Moon

Moon
Why



Tidak ada hal yang lebih buruk lagi dibandingkan dengan pengabaian.


Pengabaian yang tiba-tiba menghantam tubuh Sea, begitu keras dan ia merasa semua rasa sakit yang ia kumpulkan dari lahir sampai sekarang sama sekali tidak bisa sepadan dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Papa:


Kamu pasti menganggap papa jahat, ya, anggaplah begitu, Nak. Papa tahu kamu bisa segalanya, kamu wanita pekerja keras, kamu bisa merawat anak sendirian tanpa bantuan, kamu wanita cerdas dan bisa diandalkan. Sekarang papa memberikan kamu kebebasan yang sebebas-bebasnya. Kendalikan semua perusahaan, anggap papa sudah tidak ada. Disaat kamu berhasil, papa bisa yakin kalau kamu bisa, bisa hidup sendiri tanpa pasangan dan papa bisa mati dengan tenang.


Apa Ayah-nya ngambek?


Karena dari apa yang Sea dengar dari Mama-nya. "Kamu yakin nggak mau nikah?"


"Enggak ma," Sea menolak. "Aku bisa hidup sendiri, seperti sebelum-sebelumnya."


Sekar tentu saja muram dan apa yang ia rasakan juga dirasakan oleh suaminya. Davis meninggalkan Indonesia karena ingin melihat apakah Sea benar-benar mampu tanpa pasangan, tanpa seorang yang menguatkannya dikala Dunia tak lagi bersahabat.


Karena Davis tak akan selamanya hidup di dunia.


Saat Davis meninggal nanti, apa Sea tetap mampu berjalalan sendiri? Simbol young, rich, single and free apa tetap bisa ia pertahankan di dalam hidupnya?


Sekarang mari dicoba.


"Kalau begitu, ya sudah, papa sudah mundur dari jabatan, sekarang, kamu pegang SS Group sekaligus Ardikara Group? Sanggup?"


Yang menjadi pertanyaan, harus kah Papa-nya melakukan ini pada Sea?


"Kenapa papa tega?"


"Kamu yang tega, Sea. Kamu membuat orang tua tertekan seumur hidup hanya untuk memikirkan masa depan yang kamu buang sia-sia. Sekarang mama tanya, bisa kamu hidup sendiri dengan Arche seorang."


"Buktinya aku bisa ma." Sea memegang dokumen dengan cengkraman erat.


"Karena permasalahan kamu masih itu-itu saja. Belum nanti Arche dewasa, dia butuh ayahnya, butuh sosok ayah yang selalu ada di sisinya."


"Red bisa selalu dampingin Arche ma, bukan masalah besar."


Benar bukan, ini hanya masalah sekecil kerikil, tapi Ayah-nya berbuat sejauh itu. Sea berkali-kali bilang, asal ada Ayah-nya semua akan baik-baik saja, seperti empat tahun yang lalu. Dan Sea tidak sadar.


"Kalau itu bukan Red, misal siapa, kamu masih tidak mau menikah, kamu tidak bisa hidup sendirian seperti itu Sea, mama sama papa ini khawatir sama kamu."


"Aku bisa sendiri ma."


"Kalau mama dan papa mati, kamu masih bisa berdiri sendiri?"


Tubuh Sea kaku seperti ada paku panjang di palu dari ubun-ubun sampai kaki. Tidak. Sea tidak pernah membayangkan ditinggal oleh kedua orang tuanya.


"Mama sama papa nggak akan ninggalin Sea."


"Kematian itu pasti, nggak ada orang yang tau, coba kamu pahami kegelisahan mama dan papa saat kami nanti sudah tidak ada."


Kenapa suatu pernikahan harus dipaksakan? Kenapa tidak ada yang bisa memahami Sea?


"Sekarang papa dimana?"


"Papa ninggalin kita semua, mama bersumpah, tidak tahu dimana papa kamu berada. Oke, sebut saja ini challenge, kamu buktiin sama papa, bisa apa enggak kamu bertahan. Sekarang pergi ke kantor karena rapat direksi sedang berlangsung untuk nentuin siapa pemimpin baru mereka. Kamu tahu kan artinya? Jika bukan kamu, SS Group berakhir."


Sea pikir hamil diluar nikah adalah mimpi paling buruk yang pernah ia alami. Namun, saat ia menghadapi hilangnya Davis, sang Papa yang disengaja, ia merasa dunianya hancur seketika.


Apalagi saat Sea melihat Ibu-nya tidak nafsu makan dan hanya memandangi sepucuk surat perpisahan dari Ayah-nya, membuat hati Sea tercabik-cabik.


Jika dipikir, siapa yang tega? Sea atau Ayah-nya?


Status sebagai putri sulung pewaris kerajaan bisnis memang sudah tersemat sejak dulu untuk Sea, dan ia sudah memepersiapkan posisi itu untuk di isi sewaktu-waktu. Tapi bagaimanapun situasi ini seperti mencekik Sea secara perlahan, ia tidak bisa tenang jika tidak tahu dimana posisi Ayah-nya.


Jika Davis menginginkan Sea menikah, benar-benar menginginkan Sea menikah, kenapa tidak sedari dulu saja memaksa, kenapa harus sekarang disaat Red sudah melamar dan Sea tolak mentah-mentah?


Sea seperti dipaksa.


Tapi Sea tidak mau mengalah, ia akan bertahan dengan apa yang sudah ia pegang, ia selamanya akan tetap single.


Sea melangkah dengan kaki berbalut heels tiga senti, dibelakang tubuh wanita itu ada June yang mengikutinya dan berakhir memasuki elevator dengan bebeapa orang sudah berada di dalamnya.


Tinggal beberapa hari di Indonesia, baru pertama kali Sea menampakkan hidung di gedung perusahaan Ayah-nya, karena hari-hari sebelumnya Sea sibuk berada di kantor Red.


Astaga, ini benar-benar pengalaman yang menyudutkannya, jujur Sea pasti menangis saat ini jika saja tidak ada orang.


Ok, lets see.


Menuju ruang rapat tanpa gentar sedikitpun, Sea membuka handle pintu. Ia tahu kehadirannya sama sekali tidak di harapkan.


Seorang putri dari Davis Martin, apa bisa mendapatkan posisi menjadi pemimpin?


Wanita merupakan manusia paling rapuh dan tidak bisa diandalkan, begitulah kebanyakan orang memandang.


"Maaf sebelumnya, tindakan anda tidak benar memutus kesempatan tanpa suara saya!" Sea mengulas satu senyum.


Sebelumnya Sea mendengar dari luar tepuk riuh, kemudian Sea bertanya kepada June, pemuda itu mengatakan Mahendra Sudjaja akan mengambil alih pimpinan karena pria itu pemegang saham terbesar.


Sea tahu siapa Mahendra, teman Ayah-nya, dari sekali pandang saja Sea yakin pria itu tidak setia. Manusia memang begitu, rentan, mudah goyah dan berpaling.


Davis memang keterlaluan, Sea mengakui Ayah-nya cukup sembrono atau gegabah, bagaimana bisa meninggalkan perusahaan seperti ini, namun jika diingat, bukankah Davis saat ini sedang mengujinya? Dan Sea yakin Ayah-nya tidak akan berbuat apapun meski perusahaannya bangkrut saat ini juga.


Karena sekali Davis menodong, mengancam, pria tua itu tidak akan mengubah pikiran.


Sekali lagi, Sea rasanya ingin menagis.


"Seperti yang sudah kami dengar, Tuan Martin mengundurkan diri dengan sengaja, kami tidak bisa menunggu waktu lama untuk menunggu pimpinan baru Miss. Status perusahaan akan sangat riskan jika kita mengulur-ulur waktu dengan percuma."


Sea menatap tajam ke arah moderator. "Bukan berarti kalian semua bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan saya. Ada tiga wakil yang sudah tercatat dengan jelas,  Tuan Mahendra, saya dan Devon."


Kenyataannya, Devon tidak ada di tempat, laki-laki kepercayaan Sea itu sedang menggantikan posisi Sea di Jerman, jadi, keputusan disini bukankah diambil dengan sembarangan. Biar bagaimanapun, perusahaan ini hasil dari keringat Davis Martin, bukan Mahendra atau siapapun itu.


"Baiklah, silahkan duduk jika anda berminat mengikuti rapat Miss." Maka Sea tak menunggu lama dan segera duduk di kursinya.


Akuisisi? Penghianatan?


Pasti dua poin itu sedang berlangsung di ruangan ini. Astaga, pikiran Sea masih melalang buana kepada Ayah-nya, dimana orang itu berada?


"Kami tidak bisa menyerahkan perusahaan begitu saja untuk dipimpin wanita kurang berpengalaman seperti anda Miss, jadi kami mengambil keputusan Tuan Mahendra Sudjaja yang akan memimpin perusahaan, kami sudah melakukan voting dengan adil dan transparan."


"Devon, saya dan Ibu Seruni? Apa mereka sudah mengambil voting? Saya kira dari data yang saya pegang ini belum tercatat. Saya sudah membaca, banyak pihak dari ayah saya yang paham betul bagaimana sepak terjang saya dalam berbisnis, jadi, kekurangan tiga voting ini sudah bisa menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin. Berani bertaruh?"


Sea berdiri dengan angkuh, ia tidak suka diremehkan, apalagi ini perusahaan besar milik Ayah-nya sendiri.


Apa Sea semacam diberi misi rahasia?


Kenapa para mata direksi banyak yang melotot kearahnya?


"Jadi, saya tidak mau mendengar omong kosong voting transparan sialan dari mulut kalian, saya disini menggantikan posisi ayah saya. Jika ada yang menentang, silahkan tarik saham yang kalian tanam. Permisi."


Sea pergi, karena jikapun banyak yang menarik saham dari perusahaan ini, Sea mampu membeli dengan uangnya sendiri.


"Miss, apa anda yakin?" Diantara napas yang terengah dan langkah yang cepat, June nampak ketakutan dengan keputusan atasan barunya.


"Saya hanya ingin menyelamatkan perusahaan Ayah saya." Sea berhenti, menatap lekat June dalam-dalam. "Jika kau takut, kau bisa keluar dari perisahaan ini."


Sea berbalik dan menuju ruang kantor.


"Se.."


"La...."


***


Lamunan Red seketika pecah setelah sebelumnya hening karena tidak ada yang mau berbicara. Ia duduk di kursi ini lebih dari lima menit setelah memesan minuman.


Red mengedip cepat dan meloleh ke arah wanita satu anak yang berstatus menjadi mantan kekasihnya, Rubby Jane Abdigara.


Oh good, bahkan Red tak terganggu oleh berisiknya cafe dan tetap bertahan dilamunan, semua karena Sea, Red sebenarnya sedang menghitung hari menuju sabtu, dimana Sea utuh menjadi miliknya di hari itu.


Mengenai Rubby, Red hanya tidak ingin diganggu oleh mantan kekasihnya yang berkali-kali ingin menemuinya hingga mendatangi ke kantor, sudah cukup dua kali, Red tidak kngin ada lagi drama Rubby dengan dalih minta maaf hingga mengeluarkan air mata, Red akan berbicara baik-baik.


Red menatap Rubby sembari mengangguk dan tersenyum, "Ya." Jawabnya singkat.


Rubby ikut mengangguk, menjadi lebih canggung karena disini adalah outdoor, status yang ia pegang adalah model terkenal, namun disini sepertinya tidak ada yang mengenalinya.


Rubby membalas senyum. "Aku udah denger sari Pak Rusdi, nggak nyangka ya kakek kamu datengin aku cuma mau memeperingati aku soal kamu dan Sea." ujarnya dan itu membuat Red nampak terkejut.


"Kakek?"


"Ya, tadi malam, kakek kamu datengin aku karena Sea bersedia jadiin aku model-nya. Dan....." Rubby mendadak tersenyum pahit. "Soal anak kamu sama Sea? Benar itu Red? Artinya, kamu dulu juga hianatin aku?"


Kali ini Red terpengaruh, jika diputar kembali di masa itu, bisa dikatakan one night stand yang Red lakukan dengan Sea bisa disebut dengan penghianatan. Namun Red tidak menyesalinya, toh Tuhan sudah memberi jalan yang berbeda, tidak membiarkan Rubby menjadi miliknya, karena wanita yang ada di depannya sudah lebih dulu mendapat mala petaka, hamil bukan dengannya.


"Ya, dan aku nggak nyesel sama sekali."


Rubby tertawa, kerutan di sisi matanya menyeramkan, bahkan ia sedikit mengeluarkan air mata namun segera ia usap kembali. "Gimana anak kamu?"


"Empat tahun, ganteng, kayak aku." Jawab Red lagi, tanpa beban.


Rubby tahu bagaimana tampannya Red, bahkan pria hampir tiga puluh tahun itu terlihat menggoda daripada empat tahun yang lalu. Rubby hanya tidak tahu bagaimana cara menghadapi Red yang dengan percaya diri memarekan ke gantengan Anak-nya tepat dihadapannya.


Melihat keterdiaman Rubby, Red justru tidak perduli. "Nggak nyangka kan aku udah punya anak?"


"Ya, nggak nyangka banget."


Mana bisa Rubby menyangka, bahkan anak Red seumuran dengan Annelies, anak Rubby. Siapa dulu yang bersumpah tidak akan pernah berhianat? Mana dulu gadis yang sering berkata Red bukan tipenya? Mana? Kenyataannya, Sea luluh juga bukan dibawah kungkungan Red! Sial.


Rubby bahkan termanung sedikit lama saat Rusdi mengatakan fakta itu tadi malam.


Entah, pertikaiannya dengan Geido membuat Rubby ingin memiliki Red kembali adalah jalan yang benar apa tidak, namun Rubby masih punya logika jika itu salah. Tapi apapun itu, jika mendapatkan Red bisa ia lakukan, maka tak ada celah sekecil apapun yang tidak akan dia masuki.


Rubby terdiam sesaat, satu pertanyaan muncul dalam benak. Apakah hadirnya Sea di kantor Red dua kali itu pertanda jika wanita itu sudah bersama Red? Karena dari apa yang dikatakan Rusdi, keduanya sedang pendekatan. Fakta yang menarik. Rubby meyakini Red baru saja tau jika Sea telah melahirkan anaknya.


Rubby berdehem, "Gimana dengan ibu anak ka..."


"Sea, namanya Sea dan kamu tahu itu."


Sial!!


"Ya, gimana dengan Sea? Pak Rusdi bilang kalian lagi pendekatan."


"Iya." Jawab Red dengan nada penuh keraguan.


"Jangan bilang dia nolak kamu Red?"


"Karena dia satu-satunya wanita yang aku paksa buat stay, apapun alasannya."


Memang. Rubby rasanya jngin tertawa dengan derai air mata.


Dari dulu hanya Sea. Rubby tahu fakta itu, tapi tidak membenarkan, seoalah memposisikan dirinya lah yang dimiliki Red seorang. Rubby beberapa tahun bersama Red memang tidak ada artinya, sama sekali.


Rubby terdiam lagi, ia kebingungan parah karena berkali-kali Red menunjukkan bagaimana ketertarikannya dengan Sea.


Byur.


Tanpa di duga, cairan merah membasahi kemeja putih yang digunakan Red, mengalir dari atas kepala.


"Brengsek lo, anjing!!!"


"What the hell, Latania!!! Apa maksud lo!!" Red sampai menganga.


Bagaimana jika diposisi Red? Sedang mengobrol enak-enak, membahas Sea dengan mantan kekasih terlaknat, tiba-tiba Latania mengumpat dengan bonus guyuran minuman yang melekat di kulit?


"Lo brengsek Red." Latania membanting gelas yang ia pegang ke lantai. Ia melirik sinis seperti dendam kesumat dengan Red lalu beralih kepada rubah ekor sembilan di samping kanannya.


"Gue tahu lo mungkin cinta mati sama mantan lo yang dihamilin orang lain itu, Red." Latania mendesis, namun ia mencoba menurunkan emosi. "Mungkin lo juga jadiin Sea pelampiasan atau bagaimana saat lo tau cewek lo berhianat, dan itu udah bisa jadi bukti seberapa brengseknya lo. Gue pengen bunuh lo tau nggak!!"


Red mengernyit tidak tahu maksud Latania. Lalu acara labrakan ini sangat anarkis, mengingatkan bagaimana cara Rubby dulunya bertengkar dengan gadis-gadis SMA, ya Tuhan selamatkan Red.


Sedangkan Latania mengingat bagaimana berat hidup yang dijalani Sea saat mengandung pangeran Numan dulunya, muntah-muntah sampai badan kurus kerontang, tidak nafsu makan, bahkan kekurangan darah. Perjuangan yang Sea hadapai karena laki-laki brengsek di depanya yang justru tertawa dan bercengkrama dengan mantan kekasihnya.


"Sialan lo Red." Emosi Latania meninggi. "Lo nggak tau gimana susahnya Sea waktu hamil. Dan Sea pingsan beberapa kali demi mempertahankan anak lo. Dan saat lo tau pangeran Numan anak lo, dengan enaknya lo ngancem mau ambil dia. Waras? Gue tanya masih waras lo?"


Red tercenung.


Kalau saja Sea memberitahunya, tidak mungkin hal ini terjadi bukan? Namun fakta Sea kesusahan saat hamil membuat hati Red sakit, ia terdiam bukan karena makian Latania, tapi kenapa takdir membuat Red dan Sea begini.


"Gimana lo bisa tahu Sea hamil?"


"****! Masih sempet lo nanya itu Bangong, anjing." Masih tersulut dengan emosi, raut Latania menyeramkan dan sama sekali tak enak di pandang. "Setelah lo lamar Sea di depan orang tuanya, lo malah enak-enak nongki sama cewek hampir janda ini? Mau lo dibuatin gosip perebut istri orang ha? Mau lo apa Red?"


Red menggeleng keras, mengabaikan banyak mata yang sedang memandanginya. "Bukan urusan lo!"


Sekarang Latania tersenyum, kepalanya mengangguk berkali-kali. "Ini yang bikin Sea nggak ngasih tau lo, Red. Kalau dulu Sea nggak mau bilang mungkin, mungkin karena dia tau lo masih bareng cewek lo. Tapi untuk sekarang, lihat sendiri, lo masih terjebak masa lalu, masih terjebak orang ini. Apa yang Sea harepin dari cowok nggak bisa move on kayak lo!"


Red mengepalkan tangan di masing-masing sisi. Ia hampir tersulut emosi. Latania tidak tahu bagaimana Red sangat mencintai Sea, berjuang dan berusaha mendapatkan hatinya. Latania tidak tahu itu.


"Gue kenal lo sejak SMA, gue pikir pertemanan kita bakal long last Red, nggak tahunya gue salah nilai lo, fuckboy, anjing, si...."


"La, please bisa diomongin baik-baik..."


"Apanya yang baik-baik, Jantis, yang namanmya ngelabrak itu nggak ada yang baik-baik!!"


Seketika Red sedikit lega ada pawang yang bisa mengendalikan Latania. Tapi, bukankah keduanya sudah putus?


Entahlah.


"La..."


"Lo deim, gue nggak ada urusan sama lo." Potong Latania cepat kepada Rubby yang mencoba menengahi.


Dan lagi pemuda bertato itu hanya menahan sabar. Pasalnya keduanya baru saja bertemu tepat di depan perusahaan SS milik Sea, Latania yang baru keluar dan Jantis yang memang menjadi salah satu arsitek yang akan digunakan di dalam proyek. Jantis mengikuti Latania dan berakhir disini, tanpa di duga.


"Tinggalin Sea, Red." Latania bersuara lirih dengan sedikit permohonan.


Sontak Red tidak terima. Meninggalkan Sea bukanlah tujuan hidup Red. "Gue nggak akan pernah ngelepasin Sea dan anak gue."


Segala upaya Jantis untuk menenangkan Latania rasanya percuma, karena pada detik ini juga, gadis Thailand itu menjambak rambut Red dengan berbagai macam cacian. "Brengsek, bajingan, sialan, se**n, daj**l, anjing, mati aja lo Red."


Jantis dengan sekuat tenaga menarik Latania, memeluk gadis yang masih mengisi penuh hatinya, menenangkan meski ia tahu Latania tak akan mudah menurunkan emosinya.


Red diam termanung, menerima segala cacian dan jambakan yang baru saja ia terima, bahkan kepalanya pening sekali, sepertinya rambutnya akan lepas dari kulit.


"Dia jahat Jantis." Latania menangis dipelukan Jantis, gadis itu merasa sesak jika mengingat penderitaan Sea. "Aku bahkan nggak pernah tahu Sea nangis. Pertama kali aku lihat dia nangis hari ini. Semua karena si brengsek itu."


"Iya, iya, Red memang brengsek, kamu tenangin dulu, ayo pulang, aku antar."


Latania menggeleng. "Aku mau ke rumah Sea, aku mau hibur dia, dia tertekan, aku kasihan Jantis. Apalagi Om Davis juga belum ketemu, aku lihat Sea nangis nggak tega."


Praktis Red berdiri. "Om Davis kemana?"


"Om Davis hilang, Sea direndahin karyawan SS yang mau ambil alih perusahaan. Dan paling menggelikan, Om Davis sengaja menghilang cuma gara-gara Sea nolak lamaran lo. Lo tahu artinya apa Red, lo pembawa sial."