
Kegembiraan jelas terhilat dari wajah tampan milik Red. Pemuda yang sudah menurunkan Davis tepat di depan rumahnya saat senja menyapa itu mengantongi kesuksesan besar atas tertangkapnya kasus penggelapan uang di perusahaan.
Davis memang tidak main-main. Pria sekaligus tetangganya tak tanggung membawa segerombol polisi dan pengacara ternama untuk menuntaskan perkara secepatnya. Mungkin bersujud syukur saja masih kurang untuk menggambarkan terimakasihnya. Red merasa diberkati mendapat penolong yang tak dapat lagi diragukan ketulusannya.
Pandangan Red jatuh pada mobil mewah warna hitam yang berjajar diantara mobil lainnya sesaat setelah pemuda itu memasuki gerbang rumahnya. Pertanyaannya, milik siapa? Atau ada tamu Mama-nya yang sedang bermain ke rumah?
Saat Red sudah turun dari mobil, pemuda itu melihat Blue, adik tampannya keluar dari pintu utama, bersiul ria dan memakai pakaian olahraga, demi apa, sudah sore, mau kemana anak itu.
"Bang. Lo pulang. Inget rumah?"
Ngeselin. Blue memang se-tidak menyenangkan itu. "Gue kerja, nggak main." timpal Red.
"Oh. Kirain pacaran."
Padahal Blue tahu kalau Abang-nya ini baru pulang dari Bandung untuk menyelesaikan pekerjaan. Iseng saja. Karena sedikit banyak Blue juga risih kalau Abang-nya ini sedikit-sedikit Rubby, kalau boleh, pindah rumah saja, tinggal saja sana dengan Rubby. Bucin.
Sedangkan Red yang mendapatkan sarkasme sedemikian rupa terpaksa menjitak kepala adiknya. Tapi sayang, Blue menghindar. "Lo udah tua bang, badan lo udah nggak gesit, kebanyakan pacaran," diakhir kalimat, Blue menjulurkan lidahnya.
Kegesitan dan kebanyakan pacaran. Korelasinya dimana? Tolong, Red ingin membungkus Blue dikantong mininya.
Finish. Red sangat lelah, makanya ia sudahi obrolan tidak penting itu dengan Blue. Tapi niat Red segera pupus saat tahu Blue mendekati dan tak lama memasuki mobil yang dari tadi membuat Red penasaran.
"Heh. Kambing. Lo pinjem mobil siapa?"
Blue menurunkan kaca jendela mobilnya karena Abang-nya itu tampak mengajaknya bicara. "Apa? Gue mau latihan basket."
"Gue tanya. Lo pinjem mobil siapa?"
"Ooo..." Blue membeo. "Lihat plat, punya mata 'kan?" ungkapnya sombong.
B xxx LUE
Siapa yang tidak terkejut. Dari mana bocah ini mendapatkan mobil mewah. Beberapa mobil milik Blue paling mentok seharga 1M saja. Sedangkan Ferarri Portofino yang berdiri di depannya ini memiliki harga tiga kali lipatnya—3M. Red tidak yakin ibunya memberi secara cuma-cuma.
"Rayuan apa yang lo kasih ke mama?"
"Mama?" Blue mengerutkan kening. "Mama aja nggak tau. Mama masih di Singapura." imbuhnya.
Red tambang bingung. Hari sabtu dirinya sudah hilang dari Jakarta, sekembalinya hari Senen, ia mendapatkan kejutan mobil mewah di rumahnya. Terlebih Kirana tak ada di tempat.
"Lo beli nggak ngomong mama? Gue aduin lo."
Masalahnya, Kirana itu tidak akan pernah memberi ijin kepada putra-putranya jika bertindak seenaknya. Kalau mau beli ya beli, tapi harus ijin.
Uang 3M bukanlah banyak. Blue sangat punya. Apalagi, uang saku mengalir deras tiap bulan dari Daren dan Davis sejak dulu, tapi sekarang tinggal Davis saja. Bahkan Red juga masih diberi jatah oleh Davis meskipun sudah bekerja, Davis pernah mengatkan—sebelum kamu menikah, uang saku tetap om jatah—Nominal tak sedikit. Red juga tahu persis adiknya ridak menggunakan uang dengan banyak. Jadi untuk membeli mobil seharga itu, bukanlah hal yang mustahil.
"Gue dikasih kak Sea. Udah sono lo masuk. Bau. Gue pergi. Bye." Blue menutup lagi kaca mobilnya dan melesat meninggalkan Red begitu saja.
Red jadi ingat pesan di grup chat minggu siang. Sky, adik dari Sea saat itu memprotes kakaknya yang tiba-tiba datang membawa mobil baru.
Jadi, mobil yang Sea beli diberikan untuk Blue.
Masalah beres, Red tenang.
Red jadi tahu, kegemaran Sky memberi barang mewah kepada orang lain ternyata menurun dari Sea.
Peranakan Martin memang luar biasa.
***
Halaman belakang rumah Martin-Ardibrata tak hanya luas, bahkan sangat luas sampai cukup untuk membuat lapangan golf, lapangaan basket, area jogging, atau jika angan-angan Davis terpenuhi, pria itu sangat ingin membuat lagi bandara pribadi, tapi semua ditepis mengingat keluarga dari sang istri sudah mempunyainya—Bandara Ardikara, khusus untuk landasan Privat Jet.
Sea melihat ayahnya menggunakan setelah olahraga, gadis itu memincing sembari mengelap keningnya yang basah akibat peluh yang keluar setelah bermain basket.
"Kapan papa datang?"
"Barusan. Ayo main basket."
Alis Sea terangkat sebelah sebelum mengantongi bola basket di pinggang kirinya. "Papa yakin? Nanti kalah nangis. Ngadu mama. Ngomong-ngomong Sea masih dendam. Jadi, lihat aja nanti."
Davis tahu suasana hati gadis sulungnya sedang buruk. Kebiasaan Sea saat marah adalah menghabiskan waktu bermain basket, sampai lelah, sampai ia merasa badan remuk lalu bisa tidur nyenyak dan melupakan masalah yang ada. Pelampiasan yang bagus sekaligus menyiksa.
"One by one, nggak ada aturan, brutal, skor 10 pertama berarti menang. Papa siap?" Sekali lagi Sea memberi persyaratan yang cukup tidak adil.
Davis tersenyum, anak gadisnya ini sangat lucu sekali, jadi gemas. Sea termasuk pemain yang gesit, badannya juga bugar dan segar, tampak seperti manusia yang sangat sehat.
Sraaaak...
2 poin sumbangan, meski tanpa aturan, lemparan dalam jarak dekat masih diperhitungkan, Sea bisa menambah angka double, menjadikan gadis itu sebagai pemimpin, 9:2.
"Pa, dih lemah. Sea nggak mau ya kalau papa ngalah. Main bener dong. Tinggal satu poin Sea menang nih."
Ini adalah lapangan. Pertandingan. Tidak memandang ayah dan anak. Sea tak tanggung memprofokasi ayahnya.
"Jangan mentang-mentang lawannya Sea aja, papa jadi lembek."
Davis hanya tertawa, sedikit, tidak banyak, takut anaknya marah. "Papa nggak ngalah, nggak juga lembek, papa udah tua." elaknya.
"Tua mananya? Jelas Sea tahu papa masih banyak tenaga. Mama ngeluh pinggangnya sakit, olahraga tiap hari 'kan?"
Davis hanya bisa memejamkan mata. Mulut Sea minta dikuncir. Beginilah Sea jika dihadapkan di depan Ayah-nya yang selalu membuat hidupnya sulit. Salah siapa membuat Sea marah.
Sea masih sangat ingat. Pesta ulang tahun, gadis itu masih enggan membayangkan bagaimana nanti suasana di dalamnya. Semua karena Ayah-nya yang tak mau sedikitpun membujuk Seruni.
Inilah ayahnya. Si pemain basket hebat pada masanya. Jika banyak yang bertanya darimana Blue mendapatkan kemampuan bermain basket dengan bagus, jawabannya ada di tangan Davis. Begitupun Sea, diajari dari kecil hingga umur sepuluh tahun, setelah itu Sea mengembangkan kemampuannya diluar Negeri karena gadis itu harus meninggalkan Indonesia.
Bola di atas, lemparan bisa diraih dengan mudah oleh sebab tinggi Davis yang tidak main-main. Kemudian pria itu membawa bola sampai garis terluar, shoot.
Davis menambah angka. 3 poin. Dengan mudah. 5:9. Dengan teramat sombong, Davis menunjuk Sea dengan telunjuknya. Dan itu membuat putrinya begitu geram.
Sea yang tak ingin berlama-lama akhirnya merebut bola dari Davis. Alhasil, akibat dari tergesanya larian gadis itu, tanpa sadar ia terpeleset dengan sangat tidak cantik, memalukan, matanya berkaca-kaca sembari memeluk bola basket dengan posisi terduduk.
"Aku nggak akan kalah. Sembilan lima, Pa. Tunggu aja."
Sea melempar bola agak jauh, mengalihkan perhatian Davis yang menyerana melihat anaknya yang baru saja kesakitan. Sea yang tak habis akal segera bangkit mengejar bola, well, Sea mendapatkan bola, lay up dan masuk.
Poin, 10:5, Sea memimpin. Sea menang.
Davis tersenyum. Menghampiri putrinya, mengelus surainya lalu memeluknya.
"Maaf. Papa nggak bisa bantu kamu."
Sea menggeleng. Menghentakkan kakinya, layaknya putri kecil merajuk tak diberikan permen oleh Ayah-nya. "Papa lebih sayang mertua dibanding anak sendiri."
"Enggak gitu sayang. Habis ini kamu minta apa saja papa turuti ."
"Pindah Jerman."
"Tunggu papa mati aja kalau mau pindah Jerman."
Davis tambah memeluk erat Sea. Anak gadisnya menangis tersedu. Jelas tidak mau membayangkan jika Ayah-nya mati.
Davis juga tidak tahu kenapa Sea begitu enggan mengadakan pesta ulang tahun, demi Tuhan, itu adalah perayaan yang sangat umum dan tidak perlu sampai membuat gadis itu sampai protes segala.
***
"Lo ngintip apa bang?"
Sky, gadis itu bikin Red kaget saja. Sejak kapan pula anak tetangga ini masuk rumahnya.
"Gue lagi mau cari angin. Nggak sengaja lihat." Jawab Red jujur. "Sejak kapan kakak lo bisa main basket?" tanyanya.
"Penasaran aja apa penasaran banget?"
"Biasa aja." Red merebut jajanan ciki yang tengah dipeluk Sky. "Udah hampir malem. Jangan ngemil." setelah itu, Red menonyor kepala Sky.
Di balkon lantai dua, Red dan Sky mengamati Sea yang sedang dipeluk oleh Davis, mata kedua pengintip juga bisa dengan jelas melihat tingkah Sea seperti anak kecil yang sedang dipeluk oleh ayahnya.
"Lo tau nggak bang. Gue kasihan sama kak Se."
Sangat jelas. Beberapa kali Red juga melihat jika Sea begitu tertekan soal tuntutan Oma dan paksaan Davis. "Oma dan om nyuruh Sea apa sih?"
"Cuma minta kak Se buat pesta ulang tahun doang. 7 hari dari sekarang. Sebenarnya kak Se itu nggak mau. Blue bilang ke gue, kak Se nggak banyak debat dan langsung mengiyakan waktu di rumah oma. Jadinya gitu deh, lihat sampai seminggu kedepan, kak Se bakalan betah main basket sampai lelah. Pelampiasan."
Unik. Red merasa Sea sedikit berbeda. Kalau tidak mau ya tidak mau saja. Kenapa menahan diri dan akhirnya menyiksa. Terlalu baik.
"Sea terlalu baik."
"Baru sadar lo. Kakak gue emang baik, lo aja yang bajingan."
Red terpaksa memiting kepala Sky. Kurang ajar memang mulutnya.
"Lepas. Gue aduin papa lo."
"Cepu. Rasain ketek gue."
Red puas, muka Sky merah padam dibuatnya. "Kalau gue nggak sayang. Udah gue lempar dari sini lo bang."
"Cie yang sayang. Awas jatuh cinta."
*"Modelan kek lo. Sorry*, nggak level."
Red terawa. Jelas saja, tipe-tipe Sky itu cowok ganteng, kulit saudaraan dengan porselen. Pokoknya jauh lah dari modelan Red ini.
"Bayangin jadi gue. Tiba-tiba didatengin cewek, ngaku suka gue di depan pacar gue sendiri. Ngeganggu malem mingguan gue, bahkan itu berlangsung selama enam bulan lebih. Kalau lo jadi gue, apa yang lo lakuin?"
"Gue tau bang. Kak Se keterlaluan."
"Sekarang lo paham 'kan? Bukan gue jahat. Gue cuma menjaga hubungan gue dan Rubby. Lo tahu susahnya itu. Lo juga tahu Rubby orangnya gimana."
Sky tahu. Bahkan tak jarang Sky ini menyuarakan suara untuk Red memutus hubungan dengan Rubby. Sebagai kekasih yang sangat mencintai pasangan, seharusnya Rubby tidak memberi batasan-batasan keterlaluan, mengekang tanpa belas kasihan.
"Lo itu terlalu baik sampai buta bang. Gue juga nggak bisa nyalahin lo sih. Posisi lo juga susah."
Meski Sky sangat menyukai Rubby, tapi sukanya Sky hanya suka saja, gadis itu baik, pintar dan menyenangkan. Namun, sebagai pasangan yang sangat jahat terhadap kekasihnya, Rubby tidak layak diperjuangkan, Red termasuk orang penting dalam hidup Sky, mana tega gadis itu membiarkan Red menderita, terus-terusan.
"Sorry and thanks udah ngerti. Tapi gue janji nggak akan memperlakukan Sea seperti sebelumnya."
Kali ini Sky menatap Red penuh makna, "Bang, lo ngerasa kak Rubby itu bener sayang nggak sih sama lo?"
"Sayang." Dengan tegas Red menjawab.
"Percuma kalau sayang tapi nggak mau memberi kebebasan. Lo itu manusia, bukan burung dalam sangkar. Percuma lo kasih dia dunia tapi dia tidak mengindahkannya. Percuma lo yang berusaha tapi dia stuck gitu aja. Lo sakit 'kan? Hati lo sering sakit 'kan? Pertanyaan gue. Kak Rubby yang salah atau lo yang bodoh."
Red penuh dengan kebimbangan, luka hati yang baru sembuh seakan digoreskan lagi oleh kata-kata tajam Sky. Menyerang psikologis sampai titik terburuk.