Moon

Moon
Tidak Bisa



Sea memiih pergi.


Jika dulu Sea selalu mempunyai cara untuk menghilangkan stress yang ia dapati dari permasalahan kehidupannya, misal, pergi keluar Negeri tanpa memikirkan banyak hal, minum-minum di klub malam ataupun hal-hal membahagiakan lainnya, tidak dengan sekarang saat kondisi tubuh kurang mendukung.


Sea sekarang tidak memiliki obat untuk penyembuh, harapan Sea hanyalah waktu.


Memang tidak akan instan, tapi Sea akan berusaha sebaik mungkin untuk melupakannya.


Sea bukanlah orang yang bisa memendam sakit hati begitu lama, pun Sea juga sudah lama tidak merasakan sakit hati juga, jika dipikir-pikir, Sea justru tidak pernah memikirkan perasaan sakit hati oleh sebab seorang pria, bahkan dulu saat dengan Jeremy, wanita itu justru menerima kemalangan dengan lapang dada.


Tapi ini berbeda, yang ia hadapi adalah Red, pria yang benar-benar bisa dengan mudah masuk dalam hati Sea, mencuri hampir seluruh hati Sea atau bahkan semua hati Sea.


Jadi, satu-satunya cara Sea untuk menyembuhkan sakit hati oleh sebab pria itu adalah dengan menjauh, ya, menjauh sejauh mungkin.


Menjauhi segalanya tentang Red, tentang wanita milik Red. Sea tiba-tiba tertawa dalam hati mendengar isi hatinya sendiri. Dengan menyebut wanita Red, Sea jadi ingat ia dulu merecoki Red tanpa henti saat pria itu masih bersama wanita itu, dan sekarang dunia terbalik, dirinyalah yang tersingkirkan.


Ok, stop. Sea harus berhenti memikirkan itu. Sea mengelus perutnya, tak seharusnya ia egois terus-menerus memeras otak hingga stress menyerangnya, kasian baby akan stress juga jika Sea tidak segera mengalihkan perhatian dari semua permasalahan yang ada.


Sea sekarang sedang duduk di sofa, tangannya memegang ipad dan mulai menyetel acara komedi salah satu Chanel YouTube setelah wanita itu selesai melihat salah satu mv idol favoritenya.


Dari sekian banyak tontonan yang Sea lihat hati ini, tiba-tiba salah satu video pendek lewat sebagai iklan dengan tampilan quote pelipur lara yang sama sekali tidak bisa mempegaruhi Sea, bunyinya begini, ‘kamu tidak kehilangan penghianat, tapi dialah yang kehilangan dirimu’. Meskipun Sea sedikit setuju dengan kalimat pendek itu, namun demi Tuhan tidak bisa membuat Sea barang sedikitpun bahagia.


Sea hanya butuh beberapa bulan untuk menjadi Sea yang seperti dulu. Mungkin satu bulan, tiga bulan atau delapan bulan. Entahlah. Sea hanya akan menunggu sampai hari itu tiba, hari-hari yang akan membuatnya kembali bahagia bersama anak-anaknya, Sea nanti juga pasti akan lebih merasa bahagia saat baby kedua lahir di Dunia.


Suara pintu terbuka membuat Sea berpaling dari acara komedi, wanita itu juga menaruh garpu yang sedari tadi ia pegang karena Sea juga sedang memakan strawberry dengan tenang.


“Kenapa mama belum tidur?”


Sekar tersenyum kecil, wanita paruh baya itu menggeleng dan berangsur duduk di ebelah putrinya, Arche juga kebetulan baru saja tidur setelah Sekar menemaninya, akhir-akhir ini wanita paruh baya itu yang sering berada di sebelah putrinya.


“Ma, aku butuh pak Homan, mama punya nomernya kan?”


Pertanyaan Sea otomatis membuat Sekar tercengang. Apa yang dikhawatirkan Sekar mungkin akan terjadi. Sekar sudah jelas tahu, apalagi saat dirumah sakit, Sea tak menunggu waktu lama untuk segera rawat mandiri dan pergi dari rumah yang Red bangun untuknya.


Sekar yang merasa kebingungan tentu saja meminta penjelasan, tapi Sea diam. Akhirnya Kirana-lah yang memutuskan untuk berbicara, menjelaskan dan meminta maaf berulang kali hingga ibu dari Red itu mengatakan bahwa Sea menuntut ingin cerai.


Sea tak mendapatkan jawaban, wanita itu menoleh kepada ibunya yang jelas-jelas pasti tidak setuju dengan keputusan Sea. “Buat ngu……”


“Wanita hamil nggak boleh cerai.” Ujar Sekar cepat-cepat.


Bukan karena itu juga Sekar tidak setuju, tapi saat Red bersujud padanya dan mengatakan tidak terjadi apa-apa dengan mantan kekasihnya, pun Red yang menangis agar Sekar mempercayainya membuat Sekar sendiri memilih untuk memberikan Red kesempatan untuk membuktikan ucapannya.


Adapun Davis yang mendadak stress berat, bahkan saat Davis belum berminat untuk memukuli Red, menantunya itu menawarkan diri untuk dijadikan samsak, Red juga meberi penawaran agar Davis membunuhnya saja.


Jadi, untuk alasan semua itu, Sekar akan berusahan mempertahankan pernikahan anak-nya, setidaknya sampai Red mampu membuktikan kalau pria itu tidak bersalah.


“Anak ini milik aku ma. Nggak perlu nunggu lahiran. Nantipun setelah lahir anak ini dan Arche ikut aku. Red punya sendiri miliknya, dari wanuta itu.” Sea membantah dengan keyakinan wanita itu sendiri.


“Mama tau, tapi pernikahan kamu itu belum genap setengah tahun, kamu pertahanin aja dulu, jangan keburu.”


“Aku mau cerai secepatnya mama, dan itu harus. Titik.”


Sea tidak tahu apa yang dikatakan ibunya itu benar apa tidak mengenahi wanita hamil tidak boleh bercerai. Tapi Sea tidak dalam posisi bisa mendengarkan, yang ia mau hanya bercerai.


Suara deruan mobil terdengar. Sea hapal milik siapa, dan beberapa hari selalu sama, seperti ini.


“Itu Red di depan.” Sekar juga tahu, Red datang lagi malam ini bahkan semenjak kepindahan Sea di rumah ini tanpa memberitahu pria itu, tapi Red tahu saja dimana Sea membeli rumah baru.


Sea tak perduli lagi apa yang dimau Red saat ini, dan Sea juga tidak akan menentukan batasan-batasan untuk pria itu jika ingin bertemu dengan Arche ataupun anak keduanya nanti, namun yang jelas disini, kedua anaknya tetap akan bersama Sea, dan Sea akan segera memasuki kamar dan mengunci sampai besok pagi apabila Sekar memberi Red ijin untuk masuk kedalam rumah.


Sekar mendengar itu sontak terdiam. Sekar tahu permasalahn rumah tangga anaknya itu sangat berat. Tapi jika diputuskan dengan perceraian terlalu awal takutnya menimbulna penyesalan jika saja suatu saat nanti Red terbukti tidak melakukan semua penghianatan itu.


Tapi sayangnya Sea keras kepala, tidak bisa dibujuk.


“Kamu nggak kasihan Red di depan terus-terusan tiap malem.”


Sea melirik ibunya. “Kalau aku enggak. Mungkin mama yang nggak tega.”


Sea tahu Sekar adalah pendukung nomer satu yang selalu menjunjung tinggi Red, tapi setelah penghianatan Red apa wajar sebagai seorang ibu tidak bisa merasakan kepedihan putrinya, Sea jadi berpikir ada yang tidak beres dengan ibunya.


“Dia bisa sakit Sea.”


“Kalau mama takut, suruh masuk atau suruh pulang aja. Sea juga nggak pernah larang-larang kok, terserah mama.”


Setelah itu Sea tertawa saat humor di televisi menggelitik di pendengarannya, sangat lucu sekali.


Kali ini Sekar benar-benar dibuat ingin berbicara lebih. Setidaknya Sekar ingin melihat Sea bertemu juga dengan Red.


“Sea, Arche itu sangat pintar meski masih berumur empat tahun. Mama yakin Arche tahu ada yang salah dalam keluarga ini, Arche sudah terbiasa hidup bareng orang tuanya, terus tiba-tiba pisah kayak gini. Kamu nggak kasihan?”


Semuanya untuk Arche?


Kali ini Sea kan mencoba untuk tidak sakit hati oleh ucapan Ibunya jika itu benar-benar untuk Arche.


Apa usaha Sea kurang selama ini? Bahkan Sea tak pernah berhenti memberi pengertian dengan halus kepada Arche saat bayi itu menanyakan ayahnya. Sea juga tidak pernah memberikan doktrin buruk agar Arche selalu menganggap Red adalah Daddy terbaik di Dunia.


Red hanya bersalah pada Sea tidak dengan anaknya. Sea cukup tahu bagaiman menjadi ibu terbaik juga, jadi Sea berharap Sekar berhenti memberinya perintah.


“Mama mau buat aku gila dengan bertemu Red lagi?” Suara Sea pelan setelah beberapa saat wanita itu diam menahan. Sea bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


Kenapa Sekar tidak bisa seperti Kirana yang sangat mengerti dengan keputusan Sea, wanita yang sebentar lagi menjadi mantan mertuanya itu sangat menghormati keputusan Sea.


Giliran Sekar yang saat ini diam.


“Mama nggak bisa ngasih aku kesempatan buat nafas, sebentar aja.” Ucap Sea lagi, dengan nada yang sama, lirih dan penuh kepiluan. “Aku tahu apapun yang mama bicarakan tentang Arche, tapi cucu mama bukan Arche aja, tapi disini, diperut Sea. Sea memikirkan Arche lebih dari mama memikirkannya, Sea hanya butuh waktu ma.”


Sekar jangan membawa nama Arche hanya untuk urusan Red, itu saja permintaan Sea karena wanita itu benar-benar tahu bagaimana cara menjaga mental putranya.


“Kamu butuh berapa hari?” Tanggapan Sekar seringan itu, bahkan wanita itu tak menangkap maksud Sea sebenarnya. “Masalah nggak akan selesai kalau kamu diam terus Sea.”


“Masalah udah selesai ma. Pernikahanku udah selesai. Mama paham nggak sih?”


“Rose.” Paggil Sekar lirih, jika Sekar sudah memanggil Sea dengan nama depan maka tandanya wanita itu benar-benar putus asa.


“Ma, I’m so sorry, tapi aku nggak akan bisa ma, mau mama ngomong apapun itu, mama nggak pernah jadi aku, nggak pernah ngerasain stressnya aku, papa dan Red adalah pria yang jauh berbeda, mama beruntung dan aku enggak.” Suara Sea semakin melirih, wanita itu menggeleng pelan. “Aku udah nggak bisa bertahan lagi ma.”


Sekar mendengar perkataan putrinya yang malang, wanita itu terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Sedangkan Sea yang tidak mendapati tanggapan ibunya memilih untuk berdiri, berniat untuk pergi ke kamar dan istirahat. Entah istirahat dalam arti sesungguhnya atau tidak, tapi yang jelas pikiran Sea kacau lagi oleh sebab semua perdebatan dengan Sekar, atau satu sosok bayangan pria yang berdiri di teras depan sembari menunggu pintu utama terbuka.


“Ma. Kalau mama masih kayak gini terus, apa perlu aku pergi sampai tak seorangpun tahu. Mama tahu kan apapun bisa terjadi jika aku mau.”