
Menuruti kata mertuanya, Red ternyata baru sadar, dibanding mencari jalan keluar atau menyelidiki untuk membuat pembuktian, pria itu justru memilih meratapi nasib selama dua minggu, membuntuti Sea meski tak penah bisa bertemu, berharap Sea datang menghampirinya meski Red tahu itu mustahil dan membuat diri semakin terpuruk dengan tampilan berantakan tidak karuan.
Jadi selepas Sekar pergi meninggalkan rumah, Red membawa Arche untuk bermain di kamar hingga Red dapat beralih membasuh diri, menyukur jenggot yang layaknya hutan rimba dan merapikan tampilan hingga agak siang pria itu baru pergi ke kantor denganArche ikut serta bersamanya.
Arche sudah beralih dengan mainan, Melody yang sudah dua minggu tidak bertemu Arche pun sangat antusias saat bayi umur empat tahun itu datang dalam gendongan boss-nya, hingga tak sabar, Melody mengikuti Red masuk ke dalam kantor dan menyiapkan semua mainan kesukaan anak dari pria yang hari ini terlihat seperti manusia, bukan lagi jombi seperti tiga belas hari belakangan.
Sedangkan Red langsung meraih ponselnya, ia memikirkan satu nama yang berputar dalam otak.
Jantis.
No, Red menggeleng, tidak mungkin bagi Red untuk meminta bantuan Jantis, yang Red butuhkan adalah bukti fisik, bukan hanya omongan belaka, dan tentu saja jika Jantis berbicara yang terjadi hanyalah sanggahan dari Sea, istrinya itu pasti berpikir Jantis akan membela Red sebagai sahabat pria itu.
Lalu? Red menggearuk pelipisnya tak lama mendongak karena suara Arche samgat antusias dalam bermain, mungkin putranya itu sangat merindukan tempat sekalogus mainan di sini.
Oke. Kembali lagi pada urusan bukti, tiba-tiba Red menemukan jalan keluar, ia segera memencet nomer ponsel milik seseorang.
“Lo mau bantuin gue kan?”
“Sial. Ada apa? Kenapa perasaan gue nggak enak.” Jawaban dari seberang sana tentu membuat Red tersenyum.
“Lo masih temen gue kan?”
“Anjing, sialan, cepet ngomong, apa yang lo butuhin.”
Red tersenyum, ia sedikit menjauh dari jangkauan Arche agar putranya itu tidak mendengar apa yang akan dibicarakan.
“Ed, lo masih inget gue pernah bilang ngerasa bersalah sama Sea?”
Ada sedikit keheningan, namun tak begitu lama dari seberang menjawab. “Sialan, lo bilang nggak fatal kan? Ada apa? Apa sekarang jadi fatal?”
“Ya.”
“Bego, sial, bukan boss gue udah mati ditangan gue lo Red.”
Edward memang begitu, ia sangat tidak suka saat Red bermain-main dengan nasib hidup. Edward sangat menyayangi Redc, ia tidak mau sahabatnya yerlibat masalah.
Red terdiam, membiarkan Edward memarahinya, tapi tak begitu lama ia mendengar helaan nafas panjang dari Edward sebelum pria itu mengatakan. “Oke, apa yang lo mau dari gue?”
“Ikut gue ke Dubai, besok.”
...****************...
Red adalah pria super sibuk, ya begitulah kenyataannya, meski hatinya kacau balau, Red tidak akan pernah meninggalkan pekerjaan oleh sebab tanggung jawab banyak berada ditangannya, itulah gunanya Red hidup dan harus bertahan sampai sekarang.
Seperti hari ini contohnya, meskipun Arche berada ditangannya, Red tetep bekerja dengan Arche ikut serta bersamanya, bahkan Red juga membuat Arche tertidur di dalam ruang istirahat karena ia harus lembur sampai jam enam.
Tapi lihat anak itu sekarang, setelah sampai rumah, Arche dengan riang sudah berada di depan televisi, sudah mandi dan makan juga, seperti biasanya sebelum anak itu pergi dibawa oleh Sea dari rumah ini.
“Baby. Habis ini pulang sama oma ya.” Red menghampiri putranya dan tentu saja Arche langsung mendongak dengan mata berkedip lambat.
“Arche mggak boleh bobok bareng daddy?” Tak lama Arche menjawab dengan polos.
Oh Tuhan. Red mendadak sakit hati, tapi mau bagaimana lagi, Red sudah menyiapkan oenerbanga di pagi buta, tidak mungkin bagi Arche untuk tetap bermalam di rumahnya.
Red mengukutkan tangannya lalu mengangkat Arche untuk digendong dan dibawa duduk di sofa. “Baby, dengerin daddy mau?”
Saat Arche mengangguk, Red tersenyum serta mengelus surai putranya itu. “Daddy janji, habis ini daddy bawa Arche kerumah ini lagi, bareng mommy?”
Sontak saja mata Arche berbinar-binar, ia amat tahu daddynya tidak pernah berbihong disaat menjanjikan sesuatu padanya, Arche amat tahu apapun yang diminta selalu dituruti. Jadi jntuk kali ini bayi umur empat tahun itu sangat berharap daddy-nya akan benar-benar membawanya pulang lagi ke rumah ini bersama mommy.
Tak lama kemudian Arche meloncat untuk memeluk leger ayahnya. “Daddy, are you happy?”
Red meringis mendengar pertanyaan Arche, jawaban Red samgat happy karena ada Arche di sisinya, tapi di sisi lain ia teramat sedih.
“Daddy, please, take mommy home.”
Lagi-lagi Red merasa brengsek sebagai seorang pria, bagaimana bisa ia mendengar permintaan dederhana namun artinya begitu mengenaskan. Red tagu Arche sangat cerdas, tapi Red tidak tahu kecerdasan Arche mampu membuatnya begitu daddy.
Red meregangkan pelukan, ia ingin melihat bagaimana tampang putra menggemaskannya itu, tapi sekali lagi Red merasa tertampr saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Arche meneteskan air mata, dugaan Red memang benar, Arche adalah bayi yang sangat peka.
“Baby, take my word, okay.”
Dan Arche seakan yakin sekali lagi bahwa ayahnya akan membuat keadaan baik-baik saja, dan disaat Arche kembali dalam pelukannya, pintu rumah utama terbuka, menampilkan Kirana datang dengan membawa senyuman.
Lalu saat Red akan mengucap sepatah kata, ponsel yang ada di meja bergetar.
Ibu mertuanya menelfon.
Red dengan gerakan mukut tanpa suara meminta Kirana untuk mengambil alih Arche dan sedikit menjauh dari jangkauan, Kirana yang seakan mengerti dengan tenang membawa cucunya itu untuk menonton televisi, membiarkan Red dengan urusannya.
Red segera meraih ponselnya dan menyapa. “Halo.”
Hening, Red menjauhkan ponselnya, masih tersambung, lalu pria itu menyapa lagi. “Halo.”
Hening lagi.
“Halo.” Untuk ketiga kalinya Red mengatakan itu, namun kali ini Red merasa panggilannya tidak terputus karena ia sedikit mendengar helaan nafas kecil. “Mama, ada apa?” tanyanya kali ini.
Kali ini Red mendengar helaan nafas yang berbeda, sesikit oanjang disusul dengan suara yang mengalin indah. “Arche anter pulang.”
Ya, suara itu telah sampai di telinga Red, membuat si pria sedikit tertegun, namun tak begitu lama Red mendengar perintah yang lebih tegas. “Sekarang.”
Demi Tuhan.
Mendemgar lagi suara Sea adalah hal paling membahagiakan bagi Red, rasa-rasanya sesak yang menyumpat sumber pernafasannya telah dikembaikan dengan suka rela, dada Red terasa longgar dari himpitan sakit yang membelit. Setidaknya untuk kali ini Sea sudah tidak enggan berbicara lagi dengannya.
Meskipun permintaan Sea sedikit membuat hati Red terusik.
Sebelum menjawab, Red menunduk, berpikir sembari menggigit bibir. “Arche sama aku. Nggak akan pulang kalau bukan kamu yang jemput.” Sahutnya kemudian dengan suara tenang.
Red bertujuan membuat Sea untuk menemuinya, sesegera mungkin, malam ini, dan itu harus.
“Red, kamu nggak…” Red tahu bentakan Sea terdengar jelas jika wanita itu marah.
Namun dengan terang Red tidak akan membuat Sea menuntaskan kalimatnya, lalu pria itu harus menutup segera dengan pembicaraan yang pasti akan membuat Sea kalang kabut.
“Sea, cukup pulang, pulang ke rumah kita, itu aja, aku matiin.”