Moon

Moon
Tidak Akan Mengganggu



Sea:


Red, kamu dimana?


Red melotot, seakan waktu hidupnya tinggal beberapa detik lagi, ia tak mau membuang dengan sia-sia, maka saat ia mendial nomer ponsel Sea, Red berharap panggilan cepat diangkat, namun apa daya jika takdir berkata lain, operator memberitahukan ponsel Sea sudah mati.


"Sial."


Red:


Lo dimana sialan?


Sengaja ngerjain gue lo ya?


Red sampai bingung kenapa ia bisa semarah ini hanya karena Sea sulit dihubungi. Pantas bukan jika dia marah karena sikap misterius Sea.


Sayang sekali lagi, saat Red memeriksa status pesan yang ia kirim kepada Sea, disana memberitahukan jika pesan Red tidak terkirim, artinya ponsel Sea benar-benar mati.


Red duduk kembali, bersiap untuk berpesta sendiri, menyesap rokok dan mengguyur minuman alkohol di kerongkongan. Meski begitu, pemuda itu tetap gelisah dan berkali-kali memeriksa ponselnya lagi .


"Sial!!"


Red beberapa kali mengumpat, ia sudah tidak tahu lagi. Pikirannya berantakan. Jika ia berpikir ulang, kenapa di usia yang sudah matang ia harus menerima drama percintaan yang sangat mengerikan.


Cinta pertama.


Ya, Rose Sea Matrin, adalah cinta pertamanya. Cinta yang sedari dulu tidak pernah menoleh barang sedikitpun ke arahnya. Cinta yang selalu menganggapnya hanya teman biasa. Bahkan saat cintanya pergi ke negeri orang, tanpa sepatah kata diucapkan sebagai perpisahan.


Red kecil sudah bisa merasakan sakit hati, Red kecil sudah punya nyali untuk mencintai, meski sempat melupakan dan beralih hati kepada Rubby, kenapa saat cintanya kembali Red masih memberi gelar kepada gadis Sea sebagai cinta yang tak akan mati?


Bahkan diatas rasa cinta dalam bentuk dusta yang Red berikan kepada Rubby, pemuda itu berani bersumpah jika Rubby adalah labuan terakhir. Lalu rumah tangga yang bagaimana yang akan dijalani dengan perasaan palsu seperti itu? Terlebih Rubby yang berlaku seenak jidat bergeleyot manja kepada pria lain. Hubungan macam apa yang sebenarnya dijalani Red dan Rubby?


Red memijit pangkal hidungnya, ia pengar karena meneguk minuman dengan tegukan banyak. Kepala sedikit pening tapi ia masih sangat sadar, karena Red bukanlah orang dengan toleransi alkohol yang rendah. Ia mengecek ponselnya lagi, namun, astaga, Red menjadi orang paling tolol di dunia mengharapkan Sea akan menoleh padanya.


Dan disaat Red ingin menaruh ponselnya. Ada satu pesan masuk.


Roy:


Red, coba lo ke Sky House, gue lihat cewek yang pernah jalan bareng lo, kontras banget, rambut pirang, dia mabok, pergelangan tangannya biru dan doi sendirian, gue janji nggak bilang Rubby.


Roy:


Gue berhasil nyolong fotonya.


Roy:


Sent picture.


Pikir Red, persetan dengan Rubby.


***


Dibalik napas yang ngos-ngosan, Red memberi perintah lewat mata agar Roy yang berada dibelakang Sea untuk enyah dari sana, tapi sebelum Roy benar-benar menghilang, Red mengacungkan jempol tangannya ke udara, tanda terimakasih.


Red sebenarnya ingin mencakar wajah Sea, atau menjambak rambut gadis itu. Australia, omong kosong apa yang sebenarnya dikatakan oleh Sky?


"Hai Sea? Apa ini yang dinamakan Australia?" Suara manis Red yang sedikit keras terdengar jelas ditelinga Sea, gadis itu sudah akan meneguk minuman yang baru saja dituang di gelas kaca.


Sea sama sekali tidak percaya dengan sebuah kata kebetulan seperti yang orang-orang katakan. Presentase pertemuan antara jumblah manusia di bumi dengan masa yang ada tidak akan memungkinkan untuknya bertemu dengan Red ditempat ini, secara tidak sengaja.


And, see..


Red ada di depannya, Sea berpikir ribuan kali setelah terakhir mengirim pesan pada Red lalu dengan sengaja mematikan ponsel karena baru saja siang tadi Sea berjanji tidak akan mengganggu Red lagi.


Masa  hidup Sea di Negara merah putih hanya tinggal satu malam, disaat matahari muncul besok pagi, Sea sudah harus berada di dalam burung bermesin, menuju Jerman.


Apakah ini keberuntungan bisa lelihat Red untuk terakhir kali?


Red menggunakan kemeja putih, terlihat sangat tampan dengan kancing terbuka dua dari atas, memperlihatkan dada yang selama ini tidak pernah Sea lihat.


"Aduh, otakku lagi nggak beres Red, coba deh kamu tutup kancing kemejanya, aku takut ada sesuatu hal yang nggak bisa aku kendaliin. Mencium bibir kamu misal, seperti kamu mencium ku di pesta."


Sumpah demi Tuhan, Red tidak terganggu oleh Sea yang bersikap sedemikian rupa, karena apa yang ditangkap oleh mata Red saat ini jauh lebih penting, pergelangan Sea yang membiru.


"Siapa? Bilang sama gue, siapa yang ngelakuin ini ke lo, Sea?" Red memanfaatkan hangover yang saat ini Sea alami dengan sebaik mungki, Red juga mencengkram pergelangan gadis itu.


Mata Sea berkedip-kedip.


"Siapa yang nyakitin lo Sea?"


"Aku cinta dia Red. Jeremy, aku mencintainya." Bersamaan dengan mata yang memandang layu kepada Red, Sea mengatakan itu, dengan sejujur-jujurnya. "Aku rela disakitin, aku rela dijadiin samsak agar......setidaknya bisa menghabiskan waktu bersama, aku mencintainya Red."


Tatapan Sea menajam, berubah total menjadi kesal. Sea sangat kesulitan, setangah mati menahan segala rahasia agar tidak terbuka, tapi kenapa sekarang rasanya percuma menahan, bibirnya dengan mulus mengatakan semuanya, di depan Red, di depan orang yang ia coba untuk dijadikan alat pelampiasan, Red hanya untuk senang-senang, pengalihan dari rasa sakit yang bertahun-tahun Sea rasakan.


"Lo tolol, Sea. Lo sadar lo tolol, itu bukan cinta tapi tolol."


"Nggak ada bedanya sama kamu, Red. Hubungan apa yang kamu jalani dengan Rubby, bukankah kamu juga tolol. Jadi, jangan tanya apapun lagi."


"Tapi dia nyakitin lo!!"


"Aku bahkan rela dengan itu semua, aku rela mengabiskan waktu bersama Jeremy meski itu satu detik saja. Bahkan aku rela dijadikan alat pemuas dan ditinggalkan begitu saja setelah tak berguna."


"Se, lo sadar apa yang lo lakuin bisa merusak rumah tangga mereka.."


"Bahkan kak Suri tahu.."


"Psyco."


"Jeremy nggak jahat, Red. Dia sakit. Dia nggak akan nyakitin aku kecuali aku kasih ijin. Jadi kamu nggak usah berpikir macem-mecm, ini urusan aku, nggak ada tanggung jawab kamu buat ikut campur."


"Lo gila, Se."


"Iya, aku segila itu. Puas kamu."


Sampai kapan lagi Red akan berhenti bertanya? Sea tidak habis pikir, apa peduli pemuda itu, bukankah selama ini Sea hanya pengganggu. Pantaskan Red mengatainya sedangkan hubungan pemuda itu dengan Rubby tak jauh berbeda?


"Se, kalau benar Jeremy sakit, kenapa nggak berobat, kenapa harus melampiaskan semuanya ke tubuh lo? Nyakitin lo!!!"


"Aku udah bilang, semua atas ijin aku. Jeremy nggak akan nyentuh aku sedikitpun tanpa ijinku. Kamu pergi, urus pacar kamu, bukankah Rubby juga nyakitin kamu, lalu kenapa kamu nggak kasihan sama diri kamu sendiri?"


"Rubby nggak sama, Se. Dia nggak nyakitin gue dengan sengaja. Nggak nyakitin fisik juga. Gue mohon, lo berhenti. Demi kebaikan lo."


Red miris mendengar berita dadakan dari mulut Sea. Beserta tanda-tanda memar yang ada ditubuh gadis itu. Jeremy brengsek.


"Mau kamu ngomong seribu kalipun. Kebaikan yang ada dalam diriku hanya aku yang bisa menentukan Red. Tolong pahami, Jeremy bukan orang jahat, dia hanya sakit."


Sakit dalam tanda petik ini? Jelas Red paham. Kelainan seksual yang senang menyiksa lawan, apalagi. Sialan.


"Kalau dia benar-benar sakit, harusnya berobat, nggak malah cari lahan untuk tempat pelampisan. Lo gila, Jeremy gila, Suri juga sama."


Benar. Yang dikatakan Red sangat benar. Dan baru beberapa jam yang lalu Sea mengatakan hal yang sama kepada Jeremy, ditempat ini, sekaligus memutus hubungan karena Sea juga ingin berhenti. Sea juga berpikir jika dirinya sudah tidak waras.


"Apa kamu tahu kenapa aku ditempat ini?" Sea tak kuasa menahan tangis, ia tertunduk di bar table. "Seperti yang kamu usulkan. Aku sudah mengakhirinya, beberapa jam yang lalu. Kamu tahu bagaimana hancurnya hatiku saat ini, Red."


Sea adalah orang dengan seribu rahasia yang tidak akan sembarangan berbicara terbuka, jika bukan karena mabuk, sampai mulut robek dipaksa mengaku juga tidak bisa. Sea sangat berbeda dengan perangai yang gadis itu tunjukkan di hari-hari biasa.


Bahkan. Sea yang dewasa, yang digadang-gadang sebagai anak pertama keluarga Martin dengan pundak tangguh dan otak cerdas bisa berubah kekanakan hanya karena cinta.


"Meski gue bukan pembicara hebat, tapi ada sesuatu yang pengen gue sampein ke lo. Lo harus ingat, Se. Kenapa sampai sekarang nenek Seruni mati-matian olahraga agar badan tetap bugar, beliau hanya ingin melihat bagaimana cucu pertamanya berada dipelaminan bersama pasangan yang tepat, secinta itu beliau sama lo. Begitu juga papa lo, meski gue sering denger lo itu anak aneh langsung dari mulut om Davis, tapi gue yakin lo harta paling berharga yang beliau punya. Lo harus tahu, banyak orang yang sayang sama lo, lo juga beruntung bertemu orang seganteng gue, daripada lo nyerahin diri percuma dan disakitin sampai biru-biru begitu, mending lo sama gue, gue janji akan memperlakukan lo dengan lembut. Jadi gue mohon, lupakan Jeremy, lo harus janji, mabok-mabok lo buat malam ini untuk terakhir kalinya, gue harap, besok pagi lo sudah lupa apapun tentang Jeremy. Lo harus ingat, lo dijaga layaknya harta karun, tapi diluar lo di injak-injak layaknya barang tak berguna. Bisa lo bayangin bagaimana perasaan mereka kalau tahu berliannya meredup?"


Sea meledakkan tangisannya begitu kencang. Apapun yang menyangkut tentang keluarga memang rentan untuk di dengarkan, Sea terluka hebat jika melihat kepedihan di mata orang-orang yang ia sayang. Sea hidup untuk jadi tangguh, ditemukan berpotensi menjadi backup pewaris utama raja bisnis keluarga sejak dini. Sea ditutut siaga jika suatu saat terjadi apa-apa dengan ayahnya. Jadi untuk segala kemungkinan, Sea siap.


Jadi untuk apa kerapuhan yang Sea rasakan saat ini? Bukankah Sea orang kuat?


Karena ruangan ini dikhisusnya untuk VIP, tidak akan ada orang yang mendengar kecuali pelayan khusus, Sea menagis tersedu-sedu, meresapi kesedihannya sendiri dengan Red yang berkali-kali menepuk punggung gadis itu.


"Sea." Red memanjangkan tangannya untuk meraih kepala gadis itu, ini pertama kali juga untuk Red melihat titik terendah Sea, yang awalnya menahan tangis sampai meledakkan begitu saja.


Sea menggelengkan kepala. "Kamu jahat Red. Kenapa kamu harus datang dan tahu semuanya, minuman ini juga jahat, andai aku nggak minum banyak."


Red sedikit tertawa. Namun ia berhenti saat Sea menegakkan tubuh lagi, meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. "Tadi aku chat kamu, kangen, meskipun cuma dikit." Sea meringis, lalu menatap Red dengan dalam. "Aku nggak akan ganggu kamu lagi, Red." kalimatnya berakhir.