
Tin...Tin....
Tin...Tin...
Mobil Ferrari hitam sudah terparkir jelas di antara rumah Martin-Ardibrata, Sea tak mau turun, baginya ini sudah lebih daripada telat. Sesuai janji tempo hari, Blue mau menemani Sea pergi ke rumah utama.
Rose Sea Martin:
Baby Blue, kak Sea tunggu di depan.
Blue Kahiking Ardibrata:
Jadi yang berisik itu kak Sea? Oke, Blue ganti baju.
Sky Laura Martin:
Mobil mana lagi kak? Baru? Mobil kak Sea yang lainnya aku jual aja ya, mayan, buat beli skin care.
Dari dalam mobil, Sea menoleh ke arah atas, ke arah rumahnya, tepatnya lantai dua, ada Sky disana, memegangi ponselnya.
Rose Sea Martin:
Mau naik taksi takut kelamaan. Jadi kak Sea beli tadi. Iya, kamu jual nggak apa-apa. Kalau kurang uang skin care, kak Sea tambahin.
Sky Laura Martin:
Aku ini lagi nyindir kak Se. Astaga, punya kakak gini bener.
Rose Sea Martin:
Bye sister, Blue sudah keluar, kakak pergi dulu
Sky Laura Martin:
Aku nggak di ajak?
Rose Sea Martin
Kamu ini gimana sih dek. Katanya nggak mau. Ikut bawa mobil sendiri.
Blue Kahiking Ardbrata:
Mampus lo.
Sky Laura Martin:
🤬
Sea itu bukan gadis ribet. Apa yang menurutnya benar dan praktis, maka ia akan melakukan. Saat Blue memasuki mobilnya, Sea tersenyum gembira. "Kamu yang nyetir, test drive, kalau cocok, mobilnya buat kamu."
Blue tercengang, "Yang bener?" tanyanya.
Sea menyerana, sepertinya Blue tidak suka. "Kamu nggak suka mobilnya? Kurang bagus? Ya udah, nanti sepulang dari rumah utama, kita tuker, sesuai keinginan kamu."
Praktis Blue salah tingkah. Edan. Mana ada Blue tidak suka, mobil ini mewah, pakai banget, Blue saja harus menunggu beberapa tahun jika ingin memilikinya.
Kali ini Blue setuju dengan pernyataan om Davis tempo hari. Anak pertamanya ini, yang bernama Rose Sea Martin, sedikit tidak waras.
Tapi mana tega Blue melihat Sea yang hampir berkaca-kaca dimatanya. "Blue suka kak. Tapi kenapa kak Sea ngasih ke Blue, ini masih baru 'kan?"
Oke. Blue akan bersikap biasa saja. Meski ia sedang tak baik-baik saja. Apakah ini imbalan karena Blue bersedia menemani Sea ke rumah utama?
Sepenting itukah kehadirannya?
"Iya masih baru. Hadiah buat kamu. Udah ayo, nanti oma nunggu kelamaan."
Setelah berganti posisi dimana Blue menjadi juri kemudi dan Sea menjadi penumpang, maka keduanya melesat ke jalanan Jakarta, menuju perumahan Dealova, rumah Oma Seruni yang paling agung.
"Gila. Kak Se, ini mulus banget." Blue nampak antusias dan senang dalam mengendarai mobil baru milik Sea.
"Tapi ingat, jangan dipakai ngebut."
Blue mengangguk, praktis Sea berasumsi jika pemuda kecil Ardibrata setuju untuk menerima mobil pemberiannya.
Deal. Mobil sudah menjadi milik Blue.
Sea sampai Jakarta pukul sembilan pagi, memaksa temannya untuk menjual satu mobil untuknya yang harus didapatkan saat itu juga. Sea tidak suka penolakan, jadi dengan mudah gadis itu memilikinya.
Hingga pukul sepuluh pagi, Sea sudah selesai dan melesat untuk pergi menemui Blue.
"Kak Se dengar kamu mau tanding basket. Kapan? Kak Se mau lihat."
Banyak kejutan yang didapat Blue hari ini. Mendapatkan mobil sekaligus penghargaan dari Sea karena mau menonton pertandingannya.
Katakan Blue berlebihan, tapi itu sama sekali tidak. Seumur hidup, Blue hanya punya kakak laki-laki dan satu gadis riweh seperti Sky. Mendapati Sea dengan perlakuan lembutnya, Blue seperti mendapatkan kakak perempuan.
"Akhir bulan kak, bener mau nonton?"
Sea mengangguk, "Bener."
"Kak Se kenapa mau menetap di Jerman?"
Sea terpengarah. Apa ayahnya Davis sebocor itu untuk mengatakan semua keinginan Sea. Astaga, kenapa papanya membenani anak-anak kecil ini sih?
Bagaimana jika Sky tahu, adik perempuannya itu pasti tidak akan membiarkan Sea pergi begitu saja.
"Papa bilang ke kamu juga?"
"Enggak bilang kak, cuma nggak sengaja dengar waktu om telepon kak Se, sedari pagi aku di rumah kak Se, minta sarapan."
Sea membeo, Blue minta sarapan, memangnya kemana Ibu Kirana? Atau paling tidak ada bibi yang menjadi juru masak di rumah pemuda itu. Tapi seolah semua tidak penting.
"Ibu kemana?"
"Mama sama mommy pergi ke Singapura. Kak Se belum jawab pertanyaan Blue."
Anggap saja Blue ini pemaksa. Ia sadar tidak berhak menuntut jawaban dari Sea. Tapi mau bagaimanpun, Blue sedikit tidak rela jika Sea benar-benar meninggalkan Indonesia.
"Menetap di Jerman itu sudah keputusan kak Se sejak lama Blue, cuma papa belum kasih ijin. Kamu bantu doa kak Se ya."
"Ogah. Kali ini aku dukung om Davis."
"Kak Se bener suka bang Red?"
Sea tersenyum, sama sekali tidak canggung, kenyataan ia menyukai Red memang benar. Red tampan. Siapa yang tidak suka. "Suka, banget, tapi kak Se juga suka kamu."
"Kak, aku serius."
"Kak Se nggak pernah seserius ini Blue."
Ada kerutan dimata Blue, seolah pemuda itu tak puas dengan jawaban Sea. Padahal ia sangat yakin jika Sea paham dengan perkataannya.
"Aku bisa buat bang Red putus sama pacarnya kalau itu bisa buat kak Se batalin pergi ke Jerman."
Sea sontak tertawa, duh, gemas sekali dengan remaja satu ini, tak tanggung, jari lentik milik Sea mengacak rambut hitam legam milik Blue.
Jerman dan Red sama sekali tidak ada hubungannya. Sedikitpun.
"Kamu nggak boleh ngerusak hubungan orang. Kamu mau bang Red sedih?"
Blue serius, laju mobilnya ia pelankan sedikit sebelum menatap Sea dengan dalam. "Aku yakin bang Red akan lebih bahagia bareng kak Sea?"
Ada perasaan yang tak tergambarkan jelas saat Blue memalingkan wajah lagi untuk melihat ke arah depan. Sea tak yakin betul apa definisi bahagia yang sesungguhnya. Ia merasa tak pantas untuk siapapun atau membahagiakan siapapun disaat dirinya sendiri tak mampu membuat hidupnya bahagia.
Sedangkan Blue menyimak keterdiaman Sea, membiarkan saja dan tak mau merecoki dengan pertanyaan lainnya.
Blue memang tak main-main, apa yang diyakininya tak pernah ia buat bercanda. Blue juga tak bodoh-bodoh amat untuk mendukung Red bersama kekasihnya, ia punya alasan, yang kuat.
Sampai mobil memasuki halaman rumah begitu besar, maka Sea menegakkan badan. Hembusan napas berat terdengar, Sea nampak seperti memikul beban begitu banyak. Blue jadi prihatin.
"Aku bisa bantu kak Se dalam hal apa?"
Sea tersenyum. "Kak Se denger, oma selalu luluh sama kamu, tugas kamu menenangkan hati oma. Setuju."
Blue mengangguk. Apa sih yang tidak untuk Sea.
Kanjeng ratu Seruni yang sangat diagungkan oleh Davis itu sedang duduk di tengah sofa panjang, di balik tempat duduknya sudah ada satu Dokter dan tiga Perawat. Skenario yang Seruni buat adalah sebuah serangan untuk Sea.
Sea paham, neneknya sedang menguji kesabarannya.
Sea seperti biasa, tersenyum lembut lalu bersimpu memeluk lutut Seruni. "Oma..."
"Blue, oma kangen, cium oma dulu." Lambaian tangan Seruni menuju arah Blue.
Seruni total megabaikan Sea yang sedang meringkuk dibawahnya, lalu menyambut Blue yang sudah mencium pipinya. "Oma jangan bikin kak Se tertekan."
"Sea yang membuat oma tertekan."
"Iya, kak Se yang buat oma tertekan." Blue mengiyakan. Definini nenek yang harus dimengerti dan Blue tahu betul itu.
Meski Blue bukan cucu kandung, berkat kedekatan para anak-anak yang berjejer tempat tinggal, membuat Seruni mencintai Blue dan Red, tak membedakan.
Sea sedih, tapi melihat Seruni yang begitu berseri membuatnya yakin jika Ayah-nya tidak berbohong mengatakan kesehatan nenek tua renta ini meningkat drastis.
"Sea ngalah. Sea nurut."
Tak terduga. Seruni yang masih sangat sehat itu berdiri, membenahi kacamata yang sudah tersarang ditempatnya. "Tony. Persiapan mulai sekarang. Siapkan semua kebutuhan. Pilih beberapa kapal pesiar yang bagus, nanti saya sendiri yang akan eksekusi."
Sea sudah kehilangan atensi neneknya yang sedang berjalan ke arah ruang tengah, mencari Tony, asisten pribadi yang sangat dipercayainya.
Sea berdiri, napas beratnya terdengar lagi. "Dok. Benar nenek saya sudah sangat sehat?"
"Sangat sehat, enam bulan terakhir perubahan cukup signifikan. Tapi tetap tidak boleh kelelahan, atau kakinya akan kambuh."
Penyakit tua, tapi masih saja banyak gaya.
"Saya masih lihat kakinya tidak begitu sehat."
Dokter menyambut perkataan Sea dengan gelisah. "Memang masih belum begitu sehat. Tapi maaf, nyonya tidak mau mendengarkan saya, saya sudah mengintruksikan untuk tidak terlalu banyak aktifitas dulu."
Sea tersenyum. "Baik, saya mengerti, saya akan bicara."
Sea berlalu mencari neneknya, sedangkan Blue sudah tidak tahu kemana perginya bocah. Mungkin menghampiri bayi Justin di lantai dua, bayi kerabat yang menemani oma Seruni di rumah ini.
"Oma. Sea belum selesai bicara."
"Keputusan tidak bisa ditarik kembali. Tony sudah berangkat."
Ya kan. Neneknya ini nekat.
Sea mendudukkan diri di salah satu kursi dekat jendela, memandang ke arah luar, Sea sangat ingat, dulu dirinya sering bermain di taman belakang bersama anak-anak lainnya, kerabat kecil yang dulu dekat dengannya.
"Oma pilih Sea kabur?"
"Dokter, dada saya sakit." Seruni berteriak.
"Oma nggak usah akting."
Seruni tampak kecewa, kerutan diwajahnya tampak jelas meski wanita tua itu melakukan perawatan rutin sejak dini. Tapi mau bagaimana, alam tidak bisa dilawan.
Lupakan soal kerutan wajah. Perhatikan saja bagaimana cara Seruni memandang cucunya yang terlihat muram.
Sea mengangkat dagu, mempersilahkan Dokter yang baru saja berlari ke arah Seruni untuk kembali le tempatnya. Lalu senyum hangat Sea tampakkan lagi untuk Nenek-nya, "Oma, Sea setuju, tapi di rumah utama saja ya, cukup luas, dan oma nggak akan kecapekan. Iya atau tidak sama sekali."
Oke. Seruni mengambil ponsel. "Tony, kapal pesiar batal, pesta ulang tahun nona muda Sea diadakan di rumah utama. Persiapkan sebagus mungkin."
Sea berangsur memeluk Oma-nya. Membuat orang tua bahagia adalah keputusan yang sangat bijaksana. Meski Sea tahu akan berakhir seperti apa hatinya.
Hancur. Sudah pasti.
"Oma ngundang siapa aja?" Setelah Sea sedikit tenang, gadis itu mencoba bicara dengan baik, meneliti setiap detail apa saja yang akan dilakukan Seruni.
"Semua kerabat oma undang, calon pewaris muda juga harus datang, biar kamu laku."
Benar bukan. Semua kerabat. Seperti yang Sea duga. Rasa sesak begitu menyiksa seperti ribuan batu dijejalkan dengan paksa.
"Iya. Apapun, asal oma bahagia."
Apapun. Meskipun Sea tak tahu bagaimana nantinya.
Sea hanya akan menunggu hari, 7 hari lagi menuju tanggal 11 Februari.