
Namanya juga pernikahan, asam, manis, pahit semua beradu menjadi satu. Sea berpegang pada satu keyakinan, menjadi menganut ‘young, rich adn free’ jika saja ia tetap menjadi single mother. Namun rasa-rasanya menikah tidak ada buruknya. Rumah tangga ya begini, pertikaian kecil, saling tidak percaya oleh sebab masa lalu yang tidak bisa lepas dari suaminya, tapi Sea bukannya sudah belajar banyak?
Satu bulan dari hari pengancaman yang Sea katakan di malam hari kepada suaminya, dan benar, selama itu pula rasa gelisah berangsur menghilang.
Red sudah seperti manusia pada umumnya, tidak lembur seperti orang gila, tapi dasarnya Red itu gila harta, diam sedikit pasti ada saja kerjaannya, tidak apa-apa, Sea maklum yang penting tidak melupakan keluarga kecilnya.
Perut Sea sudah mulai berkembang, gundukan itu terlihat menggemaskan di usia tiga belas minggu. Usia yang rentan sudah Sea lewati dengan air mata, tidak buruk di fisik tapi menyiksa dibatin. Tapi Sea tetap merasa tidak apa-apa sebab pengalaman mengajarkan agar ia sabar.
Yang terpenting bagi Sea adalah fisik yang sehat, morning sickness yang menyiksanya sudah berlalu digantikan oleh ngidam yang kata Red ‘ngadi-ngadi’ karena Sea tetap ingin di elus perutnya oleh Jantis.
Jantis?
Iya, Sea waktu itu berbohong menggunakan nama Jeremy karena pikirannya berpusat pada Rubby. Setelah itu Sea mengatakan yang sejujurnya kepada Red bahwa yang ia inginkan adalah jemari Jantis dengan tangan penuh tato, maco katanya.
Tapi jawaban Red sama, menolak. Tidak hanya suaminya, bahkan Latania juga menolak dengan tegas permintaan Sea. Kenapa dua manusia itu sangat berlebihan sekali? Padahal hanya mengelus perut Sea saja, tidak sampai kemana-mana.
Dulu saat ngidam kehamilan Arche, Sea tidak pernah tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Jadi untuk urusan Jantis, kalau saja anak kedua besok lahir ileran, yang harus bertanggung jawab adalah Red dan Latania, titik.
Sea menyandarkan tubuh di sofa. Ia lelah berada di kantor. “Kamu nggak boleh pulang kalau Jantis nggak naik ke atas.”
Siapa gerangan yang diancam oleh Sea? Jawabannya, tentu saja Latania.
Beberapa kali Sea membuat rencana agar supaya Jantis bisa berhadapan dengannya. Sedangkan Latania selama ini berusaha keras untuk menyembunyikan kekasihnya oleh rencana-rencana busuk Sea.
“Mau apa lo? Masih mau di elus pacar gue? Ogah.” Tetap, Latania menolak. Wanita itu tetap bertahan di sofa ruangan kantor Sea, kendati mati-matian menjaga agar telapak tangan Jantis jangan sampai mengelus perut Sea, Latania tetap mengabulkan permintaan Sea untuk selalu berada di dekat temannya itu.
Seperti sekarang. Sea tiba-tiba memanggilnya, mengatakan untuk menemani di kantor, Sea sendiri kesepian karena Arche dibawa oleh Ibu Kirana.
Mendapat jawaban menohok itu, Sea justru mengangguk mantap. Semacam orang tidak berdosa karena ingin pacar sahabatnya bersentuhan dengannya, tapi demi Tuhan, hanya mengelus perut saja, tidak lebih.
“Jam berapa Red nyusul lo? Udah hampir sore, lo nggak boleh capek-capek.” Mengalihkan topik, Latania mencoba menasehati.
“Bentar lagi dia pulang ngantor kok, langsung jemput aku.”
Sea juga lega karena Arche sekarang lebih paham jika ayahnya harus bekerja hingga bocah itu sudah tidak merecoki ataupun menanyakan Red dengan terus menerus.
“Gue dikasih tahu Jantis, suami lo sibuk sebenarnya. Masih bisa jemput-jemout lo? Gunanya lo bawa mobil sendiri apa coba?”
Sea mengedikan bahu. “Nggak tahu, orang Red sendiri yang mau jemput aku.”
Kata Red, pria itu juga mulai sibuk lagi, Sea tidak kaget, adapun Jantis juga tahu karena yang dilakukan Red sekarang atau yang dikerjakan Red sekarang adalah mengenahi inovasi mall baru Centra Ardibrata, Jantis pasti terlibat di dalamnya. Dan hal pentingnya, Sea tidak begitu paham karena ia juga tidak bertanya.
Biar jadi kejutan saja.
Setelah menjawab Latania ada keheningan sejenak, Sea mendengus dan menarik napas dalam. “Jantis kok nggak dateng-dateng sih?” Gerutunya. “Jangan bilang kamu nggak ngebolehin dia naik ke atas? Latania, ngaku?”
Benar, Latania selalu punya cara agar Jantis tidak bertemu Sea.
“Kan gue udah bilang ogah, nggak rela.”
“Cuma elus doang Latania. Anak aku ini pinter milih, pengennya dielus sama lelaki macam Jantis, sangar.”
Latania meringis, Sea saja tidak tahu bagaimana imutnya Jantis itu, hanya badan yang kekar, tapi wajah bayi sekali. Ngomong-ngomong soal sangar, bahkan Red lebih sangat daripada Jantis, apalagi tatapan dan mulut pedas suami Sea itu, ngeri sekali.
“Berani bayar berapa lo? Lo ngidam apa ngadi-ngadi sih?” Latania menantang, mencoba membuat perhitungan.
“Ngidam Latania, mana ada aku ngadi-ngadi? Yaudah deh, kamu mau dibayar berapa untuk satu elusan.”
“Heh wanita ganjen. Emang lo mau dielus berapa kali?” Pantas kan Latania ngamuk-ngamuk sekarang ini.
“Latania, kalau aku bisa bayar seperti yang kamu mau, nggak ada ruginya kan?”
Melihat keterdiaman Latania yang seperti orang berpikir keras, Sea tersenyum, lantas menaikkan alisnya main-main. “Ayo, maunya berapa?”
Mata Latania berbinar. “Gue mau kita trip ke Korea, lihat konser, fix, deal nggak ada penawaran dan biaya semua lo yang tanggung.”
“Oke.” Keduanya sama-dama suka dengan oppa oppa Korea, lantas tak menjadi beban berat hanya untuk trip menyenangkan itu. “Setelah baby kedua lahir, kita kesana.”
Sea menilik apa yang berada di dalam pesan yang ia terima, sebuah video telah dikirimkan kepadanya dengan durasi dua puluh detik dari nomer yang tidak Sea kenal.
Napas Sea terasa berhenti begitu saja saat ia masih memandang video yang belum terputar, meskipun begitu, Sea jelas jelas tahu siapa yang ada di dalam video tersebut.
Bersama raut yang berubah drastir dan senyum yang hilang di telan bumi, Sea merasakan lagi bagaimana denyut jantungnya bertalu hebat yang menghadirkan kecemasan lebih gila daripada sebelum-sebelumnya.
Sea menghabiskan beberapa detik untuk menetralkan kacau pikiran, wanita berambut pirang dengan wajah datar itu mulai menekan tombol play pada video.
Setelah waktu melintas di titik dua puluh detik hingga membuat video terhenti, Sea tetap diam di tempat.
Tidak ada pemandangan yang lebih buruk daripada melihat suaminya berada dipelukan wanita lain, dalam sebuah ruangan tertutup.
Tidak, Sea tidak pernah merasakan sakit yang sangat mendalam, sekalipun tidak pernah, ini adalah yang pertama kali, jika sebelum-sebelumnya rasa gelisah yang dirasakan Sea akibat dari terkaan-terkaan tidak jelas atau bumbu-bumbu emosi yang diberikan orang lain, tidak dengan sekarang saat bukti telah ia lihat dengan nyata.
“Sea, lo nggak denger gue. Eh, Red dateng.”
Bersama munculnya nama pria itu, Sea mendongak setelah menaruh ponsel dalam tas di atas meja. Wanita itu berdiri, matanya membentuk garis tipis sesaat, langkahnya pelan menyambut Red yang datang dengan senyum rupawan.
Dan disaat kaki sudah berjarak tak kurang dari lima puluh semtimeter dari si suami, Sea berhenti, wanita itu mengangkat tangan, menaruh tenaga sebesar-besarnya untuk melayangkan satu tamparan keras.
Plak.
Bunyi tamparan Sea tak main-main.
“Waah.” Red meresapi panas bercampur perih yang melanda pipi miliknya.
Red kesakitan, tidak hanya itu saja, ia merasa rahangnya akan patah hingga pria itu mencoba menggerak-gerakannya pelan, beruntung, rasanya hanya linu saja, masih baik-baik saja. Kemudian Red memandang istrinya dengan bertanya-tanya, tapi ia urung untuk protes lebih lanjut dan hanya bertanya. “Hello, permisi?”
Sedangkan Sea sendiri tak marasa berdosa, wanita itu justru sibuk dengan tangannya yang kebas sehabis menampar suaminya. Sea merasakan kesakitan juga di pergelangan dan telapak tangannya, dari sini sudah jelas sekali bagaimana tersiksanya pipi Red jika tangan Sea yang menapar saja sakit luar biasa.
Tak lama, Sea mendongak, menggeleng mananggapi pertanyaan suaminya. “Nggak ada yang serius, cuma pengen nampar kamu aja.”
Oke. Latania praktis menganga mendengar jawaban Sea. Gadis itu juga syok berat, keadaan membalik dengan mendadak dan tak terduga.
Dan bagaimana dengan Red. Pria itu jelas sekali tahu jika ada sesuatu yang membuat Sea marah, jawaban kelewat santai berbanding terbalik dengan bagaimana cara Sea menatap terlebih sorot matanya yang menyeramkan.
“Aku kaget sayang, harusnya bilang dulu biar aku ada persiapan.” Balas Red kemudian.
“Kan aku mau bikin kejutan buat kamu.” Sea tersenyum.
Tapi sumpah demi Tuhan, lebih baik Sea berteriak dari pada tersenyum dengan tatapan kosong seperti itu. Red tidak tahu ada apa.
Apakah ia punya salah?
Red bukan manusia super yang bisa membaca pikiran orang lain, jika ia mau, Red siap disulap menjadi Anya pemain cilik serial Manga demi untuk bisa membaca pikiran Sea. Tapi nyata-nyatanya semua hanya akan menjadi mustahil.
“Yaudah. Mau pulang sekarang?” Red bertanya lagi setelah menenagkan pikiran dan menetralkan denyut jantungnya, pria itu juga beberaoa kaki meloloskan napas berat.
Sea membalik badan, dengan langkah menjauh dari Red, wanita itu bersuara. “Aku nunggu Jantis.”
“Sea, aku bilang nggak setuju waktu itu.” Red protes, ingat betul jika ia melarang keras istrinya untuk menyentuh pria lain, terlebih pacar Latania, wanita yang sedari tadi diam menonton mereka.
“Kapan? Emang kamu pikir keputusan ada di tangan kamu?” Balas Sea ringan.
Sea kan sudah membuat penawaran dengan Latania, jadi peran Red sudah tidak berguna.
Dan setelah itu Sea mengambil ponselnya lagi, wanita itu sepertinya sedang menggulir photo-photo di Instagram karena beberapa kali jemarinya gemas seakan-akan mencubit apapun yang ada di layar, Red menduga pasti istrinya sedang melihat V BTS.
Red mendekati Lantania. “La. Ada apa sih?” Tanyanya.
Latania menggeleng. “Gue nggak tahu, sebelum lo dateng dia baik-baik kok, terus lo dateng tiba-tiba kerasukan gitu. Serem.”
Jawaban Latania membawa Red lebih bingung lagi. Jadi apa yang harus Red lakukan untuk menggali isi pikiran istrinya itu. “Gue salah apa?”