea kembali termakan oleh masalah yang sama. Sea yakin Red akan kesal setengah mati atau marah habis-habisan jika Sea masih tidak percaya dengannya atau meragukan kesetiaannya.
Sea menghembuskan nafas kasar saat ia melihat Red menuruni tangga dengan celana pendek warna hitam dan kaus dengan warna yang senada, pria itu tampak kumal tapi tetap tampan, wajahnya sudah tidak pucat karena tiga hari Sea benar-benar meminta Red untuk istirahat saja, pria itu harus mengambil cuti juga.
“Mom, kok belum tidur.” Sembari mengatakan itu, Red dengan seenak jidat menidurkan kepalanya di paha Sea, alhasil si wanita terpaksa memundurkan badan atau gundukan yang ia punya menempel tepat di muka si pria.
“Aku masih ada kerjaan, kiriman berkas dari Devon harus aku cross check.” Jawab Sea apa adanya.
Jam di dinding sudah menunjukkan jam sembilan malam, Arche juga kebetulan sudah terlelap dalam mimpi. Red yang mendapati ranjang tak ada penghuni selain dirinya saat pertama kali membuka mata, alhasil ia tidak bisa membiarkan diri tanpa teman di kamar, Red harus mencari Sea dan di dapatilah istrinya di sini.
“Banyak banget makanan? Kamu pesen?” Red melihat banyak bungkusan makanan di atas meja, tapi aneh, tidak ada satupun yang terbuka. “Nggak kamu makan? Kok nggak dibuka? Masih ngerasa mual?”
Pertanyaan Red bertubi-tubi, membuat Sea bingung harus menjawab yang mana dulu. “Aku nggak muntah. Tapi mood ku lagi buruk, tadi pengen makan tapi setelah makanan datang aku udah nggak nafsu.” Akhirnya Sea lancar menjawab.
Mau selera makan bagaimana jika otaknya saja semrawut memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kesetiaan suami yang masih menidurkan kepala di pahanya.
“Kamu sudah mulai ngidam?” Red tiba-tiba bertanya lagi.
Sea hanya mengedikkan bahu karena ia tidak tahu.
Red berpindah tempat, pria itu bangun dari tiduran dan beralih duduk di samping istrinya, memegang jemari dan menyatukan dalam hangat. “Sekarang kamu pengen apa? Ayo aku anterin keluar.”
“Kamu baru sembuh, nggak usah cari masalah.”
“Cuma nyetir doang aku bisa sayang.”
“Nggak mau. Aku sekarang cuma ngidam pertanyaan, kamu harus jawab.”
Mata Red berkedip lambat, pria itu merasa seperti akan ada interogasi.
“Rubby dulu deket sama ibu?”
Sontak Red malas, kenapa membahas Rubby. Pria itu merubah posisi lagi, menidurkan kepala di paha istrinya. Red menggeleng. “Aku nggak mau bahas Rubby.”
“Aku cuma tanya, tinggal jawab!”
“Iya.”
Red nampak memejamkan mata mendengar pertanyaan Sea yang bertubi-tubi. Kenapa dengan istrinya? Apa itu benar-benar ngidam?
“Red jawab aku!” Sea mengatakan itu sembari memutar kepala suaminya agar menghadap ke atas, agar Sea dapat melihatnya.
Oke, sepertinya Red harus menjawab soal ini, biar Sea lega. “Ketemu Mama cuma beberapa kali, nggak ada yang spesial dari Rubby, ketemunya juga palingan Rubby dateng ke rumah masak bareng mama, udah gitu doang.”
“Ibu pasti seneng banget sama Rubby.”
Iya kan. Istrinya sedang cemburu. “Sama Rubby aja seneng, apalagi sama menantunya ini.” Mencoba mencairkan suasana, Red mengulurkan tangan mencubit pipi Sea dengan gemas.
Diam sejenak, Sea merasa ada sesuatu yang meremas hatinya. Entah kenapa ia merasa sedikit cemburu dengan kedekatan Ibu Kirana dan Rubby di masa lalu.
Oke, Sea harus melupakan itu, ia menyondongkan tubuh untuk mengambil ipad yang ada di meja, membuka YouTube dengan chanel yang sering ia putar, ia penggemar berat salah satu Idol yang ada di Korea Selatan.
“Ya ampun, duh ganteng banget V, apalagi suara deep voicenya, bikin meleleh, bikin dag dig dug.” Celetuk Sea tiba-tiba sembari menunjukkan muka gemas dan tangan yang seolah-olah ingin mencubit layar iPad. “Kamu tahu nggak Red, gantengnya V itu nggak manusiawi, kok ada ya orang seganteng itu, kamu juga harus tahu, V pernah dinobatin jadi pria paling tampan sedunia.”
Dan sumpah demi Tuhan informasi dari istrinya itu sangat sangat dan sangat tidak penting untuk Red yang praktis mendudukkan diri dan mengambil jarak dua jengkal tangan dari Sea.
“Aku sama sekali nggak tanya.” Jawab Red dengan sebal merasa sangat aneh saat Sea memuji si tukang goyang pinggul. “Ganteng darimana, masih gantengan aku. Halu banget.”
Sea melirik sinis suaminya. “Sejak kapan orang yang punya sertifikat ganteng bisa kalah dari gantengnya kamu.”
“Yaudah sana kamu nikah sama V kamu itu.” Tak mau kalah sinis, Red sampai meninggikan suara juga.
Orang sesabar Red bisa marah, okelah banyak yang mengatakan Red itu pemarah, bahkan Sea pernah merasakan bagaimana marahnya Red saat Sea mengganggunya dulu, tapi jika dipikir-pikir Red itu juga sabar saat menghadapi Sea setelah mereka bertemu lagi. Lalu lihat sekarang, bagaimana keruhnya wajah Red membuat Sea sedikit takut.
Begitu saja sudah marah, dasar tukang cemburu.
Sea melanjutkan untuk memuat video music sampai tiga kali, jika di total hampir lima belas menit, dan disaat yang sama pula Red benar-benar diam, namun juga tak beranjak meninggalkan Sea sendirian.
“Daddy.” Panggil Sea lembut, wanita itu menggeser bokongnya dan perlahan menaruh jemari untuk mengelus lengan Red yang kekar.
Dan Sea mendapati Red diam tak menggubris godaannya. Ya Tuhan. Se-suka-sukanya Sea dengan V, mana mungkin sih wanita itu akan terbang ke Korea untuk mengajak menikah Idol tersebut, hal itu sangat mustahil. Kenapa juga Red cemburu.
“Dad.” Panggil Sea lagi. Wanita itu menyandarkan kepala di pundak suaminya sembari telapak tangan meraba dada bidang suaminya juga.
Red tetap tidak menggubris.
Sial. Kenapa Red jual mahal.
“Daddy. Aku ngidam, kali ini bukan pertanyaan deh.” Ujar Sea kemudian. Dan Sea masih ingat bagaimana Red sangat menantikan ngidam Sea, nyatanya apa yang baru sajanSea katakan membuat Red terpengarah hingga menggerakkan kepalanya untuk menoleh.
“Aku laper.” Lanjut Sea lagi.
Red senang sekali, ia benar-benar menantikan ngidam istrinya, dan untuk pertama kali Red harus bisa mendapatkan apa yang di inginkan Sea. “Ya udah, ayo makan apa.” Ucapnya lembut dengan mata berbinar.
Sea tersenyum, matanya menyipit sebelum wanita itu mendaratkan satu kecupan di bibir suaminya, gerakan yang Sea lakukan dibibir sangat intens dan cukup lama, mau tak mau membuat Red ikut merasakan dan bereaksi juga.
Setelah bibir terlepas, Sea mengatakan. “Aku ngidam makan kamu, Dad.” Setelah mengatakan itu Sea kembali memberikan banyak kecupan-kecupan kecil di rahang suaminya.
Detik ini juga Red merasakan sosok Sea kembali seperti saat pertama wanita itu mengajaknya bercinta.