Moon

Moon
Janji



Red mendapati Sea berbaring dengan wajah bersembunyi di punggung sofa setelah berhasil masuk di hunian wanita itu.


Latania dimana? Itu pertanyaan Red yang masih menggantung di udara. Pasalnya di depan sana, dihalaman tempat parkir ada mobil gadis itu, namun saat Red masuk ke rumah hanya Anna yang ada di ruang tamu.


Tadi pagi Red mendapat kabar dari Sekar, mengatakan Sea muntah hebat, alhasil jas yang sudah membalut tubuh Red lepaskan dan berganti menggunakan kaos dan training untuk mengunjungi calon istrinya.


“Latania mana? Mobilnya di depan?” dengan tangan mengelus surai si wanita Red bertanya, membuat Sea menarik napas.


Tanpa membalik badan, Sea menjawab dengan pelan. “Ada di kamar baby, main. Kamu kenapa kesini?”


“Kangen kamu.” Jawab Red jujur, lalu pria tampan itu bertanya lagi. “Masih mual? Ada pusing?”


Terdengar Sea menarik napas dengan berat, wanita itu membalik badan hingga terlentang menghadap atas.


“Sangat, nggak akan berakhir sampai usia kehamilan ti……” Sea membekap mulut, menutup hidung dan melotot. Ia mendengus wewangian yang membuat perut bergejolak, seperti diaduk-aduk dan itu membuatnya tambah pusing.


Tak mau menumpahkan muntahan di ruang tamu, Sea segera berlari untuk memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.


Sentuhan hangat sebuah tangan mampir di leher Sea, wanita itu tahu Red sudah dibelakannya, siapa lagi, pria itu memijitnya dengan raut khawatir, Sea tahu karena saat ini ia memandang cermin, menapilkan sosok Red.


Sebenarnya tidak ada makanan yang keluar dari perut Sea, melainkan hanya air saja. Karena semua makanan yang ada sudah Sea keluarkan sejak pagi tadi. Setelah Sea merasa semua sudah selesai, atau rasa mual sudah hilang, wanita itu berkumur untuk membersihkan mulutnya, membasuh wajah untuk menghilangkan keringat yang ada.


Sea memandangi diri di depan cermin, ia seperti melihat sosok mayit hidup, wajahnya pucat, jika biasanya Sea terlihat segar meski tanpa riasan, tapi tidak dengan sekarang.


Membalik badan, Sea merasa perutnya sedikit bergejolak, Red yang mandangnya tampak bingung lagi setelah wanita itu menyuruhnya. “Red Keluar.”


“Ap…”


“Keluar aku bilang.” Sea baru saja menyadari penyebab ia mual berkali-kali setelah Red ada disampingnya, parfume pria itu pelakunya.


Tak menunggu waktu lama, Sea tak kuasa menahan kemualan perutnya, ia membalik badan dan memuntahkan lagi cairan dari perutnya.


Saat tangan Red ingin menyentuh lehernya lagi, Sea mendorong perut pria itu. “Mundur, kamu pakai parfume banyak banget Red. Kamu nggak mandi?”


Red kebingungan, pria itu sontak mundur sampai dauh pintu, mengendus-endus tubuhnya sendiri, tapi Red tidak mendapati wangi parfume yang luar biasa menyengat, ia memakai seperti biasanya, dan satu hal, Red pagi ini mandi.


“Aku mandi dan aku pakai parfume seperti biasanya.”


Dengan wajah seperti orang setres beserta napas yang memburu, Sea memandang pada Red dengan tatapan sengit. “Kamu ganti baju sana.”


Tambah bingung, Red diam saja. Apakah begini kondisi ibu hamil muda? Tapi Red dulu tidak mendapati ibunya seperti Sea saat sedang hamil adiknya.


“Aku nggak punya baju.” Ungkap Red, namun pria itu tak hanya berbicara saja, melainkan kaos yang ia gunakan sudah ia buang di tempat sampah.


“Eeeh……”


Dan satu hal yang membuat Sea melotot lagi, Red mengambil handuk baru yang ia basahi dengan aliran air di wastafel, setelah itu Red mengelap badanya dengan itu, agar parfume yang menempel dintubuhnya hilang.


“Sana kamu ambil kaos kamu di kamar baby, ada satu yang tertinggal waktu itu.” Sea sendiri lupa kapan Red meninggalkan kaosnya, tapi yang Sea tahu itu milik Red.


“Aku gini aja. Lagian di kamar baby ada Latania.” Red sedikit lega karena Sea tak menutup hindungnya saat berbicara, tapi yang lebih penting, Sea tidak merasa mual lagi. “Aku udah nggak bau kan?” tanyanya kemudian.


Sea mengedipkan mata.


Benar yang Red katakan, saat ini Sea merasa udara sudah tidak lagi tercemar, ia merasa berada di dalam hutan, segar melingkupi hidungnya.


Sea memandangi Red, sedikit lama, perut pria itu keras, Sea pernah memegangnya, lengan otot pria itu sangat seksi, Sea juga pernah memegangnya. Tapi jika terus begini, Sea bisa tambah pusing.


“Nggak mual kan?” Red bertanya lagi, pria itu mendekat ke arah Sea.


Dengan kedipan begitu cepat, seolah alarm warning melingkupi kepala, Sea tersadar. “Enggak, tap-tapi, bentar, aku ke kamar, kamu jangan telanjang, nanti masuk angin.” Ujarnya cepat-cepat.


Tanpa mendengar jawaban dari Red, Sea melesat cepat menuju kamar Arche, membuka lemari dan menemukan kaos besar milik Red. Sea ingat, kaos itu Red tinggalkan saat ulang tahun Arche, karena Sekar menginginkan Red untuk berganti pakaian.


“Se, lo kenapa buru-buru dah. Itu kaos siapa?”


Sea hanya mengibaskan tangan saat Latania menanyainya, teman Sea itu bermain ipad sembari berbaring di samping Arche.


Dan sesampainya di kamar mandi, Sea memberikan kaos itu kepada Red tanpa berbicara sedikitpun, Sea berbalik arah menuju ruang santai.


Sampai ia merasa ada yang duduk disampingnya, ia tahu itu Red. Pria itu bertanya. “Sudah diminum vitaminnya?”


Red menghadap Sea, dengan minyak angin yang dituangkan di telapak tangannya, Red tanpa permisi menaikkan ujung kaos Sea keatas dan mengusap-usap perut si wanita. “Aku takut acara nikah kamu nggak bisa jalan? Kamu maunya gimana aku nurut.” Red benar-benar khawatir dengan keadaan Sea.


Sea membiarkan tangan Red dengan minyak mengelus-elus perutnya, ia tidak mau melawan. Sea membuka mata, dengan suara begitu lirih, lalu bertanya. “Kenapa kamu mau nikah sama aku?”


Tidak menjawab pertanyaan, justru Sea menghadirkan pertanyaan. Sumpah demi Tuhan Sea ingin memukul mulutnya sendiri.


Red tercenung. “Telat banget, aku ngelamar kamu udah lama dan sekarang baru tanya.” Red mencibir lalu menuntaskan tugasnya dan menurunkan kembali kaos Sea.


“Tinggal hawab apa susahnya sih Red.” Karena Sea tidak mau dilawan atau didebat.


“Aku udah pernah bilang ke kamu, di rumah pohon.” Dengan nada lembut, Red menjawab, suaranya berat dan membuat Sea sedikit menghangat.


Sea berpikir sejenak, cinta pertama, bukankan sudah ada Rubby setelah hilangnya Sea. Bukankah Red juga sangat mencintai Rubby setelah Sea tidak ada.


“Cinta pertama? Sesederhana itu.”


Red menggetok kepala Sea pelan. “Itu bukan perkara sederhana, aku setres saat kamu nggak ada.”


“Kenapa bisa begitu?” Tanya Sea lagi.


Ya Tuhan, Red harus menjawab apa?


Belum sempat Red menemukan jawaban, Sea berkata tanpa putus dan panjang lebar. “Jangan jawab hal-hal menggelikan, like kamu cinta mati sama aku, nggak ada wanita lain kayak aku, atau aku cewek satu-satunya yang nolak kamu, atau bilang cinta cinta tanpa alesan, kalau dipikir cinta pertama kamu dimulai saat kita masih kecil? Emang kamu paham betul dengan perasaan kamu waktu itu?”


Red nampak tertekan, namun untuk menutupi rasa itu, Red tertawa renyah hingga Sea menyatukan alis, Sea sedang bertanya serius ngomong-ngomong.


“Kamu ibunya anak-anak aku.”


“Bener kan? Karena aku hamil anak-anak kamu? Kalau enggak kamu nggak akan ngajak aku nikah? Kamu pasti masih bar….”


Satu kecupan Red curi, kenapa sih Sea selalu mempertanyakan hal-hal yang tidak pernah terjadi, atau hal-hal yang terlintas dipikirkannya saja.


Sea berkedip lambat, mencerna apa yang baru saja terjadi. Tanpa niat untuk melanjutkan kalimat, Sea menyandarkan tubuh di punggung sofa dan memejamkan mata, lagi.


Hingga beberapa detik Red menyerah. “Mommy, jangan tanya aneh-aneh lagi ya. Mikir itu berat.”


“Nanya alasan nikah itu aneh ya?” Sea kembali bertanya tanpa membuka mata.


Red menggeleng meski ia tahu Sea tak akan melihatnya. “Aku nggak tahu alasan jatuh cinta sama kamu, tapi, yang aku tahu, aku menginginkan kamu, dalam hidupku.”


Sea tahu Red orang baik, tapi Sea juga tahu bahwa Red adalah pria setia untuk Rubby dulu? Lantas apa perasaan Red sudah benar-benar hilang untuk Rubby?


Sea ingat Red pernah berkata jika cintanya dari dulu adalah dirinya, bahkan sampai sekarang Red ngotot mengatakan cinta. Tapi yang tidak dipahami Sea, kenapa justru ia sendiri yang terus menerus kepikiran tentang arti Rubby dalam hati Red.


Sea membuka mata, memandang penuh pada Red yang ada di sampingnya. “Kamu adalah Jared, Jared yang selalu membela Rubby saat semua menghina, Jared yang selalu mementingkan kepentingan Rubby daripada hal lainnya, Jared yang tak segan membentakku karena menganggu malam minggu.”


Red berkedip-kedip, lalu pria itu menatap Sea dengan lembut. “Aku nggak bisa ngomong apa-apa soal itu, tapi yang pasti, semua yang kamu sebutkan itu ada di masa lalu yang nggak mungkin bisa aku ubah kecuali ada lorong waktu.”


Sea mendengarkan dengan penuh perhatian.


Red mengelus surai si wanita, menyelipkan rambut yang sedikit berantakan yang melingkupi wajah cantiknya, lalu membelai lembut pipi Sea dengan ibu jarinya.


“Tapi yang aku tahu sekarang. Semua perasaan yang aku simpan dari dulu ke kamu tidak pernah berubah. Aku berusaha memantaskan diri, berusaha meyakinkan diri sendiri agar bisa sebanding dengan kamu. Aku nggak bilang aku orang yang baik, tapi mencoba yang terbaik agar bisa dapetin kamu.”


Dan hal gila yang saat ini terjadi adalah, Sea merasa jantungnya seperti genderang di pukul begitu keras, getarannya tak main-main yang sontak membuat Sea tak bisa mengeluarkan sanggahan lagi.


Red tersenyum, pria itu tak menghilangkan keseriusannya.


“Jadi mommy, aku mohon. Kamu percaya sama aku. Aku janji tidak akan menjadi pria yang akan menyakiti kamu.”


Janji?


Sea terdiam, wanita itu hanya akan menatap mata Red lebih lama, untuk mendapatkan jawaban.