
Empat tahun kemudian.
***
Titik balik kehidupan Sea berada tepat saat ia meresa perut yang biasanya rata menjadi bertambah volume, disaat yang sama, ia tersentuh bagaimana gumpalan daging itu berubah wujud dan mempunyai detak jantung yang bisa ia dengarkan lewat alat saat memeriksakan kandungan ke dokter, hati Sea bahagia, melebihi apa itu jatuh cinta.
Menjadi dewasa, adalah hal yang paling membanggakan dalam sejarah hidup Sea, dimana ia sudah tidak memikirkan untuk mengelilingi klub malam, mabuk-mabukkan, dan hal-hal yang berkaitan dengan bersenang-senang. Sea tidak lagi memikirkan banyak hal diluar kewajiban. Iya, kewajiban.
Terlebih saat ia menjadi seorang ibu.
Putri dari Davis telah melahirkan seorang anak laki-laki, tiga tahun yang lalu.
Arche Numan......Ardibrata......atau......Martin.
Memikirkan itu Sea tertawa sendiri, sangat sulit membubuhkan nama belakang untuk pangeran kecilnya. Tentu saja, nama belakang Ayah kandungnya yang akan menjadi ledakkan seperti boom jika saja orang mendengar atau nama dari keluarganya sendiri yang akan menjadi pertanyaan besar.
Karena?
Ya, karena pada kenyataannya Sea menjadi single parent.
Menikah?
Omong kosong. Itu rencana Sea yang disetujui keluarganya, terlebih untuk meyakinkan Kirana dan Red saja, juga kepada adiknya Sky beserta anak ragil Ardibrata yaitu Blue. Karena saat semua mengunjungi Sea minus Red yang tak nampak batang hidungnya, Sea meminta Alvaro, temannya untuk berpura-pura menjadi suami.
Sea segila dan seniat itu.
Sea memang sangat berdosa membohongi banyak orang, tapi apa boleh buat, slogan wanita itu adalah 'Young, Rich and Free', Sea tidak pernah mempunyai cita-cita untuk menikah setelah hatinya patah oleh masa lalunya, ia sama sekali tidak bisa percaya dengan cinta, terlebih tubuh yang trauma karena Jeremy tentunya.
Malam itu, bagaimana Sea menyerahkan diri kepada Red adalah bentuk dari sebuah frustasi, tapi mengingatnya lagi untuk dijadikan ajang penyesalan rasanya kurang tepat, karena buah hasil dari malam panas adalah sebentuk pangeran kecil yang tampan, Sea tidak mau berdusta jika ia bahagia karena memilikinya.
Arche, adalah pilar utama dalam hidup Sea, bulan paling indah dan bersinar yang bisa membuat Sea jatuh cinta.
Terkadang Numan, nama yang mengandung arti 'merah' adalah bentuk penghargaan Sea kepada Red, karena mau bagaimanapun, Arche anak pria itu, tapi sumpah demi apapun, Sea tidak ingin membaginya, karena hidup dengan buah hati sudah lebih dari cukup, Sea tidak mau diganggu, oleh siapapun.
Prioritas Sea berubah drastis, pun pusat hidupnya hanya berporos kepada Arche seorang. Begitulah seorang ibu yang benar.
"Rencana hari ini apa, nak? Arche mana?" Suara pria paruh paruh baya terdengar lewat sambungan telepon, terdengar penuh wibawa.
Sea berada di ruang makan rumahnya yang memiliki aksen khas Eropa karena ia sekarang memang masih berada di Jerman, ruangan itu nampak eksotis dengan lukisan-lukisan kuno yang menempel di dinding-dindingnya.
Satu pelayan menyiapkan makanan untuk Arche disaat Sea tersenyum karena Ayahnya menanyakan kabar putranya, bukan hal yang asing, bahkan setiap hari Davis, Sekar atau Oma Seruni selalu mengisi absen untuk mendengar kabar cucu mereka meski perbedaan waktu mencapai delapan jam, artinya Jakarta masih tengah malam.
"Cucu papa sehat dong, tampan juga. Ini dia lagi makan, say hay baby, hay opa." Sea mengalihkan panggilan suara dengan mode video call, menunjukkan Arche kepada Davis.
"Hay opa." Arche berbicara dengan tangan melambai ke kamera.
Dan menurut Sea, titik sial yang harus dihadapi oleh dirinya adalah ketika bayi Arche sangat mirip dengan Red. Sangat tampan, mata bulat beserta dua kelopak mata yang berbeda satu monoloid dan satu ganda, alis tebal, hidung mancung, dan bibir, astaga, cetakannya tak main main, Sea takut jika suatu saat banyak orang menyadarinya terlebih Red tidak bisa dilupakan atensinya oleh orang terdekat Sea, dan untuk sekarang masih aman, hanya Sea yang tahu detailnya.
"Arche makan apa pagi ini?"
"Telul goyeng, ikan, sayul hijau, nasi, susu, " Jawab Arche yang masih cadel, sangat menggemaskan karena satu-persatu yang diucapkan juga ditunjuk dengan jarinya.
"Pintar sekali sih anak mommy." Sea melanjutkan sarapan paginya beserta Arche yang duduk di sebelahnya dengan kursi khusus agar tidak jatuh, meski Arche sangat aktif dalam berlari, Sea menrapkan jika makan harus tenang, dan Arche adalah anak yang penurut, pintar dan selalu mendengarkan apa yang Sea katakan.
"Nak, apa rencana kamu sekarang? Kamu harus pulang, papa sudah tua."
Anak usia tiga tahun itu mengangguk, artinya Sea akan membawanya ke kantor lagi. "Ya sudah, makan yang kenyang, nanti mainnya biar nggak capek."
Bahasa Indonesia sangat penting disaat tumbuh dan berkembang di luar negeri. Sea selalu mengajak Arche berbicara bahasa Indonesia, karena ia tahu lingkungan yang mereka tempati kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, jadi secara otomatis Arche akan lancar menggunakan dua bahasa, beruntung anak itu mampu menyerap bahasa dengan cepat dan tepat.
"Kamu tidak lelah nak, pulang, biar kami membantumu mengurus Arche."
Gerakan tangan Sea berhenti. Ia menegakkan punggung, wanita dengan AirPods menyumpal telinganya itu tersenyum saat si anak menatapnya dengan kedipan berkali-kali.
Menjadi dewasa.
Sekali lagi menjadi wanita bertanggung jawab dalam porsi Sea sangat sulit, dimana saat hamil ia harus menjalankan perusahaan, cuti lahiran dan baru melahirkan pun langsung bekerja lagi, Arche terkadang dibawa ke kantor kadang juga di asuh Latania atau pengasuh lainnya, karena Latania pun bukanlah seorang pengangguran, gadis itu penulis novel terkenal namun tersembunyi keberadaannya.
Mengenahi sahabatnya itu, mungkin Tuhan telalu baik untuk Sea dan telalu jahat untuk Latania, selang beberapa bulan kehamilannya, Latania mengabari kandasnya hubungan dengan Jantis hingga membuat gadis Thailand itu ikut tinggal di Jerman bersamanya.
"Ada Latania pa, Sea masih bisa handle semuanya. Nanti ya, kalau keadaan sudah memungkinkan, maksudnya saat ada yang bisa gantiin Sea disini, Sea janji pulang."
"Pagi pangeran Numan anaknya......"
Sea memberi isyarat kepada Latania yang baru saja turun dari tangga agar tidak kebablasan dalam menyapa anaknya, karena apa yang akan dikatakan Latania berikutnya pasti akan membuat guncangan besar untuk keluarga Sea yang saat ini masih tersambung telepon.
"Yasudah, kamu baik-baik disana, papa mau istirahat dulu."
"Pa." Sea berdiri meninggalkan meja makan. "Pa, boleh Sea minta bantuan lagi?"
"Apa itu nak?"
"Papa pelan-pelan buat isu, isu Sea sudah cerai, papa ingin Sea pulang kan?" Sea tak tega karena Davis selalu mendesaknya, dan akhirnya setelah dipikir-pikir, ia harus pulang, tanggung jawab di Indonesia lebih besar. Lagipula disini ada Devon orang kepercayaannya. "Papa buat isu Sea sudah cerai dengan suami Sea, nggak lucu kan Sea pulang nggak bawa suami."
"Nak, kamu masih mau bungkam, tidak mau memberitahu papa identitas ayah Arche?"
"Bye papa, Sea akan menyiapkan semuanya, nggak sampai sebulan, Sea janji pulang. Dan siapkan juga mutasi Devon dengan segera ya. Sea sayang papa."
Ia tidak mau megatakannya, terlalu sulit, kenapa sampai detik ini Davis tidak mau mengerti, apa raut tanpa beban di wajah Sea masih belum cukup menunjukkan jika ia sudah sangat bahagia?
"Pangeran Numan mau bertemu Red daddy ya, Alhamdulillah nggak jadi anak yatim, mommy udah mau pulang Indo." Nampaknya mulut Latania minta di tambal ban, Sea yang mendengar ingin sekali menjambak rambutnya.
"La, jangan cekokin Arche dengan nama bapaknya, usia segitu udah bisa inget lho."
"Pangeran Numan, ayo bilang Red Daddy, ayo sayang, bilang sama mommy, Red Daddy." Latania tambah memprovokasi.
"Led daddy." Ucap Arche, diakhir kata anak itu tersenyum karena melihat Latania yang melotot konyol. "Nia Auntie, yatim apa?" lanjut bocah itu bertanaya.
"Wah bener."
Sea menutup telinga Arche. "Aku udah bilang kan."
"Ya gue nggak nyangka makin lama anak lo makin pinter, Se."
"Iya nggak kayak kamu makin nyebelin."
Latania tahu kenyataan itu setelah mencuri dengar telepon Sea dengan Red, kalimat mencurigakan yang Sea ucapkan kepada Red mengganggu dan memancing rasa penasaran Latania, karena apa yang diucapkan Sea menjurus ke arah ranjang, dimana Sea juga mengatakan untuk melupakan kata kecelakaan, dan Latania paham kecelakaan apa maksudnya, setelah desakan dan ancaman yang Latania ucapkan, Sea akhirnya mengalah dan mengungkapkan semua.