Moon

Moon
Sial



“Jadi lo emang suka banget nemuin suami orang?”


Perlu diingat, pertanyaan Sea dengan nada seketus ini baru pertama kali, dan itu hanya untuk Rubby. Biarkan saja Rubby berpikiran Sea sombong atau angkuh atau apalah itu. Tapi Sea benar-benar sudah tidak bisa mentolerir lagi bagaimana cara Rubby untuk menghasut pikiran negatif Sea.


Sea tidak bisa berpikir dengan jernih, pembawaan tenang seperti air telaga sudah tidak bisa ia gunakan, saat ini ego Sea terlihat muncul perlahan, ia sedikit geli melihat tingkah Rubby yang menyebalkan beberapa kali.


Mungkin juga bisa dikatakan kehamilan Sea membawa pengaruh besar, jika dulu dengan Jeremy, Sea tidak akan repot-repot cemburu meski nyatanya Sea sendiri yang rela dijadikaan simpanan oleh pria beristri itu. Sea tidak juga menuntut Jeremy agar selalu berada disisinya, Jeremy mau memakai Sea sesukanya pun wanita itu juga terima.


Galau atau sakit hati hanya akan Sea pendam sendirian, tidak ada yang akan tahu bagaimana hancurnya Sea karena wanita itu pandai bersandiwara, atau bisa dibilang Sea malas untuk memulai drama.


Tapi, kali ini, pria seperti Red bukanlah sesuatu yang biasa saja. Red adalah suaminya. Suami yang perlu ia pertahanan.


Sea tersenyum tipis, sangat anggun berbeda terbalik dengan pertanyaan ala anak Jaksel yang sempat ia lontarkan tadi, jika dipikir-pikir itu bukan gayanya. Sea tadi hanya meniru bagaimana cara Red berbicara dengan menggunakan lo-gue. Sea membayangkan lagi menjadi ngeri sendiri.


Sementara Rubby yang berdiri menggunakan gaun hitam super ketat dengan outer sedikit longgar berwarna cokelat itu tersenyum miring, mengamati Sea dari atas sampai bawah dengan melipat tangan di bawah dada.


Setelah sekian detik, Rubby mengubah ekspresi, wanita itu ikut tersenyum ramah layaknya Sea. “Jadi lo baru sadar Red sumi lo?”


Dengan santai Sea menjawab. “Bener kan, aku baru jadi suami Red belum ada dua bulan.”


Pertanyaan macam apa yang disampaikan oleh Rubby. Kalau menyinggung soal keacuhan Sea waktu dulu, oke, Sea mengakui Red tidak berarti apa-apa dalam hidupnya. Tapi sekarang berbeda.


“Maksud kamu apa?” Sea melanjutkan dengan pertanyaan karena Rubby nampak diam saja.


“Gue denger Red hampir pingsan.” Nada yang dikeluarkan Rubby cungkup congkak, menunjukkan jika wanita itu tahu apapaun yang dialami Red. “Jadi, gue mempertanyakan, sebenarnya lo itu pantes apa enggak jadi istri Red, gitu aja nggak becus ngurus suami.”


Oke. Sea sabarkanlah hatimu. Sea ingin mengelus dada mencoba menyabarkan diri, namum tangannya tak kuasa bergerak, ia tidak mau terlihat seperti terintimidasi.


Tapi satu pertanyaan Sea. Darimana Rubby tahu Red sempat pingsan. Apa ada mata-mata Rubby di perusahaan suaminya? Atau, Red sendiri yang memberitahunya.


Akhirnya Sea memilih untuk mengangkat satu tangannya, memaninkan kuku dan tersenyum memandang lawan bicara. “Kalau itu sih diluar kendaliku Rubby. Kamu nggak tahu sih, Red itu sibuk kerja, belum lagi nyampek rumah malam harus ngehajar aku di atas ranjang, gimana dong, aku mau nolak tapi itu tugasku melayani suami.”


Oke tidak apa-apa menjatuhkan harga diri dengan mengumbar urusan ranjang. Satu yang membuat Sea puas, ia melirik dengan terang Rubby yang sedang mengepalkan tangan.


Padahal yang dikatakan Sea bohong. Diumur kehamilan yang seperti ini apalagi kondisi Sea yang lemah tak berdaya membuat dokter mengultimatum agar Sea dan Red jangan terlalu banyak berhubungan badan, boleh tapi jangan banyak-banyak.


Kalau saja Rubby tahu, Sea itu ahli dalam memprovokasi, apalagi hanya soal murahan begini. Lihat kan, kepanasan sendiri si Rubby.


Wajah Rubby kian pias, wanita itu terdiam dengan tatapan kaku. Biarkan saja, Sea tidak perduli.


Sea menarik napas dalam. “Aku nggak tahu dari sekian banyak karyawan mana diantara mereka yang menjadi mata-mata kamu. Tapi kalau kamu tahu malu, hal seperti itu bisa menurunkan harga diri kamu. Aku juga denger, kamu udah nggak ada kontrak lagi dengan perusahaan. Jadi benar yang aku bilang, kebutuhan kamu disini cuma mau nemuin suami orang.”


“Jangan berlagak lo tahu segalanya tetang gue dan Red.” Sembari menatap Sea tajam, Rubby melontarkan kalimat itu. “Gue lebih kenal Red daripada lo.”


Sebaiknya Sea juga mulai serius, wanita itu juga sama, menatap Rubby dengan ekspresi jauh berbeda. Sea tahu Rubby adalah kekasih Red jaman dulu, pun juga tahu track record hubungan mereka. Tapi apa ada gunanya jika keduanya kandas di tengah jalan? Apa gunanya jika Red saat ini sudah enggan.


Apa Rubby lupa caranya bangun dari mimpi?


“Red suamiku. Aku istrinya.” Timpal Sea dengan santai.


Sea terdiam. Ia mendengarkan segala celotehan Rubby dengan wajah frustasi. Pancaran marah bercampur emosi membuat mata Rubby memerah, wanita itu benar-benar marah.


Rubby tertawa miris. “Mentang-mentang lo cinta pertama Red, dan kebetulan lo ngandung anak Red jadi lo bisa seenaknya mgedapetin Red. Lo semacam orang nggak tahu diri, pernah bilang nggak tertarik dengan Red tepat di depan mata gue, tapi ini apa? Lo hamil dua kali, lo munafik.”


Sea menarik napas dalam-dalam seraya mengangguk. “Sorry, aku nggak tahu akhirnya juga begini. Aku minta maaf Rubby.”


Bukan kuasa Sea untuk menertawakan kemalangan Rubby, wanita seperti Rubby tidak perlu dipercikkan api meskipun Sea yakin bukan dirinyalah yang memulai pertikaian ini. Sea juga tidak bisa membuat Red kembali lagi dengan Rubby, lagi-lagi bukan kuasa Sea untuk memerintah perasaan Red agar tidak jatuh kepadanya, pun juga bukan salah Sea juga karena ia adalah cinta pertama suaminya. Sea juga tidak mungkin meminta Red lagi dengan berkata, “Red, Rubby yang berjuang bersama kamu, bukan aku, harusnya kamu kembali dengan Rubby.”


Tidak mungkin bukan? Sea tidak akan mengatakan hal seperti itu.


Sekali lagi hati tidak bisa diatur oleh sembarang orang, hati milik mereka sendiri yang menghendaki. Oke, meskipun Sea benar-benar membuat Red terpuruk tanpa disengaja karena pria itu ternyata menyimpan rasa padanya, sedangkan wanita di depan Sea ini adalah obat dari sakit hati yang Red punya. Maka, Sea akan mengatakan jika ia sangat menyesal, tapi hanya sebatas menyesal, ia juga manusia yang tidak bisa membaca pikiran Red, itu diluar nalarnya.


Jika sekarang Rubby menuntut Sea untuk meninggalkan Red. Maaf sekali, sudah tidak bisa.


Sea lagi-lagi menarik nafas. “Lo pasti juga tahu alasan kenapa aku mau nikah sama Red.” Sea mencoba menjelaskannya, tak apa, agar Rubby setidaknya lega. “Aku hamil lagi, itu bukan rahasia umum.”


Ya. Karena itu alasan Sea sejak awal. Tapi sekali lagi tidak untuk sekarang.


“Dan lo bangga hamil lagi? Bangga jadi cewek murahan?” Rubby berkata sembari menahan tawa, dan Sea tahu itu sebuah olokan. “Gue nggak pernah tahu ada cewek modelan kayak lo, munafik, rela dijamah meski lo berkali-kali bilang nggak tertarik.”


Untuk kali ini ego Sea seperti ditarik untuk keluar dari sangkar. Rubby seperti definisi dikasih jantung minta sebadan-badan. Sea sudah sabar, menanggapi Rubby dengan kesopanan dan penjelasan yang cukup halus juga. Tapi wanita ini memang tidak tahu diri.


“Gue juga heran, kenapa Red bisa jatuh cinta sama lo yang jelas-jelas bikin dia tertekan, sakit hati dan rela merendahkan diri. Lo juga, gue tahu lo kaya, tapi bukannya menjaga diri tapi nyerahin diri gitu aja.” Rubby menambahkan hinaan lagi.


Hello. Rubby bilang apa? Bukankah apa-apa yang dibilang Rubby adalah definisi wanita itu sendiri. Kali ini Sea benar-benar marah.


Sea menekan kesabaran, kemudian tersenyum mengejek hadir untuk menghiasi wajah datarnya.“Aku juga menyesal. Andai saja kamu bisa bikin Red bertahan, Rubby. Ups, sorry, nggak maksud buat kamu nyesel.” Kemudian Sea menutup mulut berlagak menyesal.


Maksude Sea, silahkan Rubby untuk berandai-andai selamanya.


Rubby menggelengkan kepala, ia sudah dibuat malu di depan satu orang yang sedari tadi menyandarkan punggung di dinding, di belakang Sea sembari tersenyum sendiri. Anggel, salah satu teman SMA yang tidak pernah akur dengan Rubby karena, ya karena Rubby memusuhi semua gadis-gadis yang dekat dengan Red, bahkan Jessy sepupu Red saja juga dimusuhi Rubby.


Kembali, Rubby menatap remeh Sea. “Lo nggak tahu apa aja yang udah gue lewatin bareng Red. Lo nggak akan pernah bisa bayangin itu semua. Hati-hati, badai dalam rumah tangga lo ini adalah gue.”


Apa maksud Rubby. Kenapa buku kudu Sea seakan berdiri semua.


“Salah lo percaya sama Red. Suami lo bukan yang lo kenal saat ini, Sea. Nggak usah di atas angin.” Rubby melanjutkan ocehannya dengan angkuh. Lalu wanita itu berbisik lirih penuh penekanan. “Lo nggak tahu aja apa yang gue lakuin bareng Red di Dubai, suami lo dengan terang mengulurkan tangan.”


Sialan. Wanita sialan.


Kalimat terakhir yang Rubby ucapkan memberikan efek berbeda, ini buruk terbukti dengan diamnya Sea beserta raut pucat pasi. Tiba-tiba Sea merasa dadanya sesak bak ditikam belati. Otak Sea pun membayangkan hal-hal yang kiranya mustahil dilakukan mereka berdua mengingat Red pernah berkata sudah tidak sudi.


Tangan Sea mengepal erat. Belum lagi perutnya seperti dihantam badai hingga membuatnya mual, dan detik itu juga Sea muntah-muntah tak tertahankan, beruntung ada Angel yang sigap membantu Sea.


Adapun Rubby? Wanita itu terkena sial karena mendapatkan hadian cairan asam yang tersembur dari mulut Sea hingga mengenahi baju hitamnya.