Moon

Moon
Sea Hamil



Gadis itu diam, wajahnya pias terlihat dari bayangannya yang terpantul di depan cermin saat ia masih duduk di kloset. Celana beserta dalaman masih melorot, sedangkan tangan kanannya memegang benda tipis dengan garis merah dua terukir jelas di dalamnya.


Setelah menunggu, selama 30 detik, hidup Sea kini berubah, drastis.


Jemari yang masih begetar itu menunjukkan bahwa kedamaian pagi ini berubah riskan semenjak apa yang di firasatkan menjadi kenyataan. Keresahan yang sangat dihindari karena perubahan kecil dalam tubuhnya ternyata oleh sebab ini, sebab-sebab yang sangat dihindari remaja putri di seluruh bumi.


Untuk pertama kalinya, Sea mendapati jantungnya menggila, telapak tangannya mendingin beserta napas yang berhembus setengah-setengah.


Sea memejamkan mata, hal paling tidak berguna dari kunci kamar mandi adalah, bagaimana Sea dengan ceroboh tidak memutar 360 derajat sesaat setelah ia memasukinya, alhasil satu badan menjulang tepat dihadapannya saat ini tengah menjadi boom atom yang bisa menjadikan Sea hancur berkeping-keping.


"Lo kenapa sih Se? Gue nyautin dari luar lo diem, gue kira lo semaput."


Bibir kelu untuk menjawab bahwasanya ada calon manusia di dalam perutnya, tangan pun juga tak sempat membuang tes pack ke tempat sampah.


"Se, lo kenapa?"


Sahabatnya itu mengaplikasian raut risau dan sedikit sebal sebab Sea tak kunjung menjawab. Sedangkan Sea sendiri, nyawa gadis 25 tahun itu belum kembali, nampaknya masih dipinjam untuk mengelilingi bumi sebelum dihempaskan lagi oleh kenyataan rumit dalam hidupnya.


Latania berjongkok, belum menyadari ada benda keramat yang di genggam erat oleh Sea. Sahabat Sea baru dua hari yang lalu samapi di Negara ini, berniat untuk liburan beberapa minggu saja.


"What the..." ada bungkusan tak asing tergeletak di kantai, Latania melihatnya.


Sebelum Latania menjerit, kesadaran Sea kembali, dengan sergap amat cepat, gadis pirang jelmaan rapunsel di kehidupan nyata itu tersenyum lebar.


Sea membuka kepalan tangannya. "Surprise......" diakhir kalimat, Sea melemas lagi, memberi tanda jika kejutan itu bukanlah hal yang patut di syukuri.


Diantara kebingungan yang melanda sebagian dalam hidupnya, Sea mengelus perut, menyadari gumpalam daging tumbuh di rahimnya mengingatkan Sea pada malam itu. Malam dimana ia mengerang hebat penuh nikmat yang ternyata akan ia sesali seumur hidup. Malam dimana ia melampiakan patah hati dalam ******* diatas ranjang.


Hening mengelilingi keduanya.


Latania, gadis itu diterpa keterkejutan, bahkan Sea masih merasakan hal itu juga. Keduanya lajang, belum menyematkan cincin walaupun hanya tunangan, dan diantara keduanya hamil duluan?


"Siapa?" Dengan suara lirih, Latania bertanya, tidak wajib baginya menghakimi lantas segumpal daging tak akan bisa kembali menjadi cairan ****** lagi.


Sea terdiam cukup lama.


"Aku lupa." Jawabnya asal.


Sangat jelas dari dua kalimat dengan empat suku kata itu dilingkupi oleh keraguan, Latania yang tidak mudah percaya lantas memincingkan mata, ia tahu, Sea tengah berbohong.


"Sinting!! Se, lo nggak mungkin memeprmainkan gue kan? Bilang, siapa?" Latania marah. "Gue tahu, pacar lo berjejer dari hari senen sampai minggu, tapi gue juga tahu kalo lo no free ***. Gue tahu lo, Se."


"Dan kamu nggak sepenuhnya tahu tentang aku, Lataina." Sea berbisik dihatinya.


"Oke. Emang aku nggak free ***, tapi aku bener-bener lupa, aku mabuk." Sea mengusap kasar mukanya, ia tak ingin mengatakan jika Red adalah Ayah dari calon anaknya, ada nama tiga keluarga besar yang sedang dipertaruhkan, Keluarga Martin, Keluarga Ardikara berkaitan dengan nama besar Oma Seruni, dan tentu saja satu lagi, keluarga Ardibrata.


"Siapa, siapa diantara salah satu pacar lo itu, Se, gue nggak bisa nebak, karena dalam satu bulan, lo bisa ganti kandidat, astaga Sea."


"Jay?" Latania akhirnya menebak saat cerocosan super panjangnya berakhir dengan Sea yang masih diam. Diantara banyaknya pria, ada satu kandidat yang terbersit di otak Latania. "Cowok campuran Korea itu?" Lanjutnya.


Sea menggeleng, "Bukan, jawabnya singkat.


Latania dibuat semakin frustasi. "Lalu siapa?"


"Daripada kamu sibuk membingungkan siapa ayah dari bayi ini, kamu mikir nggak bagaimana respon papa, mama dan oma? Sumpah, La, itu jauh lebih penting."


Bahkan Sea tidak bisa membayangkan bagaimana respon dari para wanita yang ada di keluarganya, Mama, Oma, Sky, lalu, Papa, bisa Sea jamin, namanya akan keluar dari kartu keluarga, tapi tidak juga.


Sea tidak bisa meremehkan hal tersebut, dan tetap mempertahankan pendirian, ia tak menjawab siapa Ayah dari calon anaknya.


"Kamu berapa lama disini? Katanya mau jalan-jalan, sana kamu siap-siap." Sea mengalihkan pembicaraan. "Aku keluar, cepat mandi."


Latania berdiri, menyandarkan punggung di wastafel, melipat tangan dibawah dada. "Lo masih mikir gue bisa jalan-jalan dengan tenang. Sinting. Bilang ke gue, siapa yang bikin lo bunting, Rose Sea Martin!!!!"


Sea tertunduk. "Aku diam, aku tuli, aku nggak mau jawab." lirihnya.


Sumpah demi Tuhan, Latania ingin menjambak rambut pirang Sea yang tampak kusut. Namun jawaban lemah dari Sea jiga membuat hatinya luluh.


"Oke. Jadi apa rencana lo?"


"Yang pasti, anakku harus hidup, kamu nggak kepikiran ngasih solusi buat gugurin bukan?"


"Dan lo pikir gue sejahat itu? Kalaupun lo yang kepikiran buat gugurin, lebih baik gue bunuh lo, Se."


"Thanks, La."


Ya Tuhan. Latania terlalu menekan Sea, padahal dalam situasi ini, Sea lah orang yang paling terkejut. Sea pasti ketakutan.


"Jadi, gue tanya, apa rencana lo?" Hati yang sempat luluh kembali memuncak ke permukaan emosi saat Sea membuka dan menutup mulutnya, Latania menjadi curiga. "Lo nggak berniat main rahasia-rahasiaan kan?"


Sea tersenyum. "Menurut kamu?"


"Sea. Please, hidup lo penuh drama."


Sea merasa terhibur lantas tertawa lebar dan itu membuat wajah yang nampak pucat itu mengerikan di mata Latania.


"Lo masih bisa ketawa." Latania heran. "Lo beneran nggak mau kasih tahu gue? Sumpah demi cacing cacing di perut gue yang udah minta sarapan, please Se lo nggak...."


"La, gue pengen muntah..." Sea tanpa diduga berdiri, menggeser Latania untuk minggir dari watafel.


Bak sahabat yang tahu kondisi dan situasi, Latania memijit leher belakang Sea. Setelah muntahan dirasa cukup dan mual mendesak hilang, ia mengangkat wajah.


Sialan. Sea berkaca, kenapa ia semengerikan ini, morning sickness, ia tidak membayangkan akan mengalami di umur 20-an.


Kenapa harus dia?


Kenapa Sea harus menyerahkan pada dia?


Kenapa keduanya terlalu subur hingga sekali celup langsung jadi.


Astaga.


Daaaaaaan, kenapa Red bisa kecolongan menghamilinya sih!!!


***


Usia kandungan terdeteksi lima minggu. Dan dua hari setelah pemeriksaan, Sea memanggil orang tuanya, siap menjadi samsak kemarahan dari keluarganya.


PLAK.


Bukan pipi Sea yang memanas, bahkan rasa perih pun tidak ada. Sea yang merinding lantas mengangkat kepala, melihat jika bekas merah itu membekas di pipi Ayah-nya.


"Papa merasa nggak berguna jadi ayah Sea. Papa gagal."


PLAK.


Satu lagi tamparan keras Davis hantamkan pada pipinya sendiri, dan itu membuat Sea terduduk di lantai, dua lutut bertumpu dan tangisan tersedu-sedu.


Sumpah demi Tuhan, jika ayahnya menyambuk Sea, gadis itu dengan lapang dada menerima, dan sekalipun tidak akan ada dalam benaknya memberi cap debagai Ayah yang suka menyiksa sang anak.


Namun dengan hal yang demikian Davis lakukan, dihadapan Sea, membuatnya semakin tertekan, rasa bersalah atas keegoisan Sea tak berujung untuk dirinya saja, semua tentang harkat dan martabat keluarga.


"Apa yang akan kamu lakukan? Pertanggung jawaban yang bagaimana yang akan kamu lakukan, Sea?"


Sea masih tertunduk, jujur tidak pernah ia melakukan kesalahan fatal melebihi ini. Dulu, ia memang menjadi rendah dengan menjalin hubungan bersama Jeremy, suami orang, tapi semua atas dasar kesepakatan, karena pria itu sakit dan kebetulan Sea mencintainya, dan sampai hari ini, imbas dari hubungan masa lalunya dengan Jeremy tak menimbulkan masalah apa-apa.


Lalu, bahkan hanya semalam, bersama Red, mampu membuat dunianya berubah dalam sejekab.


"Se-Sea, akan mempertahankan bayi ini, Pa."


"Bukan itu maksud papa, jika kamu memilih membunuhnya, lebih baik papa yang membunuh anak jahanam seperti kamu."


Sea mendongak, sedikit meringis dan mengusap air matanya. "Papa sepaham dengan Lala."


Latania yang berada dipojokkan melotot. Please, hari ini adalah hari paling genting yang pernah dihadapi olehnya, berhadapan dengan keluarga yang sedang menghakimi putrinya, lalu Sea menyeret namanya, sumpah, setelah ini, Latania akan menjabak rambut sahabatnya.


"SEA."


"Iya, Pa?"


"Siapa laki-laki itu?"


Sea menggeleng.


PLAK.


Davis menampar wajahnya sendiri, untuk ketiga kali. "Apa yang akan kamu lakukan? Bilang sama papa, siapa laki-laki itu? Atau kamu akan menghadapi semuanya sendirian."


Sea tahu maksud Ayah-nya. Mengadapi sendirian. Artinya jika Sea tidak punya suami, maka akan ada kemungkinan cemooh yang setiap saat siap menggunjingi hidupnya.


"Dan kalau kamu bilang sama papa sekarang, kesempatan hidup dengan tenang akan kamu dapatkan, jadi, kamu memilih jujur atau siap menghadapi hidup penuh tekanan?"


Sea tetap menggeleng.


PLAK.


Lagi, Davis menamapar pipinya lagi, Sea tak kuasa melihatnya, gadis itu berlari, memegang kedua telapak tangan Davis, mencegah agar tak satupun tamparan terdengar lagi di ruangan ini.


"Pa tampar, Sea. Sea pantas mendapatkannya, jangan sakiti diri papa, Sea mohon, love yourself pa."


Davis menggeram, meski gadisnya memohon dengan tangis, masih sempat anak ini mengatakan 'love yourself' sedangkan hidupnya sendiri tidak dikasihani.


Davis akhirnya duduk di sofa, menenagkan diri, pria paruh baya itu baru saja sampai dan langsung disambut kejutan, anaknya hamil, putrinya sedang mengandung calon bayi. Untung Davis tidak punya riwayat sakit jantung.


Tidak ada selain kebahagiaan untuk anak-anaknya yang diharapkan oleh Davis, pria itu mengangkat kepala. "Sea, kamu yakin dengan keputusan kamu? Tetap diam?"


"I'm young, rich and free pa. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sea tidak khawatir selagi ada papa di sisi Sea."


Davis meleleh, semarah apapun, tidak akan bisa merubah keadaan. "Sini, kamu kesini."


Sea mendekati ayahnya, tangan yang belum renta itu memeluk Sea, gadis itu sekali lagi menangis, tersedu-sedu.


"Kamu nggak usah khawatir, nggak akan ada seorangpun yang bisa mencemooh kamu, papa akan mengatasi semua."


Kurang beruntung apa jika menjadi Sea. Banyak dari anak-anak perempuan diluar sana dengan terpaksa diusir oleh orang tua akibat hamil diluar nikah, tidak memikirkan bagaimana nasib akan membawa mereka, makan apa tidak, punya tempat berlindung apa tidak, untung-untung jika si pria mau bertanggung jawab, kalau tidak, bagaimana?


Terkadang manusia lebih mementingkan egoisme dari pada hati nurani.


Maka jalan keluar yang Sea ambil adalah segera memberitahu orang tua, bagaimanapun, Sea tidak mau seperti drama-drama dengan menyembunyikan kehamilannya, lalu muncul setelah sekian tahun dengan memberi kejutan 'papa, mama, kalian punya cucu' sangat klasik.


Dan Sea yakin, keluarganya cukup mempunyai hati nurani dan lapang untuk menerima.


"Pa, papa nggak perlu melakukan apa-apa, papa cukup diam, nanti, setelah tiga atau empat tahun seperti janji Sea sebelum pergi ke Jerman, Sea akan kembali, Sea yang akan mengatakan nasib Sea sendiri kepada mereka yang bertanya, lagipula, dari kalangan kita apa sempat memikirkan hal seperti ini Pa, mereka hanya akan perduli tentang uang, bisnis dan relasi, tanpa menyangkutkan kehidupan pribadi."


Iya, tidak akan ada yang penasaran. Hidup berjajar dengan orang kalangan atas se-menguntungkan itu. Tidak akan ada yang perduli mau bagaimana cara orang itu untuk hidup, waktu mereka hanya untuk uang, jadi Sea tidak khawatir, tapi...


"Pa, papa mau janji kan? Selain keluarga kita, jangan sampai ada yang tahu sampai Sea pulang nanti."


Satu-satunya yang ada dalam benak Sea adalah, jangan sampai keluarga Ardibrata tahu.


"Oma jamin itu." Sekian lama membisu, oma Seruni bersuara. "Tidak akan ada orang yang akan mengusik cucu dan cicitku, Oma menjamin itu."


"Oma..." Sea berangsur berpindah untuk menghampiri Seruni. "Maafkan Sea, Oma. Tapi jika oma sadar, semua salah Oma, karena apa, Oma selalu berdoa agar Sea cepat menikah dan cepat punya anak, jodohnya belum ada, jadi Tuhan kasih anak duluan, nyicil oma, sisanya nanti nyusul."


Seruni tertawa, namun dibalik tawa yang lebar, ia cukup nelangsa, bagaimana cucu terbesarnya yang sangat keras kepala masih bisa tersenyum lebar.


Sedangkan sang Mama, wanita itu sedang berpelukan dengan Davis, menyalurkan energi agar kuat menghadapi cobaan ini. Biar bagaimanapun, meski diluar negeri adalah hal biasa hamil di luar nikah, bukankah lebih baik Sea mempunyai penjaga untuk merawatnya, yaitu seorang suami.


Semua haru membiru, kesepakatan telah mencapai titik temu. Davis, Sekar dan Oma Seruni akan pulang satu minggu lagi. Sedangkan Latania, gadis itu memutuskan untuk menemani Sea sampai gadis itu melahirkan, membantu mengurus segala hal agar Sea tak merasa sendiria.