
Ibu hamil itu menghabiskan beberapa hari untuk mendatangi kantor Martin. Jangan tanyakan bagaimana senangnya Davis mendapat bantuan dari putrinya itu. Sujud syukur sudah pasti dilakukannya.
Sedangkan bagi Sea, kedatangannya kurang dari satu minggu untuk mengurus kantor Martin tidak lain dan tidak bukan karena wanita itu bosan.
Bosan?
Iya, pasalnya Sea berada di rumah seorang diri. Lalu dimana Arche? Jawabannya ikut ke kantor Red. Selalu ingat kan jika bocah itu penggemar berat ayahnya? Dimanapun dan kapanpun yang ditanyakan hanya ‘Mommy, Daddy kapan pulang?’ Dan pertanyaan itu berulang sampai seharian.
Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali Arche ikut Red bekerja.
Jika Sea menghitung dengan benar, maka ia sudah menghabiskan empat hari berada di ruangan ini, ruangan khusus yang sudah disediakan oleh Davis. Sea berkutat dengan berkas-berkas, ia juga sedang memindai model baru perusahaan yang kurang dari sebulan ini dikontrak.
“Lebih menarik Rubby sih, tapi, ya sudahlah.”
Entah kenapa Sea masih ingin mempertahankan Rubby meskipun kenyataannya wanita itu sangat membenci. Mungkin otak professional Sea bekerja dengan semestinya hingga urusan pribadi sempat lupa. Tapu meskipun begitu Sea tetap senang meski Rubby tidak lagi berada di nauangan kontrak perusahaan. Persetan dengan profesional, rumah tangganya harus selamat dari badai macam Rubby.
Sea mendongak mendengar teriakan bocah kecil yang memanggil barusan, Sea melihat Arche datang bersama Melody saat pintu ruangan terbuka.
“Kerjaan masih banyak?” Tanya Sea kepada sekertaris Red yang selalu ditugaskan untuk mengantar Arche pulang atau menyusul ibunya, karena Red tahu Sea pasti berada di perusahaan, mungkin pria itu mengutus Melody untuk dibawa ke Martin Company.
Red tudak keberatan, justru pria itu senang karena bisa sebentar-sebentar bertemu dengan Arche, Red juga mengeluh karena quality time bersama putranya terganggu oleh sebab lembur yang belum kunjung usai. Ya meskipun di kantor Red juga banyak meeting, tapi jika berada dibangunan yang sama, waktu keduanya pasti lebih banyak.
Melody tersenyum. “Masih Bu, tinggal finishing, tapi masih ribet. Ibu yang sabar ya, tinggal dikit lagi.”
Sea menggeleng sekilas beserta mengeluarkan mainan dan buku gambar dalam lemari agar Arche bisa sibuk lagi, Sea sudah menyiapkannya untuk jaga-jaga, begitupun dikantor Red juga sama.
“Nggak apa-apa, aku malah seneng, yang ribet itu Arche, nanyain mulu.”
Sea dan Melody memang sedikit akrab untuk sekarang, Sea juga meminta agar Melody bicara dengan santai saja, tidak usah terlalu formal.
“Bentar lagi bu, nggak akan lama.” Melody menginfokan lagi.
Sea mengangguk, tidak mau terlalu ikut campur dengan perusahaan Red. Kedua perusahaan Martin dan Aedibrata memang menjalin kerja sama untuk pembangunan hotel, itupun sudah finish dari dua bulan yang lalu, dan secepat itu Red membuat langkah baru, jadi Sea maklum kalau suaminya itu sibuk minta ampun.
“Aku buatin minum ya, ngobrol sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban dari Melody, Sea beranjak untuk membuat minun di bar mini pojokan ruangan, Sea sendiri yang meminta untuk disiapkan tempat seperti itu. Setelah membuat minuman untuk Melody, Sea kembali untuk duduk di sofa beserta Melody yang ada disana.
“Melody. Kamu tahu persis kenapa Rubby diganti?”
Melody terdiam.
“Aku nggak dapat alasan bagus dari Red, mungkin itu berkaitan dengan urusan personal Red kalau aku boleh tebak. Tapi kalau dipikir-pikir aku harus tahu karena aku juga ikut tanggung jawab. Bukan karena aku waktu itu nggak terjun lapangan jadi Red bisa seenaknya nggak ngasih tahu aku. Jadi, kamu sebagai karyawan, bisa jelasin aku kenapa Rubby di pecat kontrak?”
Setelah beberapa detik Melody terdiam, wanita itu mengedip beberapa kali. “Bu, saya tidak tahu pasti, keputusan itu saya dengar langsung dari Pak Jared. Saya juga tidak pernah mendengar Pak Rusdi ikut campur, jadi berita pemecatan benar-benar karena alasan Pak Jared. Saya tidak tahu.”
Oke, pernyataan Melody membuat Sea bertanya-tanya. “Kenapa bisa begitu?”
Melody mengangkat bahu. “Saya tidak tahu bu, dari berita yang saya dengar, sebelum saya bekerja dibawah Pak Jared, Rubby adalah mantan kekasihnya dan dari yang saya dengar juga ada sedikit pertikaian di Dubai, mungkin karena itu Pak Jared memecat Rubby.”
Mungkin dengan informasi pertengkaran yang berujung pemecatan bisa membuat istri dari bosnya ini berhenti bertanya, tapi yang tidak diketahui Melody adalah Sea yang tambah penasaran. Dubai? Ya, ada apa dengan mereka di Dubai?
“Apa mereka menghabiskan waktu banyak di Dubai? Kamu nggak apa-apa bilang, waktu itu aku belum nikah dengan Red, jadi nggak akan ada masalah.”
Seketika itu Melody berani mengangkat kepala. Benar juga, waktu itu Bosnya belum menikah dengan wanita cantik di depannya ini. Jadi tidak masalah bukan jika Melody sedikit bercerita?
Cuma waktu itu saya lihat pak Jared malam-malam pergi berdua bersama Rubby, masuk klub, tahu-tahunya besok Rubby kembali ke Indonesia dan Pak Jared meminta saya untuk mengurus pemberhentian kontrak dengan tanpa alasan, denda untuk pembatalan kontrak juga Pak Jared yang nanggung. Hanya sebatas itu yang saya tahu bu.”
Sea mengangguk. Ia melirik Arche sebentar lalu menatap Melody lagi. “Jadi cuma itu yang kamu tahu? Waktu di klub kamu nggak disana juga?”
Melody menggeleng. “Tidak bu. Saya tidak berani masuk klub, waktu itu saya bersama Vanilla habis belanja dan berniat kembali ke hotel. Oh, iya bu, saya juga mendengar bisik-bisik kalau Pak Jared malam itu juga bersama Rubby di hotel yang sama, saya juga ingat Pak Jared pagi-pagi tidak di Hotel yang kami sewa karena saya berniat membangunkan beliau malah dikagetkan dengan Pak Jared di lobby depan.”
Melody lega, teramat lega karena sudah mengatakan semuanya.
“I see.”
Tiba-tiba Melody tidak enak sendiri. “Maaf bu. Saya jadi tidak enak mengatakan ini semua disaat Ibu dan Bapak sudah menikah. Saya tidak bermaksud lancang, mungkin malam itu, bagaimana saya bilangnya bu, saya bingung.”
Sea tersenyum. “Nggak apa-apa kamu bilang aja, kan aku udah bilang, waktu itu aku belum ada apa-apa sama Red.”
Astaga. Melody seperti tersambar petir. Dia ingat, sangat ingat pernah memergoki bosnya berciuman dengan wanita di depannya ini, dengan wanita yang resmi menjadi istri bosnya ini. Waktu itu bukankah sebelum ada proyek di Dubai? Sial, sial, sial, apa Melody saat ini sedang melakukan kesalahan? Bagaimana ini?
Disaat Melody gundah gulana, Sea menarik telapak tangan sekertaris suaminya itu. “Melody, ada yang kamu khawatirkan lagi?”
Melody sontak menggeleng cepat. “Tidak bu. Saya tahu Rubby masih menyukai Pak Jared. Mungkin malam itu Rubby sedang mengatakan patah hati, mungkin hal itu juga yang membuat Pak Jared muak hingga memecatnya. Mungkin saja begitu bu.”
Mungkin juga yang dikatakan Melody ada benarnya, mungkin Rubby juga marah besar waktu itu saat tahu Sea melahirkan anak dari Red.
Tidak tahu lah, Sea pusing.
Klub? Kamar hotel? Bahkan dua poin itu sangat dengan hebat memukul dadanya.
Tapi sebenarnya kalau dipikir kasihan Rubby. Tapi posisi Sea saat ini tidak mengijinkannya untuk menaruh simpati pada wanita bodoh dan tidak tahu diri. Jika itu dulu, its okay Sea terima, tapi sekarang jangan harap.
Namun hahya satu yang menjadi pertanyaan besar dari Sea untuk Red suaminya? Kenapa Red berbohong soal apa saja yang pria itu lakukan bersama Rubby di Dubai? Apa ada rahasia besar yang fatal hingga Sea tidak boleh tahu?
Satu hal lagi, kompensasi, kenapa Red rela membayar demi Rubby hengkang dari kontrak? Sangat mencurigakan.
“Saya rasa bukan hal penting di Dubai itu Bu. Rubby di klub pasti mabuk berat. Mungkin Pak Jared hanya membantunya untuk kembali ke hotel?” Takut-takut Sea salah paham, Melody sangat ceroboh hari ini.
Iya, kembali sampai pagi. Itu pemikiran Sea, wanita itu berteriak dalam hati namun tersenyum selayaknya tidak ada apa-apa. “Iya Melody, aku tahu.”
“Ibu jangan banyak pikiran.” Melody melirik perut Sea, wanita itu tersenyum setelahnya. “Saya harus kembali Bu, nanti dimarahin Pak Jared karena kerjaan belum selesai.”
Maka saat Sea mengangguk ringan, Melody berpamit untuk kembali ke kantor Ardibrata.
“Baby, tadi udah makan.” Sea menghampiri Arche yang sedang sibuk dengan banyaknya mainan di meja.
“Udah, mommy udah makan?” Arche balik bertanya.
“Udah dong, tadi baby ngapain aja sama Daddy?”
“Main.”
Apa lagi sih kalau bukan main, kenapa juga Sea bertanya, tapi anak-anak memang harus banyak diajak bicara, anggap saja Sea tadi basa-basi.
“Yaudah, baby main lagi ya, mommy bentar lagi selesai, habis itu kita pulang.”
Arche mendongak, menatap ibunya sekilas lalu lenjawab. “Iya Mommy.”