Moon

Moon
Wedding



Bagaimana jika persiapan diatur dengan sedemikian rupa yang dianggap sangat sempurna harus gagal hanya karena permintaan Davis Martin yang sangat diluar nalar?


Benar sekali, kenyataaan Davis yang katanya akan muncul di acara pernikahannya sepertinya hanya omong kosong belaka saat pria paruh baya itu menelfon Oma Seruni dan berkata, “Sea dan Red harus menikah di Bali, aku sudah menyiapkan tempat di sini”. Begitu katanya.


Dan hal mengejutkan lainnya datang saat Sea tahu ayahnya itu selama delapan bulan menetap di Bali, menikmati pantai sembari bersantai disana. Menggunakan nama kakek Rusdi untuk cek in di hotelnya, di hotel Sea.


Lalu bagaimana respon Sea seteh itu? Mau marah sudah sangat terlambat, jadi Sea hanya pasrah.


Tapi untuk keputusan ayahnya yang semena-mena, tentu Sea tidak enak hati karena Red menyiapkan semuanya dengan penuh perjuangan. Pria yang akan menjadi suami Sea itu harus kesana kemari untuk mengurus sendirian, ralat, sebenarnya bersama Edward dan Jantis juga yang membantunya.


Dan sekarang? Semua harus di batalkan gara-gara Davis.


Tapi keresahan itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu, nyatanya yang di khawatirkan Sea sungguh tidak berarti, pria yang membuat Sea tidak enak hati menerima keputusan ayahnya dengan senang hati. Bahkan Sea berkali-kali minta maaf, jawaban Red tetap sama, “Tidak apa-apa Mommy, sekalian liburan. Nanti kalau kamu usah nggak mual liburannya baru yang jauh-jauh.”


Case close.


Dan sekarang, disinilah semua anggota keluarga dan para undangan berada, di Kota Bali, menghadiri pernikahan Sea dan Red.


Di aula super besar dan serba putih itu ada satu pasangan bersanding.


Momen paling berharga yang menandakan hidup tidak akan sama lagi, bukan tentang kesendirian lagi, lebih tepatnya keduanya akan hidup bersama dalam bahtera rumah tangga, menikah tak hanya soal perempuan dan laki-laki saja, tapi menyatukan keluarga dalam satu lingkup menuju bahagia.


Bahagia?


Sea hanya berharap akan begitu jadinya, berharap semua kegundahan yang ia rasakan beberapa hari segera hikang dalam pikiran.


Mengucap janji di atas altar, sungguh, Sea bersumpah ini momen yang paling mendebarkan. Jemari Sea yang berbalut gloves semi transparan itu saling meremat. Bohong jika Sea tidak ingin pingsan, karena saat ini keringat sudah bercucuran di dahinya.


Bahkan ketika si pria mengangkat kain penutup kepala milik Sea, wanita itu mendongak mendapati Red yang menatapnya dengan senyuman, ketampannya pria itu seratus kali lipat, membuat Sea gugup lebih dari seribu kali lipat.


“Red,” panggil Sea lirih.


Pria yang menggunakan jas putih persis seperti pangeran dengan dasi pita itu tersenyum lembut, menatap mata Sea dengan dalam. “Kenapa?” tanyanya manis, namun tak begitu lama Red kehilangan senyumnya. “Kamu mual?” tanyanya lagi.


Sea terdiam, wanita dengan gaun putih model v neck itu menggingit bibir tanpa mau menjawab dengan suara.


Helaan napas terdengar dari Red, tapi pria itu mencoba untuk besikap biasa saja. “Aku sengaja nggak pakai parfum biar kamu nggk mual.” Jawabnya.


Tapi tak membiarkan Sea lebih tenang, justru Red mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu si wanita sebelum mendekatkan wajahnya sendiri, mencium Sea dengan lembut, memangut bibir Sea yang nyatanya benar-benar ampun membawa Sea dalam kenyamanan. Gejolak ketenangan perlahan hadir dan kehangatan mulai mengisi sanubari.


Tepuk tangan begitu meriah terdengar membuat Sea tersadar dari kenyamanan dan harus kembali pada kenyataan.


Red bisa saja mencium Sea dengan ganas, tapi pria itu tidak mau melakukannya sebab ia tidak ingin menghancurkan usaha Sea yang telah berdandan sedemikian rupa, pikir Red masih ada waktu hanya untuk berciuman saja, bahakan lebih dari itu juga bisa. “Masih mual, mom?”


Mom?


Sea menggeleng.


Red akhirnya senang. Kemudian pria itu menatap lurus kedepan, kehadapan para undangan yang membuat Sea melakukan hal serupa.


Sea menghela napas. Dari sekian banyak orang disini, hampir delapan puluh persen adalah teman sekaligus rekan kerja Red, pria itu benar-benar mempunyai kenalan banyak. Lagi, yang ada di sebelah sana, para lelaki yang berkumpul dan menggoda dengan berbagai macam candaan kepada pria yang baru saja melepas status bujang.


Sedangkan Sea tidak membawa siapa-siapa kecuali keluarga. Adapun ayahnya yang baru terlihat batang hidungnya saat akan membawanya ke altar. Waktu itu Sea benar-benar ingin marah kepada Davis, tapi melihat Davis beberapa kali tersenyum dan menangis, Sea jadi tidak tega, pria itu justru tambah bahagia karena Sea mengandung anak kedua.


Untuk urusan kenalan berupa teman, bukankah siapapun yang dikenal Sea di negara ini adalah teman Red juga, seperti Latania yang sekarang mengusap air mata dengan punggung tanganya karena terharu melihat Sea yang akhirnya mendapat suami, lalu ada Jantis, Jessy, Edward dan Jinsen, itu saja.


“Mommy.”


Arche berteriak, dari ujung sana bocah dengan setelan persis seperti Red itu memisahkan diri dari Davis dan berlari menuju altar.


Red membungkuk, menangkap Arche untuk diangkat dalam gendongannya.


“Daddy. Dimana baby sister pesanan Arche.”


Mendengar pertanyaan tanpa ragu dari Arche membuat Sea dan Red beradu pandang sebelum keduanya sama-sama tersenyum.


Sea belum bisa menjelaskan tentang jenis kelamin apa yang sebenarnya akan ia lahirkan, tapi beberapa kali Arche menanyakan adik perempuan.


“Mom and Dad, married, harusnya baby sister sudah datang.”


Salahkan Red yang kerab kali menjawab kegundahan Arche tentang kapan kedatangan baby sisternya, dan pria itu selalu menjawab ketika nanti Mommy sama Daddy menikah.


And now, see, bagaimana pintarnya Arche untuk menagih semua itu, anak pintar.


“Arche coba tanya pada Mommy.” Yah, Red melempar kesalahan yang ia buat kepada Sea.


Sea melebarkan mata, tapi tak begitu lama wanita itu tersenyum pada putranya. Belum sempat Sea menjawab, Arche bertanya lagi.


“Mommy, dimana baby sister Arche Mom?”


Sea menarik napas, tanpa pikir panjang ia menjawab. “Baby. Kalau seandainya nanti yang sampai bukan baby sister bagaimana? Apa baby juga senang?”


Arche berkedip dengan tangan bertaut tak menjawab, membuat Sea menarik napas lagi dan melanjutkan kata-katanya. “Nanti kalau perut Mommy sudah besar, itu artinya baby hampir sampai.”


“Begitu?” Gumam Arche, anak kecil itu mengangkat pandangan pada ibunya yang sedang menggambarkan perut besarnya. “Kalau begitu Mommy makan yang banyaaaaaaak biar babynya cepat datang.”


Sea tertekan dengan kepolosan Arche sedangkan Red tertawa begitu keras hingga membuat Sea ingin memukulnya.


Pernikahan mereka terasa sangat cepat dan lancar, Sea tidak setuju untuk menambah durasi party lebih dari satu hari, cukup sampai sore semua sudah selesai.