Moon

Moon
Pelukan



Sehari berlalu dengan berat oleh Sea, hanya Sea, ingat, hanya Sea.


Meskipun begitu, Sea yang sudah menyepakati kerja sama dengan Ardibrata Group harus tetap bekerja karena deadline yang ia buat tidak main-main. Sea juga masih ingat semalam setelah lamaran Red berlangsung, Oma Seruni menceramahinya habis-habisan, bukan karena Sea menolak Red, Oma Seruni sama sekali tidak membahas hal tersebut, Nenek dari Sea itu marah karena Sea seperti sedang mengintimidasi Ardibrata Group.


Otak Sea untuk menjalankan bisnis memang tidak pernah bertele-tele, wanita satu anak itu sudah terbiasa mengukur jalan, pun kecepatannya seperti super sonic, melesat ringan, tepat, namun tidak gegabah.


"Kamu membuat target dalam 6 hari untuk tiga hotel? Itu mustahil bisa dikerjakan Ardibrata Group Sea!!!"


Seperti itulah yang diteriakkan Oma Seruni. Hingga akhirnya Sea memutuskan untuk rapat sendiri dengan pemilik Ardibrata Group, siapa lagi jika bukan Red.


"Jadi bagaimana Sir, apa sesuai ketentuan awal saja, satu bulan?”


"Saya tidak setuju, tetap sesuai kesepakatan anda, enam hari." Red menolak.


Di ruangan hanya ada Red dan Sea saja. Karena mengatur kesepakatan ulang, mereka tidak membawa serta banyak orang, cukup berdua saja.


"Baik. Maaf jika saya gegabah, tapi menurut Ibu Seruni lebih baik satu hotel dibangun dalam waktu satu bulan. Beliau tidak ingin ada kesalahan sedikitpun."


Red tersenyum miring, pria itu menyondongkan badan yang dibatasi meja dengan jarak tak lebih dari lima puluh cm. "Jadi anda meragukan apa yang anda putuskan tempo hari?"


"Tidak." Sea spontan menjawab, ia tidak pernah meragukan diri sendiri, pekerjaan ini sudah ia geluti selama sepuluh tahun, tidak pernah ada kesalahan.


Sea tersenyum kecil.  "Karena ini menyangkut banyak pihak, saya mencoba mendengarkan dari beberapa pendapat, jika saya hanya bekerja sendiri, saya bahkan bisa melakukan lebih cepat dari yang saya katakan tempo hari, jadi disini saya hanya mencoba untuk mengambil keputusan yang disepakati bersama."


Red hanya tidak ingin diremehkan, ia sadar kekuatannya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Sea, dan itu sangat mengejutkan untuk Red sediri.


Singkat cerita, Red yang baru tahu sepak terjang Sea dalam menjalankan bisnis langsung menyeret Sky untuk di interogasi. Hal mengejutkan datang dari anak bungsu Martin, mengatakan jika Kakaknya yang bernama Sea tidak hanya kompeten dalam bekerja, bahkan ia menempuh pendidikan dengan cepat, lulus S2 di usia 22 tahun karena sejak dulu sudah mengikuti program akselerasi.


Jadi, pertanyaan Red tentang Sea yang selalu mengganggunya seperti pengangguran empat tahun yang lalu itu salah besar, nyatanya meski tubuhnya menempeli Red di setiap hari sabtu, gadis yang masih 25 tahun dulu itu sudah bekerja, tidak menggantungkan hidup kepada orang tua.


Namun satu hal lagi yang membuat Red terusik. Pemandangan Sea dengan argumennya, suara yang sedikit dilantangkan tanpa emosi beserta wajah tanpa ekspresi membuat Red merasakan aura Sea yang berbeda, dan itu semakin membuat Red tergila-gila.


"Buka blokiran nomer gue!!"


Ekspresi Sea berubah. Kenapa disaat mereka membahas pekerjaan, Red justru melibatkan urusan pribadi. Boleh bukan jika Sea mencakar muka orang yang tiba-tiba memerintah namun dengan kerlingan  mata menggoda di depannya.


"Maaf Sir..."


"Deal."


Sea terdiam. Deal?


"Pembangunan hotel dalam waktu satu bulan. Jadi, urusan pekerjaan sudah selesai. Buka blokiran nomer gue."


Namun bagaimna jika semarah apapun Sea kepada Red, wanita itu tidak bisa mempertahankan amarahnya begitu lama. Sea sudah terbiasa dengan sikap Red, seperti empat tahun yang lalu. Meskipun sekarang kasusnya jauh berbeda, tapi kenapa dada Sea tetap tidak bisa dongkol dibuatnya.


"Buat apa? Kamu bisa tiap hari datang ke rumah oma, bebas nemuin aku sesuai kemauan kamu. Kemaren aku juga bilang, aku nggak akan larang-larang kamu nemuin Arche. Bahkan hari ini Arche dibawa Ibu Kirana. Kamu bisa bareng Arche sebebas kemauan kamu. Nggak perlu harus punya nomer aku. Kamu nyimpan nomer Tony kan? Kalau ada apa-apa hubungi Tony saja."


Meskipun Sea masih menganggap Red sama seperti empat tahun yang lalu, tapi ada satu hal yang membuat situasi berbeda.


Pernikahan.


Red meminta dan terus meminta Sea agar mau menikah dengannya, dan tidak mungkin bisa di turuti oleh Sea. Jika saja Red meminta berteman, Sea mau melakukan apa saja.


"Lo egois."


"Aku?"


"Empat tahun lalu lo bebas ganggu gue, ngerusuh malam minggu gue."


Sea ingat, dimana ia mengganggu Red dengan Rubby.


Sea menunduk.


Jika Red masih menaruh dendam karena ia mengganggu kencannya dengan Rubby, lantas kenapa Red meminta Sea untuk menikah dengannya?


"Ya udah, aku harus gimana?"


Red memutar otak, jemarinya menyatu di atas meja. Menikahi Sea adalah tujuannya, sekaligus cara agar Om Davis memaafkannya. Red ingat bagaimna Davis memandangnya dengan tatapan kecewa, Red paham, seorang Ayah mana yang tidak marah jika anak gadisnya disentuh sembarangan, sampai hamil.


Dosa Red begitu besar.


Sebenarnya Red memikirkan semalaman, hanya untuk meminta maaf dengan benar kepada Davis, tapi Om-nya itu jika sudah mengambil keputusan tidak bisa dibantah lagi. Davis akan memaafkan Red hanya saat Red berhasil menikahi Sea, dan sekarang, langkah untuk mendekati Sea saja tidak ada, 0% kesempatannya.


Sea wanita keras dan tidak mudah percaya, itu yang membuat Red pesimis.


Lihat saja bagaimna santainya raut Sea yang menantikan Red bicara. "Ganti malam minggu gue, ganti semua waktu yang lo ambil tiap malem minggu empat tahun yang lalu."


"Dengan cara? Seperti yang aku bilang sebelumnya, apapun aku mau asalah jangan menikah, ya."


Suara lembut Sea. Sial, membuat Red merinding. "Tiap malem minggu, gue minta waktu lo, kencan."


"Kencan?"


Red mengangguk. "Ya, kencan."


Sea melirik sinis. "Kencan!! Tujuan kencan sudah jelas Red dan aku nggak ada waktu untuk romansa dan berakhir di pernikahan. Kencan jelas aja buat orang pacaran, dan tujuan akhir orang pacaran adalah menikah. Kamu sebenarnya mau apa?"


"Not just so you can get a date but as an added perk."


"Penuh gairah? Bukan hal besar, aku bisa tanpa melibatkan perasaan, anggap kebutuhan orang dewasa, deal.."


Kenapa saat Red mengatakan hal menggairahkan justru Sea menyepakati dengan cepat?


Sedangkan yang ada dalam benak Sea, wanita itu ingin Red tahu jika ia bukanlah pilihan yang baik untuk dijadikan seorang pendamping, menunjukkan jika tubuhnya murah untuk Red. Lagipula itu bukan hal besar. Hanya untuk Red saja, bukan hal yang sulit karena Sea sudah pernah melakukannya.


"Oke. Mulai minggu depan."


"Permisi pak, ada yang ingin bertemu, memaksa." Melody berbicara dengan pintu yang sedikit terbuka.


Melody biasanya langsung masuk ruangan, tapi melihat boss-nya dengan Sea, Melody tidak berani. Bayangan wanita pirang saat berciuman dengan atasannya membuat ia canggung.


"Siapa?"


"Model Rubby Jane Abdigara."


"Suruh dia masuk." Bukan Red, tapi Sea yang memerintah.


Dan tahu bagaimana tanggapan Red? Jelas tidak tahu dengan otak Sea.


"Pak Jar..."


"Saya bilang suruh masuk." Sekali lagi Sea memerintah.


Dalam waktu semalaman, Sea mencari tahu tentang Rubby, gossip wanita itu sampai kenapa Rubby tiga tahun yang lalu meninggalkan Indonesia dan memutuskan untuk pindah ke Jepang, bersama Geido suaminya. Dan berita heboh mengatakan ada sedikit problem yang membuat Rubby kembali ke Negara ini, dan itu masih dirahasiakan.


Sea juga mendengar dari Oma Seruni bahwa Kakek Rusdi tidak menyukai Rubby, namun dilihat dari profesional-nya Kakek Rusdi, Rubby pun menjadi model dengan kontrak panjang di Agency-nya.


"Suruh tunggu diluar dulu."


"Baik pak."


Melody jelas lebih menurut boss-nya daripada Sea.


"Lo apa-apaan sih?"


"Aku? Jelas aku bekerja. Nanti, malam minggu baru aku milik kamu. Sekarang...." Sea berdiri. "Suruh Rubby masuk, aku mau membicarakan pekerjaan."


Karena Sea juga tahu, keputusan yang ada di tangan Sea sangat menentukan, dan Sea juga tahu Red tidak berkeinginan mengambil Rubby untuk proyek gabungan.


Dan...


Sea mempunyai rencana besar dengan menggunakan Rubby.


"Enggak!!"


"Oke. Kamu kira cuma kamu yang bisa nolak, maksa atau apapun itu. Aku juga bisa ngomong-ngomong."


Sea berjalan cepat meninggalkan Red dalam kebingungan. Apa mau Sea?


Saat diambang pintu yang sudah dibuka, Sea melihat sekertaris Red itu langsung berdiri, dan Rubby yang duduk di kursi tunggu pun melakukan hal yang sama.


Sea melihat papan nama di meja sekertaris Red, "Melody, Bapak Jared meminta Miss Rubby Jane Abdigara untuk masuk ruangannya."


Sea tidak bisa menampik bagaimana respon Rubby yang meliriknya dengan benci, langkah wanita super model yang tidak bisa diragukan lagi itu membuat Sea merinding. Tubuhnya meliuk, balutan baju seksi dan make up yang cukup natural, membuat Rubby lebih daripada cantik.


"Gue penasaran. Ada hubungan apa lo sama Red? Dua kali gue lihat lo di ruangannya."


Benar bukan. Rubby pasti masih menaruh benci pada Sea. Tapi jika menoleh ke masa lalu, apa pernah Sea menggubris segala ucapan ketus dari Rubby. Bahkan Sea selalu nekat mengambil kekasih wanita itu di malam minggu.


Sea sepenuhnya berada di ruangan Melody, menutup pintu ruangan Red lalu melipat tangan di bawah dada. "Kalau kamu mau dipilih untuk model perusahaan ini, aku saranin nggak usah cari masalah."


"Maksud lo apa?" Jelas Rubby tidak terima ada nada ancaman dari Sea.


"Cukup turuti kata-kataku dan kamu akan dapat kontrak itu Rubby. Ayo masuk." Sea membuka lagi pintu ruangan Red, dan respon Rubby tetap sama, diam sembari memandang sinis Sea. "Karena sampai kapanpun, Kakek Rusdi sebagai penanam saham terbesar di Ardibrata Group tidak mau menandatangani itu, dan aku punya andil besar dalam kontrak. Masih tidak mau masuk?"


Bahkan Red saja tidak mau ambil voting untuk Rubby. Sea tahu karena di dalam berkas tertulis seperti itu. Dan sebagai perwakilan dari dua perusahaan, Sea mendapat poin besar untuk menentukan pilihan, hanya dengan suara Sea, kesepakatan terbentuk, Sea akan memilih Rubby.


Maka saat raut Sea meyakinkan, Rubby memasuki ruangan, dan betapa miris wanita itu saat Red menyambutnya dengan tatapan menyeramkan. Awalnya Rubby ingin meminta maaf, berniat untuk menarik Red lagi dalam pelukan, Rubby salah dan tidak rela kehilangan Red sejauh ini, bahkan ia rela jika Red akan menikmati tubuhnya saja.


Dulu, Red bersumpah akan menikahinya karena pria itu merusaknya, bahkan kedatangan Sea yang berperan sebagai cinta pertama saja diabaikan oleh Red, hanya demi Rubby. Tapi saat Rubby hamil anak Geido. Red marah? Mengumpat? Tidak, Red diam dan meninggalkan Rubby begitu saja, dan itu membuat Rubby hancur seketika.


"Silahkan duduk Miss Rubby." Sea dengan perkataan lembutnya memutus pandangan Rubby untuk Red.


Mengenai Sea. Bukankah tawaran Sea menggiyurkan? Mendapat kontrak itu sama saja dengan membuka pintu lebar untuk berada di sisi Red sedikit lama, meski konteksnya bekerja, tapi Rubby adalah jelmaan rubah, ia tahu ini salah, tapi jika cinta buta mau bagaimana?


"Sir, ayo kita mulai diskusi." Sea melirik Red yang masih duduk tanpa minat untuk beranjak ke arah sofa yang sedikit mempunyai ruang duduk lebih lebar.


Tapi yang membuat Red sedikit lega, Sea ada disini bersamanya. Dua kali di datangi Rubby, dan Sea selalu berada disisinya, setidaknya Rubby tidak akan pernah bisa merayunya.


Saat Red sudah duduk ditempatnya. Sea mulai bicara lagi, menjelaskan beberapa kontrak yang harus Rubby penuhi. Sebagai model, jelas Sea menawarkan apa saja yang disyaratkan, karena tanpa Rubby, promosi juga tidak akan lancar, visual sangat penting di jaman ini.


"Saya minta syarat, untuk semua properti harus Tuan Jared yang menyiapkan, mulai dari pakaian untuk pemotretan di Privat Jet dan di dalam hotel.  Adapaun yang lebih penting dari itu, semua gaya dan pose harus Tuan Jared yang memberi intruksi.


"Deal."


"Saya menolak persyaratan."


Sea setuju dan Red menolak.


"Sir, hanya itu saja, bukanlah hal sulit." Sea tetap dengan pendiriannya.


Red tahu motif Rubby, dan Red sama sekali tidak tahu kenapa Sea memutuskan untuk menggunakan Rubby.


Pemilihan model yang tepat memang sangat penting, bahkan kandidat yang dipilih Red tidak kalah hebat meski memiliki jam terbang yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan Rubby. Namun tidak bisa ditampik jika Rubby sedari dulu memegang banyak proyek seperti ini, tidak bisa diragukan.


"Saya juga punya syarat untuk anda Miss. Sea, dimanapun saya berada, anda harus berada di sisi saya. Iya atau tidak sama sekali." Keputusan Red tidak bisa diganggu gugat.


Bahkan tatapan Red untuk Sea mampu menenggelamkan wanita itu dalam kebingungan yang mencekam, seakan tidak memperbolehkan Sea untuk menolak. Maka saat satu anggukan Sea beserta sedikit keenggakan menjadikan itu sebagai sesi akhir diskusi.


Setelah menandatangani kontrak, Rubby segera beranjak, ia total tidak bisa bergerak, misi menggoda Red jelas gagal.


"Apa maksudmu?"


"Aku harus pulang, rapat selesai, tidak ada pembicaraan lebih."


"Se, gue tanya apa maksud lo milih Rubby sedangkan lo jelas-jelas tahu kondisinya bagaimana?" Red merasa tidak berguna dan kurang tegas, tapi tangan Sea membawa pengaruh besar dalam kontrak, dan Red tidak punya kuasa lebih.


"Aku hanya mengutamakan keuntungan, hanya untuk pekerjaan Red. Jangan campurkan urusan pekerjaan dengan pribadi, oke."


Red semakin yakin Sea adalah orang yang sama dengannya, ditaktor, semaunya.


"Tap...."


"Kamu masih cinta dia? Nggak bisa deket-deket dia? Kan aku ada di sisi kamu. Jangan khawatir." Bahkan Sea mendekat dan hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuh Red.


Kenapa ucapan Sea seoalah mengejek Red. Masih mencintai Rubby? Jelas tidak.


"Jangan marah. Apa yang harus aku lakukan biar kamu nggak marah?"


Sea tahu, Red muram, sangat muram sampai sedekat ini saja tidak mau memandangnya. Sea hanya ingin memastikan, ah, Sea juga tidak tahu kenapa ia ingin tahu perasaan Red yang sebenar-benarnya. Dengan melibatkan Rubby, Sea berharap, Red tidak salah paham lagi dengan perasaannya mengenai Sea, sekedar pelampiasan atau benar-benar cinta.


Dan Red bingung. Sangat bingung saat Sea menaik turunkan emosinya. Sea kerab menolak, tapi tak segan mendekat. Hubungan apa ini sebenarnya?


Red masih ingat bagaimana marahnya Sea saat tahu Arche akan ia ambil. Red juga masih ingat bagaimana kecewanya Sea saat Red mengaku sebagai ayah kandung Arche di depan semua keluarga.


Tapi, Sea tetap sama seperti empat tahun lalu, seperti saat gadis, selalu bingung jika ia marah, selalu mencari solusi agar Red tidak dalam kondisi penuh emosi.


"Peluk gue."


Tanpa pikir panjang, Sea memeluk Red, melingkarkan tangan di pinggang dan kepala di dada si pria.


Dan Sea tahu, detak jantung Red sangat cepat.